
Tanpa membuang waktu, Jane dan Damien bergegas menuju gereja tempat di mana acara pengucapan janji suci mereka akan diadakan. Sebelumnya, Damien sudah meminta Jessi juga Stella agar datang terlebih dulu serta menambahkan sedikit pengaturan agar tidak terlalu sederhana.
Hingga beberapa saat kemudian, keduanya pun tiba di gereja tersebut. Dengan jantung yang berdegup kencang, Damien melingkarkan lengannya agar tangan Jane terpaut di sana.
Wanita itu pun menghela napas panjang untuk sejenak sambil tersenyum gugup, lalu menautkan tangan di lengan calon suaminya. Keduanya melangkah menuju pintu gereja dengan perasaan sama-sama tak karuan, antara bahagia, haru, puas, dan juga lega karena bisa segera bersama.
Setibanya di sana mereka membuka pintu. Terlihat gereja itu sudah bukan lagi tempat untuk beribadah, tetapi tetapi sudah layaknya lokasi pernikahan yang sederhana karena terdapat beberapa bunga yang menghiasi dan juga Jessi dan Stella serta Pengacara John menanti kedatangan mereka.
Jane terpaku menatap indahnya dekorasi. Dia menatap Damien di sampingnya, tetapi pria itu hanya tersenyum. Tanpa sadar buliran hangat menggenang di pelupuk matanya begitu saja.
"Jangan menangis! Nanti riasanmu luntur," bisik Damien di telinga Jane hingga membuat wanita tersebut seketika mengulas senyum.
__ADS_1
Rasa haru menyeruak menghangatkan hati Jane yang beku. Dia sungguh dibuat bahagia dengan perlakuan Damien, meskipun ini adalah pernikahan dadakan, tetapi pria itu menyiapkan segalanya dengan sangat baik. Dalam hatinya selalu berdoa, semoga keluarga keduanya yang telah tiada merestui langkah mereka menuju jenjang rumah tangga.
Tanpa membuang waktu, mereka berjalan masuk menuju altar di depan. Alunan lagu pernikahan mengiringi langkah halus keduanya. Terlihat Jessi yang berdiri menitihkan air mata melihat kebahagiaan kedua kakaknya hari ini. Mereka pantas bahagia dan beruntungnya dia menyaksikan hal itu sekarang.
Jane juga tidak menyangka, jika Damien akan memberikan pernikahan mengejutkan yang indah, padahal baru siang tadi dia memaksa pria itu untuk menikahinya. Setibanya di altar mereka saling berhadapan di depan pendeta untuk melakukan janji suci pernikahan.
Damien menggenggam erat tangan kedua tangan Jane sambil menatap lurus ke arah calon istrinya yang tampak sangat memukau hari ini. "Jane Stephanie, maukah engkau menjadi istriku? Aku mungkin bukanlah pria sempurna yang romantis seperti harapanmu. Tapi, dengan segala hal yang ku miliki biarkan aku menjadi suamimu. Aku akan berusaha membuatmu selalu bahagia dalam keadaan sehat maupun sakit, susah maupun senang, kaya atau miskin. Dan aku akan selalu menjadikanmu satu-satunya ratu di hatiku seumur hidup ini dan sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang tulus."
Jane hanya bisa mengangguk kecil tanpa sadar buliran hangat lolos begitu saja dari pelupuk matanya mendengar setiap kalimat yang Damien ucapkan padanya. "Damien Barrack, aku mungkin bukanlah wanita sempurna yang lembut dalam bertutur kata. Tidak pula perempuan anggun dengan segala kecantikannya. Tapi, izinkan aku menjadi istrimu, dan jadilah engkau suamiku, satu-satunya pendamping yang akan menemani di kala sehat maupun sakit, susah atau senang, kaya maupun miskin. Dan aku akan menjadikanmu seorang raja di sisa hidupku, sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang tulus."
"Di hadapan Tuhan dan para saksi hari aku nyatakan engkau Damien Barrack dan Jane Stephanie resmi menjadi sepasang suami istri. Mempelai pria dipersilakan menyematkan cincinnya!"
__ADS_1
Damien menyematkan sebuah cincin yang cantik di jari manis tangan kanan Jane, terbuat dari batu mulia berwarna hitam yang sudah dia persiapkan jauh hari setelah memutuskan mengejar cintanya. Benda itu terlihat begitu serasi dengan kulit putih Jane yang kini menyandang status sebagai istrinya.
Begitu pula dengan Jane dia menyematkan sebuah cincin di jari manis tangan kanan Damien. Hingga sesaat kemudian tanpa aba-aba pria itu langsung mencium Jane dengan lembut sambil memejamkan mata.
Riuh tepuk tangan mulai mengisi seluruh ruangan dengan lagu pernikahan yang mengalun memeriahkan tak membuat keduanya melepaskan pagutan. Malah membuat Damien semakin dalam membelitkan lidahnya. Hingga mereka baru melepaskan pagutan ketika pasokan udara dalam diri telah habis.
"Ayo!" Tak ingin berlama-lama, Damien segera menggenggam tangan Jane dan membawa wanita tersebut berlari keluar gereja.
"Kita akan ke mana?" tanya Jane di sela-sela langkahnya. Beruntung dia tidak mengenakan gaun besar tadi bisa-bisa akan sangat sulit ketika Damien mengajaknya berlari seperti ini.
"Bulan madu."
__ADS_1
TO BE CONTINUE…
Yei yei yei, tinggal belah duren dan berkembang biak nih.