
Setelah selesai memberikan sedikit pelajaran kepada Brian yang telah berani membuat istrinya terluka , Nich pun melangkah meninggalkan tempat penyekapan dengan langkah tegas. Di luar langkahnya terhenti sejenak untuk menatap beberapa anak buah yang berjaga.
"X, kau ikut aku!" Pria tersebut kembali melangkah keluar diikuti dengan X.
Mereka bergerak menuju tempat Nicholas memarkirkan mobilnya. Meskipun dia berada di kediaman Light, tetapi pria tersebut tidak serta merta istirahat ataupun hanya sekedar bersantai di dalam. Baginya, pernyataan Brian sudah menjelaskan jika ada sesuatu yang bisa menyembuhkan istrinya dan Nich akan mencari hal itu agar Jessi segera pulih dari kondisinya.
Setibanya di tempat parkir, dengan segera X membukakan pintu mobil bagian belakang untuk tuannya. Lalu, masuk sendiri ke bagian kemudi. "Ke mana kita akan pergi, Tuan?"
"Markas Virgoun." Wajah Nich terlihat lesu dan lemah, tidak lagi semeringah seperti saat menyiksa Brian.
Dia memijat pelipisnya yang terasa pening sendirian. Beberapa hari ini selalu menjaga sang istrinya yang masih terbaring di rumah sakit membuat pola istrirahatnya kacau, bahkan bisa dibilang sangat kurang istirahat.
Setiap detik dirinya selalu mengkhawatirkan kondisi Jessi yang bisa drop kapan pun. Seperti beberapa hari sebelumnya, ketika malam tiba-tiba saja istrinya mengalami penurunan fungsi organ. Sebagai seorang suami, Nich takut jika dia beristirahat sang istri akan meninggalkannya begitu saja, tanpa bisa bangun lagi.
Maka dari itu, kali ini dia mengajak X untuk mencari sesuatu di tempat Brian sembari dirinya beristirahat sejenak di dalam mobil, sebelum nantinya kembali ke rumah sakit untuk menjaga Jessi.
Meskipun, pria tersebut merasa sangat khawatir saat berada jauh dari istrinya sekarang. Akan tetapi, Nicholas hanya yakin kalau Brian masih menyembunyikan penawar itu di tempat yang mungkin tidak diketahui orang lain. Mengingat pria tersebut bahkan nekat menculik Nenek Amber demi obsesinya, dia pasti tak akan membiarkan Jessi mati begitu saja.
Obsesinya pada Jessi telah melampaui batas kewajaran seseorang, sehingga menghalalkan segala cara demi mendapatkannya dan mengorbankan segalanya.
"Tuan." Setelah menempuh perjalanan cukup jauh dan tiba di lokasi tujuan, X membangunkan Nich yang terlelap di kursi bagian belakang. "Tuan, kita sudah sampai."
Senejak Nich mengerjapkan mata, lalu menatap ke arah luar sambil mengumpulkan sisa nyawa yang masih berada di alam mimpi. Terlihat markas ini seperti halnya tempat para mafia, mengerikan, sepi, dan mencekam. "Kita turun."
__ADS_1
Mereka pun menyusuri setiap arena tempat sepi tersebut. Seluruh penghuninya sudah dibantai ketika berada di kediaman Jerry Morning, tak heran jika tempat ini tidak lagi terawat. Hanya dalam beberapa hari, sudah banyak daun-daun kering yang berserakan memenuhi kawasan tersebut.
Nich melangkah menuju tempat paling mewah di sana. Kemungkinan itu adalah tempat tinggal Brian dan Johny. Sebuah rumah dengan gaya klasik dan penerangan minim, mencerminkan penghuninya adalah lelaki kejam yang menyukai tempat gelap. Segelap dunia mereka.
Langkah Nich mulai menyusuri setiap ruang bersama anak buahnya. Terlihat pigura foto seorang pria tua melekat di dinding, tatapannya mengerikan dan wajahnya penuh berewok. Bisa dipastikan dia adalah Marcopolo, sesepuh mafia Belzeebub serta ayah dari dua bersaudara itu. Pria itu juga yang sudah membantai keluarga istrinya dengan kejam di bawah perintah Jerry Morning.
Kembali langkah Nicholas menyusur ruangan lain. "Cari tahu apa pun yang tersebunyi di sekitar sini, dan juga bisa menyembuhkan istriku!"
"Baik, Tuan."
X bergerak dengan cepat menyusuri setiap sudut kediaman baik luar atau pun dalam dengan kecepatan dan mata elangnya. Sementara itu, Nich melangkah menuju salah satu ruang yang berhasil membuatnya langsung menutup hidung di saat membuka tempat tersebut.
"Sialan!" Dia mengumpat kesal di saat bau busuk adalah hal pertama yang menyapa kedatangannya.
Nich mengambil sebuah sapu tangan di saku untuk menutup hidung dan kembali menyusuri ruang itu. Ditendangnya botol-botol yang menghalangi jalan ke segala arah. Lalu, dia melihat berjajar rapi sebuah rak berisikan botol minuman keras.
Dia membuka satu persatu tutup botol itu dan menghirup aromanya sejenak. Beberapa wadah itu di dalamnya sungguh berisikan alkohol atau pun anggur. Namun, ada pula yang menguarkan aroma bangkai dan anyir yang membuat Nich langsung kembali menutupnya.
"Sial! Mereka sungguh kaum orang gila." Nich mengumpat kesal di kala hidungnya harus ternodai dengan aroma menjijikkan yang menguar dari dalam botol tersebut.
Ya, sebagai seorang psycopath sejati, Brian menyimpan suatu barang milik korbannya yang dianggap sebagai sebuah penghargaan bagi dirinya sendiri. Lalu, dalam botol-botol tersebut, pria itu menyimpan darah mereka dan dijadikan sebagai kebanggaan tersendiri.
Nich membuka tirai dan jendela lebar-lebar, membiarkan angin masuk menyapu udara kotor di dalam ruangan ini. Sinar mentari langsung menyorot seluruh sudut ruangan. Amarah Nicholas seketika menggebu tidak karuan di saat melihat sesuatu yang membuat pria itu mengepalkan tangan dengan erat.
__ADS_1
"Berani-beraninya dia mengagumi istriku!" Suara Nicholas terdengar sangat geram di saat melihat beberapa foto dan juga lukisan istrinya di sana. Namun, yang membuatnya sangat marah karena semua gambar itu disandingkan dengan Brian di sampingnya.
Dengan amarah yang berkobar Nich menurunkan seluruh pigura tersebut dan menghancurkannya. "Brengsek!" Dia mengumpat kesal sambil menginjak-injak gambar tersebut hingga mengakibatkan banyak pecahan beling di sana.
Tak lagi ada wajah Brian yang utuh dalam gambar tersebut, semua langsung hancur bersamaan dengan umpatan dari mulut Nich. Hatinya seakan tersiram kobaran api begitu saja, panas serta terluka. Rasa cemburu tiba-tiba datang tak tahu tempatnya. Seandainya saja dia yang lebih dulu bertemu dengan Jessi dan bukan pria gila itu, pikirnya.
"Sialan!" Gerakan Nich terhenti di saat mengangkat sebuah lukisan terakhir yang terpajang di sana. "Apa ini?"
Dia langsung membuang pigura tersebut begitu saja dan melihat sebuah titik di tengah dinding tersebut. Nich mencoba untuk mengintipnya, kemudian sebuah suara terdengar memenuhi ruangan. "Akses ditolak!"
Tak berapa lama, alarm karena salah kunci yang dianggap sebagai penyusup itu pun mulai terdengar keras di seluruh penjuru. Membuat X langsung bergegas mencari tuannya. Jika saja tempat ini masih seperti sebelumnya, bisa dipastikan semua orang akan langsung berkumpul dan menyerang Nich sekarang juga.
"Tuan, apakah terjadi sesuatu?" Nicholas hanya menggeleng dengan sebuah seringai di wajahnya.
"Bongkar dan cari tahu apa yang ada di balik dinding ini!"
"Baik, Tuan."
Nich mundur beberapa langkah, sedangkan X mulai memposisikan diri di depan dinding dan langsung meninju dengan tangan besinya. Tak perlu banyak gaya, dalam sekali pukulan tembok tersebut langsung hancur memerlihatkan sebuah kotak brankas besi di dalamnya.
X pun tak perlu berbasa-basi, dengan mudah membuka kunci brankas tersebut tanpa kunci atau pun kata sandi. "Tuan."
To Be Continue....
__ADS_1