Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Iblis Haus Darah


__ADS_3

Setelah meninggalkan adiknya, pria itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju club malam. Tempat ramai selalu menjadi tempat terbaik untuk melancarkan aksi.


Duduk di sebuah meja seorang diri, dengan di temani sebotol Brandy. Dia mengamati setiap orang yang ada di sana. Wajah tanpa ekspresi tidak mampu menutupi ketampanan dan kharisma yang dia pancarkan.


Seorang wanita cantik dengan gaun sexy berjalan mendekatinya. "Bolehkah aku menemanimu minum?"


Pria itu mengamati wanita di depannya sangat pas untuk dijadikan korban selanjutnya. "Silakan!"


Dengan bangganya wanita itu duduk, dia membusungkan dadanya agar pria di depannya lebih tergoda, jemarinya indahnya mengitari bibir gelas minumannya. Menambahkan kesan eksotis bagi setiap lelaki yang melihatnya. Sepertinya wanita ini sudah tak tahan ingin segera bermain dengannya.


Sebuah senyum jahat tersungging di wajah pria ini, dia menyodorkan kartu sebuah kamar. "Apa kau mau menghabiskan malam ini denganku?"


Melihat kartu di depannya membuat mata wanita itu terbuka lebar. Jelas itu adalah kunci suite room yang hanya dimiliki oleh beberapa orang di club ini. Ya tempat ini juga menyediakan layanan kamar bagi mereka pecinta one night stand.


"Aku akan menunggumu!"


Melihat sebuah tangkapan besar di depannya tentu saja wanita itu tak akan membuang kesempatan. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar milik pria ini. Dengan langkah anggun berjalan meninggalkan keramaian club, menuju suite room di lantai atas.


Pria itu lantas meneguk minumannya, lalu berjalan mengikuti wanita yang akan menjadi korban pelampiasan malam ini. Dia membuka pintu kamar dan menguncinya. Seorang wanita sudah menunggu dengan pakaian tipis melekat di tubuh.


"Aku adalah pecinta kekerasan. Apa kau keberatan?" tanya pria itu.


"Aku menyukai tantangan," ucapnya menggoda.


Dia lantas menggendong tubuh sexy berbalut lingerie merah ke tengah ranjang. Diikatnya kedua tangan ke heardboard dan kaki di bawah. Posisi terlentang membuat hasrat setiap lelaki naik jika melihatnya. Namun, tidak dengan pria itu karena dia tidak bisa merasakan emosi dan nafsu.


Dia membuka setiap kancing pakaian yang dikenakan, mendekatkan kepala ke arah telinga wanita tersebut.

__ADS_1


"Dengan cara apa kau ingin mati?" Pria itu tersenyum menyeringai bak iblis yang haus akan darah, terlihat sorot kilatan jahat dari matanya, dia tak akan pernah melepaskan satu pun korban yang diincar.


Suara bariton dan hawa menakutkan lelaki di hadapannya membuat wanita itu meronta-ronta seketika, rasa takut mulai menjalar dalam dirinya. Dia sudah salah menilai pria ini bukan ingin bermalam dengannya. Namun ingin mengambil nyawanya.


"Lepaskan aku! Kau brengsek!"


"Aku?" Pria itu berdiri dari posisinya, berjalan ke arah nakas di sebelah ranjang.


"Bukankah kau sendiri yang datang padaku?" Dia mengambil sebuah alat solder di dalam laci dan menghubungkan ke stop kontak.


"Apa yang ingin kau lakukan, hah?!"


"Sssttt ... diamlah! Ini akan membuatmu terlihat lebih cantik." Dia mengambil solder yang telah panas itu.


"Aku mohon lepaskan aku! Jangan bunuh aku kumohon!" Wanita itu meronta-ronta, keringat dingin bercucuran di wajah pucat pasinya itu. Jantungnya berdegup cepat karena ketakutan yang mendera jiwa.


"Tenanglah! Aku akan melakukannya dengan cepat!" Pria itu memegang dagu korban dengan kuat, dia meletakkan ujung solder panas di atas dahi.


Inilah yang dia suka, suara orang berteriak kesakitan ditambah dengan perasaan ketakutan mereka, menjadikan sensasi tersendiri yang membuatnya berpuas hati.


"Lihatlah! Kau terlihat cantik dengan ukiran namaku di dahimu." Pria itu mengarahkan sebuah kaca ke wajah korbannya.


Wanita itu melihat sebuah nama terbentuk dari lepuhan di kulitnya. "Brian?! Kau bukan manusia!"


Wanita itu berteriak meronta-ronta, tetapi pemilik nama malah tertawa terbahak-bahak.


"Iya, benar. Panggillah namaku seperti itu! Aku akan membuatmu merasakan sensasi yang tak pernah kau rasakan sebelumnya. Aku jamin kau akan menyukainya."

__ADS_1


"Kau gila, Brian! Kau iblis, bukan manusia. Lepaskan aku, kumohon!" wanita itu menangis sejadi-jadinya, air mata membasahi wajah yang sudah tak cantik lagi itu.


"Sebentar lagi. Biarkan aku bermain-main sebentar lagi! Setelah itu aku akan melepaskanmu ... ke alam baka!" Brian tertawa, suara tawa membuat siapa pun yang mendengarnya bergindik ngeri.


Dia berjalan ke arah lemari, pria itu mengambil sebuah Garpu Bid'ah dengan ujung runcing. Sebuah alat penyiksaan, terdiri dari logam dengan dua garpu tajam yang saling bersebrangan.


Dipasangnya sabuk untuk mengikat logam di leher wanita itu, ujung tajam garpu mengarah ke dagu dan tulang dadanya. Wanita itu bahkan harus berpikir dua kali jika ingin berbicara, sedikit saja kesalahan benda tajam itu akan menusuk tenggorokan dan dadanya. Dia terdiam setelah alat itu dipasang, ketakutan jelas tergambar wajahnya.


"Mengapa kau diam saja, Sayang? Ayo berteriaklah lagi!" Kilatan mata dan senyum di wajah Brian sangat mengerikan dia terlihat seperti tokoh nyata Chucky.


Wanita itu hanya terdiam sekarang, dia tidak berani bergerak lagi. Bahkan sangat hati-hati saat bernapas. Brian adalah sosok paling mengerikan yang pernah dia temui.


Brian masih sabar menunggu wanita itu, dia menuangkan wine ke dalam gelasnya. Warna merah darah membuatnya bersemangat menunggu korbannya menjemput ajal. Dia meneguk minuman dengan pelan-pelan.


Beberapa saat kemudian wanita itu mulai lelah dengan keadaan, tak mampu lagi mendongakkan kepala. Dia memejamkan mata, mungkin inilah akhir hidupnya.


Pria itu langsung mendorong kepalanya, kedua sisi logam menembus tenggorokan dan dada. Darah segar yg mengalir diwadahkan dalam gelas wine miliknya.


Wanita itu layaknya seekor ayam yang disembelih. Brian menghirup aroma anyir dalam gelasnya seakan itu adalah wine terbaik yang pernah ada. Dia menenggak habis kentalnya darah segar itu.


"Kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wanitaku! Anggap saja aku sedang berbaik hati membantu malaikat kematian mengambil nyawamu."


Brian merogoh saku, mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. "Bereskan kamarku! Buat dia seperti kecelakaan dan bakar dalam mobil!"


"Baik, Tuan."


Ya, pria itu Brian, tetapi bukan Brian Dominic. Dominic telah sepenuhnya hilang dari dalam dirinya semenjak kehilangan Jessi. Dia adalah Brian Messis, putra sah dari Marcopolo, sesepuh mafia Belzeebub dengan istrinya yang bermarga Dominic.

__ADS_1


Ibunya itu mengetahui jika suaminya adalah orang yang kejam ketika dia baru saja melahirkan. Hal ini membuatnya nekat kabur membawa bayinya karena tidak ingin anaknya memiliki sifat yang sama dengan Marcopolo. Dia pergi ke sebuah panti asuhan, menawarkan diri untuk menjadi pengurus di sana secara cuma-cuma, asal diizinkan makan dan istirahat bersama sang anak.


TBC.


__ADS_2