
Setelah meninggalkan kediaman Light, Jessi bergerak menuju Light Resto. Dia memacu motornya dengan kecepatan sedang, pikirannya tengah kacau saat ini. Entah apa yang membuat hatinya merasa bersalah setelah melihat air mata Jackson.
Apa kiranya yang membuat pria itu kembali mengeluarkan air mata setelah kejadian Angelina dulu. Sebagai seorang ayah sangat wajar ketika dia mengkhawatirkan sang anak, tetapi tangisnya kali ini?
Apakah dia mengingat keluarganya? Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga mereka? Kenapa ibu Jackson bisa meninggal ketika sedang mengandung?
Banyak pertanyaan yang berkumpul di pikiran Jessi. Dia memang tak pernah menyelidiki asal usul maupun masa lalu para anak buahnya. Mereka berhak memiliki privasi untuk kehidupan pribadi. Jadi, dia hanya bisa membiarkan mereka bercerita dengan sendiri. Namun, melihat ekspresi Jackson di ruangan tadi membuatnya mau tak mau memanggil Alice.
Maaf jika aku mencampuri urusan pribadimu, Jackson.
Tak terasa Jessi sudah tiba di restoran milik sang kakak. Ketika masuk seperti biasa pelayan menyambut sang nona kedua dengan senang hati.
"Nona."
"Bawakan aku kelapa muda!" Jessi meletakkan bokongnya di kursi dekat dengan para pelayan.
Sesaat kemudian, Jane turun dari ruangannya. Di kejauhan dia melihat Jessi yang begitu murung, tak seperti biasanya. "Apa yang terjadi padamu? Apa Nich bukan pria tulen jadi kau kecewa?"
"Issh, kau ini." Jane duduk di kursi sebelah Jessi, tak lama kemudian pelayan datang membawa kelapa muda kesukaan nona kedua.
"Ini, Nona." Pelayan meletakkan minuman di depan Jessi.
"Terima kasih."
"Ceritakan padaku! Apa yang membuatmu seperti ini sekarang? Dulu, saat tahu jika Brian selingkuh kau bahkan tidak sejelek ini." Jane memanglah tempat Jessi berbagi suka duka sejak kecil. Dia sangat mengenal bagaimana sikap dan sifat adiknya selama ini.
"Aku hanya memikirkan Jackson." Jessi memutar sedotan di dalam kelapa mudanya. Wajah murung yang membuat siapapun tahu jika dia sedang tidak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Entahlah. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku kali ini." Jessi mengaduk-aduk minuman, lalu menatap ke arah luar.
Tak terasa rintik air dari langit mulai berjatuhan, mereka datang menyerbu bumi dengan begitu cepat menandakan betapa derasnya hujan kali ini, seakan mewakili betapa mendung dan gelap hati Jessi saat ini. Suara guntur menggelegar serta kilatan petir menyambar bagaikan sebuah pemberitahuan, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Jessi menatap luar dengan perasaan cemas menunggu Olivia dan Alice. Jantungnya berdegup cepat, padahal ini bukan waktunya untuk jatuh cinta. Suasana hati yang suram membuat wanita tersebut selalu berwajah masam. Hingga tak lama kemudian, sebuah mobil yang dia kenal mulai terparkir di restoran.
__ADS_1
Alice datang bersama Olivia, dia sedikit terkejut mendengar Jessi memanggil tanpa suaminya. Apakah terjadi sesuatu dengan Jackson?
Dia melangkah dengan perasaan yang tidak karuan. Semoga Jessi bukan memanggil untuk sesuatu yang serius. Alice mengembangkan senyum ketika memasuki restoran, demi menutupi kekhawatirannya. "Nona."
"Kalian sudah datang. Ayo naik!" Jessi dan Jane melangkah menuju ruangan atas, sedangkan Olivia dan Alice mengikutinya dari belakang.
"Duduklah!" Jessi mempersilakan mereka untuk duduk, tetapi anehnya dia sendiri yang berdiri seakan dua orang di depannya adalah tersangka. "Ceritakan padaku! Apa yang kau tahu tentang suamimu?"
"Ma–maksud, Nona." Alice terlihat khawatir dengan apa yang dimaksud oleh Jessi. Jantungnya berpacu begitu cepat karena takut suaminya berbuat kesalahan yang fatal.
"Apa kau tahu tentang keluarganya dulu?" Jessi masih menatap Alice dengan sorot mata tajam. Hal itulah yang membuat wanita di depannya menciut, dengan perlahan dia mengiyakan pertanyaannya.
"Aku hanya tahu sedikit dari apa yang Jackson ceritakan."
"Beritahu aku semua yang kau tahu tentang keluarganya!" Jessi menyandarkan tubuhnya di depan meja kerja Jane, dengan bersedekap tangan di dada.
"Ke–keluarganya meninggal karena kecelakaan dua puluh lima tahun yang lalu, dia bilang mobil mereka masuk ke jurang dan meledak setelahnya." Alice gugup mengatakan hal itu. Sudah benarkah dia melakukan ini? Atau malah akan membahayakan nyawa suaminya?
Sementara Jessi yang mendengar orang tua Jackson meninggal karena masuk jurang mulai melebarkan mata. Jantungnya berdegup kencang ketika ingin menanyakan pertanyaan selanjutnya. "Siapa nama kedua orang tuanya?"
"Nona!"
"Jessi!"
Belum sempat Alice menjawab Jessi sudah lebih dulu terduduk di lantai. Pikirannya melayang entah ke mana, membuat tiga wanita di depannya berseru secara bersamaan.
Kini, terjawab sudah semua gejolak di dalam dada yang sejak tadi membuat Jessi merasa sesak. Alasan dia merasa bersalah ketika melihat buliran air mata di pipi Jackson siang tadi, pria itu sepertinya juga baru mengetahui jika keluarganya menjadi korban kasus keluarga Alexander.
Penyelidikan yang kini dilakukan telah membawa kebenaran tak terduga. Pria itu kehilangan keluarga yang dikasihi tanpa tahu kejadian sesungguhnya. Ternyata ayah Jacksonlah yang bekerja sama dengan Paman Alex, guna mencaritahu penyebab kematian keluarga Alexander.
Detektif Pannacotta–ayah Jackson–dan sang istri yang tengah mengandung, malah kembali menjadi korban pembunuhan oleh pembantai keluarga kandungnya. Tentu saja Jessi merasa sangat bersalah. Jakson adalah bawahan yang setia, tetapi dia bahkan tidak mengetahui asal usul anak buahnya sendiri.
Di sisi lain, tubuhnya serasa panas seakan ingin segera meluapkan segalanya. Pembunuhan yang terjadi tidak hanya menimpa keluarganya, tapi keluarga Jakson dan Patricia. Segera Jessi berdiri dari posisinya, dia melangkah dengan tegas hendak keluar dari ruangan itu.
Namun, Jane menahan tangan Jessi, jelas terlihat di mata sang kakak jika adiknya tidak dalam kondisi baik-baik saja kali ini. "Kau mau ke mana?"
__ADS_1
Jessi malah menghempaskan tangan kakaknya. "Aku akan menemui Jackson."
"Tidak kah kau tahu di luar sedang hujan!" Jane berteriak menyerukan suaranya, dia mengerti adiknya sedang dalam kondisi perasaan yang buruk, sebab itulah sang kakak mencoba untuk mencegah Jessi agar tidak memaksakan niatnya di cuaca seperti ini. "Kau bisa menemuinya setelah hujan reda."
Buliran air sudah terlanjur menumpuk di pelupuk mata Jessi. Tanpa menghiraukan peringatan Jane, dia bergegas keluar meninggalkan mereka tanpa mengucap sepatah kata pun.
Jane berusaha untuk mengejar adiknya, tetapi secepat kilat Jessi melajukan motornya di tengah derasnya rintik hujan. Suara petir dan guntur yang menggelegar membuatnya merasa khawatir menghadapi keras kepalanya Jessi.
Segera dia menghubungi Nicholas untuk meminta bantuan. "Istrimu dalam kondisi buruk saat ini. Segera temukan dia! Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk!" Jane tidak berbasa-basi, dia langsung mematikan sambungan teleponnya setelah berbicara tanpa menunggu jawaban dari adik iparnya.
Perasaan menghadapi adiknya yang kacau, baru kali ini dia lihat. Jane merasa khawatir jika terjadi sesuatu di jalan. Sementara, di dalam ruangan Alice masih tercengang dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa suamiku berbuat kesalahan, Olivia?"
"Bukan, suamimu. Tapi, sepertinya Nona Jessi merasa bersalah padanya."
"Apa terjadi sesuatu?" Alice sungguh bingung dengan situasi yang baru saja terjadi saat ini. Perasaannya juga kacau melihat Jessi yang sepertinya tengah kalap tadi.
"Keluarga suamimu juga menjadi korban pembunuhan yang sama dengan keluarga kandung nona."
"Apa?" Alice begitu terkejut mendengar kenyataan ini, bukankah ini artinya keluarga Barron juga terlibat dengan hal itu.
Jackson pernah bercerita padanya sebelum operasi ginjal. Dulu, ketika sang suami baru mulai bersekolah di luar negeri, tiba-tiba saja dia mendengar jika keluarganya meninggal karena kecelakaan. Oleh sebab itulah, Jackson tidak ingin kehilangan Alice tanpa berjuang terlebih dahulu.
Kehilangan keluarga serta calon adik yang masih dalam kandungan sudah cukup menjadi pukulan telak bagi Jackson. Menggunakan warisan dari kedua orang tuanya dia berjuang untuk menyembuhkan Alice.
Namun, apa yang sekarang terjadi? Apakah takdir sedang mempermainkan Jackson? Bukan hanya tahu fakta jika keluarganya menjadi korban pembunuhan, tetapi juga keluarga Barron yang terlibat dengan hal tersebut. Pantas saja pria itu tidak mampu lagi untuk mengungkapkan kebenaran kepada Jessi dan istrinya.
To Be Continue...
Hello temen-temen..
Gimana udah tambah penasaran belum??
Jangan lupa like, komen dan favorit. Kopi juga enak buat lembur.
__ADS_1