
Dokter Hendrik melepaskan masker di wajahnya. "Beruntung Jessi sudah melewati masa kritis. Tapi, kondisi janin dalam kandungannya masih perlu pemantauan lagi."
"Janin?" Nich melebarkan mata menatap Dokter Hendrick tubuhnya bergetar seolah mendapat sengatan listrik. Apa yang dia dengar saat ini seperti sebuah mantra, entah harus berekspresi seperti apa. "I–istriku hamil?"
Air mata seakan berkumpul di pelupuk mata Nich. Rasa haru, bahagia, khawatir, kecewa, dan marah, semua perasaan seakan mengobrak-abrik jiwanya saat ini. Tidak tahu apakah harus senang atau sedih dengan berita membahagiakan tersebut.
"Jangan bilang kau tidak tahu kalau istrimu hamil!" Dokter Hendrick memicingkan mata menatap tak percaya kepada Nich. Apa dia tidak memperhatikan istrinya sendiri?
"Jessi sendiri bahkan mungkin baru tahu setelah bangun nanti." Nich masih belum tersadar dari rasa terkejutnya. Namun, sedetik kemudian dia mengingat apa yang sebelumnya terjadi. "Apa racunnya tidak akan berpengaruh kepada anak-anakku?"
"Bisa jadi berpengaruh karena usia kandungan masih sangat muda. Jika memang hasil kedepannya tidak memungkinkan untuk dipertahankan, maka kita harus mengeluarkannya."
Jawaban Dokter Hendrick bagaikan hujaman sebuah belati tajam di hati Nich. Baru saja mendapatkan berita membahagiakan, tetapi sudah harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Mengingat saat-saat Jessi begitu menginginkan seorang anak membuat pria tersebut mengepalkan kedua tangan dengan sorot mata tajam.
Jessi pasti akan sangat terluka jika tahu dia akan kehilangan bayinya kembali. Sekali lagi, akibat ulah Brian yang selalu saja menghancurkan impian istrinya.
"Brian!" Suara gertakkan gigi saling beradu terlihat begitu jelas, bahkan tegangnya otot di leher Nich tampak begitu kencang. "Jika sampai sesuatu terjadi pada istriku, aku tidak akan membiarkan kematianmu terasa mudah!"
Melihat betapa mengerikannya wajah Nich saat ini, Dokter Hendrick hanya bisa menepuk bahunya perlahan. "Bukankah kau punya laboratorium penelitian sendiri. Jika bukan karena obat dari Applepan, hari ini aku hanya bisa meminta maaf. Jadi, sebelum semua terlambat kalian carilah solusinya karena rumah sakit ini belum memiliki penawar racun berbahaya seperti itu. Aku yakin Jessi tidak selemah itu." Kembali sang dokter menepuk bahu suami pasiennya tersebut, lantas melangkah pergi.
Namun, baru beberapa langkah dia kembali berbalik. "Ah, jangan lupa mengajaknya berkomunikasi. Meskipun, Jessi tidak merespons, tapi hal itu bisa membuatnya memiliki semangat untuk melanjutkan hidup."
Nich hanya mengangguk. "Terima kasih." Pria tersebut hanya bisa kembali duduk di kursi tunggu karena masih banyak tenaga medis di dalam yang mengurus istrinya.
Berulang kali dia mengusap kasar wajah tampan itu, hingga Willy pun memberanikan diri untuk mendekat.
"Tuan." Pria tersebut menyerahkan sebotol air mineral untuk Nich, melihat secara langsung kondisi bos arogannya selama ini menjadi kacau membuatnya sedikit kasihan. Baru sebentar dia mendapatkan kebahagiaan memiliki seorang istri. Akan tetapi, ujiannya sudah seberat ini.
Botol mineral diambil oleh Nich dan meminumnya hingga tandas. "Apa sudah ada kabar dari Daddy?"
__ADS_1
"Belum, Tuan."
Hanya sebuah helaan napas kasar yang terdengar dari Nicholas. Dia menyandarkan tubuh di dinding dan mendongakkan kepala, menatap langit-langit rumah sakit. Berharap kedua orang tuanya mampu menghadapi mereka.
Tak lama kemudian suara dering ponsel Willy terdengar memecah keheningan. Pria tersebut melangkah menjauh untuk mengangkat panggilan itu. Beberapa saat kemudian, dia kembali menghadap tuannya.
"Tuan Muda, Tuan Besar Michael dan Nyonya Laura berhasil menangkap mereka serta memusnahkan seluruh anggota mafia Virgoun."
Seketika Nich menoleh menatap Willy. "Di mana mereka sekarang?"
"Markas Nyonya Jessi."
"Jangan biarkan mereka lolos! Suruh T dan yang lainnya untuk berjaga di sekitar sana!"
"Baik, Tuan." Willy hendak kembali mengeluarkan ponselnya, tetapi suara Nich menghentikan gerakannya.
"Satu lagi, jangan sampai mereka mati sebelum aku mengizinkannya." Tangan pria tersebut menunjuk dengan tegas ke arah asistennya tersebut.
"Baik, Tuan."
Tak lama setelah kepergian Willy para tenaga medis yang sudah menyelesaikan tugas pun keluar ruang. Melihat hal itu, Nich lantas berdiri dari posisinya.
"Apa aku boleh melihat istriku?"
"Silakan, Tuan! Kami permisi dulu." Mereka membungkuk hormat lantas meninggalkan sang pemilik rumah sakit tersebut.
Tanpa membuang waktu Nich memasuki ruangan istrinya yang telah dipindahkan dari kamar perawatan ke ruang khusus keluarga Bannerick.
Applepan masih berada di sana untuk melihat perubahan obat penawar yang telah dia berikan sebelumnya. Melihat sang tuan muda memasuki ruangan pria muda tersebut lantas menyapanya. "Tuan."
__ADS_1
"Bagaimana?" Nich melangkah mendekat, melihat wajah cantik istrinya yang sudah tak sebiru ketika pertama kali dibawa ke mari.
Banyak alat medis yang ditempelkan di tubuhnya karena kondisi lemah dan tengah berbadan dua. Jadi, mereka perlu untuk memantau perkembangan keduanya.
"Racun ini bukan racun biasa, Tuan. Saya akan berusaha secepatnya untuk membuat penawarnya. Beruntung hanya satu persen racun yang memasuki tubuh Nyonya. Jika lebih dari itu." Applepan hanya menggelengkan kecil.
Kasus wanita tersebut sama halnya dengan Kim Dae Ho yang masih belum sadarkan diri sampai saat ini. Hanya saja, pria itu mengalami penumpukan racun bertahun-tahun, sedangkan Jessi mendapatkan racun mematikan yang sudah dikembangkan lebih ganas lagi.
Mendengar penjelasan Applepan Nich hanya bisa terdiam menatap istrinya yang terbaring di atas ranjang. "Berapa lama kau bisa membuat penawarnya?"
"Belum bisa dipastikan, Tuan. Tapi, saya akan meracik beberapa dengan dosis yang bertahap, mengingat kondisi Nyonya Muda yang tengah mengandung akan terlalu beresiko jika memberinya obat dalam jumlah tinggi."
"Lakukan yang terbaik untuknya!"
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Pria itu lantas undur diri dari hadapan sang tuan muda untuk kembali ke laboratorium dan meriset penawar secepat mungkin.
Perlahan Nich mengambil sebuah kursi untuk duduk di samping ranjang sang istri. Lalu, mengambil tangan lemah tak berdaya tersebut. Dikecupnya berulang kali telapak sedingin es itu, hingga membuat tubuhnya bergetar lantaran air mata yang tidak lagi sanggup dibendungnya.
Seorang Nicholas, yang bahkan tidak menangis ketika dilahirkan. Kini menumpahkan buliran hangat dari pelupuk matanya sambil menggenggam tangan sang istri, mengecupnya berulang kali. "Maafkan aku, Sayang. Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik."
Bergetar sudah tubuh pria tersebut, rasa sakit melihat kondisi Jessi saat ini membuatnya kesulitan bernapas. Dia tidak pernah membayangkan akan berada di situasi seperti ini. Pria tersebut hanya bisa berharap jika Tuhan masih memberi mereka kesempatan untuk kembali bersama sebagai keluarga kecil yang bahagia. Tentu saja bersama anak-anak mereka.
Nicholas mengangkat kepala, pandangannya beralih melihat perut Jessi yang masih rata. Mengelusnya perlahan sambil mengucapkan kalimat penyemangat untuk istrinya.
"Sayang, bertahanlah! Kau harus kembali dan menjadi ibu dari anak kita nanti. Bukankah kau ingin memiliki bayi? Lihatlah, di dalam perutmu sudah tumbuh benih berkualitas kita!" Sebelah tangan Nich tetap menggenggam jemari istrinya, sedangkan bagian lain mengelus perut rata Jessi.
Jangan tanyakan perasaannya, pria tersebut sangat terluka berada di posisi saat ini. Berita buruk masih bisa datang kapan saja tanpa diminta. Dia hanya bisa berharap semua ini akan segera berlalu.
Sementara itu, di balik pintu Willy hanya bisa menatap iba melihat tuannya. Dia pun mengembuskan napas kasar sambil berkata, "Takdir terlalu kejam kepada pasangan suami istri yang masih hangat-hangatnya itu. Apalagi kepadaku yang selama tiga puluh tahun hanya bisa berkencan dengan berkas-berkas. Nasib, nasib."
__ADS_1
To Be Continue….