
"Hei! Apa kau bodoh? Jangan bilang kau membuang zigot di luar? Kenapa tidak di dalam saja agar kalian segera mendapatkan keturunan untuk menemani anak-anakku kelak?" Nyatanya Jessi bukan memarahi George karena pria tersebut menjalin kasih dengan Olivia di belakangnya, melainkan disebabkan hal yang tak pernah diduga oleh siapapun. Dia bahkan bertingkah mengalahkan emak-emak yang segera meminta cucu pada anak dan menantunya.
"Apa, Nyonya tidak salah?" tanya George memastikan jika telinganya tak tersumbat ketika Jessi berbicara tadi.
"Apa yang salah? Kau itu yang salah. Cih, menyebalkan membuang benih sembarangan. Apa kau tidak tahu berapa banyak pasangan di luar sana yang berharap memiliki keturunan?" ujar Jessi dengan kesal. "Seharusnya kau menjadikan benih itu bayi agar kediaman Light bisa lebih ramai lagi."
George di depan wanita hamil tersebut hanya bisa ternganga seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Begitu pula Maurer dan Olivia yang menguping di balik tangga hampir saja tergelincir karena terkejut dengan ucapan Jessi. Tidak akan ada yang menyangka jika ibu hamil tersebut memiliki pemikiran yang tak dapat ditebak oleh manusia, bahkan rasanya masih untung suaminya tidak mati jantungan melihat tingkah gila Jessi yang sekarang. Karena dia kini sangat jauh berbeda dengan dirinya yang dulu, lebih gila dari biasanya dan tak tahu tempat jika mengerjai orang lain.
“Maurer, apa semua ibu hamil akan menjadi segila itu pemikirannya?” tanya Olivia dengan polosnya dan bernada rendah seolah sedang berbisik.
“Entahlah, aku sendiri belum pernah merasakan apa itu hamil. Apa kau tahu? Apa yang lebih gila dari kemarahan anehnya pada kekasihmu itu?” Olivia hanya menggeleng kecil mendengar perkataan Maurer membuat gadis tersebut sedikit menghela napas kasar. “Dia baru saja menodai mata suciku dengan mengajak menonton siaran langsung pergumulan panas kalian.”
“Benarkah?” Olivia hanya bisa melebarkan mata girang mendengar pengakuan Maurer sambil kembali sesekali melihat ke arah Jessi yang masih berceloteh banyak-banyak kepada George. “Apa kalian melihat semuanya?”
“Ya, semua. Dengan sangat jelas!” ujar Maurer menekankan setiap kalimatnya.
__ADS_1
“Bagaimana menurutmu?”
Lapisan kerutan seketika kembali tercetak jelas di dahi Maurer mendengar pertanyaan ambigu dari wanita di sampingnya yang tampak antusias. “Apanya yang bagaimana?”
“Tentu saja pergumulan panas kami,” bisik Olivia di telinga Maurer dengan sedikit malu-malu, bahkan jika cahaya terang sedikit saja akan terlihat jelas semburat rona merah di wajahnya saat ini. Akan tetapi, langsung mendapatkan sebuah pukulan dari Maurer di kepalanya.
“Tolong jangan jadi ibu hamil gila yang menyebalkan kedua! Sudah cukup aku menguatkan mental menghadapi kegilaan Nyonya.” Maurer memarahi Olivia dengan masih berbisik, sedangkan wanita tersebut malah mengerucutkan bibir sambil memegang kepalanya yang sakit.
Beruntung setelah memukulnya, Maurer segera membekap mulut Olivia, sehingga dia tidak jadi berteriak yang pastinya akan membuat mereka ketahuan sedang menguping saat ini. “Itu tidak mungkin terjadi karena kami sudah sepakat sebelumnya.”
“N-nyonya,” ucap Maurer dengan tergagap karena takut wanita tersebut mendengarkan apa yang mereka obrolkan sejak tadi.
Namun, nyatanya Jessi tidak marah akan hal itu dan malah berdiri dengan santainya. “Ayo pergi!” ucapnya pada kedua wanita tersebut.
“Mau ke mana, Nyonya?” Olivia seketika ikut berdiri karena apa yang mereka lakukan sudah diketahui oleh sang empu, begitu pula Maurer.
__ADS_1
“Merayakan pesta melepas masa lajangmu.” Jawaban santai dari Jessi berhasil membuat Maurer dan Olivia saling berpandangan heran. Hingga sesaat kemudian, wanita hamil tersebut kembali berteriak pada George yang masih berada di sudut ruangan. “George, kau persiapkan semuanya dalam waktu tiga hari. Jangan sampai gagal atau aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan di dunia ini.”
Hal tersebut sontak membuat Olivia bergegas mendekati Jessi. “Nyonya, apa yang ingin Anda lakukan pada George?”
“Jangan banyak tanya! Ayo berpesta!”
Ketiga wanita tersebut lantas bergegas pergi meninggalkan George seorang diri di Light Resto yang masih mengusap kasar wajahnya. “Nasib, nasib! Kenapa Nyonya Jessi suka sekali pernikahan kilat,” gerutunya ketika mereka sudah pergi.
Seandainya saja pria itu tahu Jessi akan kemari malam ini, pasti dian akan menunda hasratnya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, tinggal menyiapkan kecap, kedelai, ayam, sambal dan kuah kuningnya. Jangan lupa topping kerupuk kuning. Lagi pula mereka sama-sama saling mencintai. Apa yang salah dengan menikah lebih awal dari rencana.
To Be Continue..
__ADS_1