
"Sayang!" Nich langsung berlari mengambil alih tubuh Jessi dari tangan Brian yang luruh di tanah.
Dia langsung mencabut suntikan di leher istrinya dan membuang membuang jauh-jauh benda tersebut. Beruntung kedua tembakannya bersarang di kedua lutut Brian.
"Sialan kau!" Brian mengumpat kesal, tidak bisa berdiri lagi tak membuat pria itu menyerah. Dia kembali duduk dan merogoh sebuah pistol di belakang tubuhnya. Namun, suara sebuah mobil melaju dengan kencang mulai memasuki kediaman membuat semua orang terfokus pada kendaraan tersebut.
Terlihat pasangan tua datang mengendarai mobil sport beratap terbuka. Laura mengemudi dengan heboh membuat para anggota mafia Virgoun berhamburan untuk menghindari tabrakannya. Akan tetapi, Michael memegang Senapan Serbu paling mematikan di tangannya, sehingga mereka hanya bisa pasrah ketika mati hidup dan mati adalah soal keberuntungan.
Dua jenis senapan berbeda yaitu M4A1 dan M16 dapat menggunakan sistem operasi terbaik yang tersedia untuk operasi kuartal dekat. Keduanya menembak dengan laju mulai dari 700 hingga 950 putaran per menit secara siklikal, yang memiliki panjang 5,56 milimeter. Senjata-senjata ini dapat digunakan untuk menembak secara semi-otomatis dan sepenuhnya otomatis.
Suara serbuan tembakan dari Michael berhasil menjatuhkan banyak anak buah Jerry. Diitambah driffting mengemudi Laura menyajikan adegan yang indah jika dibayangkan dengan slow motion. Mobil itu berputar di satu tempat seiring dengan bidikan suaminya tepat ke arah musuh, hingga menimbulkan banyak korban jiwa di sisi lawan.
Kombinasi serangan sempurna dari berbagai sisi kelompok Jessi berhasil membuat Jerry Morning yang awalnya merasa bahagia karena melihat wanita tersebut terluka, kini berubah menjadi gusar. Dia tidak menyangka jika keluarga Bannerick bahkan turun tangan sendiri dalam kekacauan kali ini.
Jerry melihat situasi tak menguntungkan saat ini memilih untuk mundur sementara waktu. "Sial! Kita pergi dari sini!" ujarnya pada kedua pria yang melindunginya.
Di situasi seperti ini, mustahil bagi Brian dan Johny untuk membalikkan keadaan. Meskipun, dia melihat Jessi yang sudah tak sadarkan diri.
Di sisi lain, Brian tertawa begitu keras melihat Jessi yang lemah lunglai tak berdaya. "Kau pikir kau hebat. Jika dia tak bisa bersamaku, maka aku tidak akan membiarkan kalian bahagia!"
"Bajingan kau!" Nich berulang kali menembak tubuh Brian, tetapi bukan di titik fatal. Dia hanya akan membiarkan pria tersebut merasakan sakit, bukan mati seketika. Kematian terlalu mudah jika dianggap sebagai hukuman untuk orang sepertinya.
"Ukhuk." Beberapa peluru yang bersarang di tubuh Brian membuat pria tersebut mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya. Namun, dia masih bisa tertawa melihat racikan racunnya berhasil melukai Jessi. "Kau tahu? Bahkan setetes racunku mampu membuatnya mati hanya dalam beberapa jam ke depan."
Darah dalam diri Nicholas seakan mendidih mendengar pernyataan Brian. "Jika sampai sesuatu terjadi pada istriku! Akan aku pastikan, kau menyesel membuatnya menderita!"
__ADS_1
Sorot mata Nich terlihat begitu mengerikan, dia menembak pistol sekali lagi ke arah Brian, hingga pria tersebut tergeletak di tanah. Kemudian, langsung membopong tubuh Jessi ke dalam mobil. "Pastikan dia masih hidup untuk waktu yang lama! Aku akan membawa mereka ke rumah sakit."
"Baik, Tuan." Jackson di seberang langsung menyeret tubuh Brian ke arah lain dan mengambil alih tugas Nich dan Jessi setelah mobil mereka pergi meninggalkan lokasi.
_______
Sementara itu, Jane melihat Jerry yang berusaha melarikan diri mulai melangkah mendekat dan segera melesatkan beberapa tembakan ke kaki pria tersebut. "Jangan harap bisa pergi dari sini setelah apa yang kau lakukan!"
Langkahnya terlihat tegas. Akan tetapi, kedua pria di samping Jerry langsung melayangkan tembakan balik kepada wanita tersebut. Namun, Jane mampu menghindar dengan baik. Bayangan melihat Jessi terluka oleh Brian dan Nenek Amber yang menjadi korban penculikan berhasil membuat amarahnya meluap begitu saja.
Dia seakan melupakan siapa lelaki yang kini dihadapi. Bahkan tidak peduli dengan nyawanya sendiri, wanita itu terus melesatkan peluru dari pistol ke arah Jerry dan dua orang lainnya. "Meskipun kau berlari ke neraka, aku akan tetap memburumu!"
Semakin dekat Jane melangkah, semakin Jerry mengundurkan diri dengan terpincang-pincang karena kaki yang terluka. Namun, secara tiba-tiba sebuah tembakan Bazooka dari Kastil mendarat tepat di depannya, hingga membuat wanita tersebut terpental jauh akibat daya ledak yang cukup besar.
"Jane!" Damien langsung memeluk tubuh wanita yang telah terluka tersebut dengan raut wajah khawatir. "Jane, sadarlah!"
Mendengar suara teriakan Damien yang begitu keras membuat Jane membuka mata dengan susah payah. "Ja–jangan biarkan dia lolos!"
Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan wanita tersebut di ujung kesadaran, hingga akhirnya dia terbatuk dan mengeluarkan darah yang menyiprat ke tubuh Damian cukup banyak. Lalu, tergeletak lemah tak berdaya.
"Sudah cukup semua ini! Aku terlalu bersabar padamu!" Kedua tangan Damien mengepal kuat hingga menampakkan urat biru di di kulitnya.
Selama ini dia diam bukan karena lemah, tetapi sebab nasihat terakhir ayahnya dalam suasana pembataian tiga puluh tahun lalu. Kedua orang tuanya meminta agar Damien tidak membuka kasus atau mencaritahu siapa Jerry Morning.
Semua itu dilakukan demi keselamatan keturunan keluarga Alexander. Namun, dia tidak menyangka adiknya akan mampu menemukan dalang dari pembantaian itu dan kembali mengulang sejarah pertempuran melawan Jerry Morning.
__ADS_1
"Uncle, bawa Jane ke rumah sakit segera!" Dia mengambil pistol di tangan Jane dan berdiri dengan amarah karena kembali berada di posisi ini. "Tidak akan kubiarkan dia menang kali ini!"
"Berhati-hatilah!" Damien mengangguk, lalu melangkah pergi untuk mengejar Jerry dan kedua anak buahnya yang sudah dalam kondisi terluka.
Dia mengambil setiap senjata di tangan musuh yang sudah mati di depannya. Damien mengikuti setiap tetesan noda darah di lantai dengan cepat. "Bajingan! Di mana kau?" Pria tersebut berteriak sambil menyusuri setiap sudut kastil.
Jerry yang samar-samar mendengar teriakannya terlihat mulai gusar. "Ayo cepat!" Dia berjalan dengan tertatih, sambil terus di papah oleh kedua pria di sampingnya yang juga terluka akibat serangan Jane.
"Kita harus cepat sampai di kapal. Jangan biarkan dia mereka menang!" Mereka melangkah menyusuri jalan rahasia, menuju ke bagian bawah kastil yang terhubung dengan laut.
Ketika melihat kapal yang dikemudikan oleh Barron untuk melarikan diri sudah berada di depannya, pria tersebut tersenyum puas. "Mereka masih bocah ingusan jika ingin menangkapku!"
Jerry hendak melangkah ke atas kapal. Namun, suara tembakan dari belakang menghentikan aksinya. "Jangan harap bisa lolos dari sini!"
To Be Continue....
Hello teman-teman.
Maaf autor baru up.
Buat kalian yang akan bertanya 'Kok Jessi dan Jane dibuat terluka sih tor?'
Ini bukan tanpa alasan ya kakak. Hal ini bertujuan untuk memperlihatkan lawan mereka yang kuat dan seimbang, bukan Jessi yang lemah.
Selamat menikmati.
__ADS_1