
Kehadiran Jessi tentu saja menjadikan suasana tersendiri bagi setiap orang. Apapun kekacauan dan kejailan yang dibuat, tetapi tetap saja dengan adanya wanita tersebut membuat suasana menjadi lebih meriah, meskipun terkesan menyebalkan.
Kini mereka tengah makan bersama di ruang kamar Jane. Permusuhan tadi hanyalah sebuah acara pembukaan bagi Jessi atas kerinduan karena lama tak bertemu dengan saudara-saudaranya.
Beberapa saat kemudian, melihat banyaknya orang yang sudah menjaga Jane, Damien segera beranjak dari posisinya. "Aku keluar dulu sebentar," ujar pria itu hanya mendapatkan anggukan dari yang lainnya dan langsung melangkah pergi.
Namun, Jessi jelas melihat ada yang salah dengan Damien. Dia pun memberikan kode pada Nicholas agar mengikuti kakaknya, beruntung sang suami adalah orang yang peka sehingga pria itu pun menuruti istrinya dan ikut keluar menyusul Damien.
Sepeninggal kedua pria itu, beberapa saat kemudian Jessi menggebrakkan tangan di meja tepat di depan John. "Siapa yang berani bermain-main dengan Kakakku?" tanya wanita itu dengan kilatan tajam ke arah pria di hadapannya.
"Itu Juragan Broto. Pamanku," ujar John dengan hati-hati ketika melihat Jessi di mode singa betina seperti itu.
"Owh, jadi bandot tua itu pamanmu. Apa kau sudah memberikan pelajaran Jane?" Jessi menoleh ke arah kakaknya dan hanya diangguki oleh wanita tersebut. "Cih, kalian sungguh bersenang-senang sendirian, tanpa aku. Menyebalkan!" Jessi mencebikkan bibir sambil mengambil sebuah apel di depannya. Entah mengapa jika dia ketinggalan soal memberikan musuh pelajaran membuat suasana hati wanita hamil itu mendadak buruk.
"Dia juga dirawat di rumah sakit ini." John berbicara sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Hal itu tentu saja membangkitkan jiwa antusias Jessi dalam mengerjai lawannya. Tanpa membuang waktu wanita tersebut menangkupkan kedua tangan di pipi John agar melihat kepadanya . "Benarkah?"
"Dia babak belur dihajar kakakmu," ucap pria itu sambil mengerucutkan bibir karena tekanan tangan Jessi di wajahnya.
__ADS_1
Jessi lantas melepaskan tangannya dan mereka pun saling menceritakan segala sesuatu yang terjadi malam itu, saat di mana Juragan Broto berusaha menghabiskan harta Jane dan Stella dengan membakar rumahnya. Juga bagaimana pembalasan Jane kepada pria serakah yang ingin menjadikannya selir kesepuluh itu.
"Apa pria itu sudah gila, hah?" Jessi berteriak dengan keras dan langsung berdiri dari posisinya karena emosi yang meluap-luap tanpa diminta di saat mendengar setiap detail kejadian malam itu. "Kalau saja aku bertemu dengannya, pasti akan aku tumbuk perkututnya. Menjijikkan sudah bau tanah juga masih suka mencari daun muda dengan cara kotor! Di mana dia sekarang?"
Jessi hendak melangkah pergi untuk memberikan pelajaran pada Broto. Amarah dalam dirinya seketika memuncak jika mendengar kejahatan manusia beruang yang tak tahu diri seperti itu. Namun, dengan cepat John menahan tangannya.
"Jangan sembarangan! Ini sedang di rumah sakit. Jika kau berbuat kerusuhan, bisa-bisa kita semua yang kena imbasnya." Mendengar penuturan sang pengacara tentu saja membuat Jessi berpikir ulang dan kembali pada posisinya.
"Ruang perawatannya ada di bawah, tapi ada anaknya yang menunggu. Istrinya entah ke mana." Sebelumnya John sudah menjenguk pamannya di ruang lain hanya untuk mengetahui apakah terjadi luka serius. Namun, sayangnya apa yang dilakukan Jane dan Damien hanya menimbulkan luka ringan serta tidak dalam kondisi serius.
"Kalau begitu kita beri pelajaran nanti malam." Sebuah seringai iblis yang sempat redup kini kembali terukir di wajah Jessi dan dia tampak sangat antusias membayangkan rencananya kali ini, sedangkan John merasa itu bukanlah hal baik jika berurusan dengan Jessi. Wanita itu sudah terkenal jail sejak dulu, apa lagi sekarang.
Di sisi lain, Damien yang meninggalkan ruangan Jane melangkah menuju taman. Pria itu duduk di salah satu kursi taman untuk menghubungi asistennya sejenak dan membicarakan masalah pekerjaan karena dia tidak bisa hadir hari ini.
"Bukankah kalian juga sudah tahu?" tanya Damien tanpa basa-basi karena dia yakin hanya dirinya sendiri yang bodoh tidak menyadari semua itu.
Nicholas mengangguk kecil, lalu menyandarkan tubuh di sandaran kursi taman tersebut sambil mengembuskan napas panjang. "Kami sudah tahu sejak dia dirawat akibat ledakan. Tapi, kami hanya diam dan ingin tahu responsnya. Meskipun penyakit itu tidak menyebar dengan cepat. Namun, nyatanya seperti yang kau lihat, dia sudah menyerah dengan hidupnya sendiri."
Jessi dan Nicholas memilih untuk diam dan tak bertindak karena tahu, Jane adalah korban sesungguhnya dari semua ini. Dia merasa menanggung beban atas semua dosa Jerry, sehingga memilih tidak segera di operasi.
__ADS_1
"Apa kau sungguh mencintainya?" tanya Nicholas.
Damien hanya bisa tertawa kecil menanggapi pertanyaan Nicholas yang sudah jelas jawabannya. "Apa menurutmu aku main-main?"
"Tidak! Hanya saja kau terlalu banyak berpikir hingga banyak waktu terbuang sia-sia. Sekuat apapun seorang wanita dalam menutup diri, mereka tetaplah sebuah tulang rusuk bagi pria. Akan ada masa di mana mereka membutuhkan sandaran, meskipun hanya untuk tertidur sejenak."
Kalimat pedas Nicholas berhasil membuat Damien berpikir keras. Benar kata adik iparnya ini, dia terlalu banyak membuang-buang waktu hanya untuk larut dalam sebuah dendam masa lalu yang membuatnya buta akan cintanya sendiri. "Aku hanya ingin memerlihatkan ketulusanku!"
"Jangan bodoh! Mau dengan cara apa kau membuktikannya? Di saat kau sibuk berpikir bagaimana, mungkin dia sedang menangis seorang diri tanpa ada satu pun yang tahu. Dia juga wanita yang memiliki air mata yang dapat mencurahkan perasaannya, hanya saja Jane selalu berusaha tegar di depan orang-orang terkasihnya."
Damien hanya bisa terdiam untuk waktu yang cukup lama dan hal itu berhasil membuat Nicholas hanya bisa menggelengkan kepala. "Dasar bodoh! Pantas saja adikmu selalu mengeluh tentang kakaknya yang otak udang. Ternyata kau sungguh menjengkelkan!"
"Menurutmu aku harus apa?" Damien hanya bisa berharap Nich akan memberikan jawaban yang memuaskan baginya. Karena memahami hati seorang wanita rasanya lebih sulit daripada memenangkan sebuah tender proyek dan dia perlu belajar pada Nicholas yang sudah berhasil mendapatkan Jessi.
"Nikahi dia! Secepatnya, baru ketulusanmu akan terlihat. Bukan hanya sekedar janji-janji semata."
"Bagaimana kalau dia menolak?"
"Kenapa kau harus mengkhawatirkan hasil yang belum pasti?" Nicholas menatap tajam ke arah Damien.
__ADS_1
Pasangan itu memanglah sama-sama berwatak keras. Apa lagi keduanya tak pernah menjalin kasih hingga tidak tahu bagaimana caranya berbagi kasih. Sejenak Damien memikirkan nasihat Nicholas, apa salahnya mencoba hal itu, dengan watak keras Jane, mungkin hal itu adalah salah satu pembuktian terbaik dibandingkan apapun.
To Be Continue