
Kekacauan di Rumah Sakit Bahagia membuat Jerry murka, dia memerintahkan seseorang untuk mencari tahu siapa mantan istri Brian yang sesungguhnya itu. Seandainya saja, wanita tersebut tidak mengetahui bisnis gelapnya. Mungkin Jerry Morning akan menjadikannya salah satu relasi.
Cukup lama mereka mencari, hingga akhirnya asal-usul Jessi berhasil ditemukan oleh anak buah Jerry. Sang penjaga bayangan mendatangi tuannya dengan segudang laporan mencengangkan di tangan. Siapa yang menyangka jika sejak awal mereka saling berhubungan untuk waktu yang cukup lama dan tidak sehaluan.
"Jadi, dia sungguh menjadi nyonya muda keluarga Bannerick?" Jerry membaca sebuah laporan di tangannya dan menyaksikan video yang beredar di Bannerick Group kala itu, sedangkan pria di depannya hanya mengangguk, membenarkan ucapan sang tuan.
Di atas meja Jerry mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, sehingga menampakkan garis urat di tangan keriput yang sudah tua itu. Sorot matanya tajam dengan wajah merah padam, ketika melihat bagaimana wanita bau kencur tersebut mampu memperlakukan Tom Evening dengan begitu beringas tanpa mengedipkan mata seorang diri.
"Dia bahkan berani membuat Tom harus merelakan kejantanannya untuk diamputasi, lalu mati dengan membakar rumahnya." Suara gigi mengertak saling beradu di dalam mulut Jerry terdengar begitu jelas, seakan tengah memakan batu di dalam saking geramnya dia akan tindakan Jessi saat itu.
Tidak bisa dibayangkan olehnya, bagaimana Tom Evening kala itu kesakitan sendirian ketika meregang nyawa dengan begitu sadisnya.
"Bukan itu saja, Tuan. Dia juga yang mengeluarkan istri Tom Evening dari rumah sakit jiwa, serta menampung kedua ibu dan anak itu hingga sekarang." Sang anak buah melaporkan apa pun yang ditemukannya tentang Jessi dan tidak ada satu pun informasi membuat Jerry senang. Semua ini hanya semakin menambah kemurkaannya saja.
Suara meja digebrak terdengar begitu keras menggema memenuhi seluruh ruang. Tak peduli dengan rasa sakit di tangan, Jerry tetap menatap tajam ke arah anak buahnya, hingga kedua bola mata itu seperti berniat keluar dari tempatnya karena amarah yang bergelora.
Maria adalah saksi mata hidup kejadian di masa lalu salah satu kejahatannya. Bisa saja wanita tersebut sudah menceritakan semuanya kepada Jessi, sehingga membuat mantan istri Brian itu berani mulai mengusiknya.
"Wanita sialan itu!" Napas Jerry berembus naik turun begitu jelas karena emosi, hingga terdengar seperti singa yang bersiap menerkam mangsa. Namun, tak cukup di situ saja informasi yang diperoleh anjingnya.
"Dia juga berhubungan dengan Nona Emily." Wajah datar tanpa perasaan takut atau pun sejenisnya terlihat jelas di wajah pria muda tersebut. Usia dan penampilannya telihat berbeda karena efek dari obat yang terus diberikan Jerry kepadanya, hingga membuat lelaki itu nampak berbeda dari orang lain di umur sebayanya.
"Maksudmu?" Jerry memicingkan mata, menatap lekat pria di depannya seakan menuntut jawaban.
"Dia juga wanita yang ingin disingkirkan oleh Nona Emily. Tapi, malah Emily yang mati karena penyakit, sesuai dengan rencananya."
"Bodoh!" Senyum jahat tersungging di wajah tua Jerry, dia tidak menyangka jika wanita yang diremehkan, mampu melakukan segalanya dengan begitu rapi tentang keponakannya. Bahkan mungkin Baron Night tidak menyangka akan hal ini.
"Ceritakan padaku! Sepertinya dia wanita yang sangat suka bermain-main." Jerry kembali meletakkan bokong di kursi kebesaran miliknya. Sepertinya dia harus lebih jauh mengenal wanita tersebut terlebih dahulu sebelum sebelum memulai rencana pembalasan.
__ADS_1
"Awalnya Nona Emily sudah berusaha membunuh dengan mengirim anak buah Johny. Tapi, pria itu malah mati ditabrak oleh Emily sendiri. Kemudian, dia kembali menyewa pembunuh bayaran di mafia Lucifer. Sayangnya, kelompok itu berada di bawah kendali Jessi."
Sebuah tawa ria menggelegar memenuhi seluruh ruang, cukup lama Jerry tertawa sambil bertepuk tangan. "Cerdas, sangat cerdas. Jadi, dia bahkan bisa menakhlukkan kelompok mafia anak dari keluarga Peanut. Sepertinya aku terlalu meremehkan mantan istri Brian itu. Johny bahkan mungkin sudah kecolongan sejak awal. Pantas saja Marcopolo menentang hubungan mereka. Wanita itu sungguh berbahaya."
Cukup lama Jerry bertepuk tangan, hingga akhirnya tawa itu terhenti karena sebuah pemikiran jahat. "Apa jadinya jika Barron dan Kate mengetahui hal ini?" Jerry menggosok kedua tangan dengan senyum smirk di wajah tuanya. "Sepertinya akan seru, bisa menyaksikan langsung adegan itu. Aku bisa melihat siapa yang lebih kuat dengan cara begitu."
Pria didepannya tak merespons perkataan sang tuan dan tetap berekspresi datar seperti sebelumnya. Dia sungguh diciptakan oleh Jerry layaknya sebuah robot berwujud manusia.
"Antarkan ini ke kediaman Barron! Aku ingin melihat, apa yang akan mereka lakukan setelah tahu fakta sesungguhnya tentang putrinya." Jerry menyerahkan kembali dokumen tentang Emily di depannya kepada pria tersebut.
"Baik, Tuan." Pria tersebut menerima bukti-bukti dari tangan Jerry dengan masih datar tanpa perasaan.
"Cari tahu apa yang dilakukan wanita itu saat ini! Aku yakin dia akan membuat masalah baru yang lebih merepotkanku lagi nantinya."
Hanya sebuah anggukan kepala yang dia dapat karena sang penjaga bayangan lantas melangkah pergi meninggalkan ruangan, menyisakan Jerry seorang diri di sana.
Jerry menautkan jemari kedua tangannya sambil tersenyum puas. "Kita lihat sampai di mana kemampuanmu wanita sialan! Apa salahnya kalau perkenalan kita di awali dengan sedikit uji coba. Mungkin kelak aku bisa memanfaatkanmu untuk mengendalikan Brian."
___________
Di lain tempat, George, Olivia, dan Maurer saling bekerja sama untuk membantu Jessi, hingga sebuah peringatan membuat Maurer memicingkan mata. "George, kau bilang saat aku tidak ada Nona Jessi memasang chip pada tubuh seseorang?"
"Iya, dia orang yang bekerja sama dengan Emily sebelumnya," ujar George.
"Apa terjadi sesuatu?" Olivia terlihat begitu antusias melaksanakan segala tugasnya, semenjak melihat Johny merupakan salah satu musuh yang akan menjadi target mereka.
"Entah, sepertinya kita kehilangan sinyalnya!" Maurer menautkan jemari kedua tangan, lalu mengangkat tinggi untuk memulai pencariannya. "Jika sinyal hilang, berarti benda itu sudah keluar dari tubuhnya. Bukan hal mudah untuk melakukan hal itu seorang diri kalau dia hanya ingin kabur."
Mereka mengangguk setuju, Maurer lantas mempersiapkan sepuluh jemari untuk bertempur dengan papan ketik di depannya. Jari-jari itu bergerak menari begitu indah, hingga menimbulkan alunan khas. Beberapa saat kemudian, terlihat sebuah peta navigasi di layar laptopnya.
__ADS_1
"Apa itu?" Olivia menyipitkan mata menatap titik merah di layar.
"Lokasi terakhir Dion." Tak terasa tangan George mengepal kuat melihat itu, sedangkan Maurer hanya mengangguk membenarkan perkataan pria di sampingnya.
"Dia berada di Rumah Sakit Bahagia beberapa hari yang lalu," ujar Maurer.
"Cari tahu lagi data diri Dion! Sepertinya ada yang salah dengan hal itu. Kita tidak boleh membiarkannya lolos jika sampai berkhianat." George menatap layar, sampai tak berkedip.
Terlalu banyak urusan yang harus ditangani Jessi akhir-akhir ini, sehingga membuat mereka saling bekerja sama untuk meringankan beban sang nona.
Maurer kembali bertempur dengan papan ketik, hingga menghasilkan deretan huruf dan angka saling bermunculan di layar monitor. "Data Dion sebelumnya menghilang begitu saja."
"Apa? Bagaimana bisa?" George tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia dan Olivia saling berpandangan di belakang tubuh Maurer karena sama-sama tercengang.
"Aku akan mencari tahu lebih jauh lagi." Maurer terus menerus menekan papan ketik di tangannya, sedangkan George dan Olivia di belakang mondar-mandir memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.
Terbiasa bekerja di bawah pimpinan Jessi, membuat mereka terbiasa dengan cara berpikir sang nona. Bagi ketiganya, berada di sini juga harus bisa membantu meringankan beban Jessi dan bertindak hati-hati karena cukup banyak musuh yang pasti mengincar sepasang suami istri itu kapan saja.
"Kosong, dia tidak memilki satu pun data." Maurer memperlihatkan hasil penemuannya, hanya ada gambar Dion, tetapi tidak memiliki satu pun informasi terkait.
"Bagaimana dengan anak dan istrinya. Kalau tidak salah dia memiliki seorang anak dan istri yang tengah mengandung." George menjentikkan jari mengingat informasi dan gambar yang dia dapatkan saat itu.
"Pria sialan itu! Kalau sampai aku mendapatkanmu, akan kucincang seperti bawang. Beraninya membuatku berpikir keras." Maurer mendengus kesal sambil terus mencari informasi tentang Dion.
Tidak menyangka harus mencari identitas seseorang dengan sesulit ini. Melihat kemampuannya menyembunyikan identitas begitu saja, dia pasti memiliki sesuatu yang berbahaya di baliknya.
"Memangnya kau pernah mencincang bawang?" tanya Olivia.
"Tidak, bentuknya seperti apa saja aku tidak tahu," ujar Maurer tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya, sedangkan di belakang kedua rekannya hanya bisa menepuk dahi sendiri.
__ADS_1
To Be Continue...