
Hari itu setelah mengantarkan Maurer pulang, Ben kembali ke rumah sakit untuk menjaga putranya. Setibanya di sana tampak seorang wanita paruh baya sudah duduk di samping ranjang Rey sambil mengajak putranya bersenda gurau.
"Ma," sapa Ben di saat melihat ibu mertuanya sudah ada di sana sambil mencium pipi wanita tersebut. "Kapan, Mama sampai?"
"Baru saja, Ben. Kenapa tidak mengabari Mama kalau Rey sakit?" ujar ibunya dengan sedikit kesal karena Rey merupakan satu-satunya cucu kandung wanita tersebut.
"Maaf, Ma. Ini juga baru beberapa hari ini Rey dirawat." Ben tersenyum mengusap pucuk kepala sang putra yang kini terlihat lebih ceria.
Rey merupakan cucu kesayangan Kakek dan Neneknya, karena mendiang istri Ben merupakan anak semata wayang mereka. Akan tetapi, karena tinggal di luar negeri menjadikan keduanya jarang bertemu Ben dan Rey. Namun, hubungan mereka sangatlah baik. Bahkan tak jarang ibu mertuanya tersebut meminta agar Ben menikah lagi demi melanjutkan hidup dan mengikhlaskan kepergian putri mereka. Sayangnya, Ben masih enggan berumah tangga lagi sebab belum menemukan pendamping yang tepat, juga terlalu sibuk dengan urusan perusahaan.
"Apa Papa tidak ikut, Ma?" tanya Ben lagi setelah melihat tidak ada orang lain di sana.
"Papamu masih ada urusan. Mungkin minggu depan baru bisa menyusul ke sini. Mama datang bersama Nata tadi." Nata merupakan keponakan mereka, adik sepupu dari mendiang istri Ben. Sengaja ibu mertuanya itu mengajak wanita tersebut agar bisa dekat dengan Ben maupun Rey.
"Pa, apa, Papa mengantar Aunty Maurer sampai rumahnya?" tanya Rey dengan antusias. Ben hanya mengangguk menanggapi putranya, sedangkan sang ibu langsung menatap tajam ke arah Ben.
"Siapa Maurer, Ben?" tanya ibu mertuanya dengan tatapan sedikit curiga, jangan-jangan Ben sudah menemukan wanita lain.
"Dia aunty yang sangat cantik, Nek. Orangnya cantik seperti, Mama,” jawab Rey dengan jujur karena baginya Maurer memang sosok yang cantik seperti foto ibunya juga baik.
“Apa lebih cantik dari Tante Nata, Rey.” Seorang wanita yang umurnya tak berbeda jauh dari mendiang istri Ben tiba-tiba saja memasuki ruang perawatan tersebut tanpa permisi. Baginya baik keluarga sang bibi atau keluarga kandungnya adalah sama saja karena kepergian istri Ben terdahulu menjadikannya anak emas sekarang.
__ADS_1
“Tentu saja cantik Aunty Maurer. Seandainya saja Rey sudah besar, pasti Rey langsung menikahinya.” Kalimat polos dari mulut bocah berusia enam tahun tersebut terdengar begitu lucu bagi setiap orang yang mendengarnya. Namun, tidak untuk Nata yang mengeluarkan senyum palsu, tetapi mengumpat dalam hati.
"Cucuku sudah pandai menilai wanita cantik rupanya." Sementara itu, sang nenek dari Rey hanya bisa mengusap lembut pucuk kepala cucunya yang kini tampak lebih ceria dari biasanya. Apalagi Rey sebenarnya sangat sulit didekati oleh wanita, entah merupakan sebuah petaka atau keajaiban bocah tersebut bisa memuji wanita lain selain dirinya. "Tapi ingat, Rey. Tidak semua wanita yang cantik rupa juga cantik hatinya. Kita tidak pernah tahu apa isi hati manusia."
Sejenak wanita paruh baya tersebut juga melihat reaksi menantunya. Ada rasa tidak rela di saat binar kebahagian yang menumbuhkan bibit cinta tampak tercetak jelas di wajahnya. Bukan masalah jika Ben memang berniat menikah kembali dan memulai hidup baru. Hanya saja ada rasa tidak ikhlas jika menantunya tersebut menikahi wanita yang tidak jelas asal-usulnya. Apalagi Ben sendiri sudah tidak memiliki keluarga kandung, sehingga pastinya banyak wanita yang merayunya dengan berbagai cara demi mencapai tujuan menjadi Nyonya Gerald.
Maka dari itu, sebelum terlanjur jauh. Dia akan berusaha mendekatkan keponakannya—Nata—pada Ben dan Rey. Berharap mereka bisa saling mengisi kekosongan satu sama lain.
“Apa kau sudah mencari tempat tinggal untuk kita, Nat,” tanya wanita paruh baya tersebut kepada Nata.
“Sudah, Bibi. Ada resort tak jauh dari sini dan aku sudah melakukan reservasi. Apa, Bibi mau ke sana sekarang?”
Ben hanya bisa mengangguk patuh dan sekilas menoleh pada putranya. "Papa pergi dulu, Rey," ucapnya seraya mengecup pucuk kepala Rey seperti apa yang dilakukan Maurer sebelumnya.
"Hati-hati, Pa. Cepatlah kembali! Jangan lama-lama!" Ada rasa tidak suka di hati Rey, saat sang Papa yang baru saja memperlihatkan perhatiannya tiba-tiba saja direbut kembali. Padahal karena bertemu dengan Maurer, Papanya lebih perhatian padanya dan tidak lagi cuek seperti biasa. Sebelumnya Ben bahkan hanya suka marah-marah dan tak pernah berkata lembut maupun menciumnya. Namun, sepertinya Nata berusaha mengambil Papanya. "Rey, tidak akan membiarkan hal itu terjadi," batin bocah tersebut sambil menatap kepergian Papanya setelah berpamitan.
“Apa Tante Nata ingin menjadi Mama Rey, Nenek?” tanya Rey tanpa basa-basi pada sang nenek hingga wanita tersebut sontak terkejut karena rencananya bahkan bisa ditebak oleh Rey.
“Rey, Tante Nata itu baik. Dia pasti akan menjadi Mama yang baik buat Rey. Apa, Rey setuju?” Wanita tersebut mencoba membujuk Rey secara halus karena memang tidak ingin cucunya nanti terluka jika memilih sembarang istri untuk Ben. Baginya Nata adalah kandidat terbaik setelah banyak wanita yang sebelumnya sudah dia coba dekatkan pada sang menantu tidak mendapatkan respons sama sekali.
“Tidak! Rey tidak mau Tante Nata jadi Mamanya Rey.” Tanpa mengindahkan ucapan Neneknya yang ada di depan dan berniat seperti itu, Rey langsung kembali berbaring dan menutup diri di bawah selimut. Dia tidak ingin Nata menjadi Mamanya. Meskipun bocah tersebut belum merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu, tetapi setidaknya dia tahu mana yang tulus mana modus dan hanya menginginkan Papanya saja.
__ADS_1
Kejadian pengasuh yang berusaha membunuhnya setidaknya sudah memberikan pelajaran bagi Rey. Bahwa tidak semua wanita sanggup mencintainya sesabar Maurer. Apalagi dengan kenakalan Rey selama ini.
Maurer merupakan orang pertama yang membersihkan pikiran kotor Rey. di mana sebelumnya selalu diprovokasi bahkan dibilang jika dialah penyebab kematian Ibu kandungnya, hingga membuat sang papa membencinya. Semua itu mengajarkan Rey, jika dia harus mencarikan istri terbaik untuk sang Papa juga Mama bagi dirinya dan jawabannya adalah Maurer.
Meskipun Maurer sangat cerewet ketika marah seperti semalam, tetapi jelas Papanya menjadi perhatian padanya karena hal itu, dan Rey memilih Maurer jika memang harus memiliki Mama. Dia tidak peduli dengan telinga panas Papanya nanti kalau Maurer terus saja marah-marah. Bagi bocah tersebut yang terpenting dia tidak dimarahi seperti wanita lainnya yang selalu membentaknya demi mendekati Papanya dan pura-pura baik di depan sang Papa.
“Rey, kenapa mengacuhkan Nenek. Apa Rey tidak suka Nenek datang ke sini.” Wanita tersebut mencoba membujuk Rey dengan lembut. Dia tahu bukan hal mudah membiarakan Rey maupun Ben membuka hati untuk wanita lainnya. Karena itulah dia akan melakukan semuanya dengan perlahan dan memastikan rencananya berjalan lancar dengan sabar.
“Apa, Nenek tidak menyukai Aunty Maurer? Kenapa malah memilih Tante Nata?” ucap Rey di balik selimutnya.
“Rey, kapan, Rey mengenal Aunty Maurer?” Tidak ada nada marah atau kasar yang diucapkan wanita tersebut, sbab itulah Rey bisa dekat dengan neneknya.
Dia lantas membuka selimut yang menutup wajah dengan perlahan dan menatap wajah tua sang nenek di hadapannya. “Kemarin.”
Hal tersebut sontak membuat wanita tua itu tertawa mendengar pengakuan Rey yang seolah mengangkat beban berat di hatinya. Dia pikir Maurer sudah lama mendekati Ben, nyatanya beru langkah awal. Pastinya belum meninggalkan kesan yang terlalu baik bagi keduanya. “Rey, apa dalam waktu satu hari Rey tahu sifat asli Aunty Maurer? Bagaimana kalau ternyata dia berencana berbuat jahat pada, Rey dan berniat buruk pada Papa? Apa Rey mau Papa terluka?”
“Aunty Maurer tidak seperti itu! Dia sangat baik pada Rey dan tak mungkin berniat buruk.” Marah dengan kata-kata neneknya, Rey pun kembali menutup diri di balik selimutnya.
Maurer ibarat sebuah hal yang paling berharga bagi Rey. Karena kehadirannya membawa harapan besar bagi bocah itu dan dia tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya apalagi menjelek-jelekkan namanya, termasuk neneknya.
To Be Continue...
__ADS_1