Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Wanita Adalah Ratu


__ADS_3

Beberapa hari terakhir Jessi selalu saja mengikuti ke mana suaminya pergi, bahkan meskipun hanya sekedar ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi, tetapi hormon kehamilannya membuat wanita tersebut enggan berada jauh dari sang suami dan pria itu harus terus di jangkauan matanya.


Beruntung Nicholas tidak keberatan akan hal itu. Dia malah senang dengan sikap manja istrinya sekarang karena bisa langsung mengawasi jika tiba-tiba terjadi sesuatu yang tak diinginkan, mengingat dia sudah harus menjadi suami siaga. 


Dia pun tak malu membawa Jessi ke mana pun, termasuk mengajaknya menemui relasi bisnis. Meskipun di tengah pembahasan sesekali Nicholas harus memijat kaki atau pinggan istrinya, maupun membantu ke kamar mandi di tengah kesibukan, pria itu tidak malu menunjukkan perhatiannya. 


Seperti hari ini, mereka membahas bisnis di salah satu hotel yang akan diakuisisi oleh Bannerick Group. Nicholas dengan santainya satu tangan memijat pinggang sang istri, sementara sebelah tangannya lagi membaca berkas dengan teliti membuat setiap orang yang melihat keduanya tercengang. Kecuali Willy tentunya karena sudah terbiasa melihat hal itu semenjak Jessi hamil tua.


"Sayang," rengek Jessi lirih pada sang suami di saat merasakan sesuatu akan meledak kembali.


"Hmm, ada apa, Sweety?" tanya pria itu sambil meletakkan dokumen dan menoleh pada sang istri. 


Jessi mendekatkan wajahnya ke telinga sang suami dan berbisik. "Kebelet pipis." 


Nicholas hanya tersenyum mendengar keluhan istrinya. Padahal belum ada lima belas menit dia sudah ke kamar mandi, tetapi sekarang rasa itu datang kembali untuk yang ketiga kali. "Maaf saya permisi ke toilet sebentar," ujar Nicholas pada relasinya dan membantu sang istri berdiri. 


Semenjak kejadian hari itu, Jessi memang terbiasa dibantu suaminya jika ingin berkemih. Kondisi perut buncit yang terlampau besar karena tiga bayi di dalam membuatnya kesulitan bergerak mandiri, bahkan tak jarang Nicholas harus segera menggendongnya jika memang sudah tidak tahan lagi. 


Sementara itu, rekan bisnisnya yang kembali menunggu bersama Willy hanya bisa tercengang dengan apa yang dilakukan Nicholas. Hal yang tak pernah dia lihat selama perjalanan bisnisnya sebagai seorang pengusaha."Apa Tuan Nicholas selalu seperti itu pada istrinya?" tanyanya pada Willy yang masih berdiri di posisinya. 


Willy hanya mengangguk kecil, sedangkan pria itu menggeleng seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Kenapa pria harus menjadi budak seorang wanita?" ujar tanpa sadar karena seharusnya prialah yang menjadi Raja.

__ADS_1


Namun, ternyata apa yang dia ucapkan sungguh berakibat fatal. Karena Nicholas sudah berada di ambang pintu dan mendengar keluhannya tadi. Dia pun tampak geram dengan apa yang diucapkan pria paruh baya tersebut. "Apa Anda tidak pernah memiliki istri?" sentak Nicholas, hingga beberapa orang yang berada di ruangan tersebut terkejut seketika. 


"Tu–tuan Nich," ucapnya dengan terbata. 


"Seharusnya seorang pria merasa senang ketika istrinya mau bergantung padanya. Bukan karena dia tidak mampu, tapi manjanya istri adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang suami sebab artinya kita masih berguna untuknya!" ucapnya dengan tegas.


Sejenak Nich menghentikan kalimatnya. "Dan apa yang Anda bilang tadi? Budak? Cih, seharusnya Anda malu dengan usia yang hampir bau tanah jika harus berbicara seperti itu. Apa Anda tidak tahu jika wanita pantas dijadikan Ratu? Apalagi di saat dia berjuang seorang diri membawa benih cinta yang tumbuh di rahimnya. Kita sebagai pria tidak tahu seberapa menderitanya dia selama sembilan bulan karena hal itu, tapi seorang ibu tak pernah mengeluh sedikit pun seberapa pun lelahnya dia bahkan merelakan tubuh cantiknya melar sedemikian rupa hanya demi melahirkan seorang penerus." 


Amarah dalam diri Nicholas seakan memuncak ketika seorang pria berpikiran sempit seperti pria di hadapannya. "Wanita akan menjadi Ratu ketika bertemu pria yang tepat. Dan saya akan menjadi pria seperti itu bagi istri saya. Jadi Anda tak berhak mengomentari apa yang saya lakukan karena Anda juga terlahir dari seorang wanita." Dia lantas menoleh pada asistennya sejenak. "Will, batalkan kerjasamanya. Aku tidak sudi lagi mengambil alih tempat ini." 


"Tapi, Tuan—" Pria itu mencoba menahan Nicholas yang hendak melangkah pergi, sayangnya dengan cepat Nicholas menunjuk tepat di antara kedua matanya. 


"Jangan harap akan ada yang mengambil tempat ini karena kalimatmu barusan!" Nicholas kemudian beralih pada bagian lipatan kerah jas yang digunakan pria itu seolah sedang merapikannya. "Dan sampaikan salamku pada istrimu. Tampaknya dia menjadi Ratu dari seorang Raja Fir'aun."


Sementara itu, sang pria yang ditinggalkan hanya bisa menepuk mulut kotornya berulang kali karena hanya dengan sebuah kalimat hotel yang sebelumnya berada di ambang kebangkrutan kini benar-benar bangkrut. "Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa malah menyinggung mereka sih!"


Di sisi lain, Nicholas yang sudah berada di mobil bersama istri dan asistennya lantas mengendurkan dasi di leher dengan kesal. "Will, blokir akses hotel itu agar tidak ada pengusaha yang membeli atau investor yang berani membantunya!" 


"Baik, Tuan," jawab Willy sambil mengemudikan mobil. 


"Sayang." Jessi yang sedari tadi diam akhirnya mulai bicara karena merasa terharu diperlakukan seperti itu oleh Nicholas. 

__ADS_1


"Kenapa? Mana yang sakit? Apa mau pipis lagi?" Ekspresi Nicholas yang tadinya menggebu-gebu berubah khawatir hanya dalam sekejap mata di saat mendengar rengekan istrinya. Dia langsung memegang bahu Jessi dan memindai setiap inci tubuh sang istri. 


Jessi hanya menggeleng kecil sambil tersenyum indah di wajahnya. Menampakkan pipi tembamnya yang kini mengembang dua kali lipat dari biasanya padahal tidak pernah makan fermipan. "Terima kasih sudah menjadikanku Ratu di hidupmu." 


Nicholas tampak lega mendengar penuturan istrinya. Dia langsung meraih tubuh sang istri dalam dekapan dan mengecup pucuk kepalanya berulang kali. "Kalian adalah segalanya bagiku," ucapnya seraya mengelus perut buncit istrinya.


Seakan mengerti pembahasan kedua orang tuanya. Sang jabang bayi di dalam perut mulai saling bersahutan menendang ke sana ke mari bergantian hingga terasa nyeri di tubuh Jessi dan telapak tangan Nicholas. "Sayang, Baby bergerak lagi," ucap Nicholas dengan semburat kebahagiaan yang terlihat jelas. "Ih, lagi."


"Mereka tahu Daddynya sangat hebat," balas Jessi sama-sama mengusap perutnya merasakan kebahagiaan yang tak ada batasnya.


Melihat hal itu, Nicholas berulang kali mendaratkan banyak kecupan di perut sang istri. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri di saat menanti hari  menyambut hadirnya sang buah hati. Apalagi mereka sangat aktif ketika di dalam perut, membuatnya membayangkan betapa lincahnya mereka kelak.


Willy yang melihat dari kaca tengah ikut merasakan betapa bahagianya sang tuan. Sungguh sikap Nicholas berbanding terbalik dengan ketika pria itu masih sendiri. Namun, sebuah celetukan dari belakang mengubah ekspresinya seketika. 


"Lihat, Will. Anak-anakku hebat 'kan bisa mempunyai Daddy yang keren sepertiku. Kau kapan nyusul cari istri? Apa belum bosan hidup sendiri?" ujar Nicholas tanpa menoleh ke arah asistennya tersebut. 


Willy hanya bisa menghela napas kasar. Keduanya sungguh pasangan yang serasi di saat menghinanya yang masih sendiri. "Nanti, Tuan. Kalau Anda memberi saya cuti sebulan," celetuk Willy kesal. 


"It's okay. Tidak masalah, letakkan surat pengunduran dirimu di mejaku nanti!" 


Lagi-lagi Nicholas menyindir, tetapi tak memberinya ruang untuk mencari kekasih. Bagaimana Willy bisa berumah tangga jika segala pekerjaan selalu dibebankan kepadanya. Bahkan dia tidak memiliki hari libur hanya untuk sekedar memancing wanita. Meskipun bayaran yang dia terima memanglah setimpal dengan apa yang dilakukan. 

__ADS_1


TO be Continue..


__ADS_2