
Setelah mengetahui jika korban adiknya adalah karyawan Light Holding, Brian bergegas untuk mengawasi setiap gerak gerik Jessi dari kejauhan. Cukup lama dia mengamati mantan istrinya tersebut, hingga mengetahui fakta bahwa wanita itu juga terlibat dalam segala kekacauan yang terjadi di kelompok mafia Virgoun.
Suatu hari ketika sedang mengawasi kediaman Light, tak sengaja dia melihat Jessi yang selalu wara-wiri bersama seorang pria. Hal tersebut tentu saja membuatnya murka, Brian memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu siapa pria itu dan apa hubungan mereka.
"Sialan! Beraninya pria itu dekat-dekat dengan isrriku!" Brian merancau, suaranya terdengar melambai tak karuan. Entah berapa banyak alkohol yang sudah diminumnya hingga saat ini.
"Sial!" Dia membalikkan botol yang telah kosong itu, lalu berdiri dengan sempoyongan untuk mengambil lagi minuman keras di lemari. Brian memilih sambil menyipitkan mata karena penglihatan yang mulai kabur. Diambilnya sebuah brandy ternama dan kembali duduk di posisi semula.
Brian melampiaskan kekesalan setelah melihat pasangan itu, dengan menenggak alkohol sepanjang hari di kamarnya. Senyum Jessi bersama pria lain terus-menerus terbayang dalam benaknya. Hal tersebut tentu membuat aliran darah seakan mendidih di sekujur tubuh, hingga berharap minuman keras di genggaman mampu membuat pikirannya lupa atas apa yang dia lihat.
Seorang pria mendatangi kamarnya yang gelap gulita karena tirai yang tak dibuka, lampu pun tidak menyala, dan aroma busuk menguar memenuhi seluruh ruangan.
"Tuan." Seorang pria menghadap untuk melaporkan apa yang dia dapatkan setelah beberapa hari mencari informasi.
"Apa" Brian menatapnya dengan wajah mengerikan, kantung matanya menghitam, wajah kusut tak terawat, dan bau mulut belum disikat.
Berhari-hari sudah dia tak keluar kamar. Hanya beranjak dari posisinya untuk panggilan alam, atau mengambil lagi botol alkohol lain jika yang berada di tangannya sudah habis.
Dengan irama jantung berdegup kencang dan napas yang tercekat, pria tersebut mulai berbicara. "Tuan, pria yang bersama dengan Nona Jessi adalah putra tunggal keluarga Bannerick."
__ADS_1
Suasana di dalam ruangan tak lagi seperti kamar, melainkan lebih mirip dengan kandang singa. Cukup lama Brian tidak mencukur rambut dan juga bulu halus di wajahnya, sehingga menyebabkan pria tersebut tampak seperti sang raja rimba sungguhan.
"Lalu." Brian menatap dengan mata yang sipit akibat banyaknya alkohol yang diminum. Suaranya pun terlihat berbeda dari biasanya, begitu aneh dan mengerikan. Efek dari minuman keras terlihat begitu jelas di wajah dan tingkah lakunya saat ini.
"Nona Jesslyn adalah Nyonya Muda Bannerick yang selama ini kita cari."
Mendengar perkataan orang suruhannya tersebut Brian seketika terbangun dari duduknya, dengan sempoyongan dia berdiri dan langsung mencengkeram kuat leher pria itu dengan kuat.
"Jangan sembarangan kalau berbicara!" Suara baritonnya kini berubah lagi, terdengar begitu dingin dan berbeda dari sebelumnya. Hawa iblis seketika menguar ke permukaan, hingga menyebabkan anak buahnya berwajah merah padam dan kehabisan napas akibat kuatnya cekikan tangan Brian di leher.
Pria tersebut hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama, hingga dia merasakan malaikat maut seakan sudah berada di depannya, guna menagih nyawa. Sesaat kemudian, Brian melepaskan cengkramannya begitu saja, hingga membuat pria tersebut luruh terduduk di lantai.
Brian melempar botol alkohol di tangan kiri ke dinding dengan begitu keras. Pecahan beling dan percikkan alkohol menyebar di mana-mana, aroma berbagai jenis minuman keras bercampur menjadi satu di ruangan tersebut. Gelapnya penerangan menambah kesan mengerikan, meskipun hari masih siang, tetapi kamar, jiwa, dan hati Brian begitu gelap.
Di belakang, dia hanya bisa menyaksikan kengerian serta kegilaan Brian secara langsung, tanpa berani menghentikan. Baginya masih selama di situasi seperti ini saja sudah menjadi suatu keberuntungan.
Suara barang-barang pecah, hingga hancur berkeping-keping, ditambah teriakan Bryan menggema memenuhi seluruh ruang. Tidak ada cahaya menerangi ruangan tersebut, aroma berbagai jenis menjijikkan seakan menyatu dengan segala emosi Brain saat ini.
Kini, tempatnya tidak jauh berbeda dengan sebuah ruang yang tak layak lagi untuk disebut sebagai kamar. Tempat ini terlihat lebih seperti kebun binatang berwujud manusia.
__ADS_1
Terlihat Brian seperti orang kerasukan iblis yang baru bangkit dari tidurnya. Tidak peduli benda apa berada di sebelahnya, semua melayang begitu saja dan berakhir dengan hancur tak tersisa.
Untuk waktu yang cukup lama akhirnya sang anak buah memilih untuk berbicara dan mencoba menenangkan sang tuan yang terlihat sangat terobsesi pada mantan istrinya itu.
"Tuan, saya punya rencana," ucapnya dengan gugup. Susah patah pria itu mencoba berdiri tegak, meskipun tubuhnya sungguh bergetar karena takut dan tak berani menatap tuannya.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut anak buah di belakangnya membuat Brian seketika menghentikan aksinya. "Apa maksudmu?" Pria tersebut menoleh tajam, menatap sang anak buah dengan tatapan mengerikan dan amarah di wajahnya terlihat seakan mau membunuh siapa pun juga saat ini.
"Tuan, jika Anda tidak bisa mendapatkannya dengan cara halus. Bagaimana kalau kita mengancam menggunakan orang di sekitarnya?" ucap sang anak buah.
Sejenak Brian memikirkan kembali usulan pria di depannya. Jika sosok Dominic sudah begitu mengecewakan bagi Jessi, mana mungkin wanita itu mau kembali lagi kepadanya. Dilihat dari kemampuannya saat ini saja, sang mantan istri sudah sanggup menghancurkan segala bisnis kotornya. Apalagi dengan suami baru yang berkuasa.
Mustahil Jessi sekarang masih sama dengan Jesslyn yang dahul, mungkin saat ini juga adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan, siapa Brian yang sesungguhnya kepada wanita itu.
"Orang yang berharga baginya hanya ada satu, Nenek Amber." Sorot matanya tajam dan sangat menakutkan, seakan isinya bersiap untuk keluar dari tempatnya. "Bawa orang tua itu padaku! Kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh Jessi! Apakah dia bersedia meninggalkan pria brengsek Bannerick dan kembali padaku demi neneknya? Atau memilih membiarkan wanita tua itu mati begitu saja di tanganku."
"Baik. Saya undur diri dulu, Tuan." Pria tersebut memilih untuk segera pergi dari tempat mengerikan ini, meninggalkan Brian seorang diri dengan masih memegang sebuah gelas di tangan kanannya.
Dia menggenggam kuat gelas tersebut, hingga semakin lama benda itu pecah di tangannya. Seakan tak merasakan sakit, Brian menggenggam kuat, padahal pecahan beling sudah mengoyak telapak tangannya, hingga membuat dari mengelir deras begitu saja.
__ADS_1
"Jika kau tak bersamaku, tidak akan kubiarkan pria lain memilikimu." Matanya memerah, mengatakan hal itu. Brian sungguh seperti orang gila saat ini.
To Be Continue...