Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kehidupan dan Kematian


__ADS_3

Jane yang keburu emosi langsung memasuki ruangan suaminya begitu saja tanpa menghiraukan Dove. Namun, betapa tercengangnya dia ketika melihat suaminya yang tengah muntah-muntah di kamar mandi, tetapi tidak mengenakan pakaian. 


"Damien, apa yang kamu lakukan, hah?" bentak Jane menatap punggung suaminya lalu melihat ke samping di mana tampak seorang wanita tengah mengambil pakaian sang suami di lemari dengan menutup wajah menggunakan rambut. "Beraninya kau bermain-main di belakangku!" 


Tanpa membuang waktu, Jane langsung menendang punggung suaminya yang ma0sih menunduk di kloset, hingga pria tersebut terjerembab ke dalamnya. Lalu, dia beralih pada sosok wanita yang menutupi wajahnya tersebut dan membantingnya tanpa ampun. "Beraninya kalian—"


Belum sempat Jane menghabiskan kalimatnya, Dove yang tak bisa diam mendengar keributan di dalam langsung memasuki kamar pribadi di ruangan bosnya tersebut dengan terpaksa. "Nyonya, apa yang Anda lakukan pada Suamiku?" Dia langsung mendorong tubuh Jane yang memelintir ke belakang tangan Rahmat meskipun Rahmat sudah tengkurap di lantai. 


“Suami?” Jane hanya bisa berdiri sambil menyernyitkan dahi menatap lekat orang yang disangkanya adalah perempuan. Meskipun rambutnya panjang, dan mengenakan setelan wanita, tetapi bisa terlihat bulu tebal di kaki yang membuatnya seketika membelalakkan mata. 


Jane pun beralih menatap Dove yang ternyata mengenakan pakaian pria. “Rahmat,” panggil Jane seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya itu. “Kenapa kalian berpakaian seperti ini?” tanya Jane tidak mengerti situasi dan hanya melihat pria tersebut dibantu istrinya berdiri. 


"Semua ini gara-gara Tuan Damien, Nyonya," bisik Rahmat sangat pelan karena khawatir Damien mendengarnya. 


"Ya ampun suamiku?" Jane hanya bisa menepuk dahinya sendiri mengingat dia sudah menendang sang suami hingga kepalanya masuk ke dalam kloset tadi. Dia bergegas menemui suaminya yang tampak memelas dengan wajah kotor penuh dengan—tahu sendirilah. "Sayang, maaf." 


Damien seketika merengek layaknya anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya. Jane langsung membawanya kembali masuk ke kamar mandi dan membantu suaminya membersihkan diri sebagai permintaan maaf. Sementara itu, Rahmat dan Dove hanya bisa keluar serta membiarkan mereka meluruskan kesalahpahaman. 


Sesaat kemudian, setelah Damian membersihkan diri keduanya pun keluar dari kamar pribadi tersebut. Jane memapah sang suami karena tidak tega melihat wajah pucatnya saat ini. "Sayang, kita ke rumah sakit saja yuk!" ajak Jane sambil melangkah keluar menemui kedua asisten suaminya yang sudah duduk di ruangan tersebut.


"Benar apa yang dikatakan Nyonya, Tuan. Anda sudah beberapa hari ini muntah-muntah terus. Sebaiknya periksakan saja ke dokter sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," usul Rahmat, meskipun sesungguhnya dia tahu bukan Damien yang bermasalah melainkan Jen karena dia juga pernah mengalami hal itu sebelumnya.


"Apa? Jadi bukan hanya di rumah kamu seperti ini. Tapi juga selama di kantor? Kenapa dibiarkan saja?" marah Jane sambil menatap tajam sang suami. 


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Paling hanya masuk angin," ujar Damien beralasan, walaupun sesungguhnya dia sendiri tidak mengerti apa yang sekarang terjadi padanya. 


"Tidak bisa. Aku tidak mau menjadi jandi di usia muda. Ayo cepat!" Tanpa menunggu jawaban suaminya Jane langsung menarik saja tubuh Damien keluar dengan segara dan meninggalkan kedua asisten yang hanya bisa tercengan melihat pasangan tersebut. 


Keduanya pun bergerak menuju rumah sakit dengan menggunakan mobil. Ada rasa tak menentu antara khawatir sekaligus perasaan tak terbaca dalam hati Jane saat ini. Dia mengemudikan kendaraan sambil sesekali melihat ke arah sang suami di sampingnya yang tampak begitu lemas dan tak berdaya. 


Hingga sesaat kemudian, keduanya pun tiba di rumah sakit dan Jane langsung mendaftarkan sang suami di poli umum. 

__ADS_1


"Jadi, apa keluhan Anda, Tuan?" tanya sang dokter di saat keduanya telah ditangani. 


"Suamiku terus saja muntah-muntah, Dok. Dia bahkan bertingkah aneh selama ini dan hanya makan pai apel. Apa dia bisa mati karena kebanyakan makan pai apel, Dok?" tanya Jane tanpa malu, tetapi malah membuat tenaga medis menggelengkan kepala karena tingkahnya. 


Sesaat setelah memeriksa kondisi Damien. Dokter lantas meletakkan stetoskop di lehernya dan hendak melangkah ke kursinya. "Ngomong-ngomong kapan terakhir kali Anda datang bulan, Nyonya? Apakah masih teratur?" tanya Dokter sambil menuliskan sesuatu di atas kertas. 


Sejenak Jane terdiam mengingat kembali kapan hal itu terjadi. "Ya Tuhan. Seperti saya belum datang bulan sejak bulan kemarin, Dok." 


"Kalau begitu, setelah ini coba cek ke poli kandungan. Biar suster nanti membantu pendaftaranya. Dari yang saya periksa, Tuan Damien tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit berat. Jadi, cobalah untuk dipastikan di bagian kandungan saja," saran dokter tersebut dengan ramah. 


"Jadi, suamiku hamil, Dok?" Jane hampir saja menjatuhkan rahangnya ketika bertanya, tetapi dokter malah tampak menahan tawanya. 


"Nanti bisa dipastikan di sana saja, Nyonya. Semoga lekas sembuh dan si kecil tumbuh sehat di dalamnya," ujar sang dokter sambil menyerahkan kertas resep untuk meredakan rasq mual yang dialami Damien. 


Keduanya pun hanya bisa menurut dan beralih ke poli kandungan. Namun, kali ino bukan Damien yang diperiksa melainkan Jane, hingga membuat wanita tersebut sedikit kebingungan. "Suami saya yang sakit, kenapa saya yang diperiksa, Dok?" tanya Jane merasa tidak ada sesuatu yang aneh pada dirinya. 


"Tidak apa-apa, Nyonya. Hanya untuk memastikan diagnosa dokter sebelumnya. Lagi pula tidak mungkin kan seorang pria membawa janin dalam perutnya," ujar si dokter sambil mulai memutar transduser di atas perut Jane yang sudah di lumuri gel sebelumnya. "Lihat! Ini adalah kantong kehamilan." Dokter menunjukkan sebuah bulatan di layar monitor. 


Damien yang mendengar hal itu seketika bersemangat mendekat ke arah istrinya. "Istriku hamil, Dok?" tanya Damien dengan bergetar seolah tak percaya apa yang baru saja dia dengar. 


Rasa haru sektika menyeruak di hati sepasang suami istri tersebut. Bertahun-tahun mereka berumah tangga dan mencoba berbagai cara untuk memperoleh keturunan, akhirnya baru terjawablah semua doa serta usaha hari ini. 


Jane dinyatakan hamil dan itu membuat jantungnya seketika berdetak cepat karena rasa haru. Bahkan buliran hangat sudah berkumpul di pelupuk mata Damien sembari mendengar detak kecil yang menyentuh hati kedua orang tuanya. 


"Janinnya sehat, perkembangannya pun normal. Hanya saja sepertinya Nyonya mengalami kehamilan simpatik atau sindrom couvade," jelas dokter tersebut.


Keduanya pun hanya terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar dari sang dokter tentang apa yang mereka alami. Di mana kehamilan simpatik ini memiliki dua gejala yang dirasakan para pria ketika mendapat sindrom tersebut. Gejala tersebut meliputi fisik dan mental. Untuk fisik sendiri, para pria akan merasakan mual, mulas, perut sakit dan kembung, sakit gigi, permasalahan bernapas hingga iritasi alat kelamin.


Sementara itu, secara mental atau dari sisi psikologi, para pria akan memiliki perubahan pola tidur, kecemasan, depresi serta sering lelah. Umumnya sindrom ini tampak ketika masuk pada trimester pertama dan ketiga kehamilan.


Para peneliti mempercayai jika sindrom couvade sepenuhnya adalah masalah psikologi. Jika berdasarkan teori psikoanalisis, sindrom couvade muncul karena kecemburuan pria atas kemampuan perempuan untuk bisa menciptakan kehidupan. Ada pula yang berteori bahwa itu merupakan cara para pria yang termarjinalkan mencari perhatian saat pasangannya hamil.

__ADS_1


Namun, penelitian lebih lanjut mengatakan fenomena kesehatan ini lebih dari sekadar mencari perhatian. Empati dan keterikatan terhadap pasangan diasosiasikan dengan hal ini yang mana sindrom ini semakin kuat dirasakan jika ikatan kedua orang tua tersebut sangat mendalam dalam hal perasaan satu sama lainnya.


"Jadi begitu, selamat atas kehamilannya, Nyonya, Tuan," ujar sang dokter mengakhiri penjelasannya. 


"Terima kasih, Dok," ujar Damien yang menggenggam erat tangan istrinya. 


Setelah semuanya selesai, keduanya pun keluar dari ruangan tersebut dengan wajah berseri menuju tempat parkir. Sakit yang selama ini Damien rasakan tidak akan ada artinya apa-apa jika dibandingkan dengan kebahagiaan atas hadirnya sang buah hati di dalam perut istrinya. 


Namun, belum sempat Damien menyalahkan mobilnya, ponsel pria tersebut terasa berdering di sakunya. "Sebentar, Sayang!" ucapnya pada Jane. "Jessi, kenapa dia tepat waktu sekali," lanjutnya memerlihatkan layar benda pipih tersebut pada sang istri. 


Tanpa membuang waktu dan Damien segera mengangkat panggilan tersebut, tetapi dia hanya terdiam mendengarkan adiknya yang terisak di seberang sana. 


"Apa yang terjadi?" tanya Jane penasaran dengan perubahan wajah suaminya. 


Sesaat kemudian, Damien menutup sambungan telepon sang adik dan menoleh pada istrinya sambil memeluk wanita tersebut dengan erat. Sejenak dia hanya terdiam, hingga sedetik setelahnya barulah Damien berbica. "Nenek Amber meninggal." 


Belum ada beberapa menit yang lalu mereka mendapatkan kabar baik yang menggembirakan. Akan tetapi, sedetik kemudian mendapatkan berita duka yang cukup mencengangkan. Nenek Amber meninggal di usia senja karena memang sudah tua dan pergi dengan keadaan bahagia karena sudah melihat cucu-cucunya bahagia. 


Fakta yang menyedihkan adalah bahwa adanya kehidupan yang datang, pasti bersama dengan kematian. Itu akan terjadi pada kita semua, entah kapan waktunya hanya Tuhan yang tahu. Begitu pula dengan kelahiran yang tidak ada siapapun manusia sanggup untuk menolak atau pun memaksakan kehadirannya. Sebab itu semua adalah keputusan Sang Pencipta.


Seperti hari yang dihabiskan dengan baik membawa tidur yang bahagia, demikian juga kehidupan yang digunakan dengan baik membawa kematian yang bahagia. Begitulah kiranya gambaran kehidupan nenek Amber semasa hidupnya. 


Hanya karena kamu masih muda dan sehat bukan berarti kematian tidak akan datang karena kematian tidak memandang usia. Setiap jiwa pasti akan merasakan yang namanya kematian. Di mana saja manusia berada, kematian pasti akan menghampirimu, meski dia berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat tinggi dan kukuh.


TAMAT..


Terima kasih sudah menanti Dangerous Woman Jesslyn selama enam bulan ini.


Dan selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri bagi setiap umat yang merayakannya seperti Rissa.


Jika ada banyak kesalahan dari Rissa baik yang disengaja atau tidak. Rissa mohon maaf sebesar-besarnya.

__ADS_1


Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘aamin wa antum bi khair.


Minal Aidin wal Fa idzin mohon maaf lahir dan batin.


__ADS_2