
Di Negara N seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi sebuah taman yang luas di kediamannya, menerima laporan dari pemimpin mafia Virgoun—Johny Messis.
"Bagaimana bisnismu kali ini?"
"Sedikit tidak baik, Ayah. Akhir-akhir ini selalu ada saja yang mengacaukan bisnis kita," ujar Johny.
"Kau sudah menemukan dalangnya?"
"Belum, dia bergerak sangat rapi."
Seorang pelayan mengantarkan makanan ringan dan minuman kepada tuannya, membuat kedua orang itu menghentikan pembicaraan sejenak.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu?" Pria paruh baya itu meniup teh di dalam cangkir, mengeluarkan aroma khas daun teh bersamaan dengan uap yang mengepul.
"Sepertinya peristiwa di kediaman Tom Evening bukanlah kecelakaan biasa, Ayah. Ada yang mengeluarkan Istrinya dari rumah sakit jiwa, sedangkan anaknya kini entah berada di mana."
Pria paruh baya itu menyeruput minumannya sambil memikirkan perkataan Johny, selama ini memang dialah yang mengatur siasat untuk Tom Evening, Barron Night, dan juga Gery Selay.
Dia adalah aturan utama yang harus dituruti oleh ketiga orang tersebut. Oleh karena itu, kematian Tom Evening tentu saja menjadi urusannya sekarang. Dia adalah Jerry Morning, kakak kandung dari Kate Morning.
Pria paling berbahaya pada masanya, melambungnya nama Marcopolo sebenarnya juga karena dirinya. Lelaki itu hanyalah ibarat anjing bagi Jerry Morning karena itulah ketika dia melihat potensi kekejaman Brian Messis yang lebih menguntungkan dari pada ayahnya, ia membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Brian dan juga Johny.
"Cari tahu di mana Anak dan Ibu itu bersembunyi! Jangan biarkan mereka lolos! Kalau perlu bunuh sekalian dan jangan tinggalkan jejak!"
"Baik, Ayah."
Tak lama kemudian, seorang anak buah tiba-tiba saja berlari mendekati Johny, membisikkan sesuatu padanya.
"Tuan, ada kabar dari Negara K. Bahwa produsen barang kita di sana tewas hari ini," bisik anak buah Johny.
"Apa?" Johny seketika terkejut mendengar berita tersebut. Produsen dari Negara K merupakan pengirim bahan baku terbesar selama beberapa tahun ini. Hal ini tentu akan menghambat pasar bisnisnya, jika mereka kekurangan bahan.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jerry.
"Ekhem, Ayah produsen barang utama kita di Negara K dikabarkan tewas hari ini." Suara dentingan cangkir berbenturan dengan lepeknya terdengar begitu keras.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Suara Jerry terdengar begitu geram. Pria itu tampak menahan amarahnya, sudah banyak laporan tentang kekacauan yang terjadi pada bisnis gelapnya beberapa kali, dan sekarang malah sumber utama pengiriman barang mereka menghilang begitu saja.
"Kediaman mereka dikabarkan terbakar, dan tidak ada yang tersisa di kediamannya. Dua orang itu tewas terjebak di dalam rumah." Johny berusaha untuk berbicara dengan hati-hati, dia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan ayah angkatnya ketika pria paruh baya itu marah.
Sementara Jerry mengernyitkan dahinya mendengar hal tersebut. "Bagaimana dengan pria itu?"
"Dia masih bebas bergerak, istrinya juga dikabarkan meninggal malam tadi karena perampok yang mencuri di dalam rumahnya."
"Hubungi dia! Minta untuk mencari produsen pengiriman yang baru untuk kita!"
"Baik, Ayah. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Pergilah!" Jerry mengibaskan tangannya, sebagai tanda agar Johny segera menjalankan apa yang dia perintahkan.
Sementara di Negara K, Maurer yang selesai mengurus para pelayan mulai menjalankan perintah Jessi selanjutnya. Meretas seluruh siaran televisi dan juga media untuk menyebar luaskan vidio pembunuhan yang dilakukan oleh Park Eun Seok dan juga Kim Jae Wook.
Banyak orang yang menghentikan langkah perjalanan mereka demi menyaksikan adegan tersebut. Terlihat Kim Jae Wook tersenyum ketika Park Eun Seok membunuh istrinya, kejadian ini tentu saja menghebohkan banyak orang. Mereka merasa ditipu oleh Kim Jae Wook yang mengatakan jika Seo Ya Ji meninggal akibat dibunuh oleh pencuri yang merampok rumah mereka.
Ditambah dalam vidio tersebut Kim Jae Wook menyebut Park Eun Seok 'Son' tentu saja hal tersebut mampu mengguncang publik. Mereka mulai berspekulasi bahwa pria itu bekerja sama dengan anaknya demi kepentingan pribadi.
Di sisi lain, ayah dari Seo Ya Ji yang tengah berada di area Jangraeshikjang—rumah duka bagi orang-orang di Negara K sebelum dimakamkan—seketika murka. Dia diberitahu oleh bawahannya tentang hal tersebut.
Pria tua itu langsung mendekati Kim Jae Wook yang tengah berdiri sebagai keluarga dari mendiang Seo Ya Ji.
"Kau bajingan!" Ayah Seo Ya Ji memukuli Kim Jae Wook dengan tongkat yang selalu dia gunakan untuk membantunya berjalan.
Pria tua itu memukulnya sekuat tenaga dengan membabi buta. Penyesalan menikahkan putri tercintanya dengan Kim Jae Wook datang terlambat. Kenyataan anaknya dibunuh oleh suaminya sendiri membuatnya murka. Dia melampiaskan seluruh kekecewaannya kepada menantunya itu.
__ADS_1
Hingga segerombol polisi datang untuk mengamankan Kim Jae Wook yang langsung ditetapkan sebagai tersangka.
"Tuan, tolong hentikan aksi, Anda. Biarkan kami yang menanganinya!" Seorang polisi mencoba untuk melerai perkelahian tersebut, tetapi ayah Seo Ya Ji terlalu sulit untuk ditenangkan membuat pihak kepolisian segera membawa Kim Jae Wook meninggalkan lokasi rumah duka.
"Pastikan pria itu mati di penjara!" Raut wajah ayah Seo Ya Ji menggelap, dia tidak akan membiarkan Kim Jae Wook tetap hidup kali ini. "Aku ingin beritanya sudah keluar hari ini juga!"
"Baik, Tuan."
Bawahannya langsung bergerak menjalankan perintah sang tuan besar. Mereka akan membayar para pembunuh di penjara untuk menghabisi Kim Jae Wook.
Tak butuh waktu lama, berita kematian Kim Jae Wook akibat dipukuli oleh tahanan lainnya di dalam penjara sudah sampai ke telinga Jessi. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, empat orang dinyatakan tewas dengan cara yang berbeda-beda.
"Nona." Maurer menyerahkan vidio yang memberitakan tentang kematian Kim Jae Wook kepada Jessi yang tengah menikmati kelapa muda.
"Bagus, kita bisa kembali ke Negara N setelah ini. Ngomong-ngomong apa yang akan kau lakukan dengan aset-aset keluarga kalian!"
"Aku akan menghubungi asisten dan pengacara ayah yang telah diberhentikan oleh kedua orang itu, Nona. Biarkan mereka yang mengurus aset untuk mengganti kerugian para pelayan yang bisu akibat ulah dua iblis itu!"
Jessi menganggukkan kepalanya. "Selesaikan urusanmu terlebih dahulu! Ajak Olivia dan X untuk membantumu! Aku akan beristirahat di sini saja." Jessi berdiri dari posisi duduknya, mengangkat tinggi kedua tangan ke atas untuk menarik tubuhnya yang terasa pegal. "Akhirnya, aku bisa beristirahat dengan tenang."
"Baik, Nona."
Wanita itu lantas beranjak dari posisinya menuju kamar, terlihat suaminya sedang duduk di kursi berkutat dengan laptop di depannya. Jessi langsung meletakkan bokongnya di pangkuan sang suami. "Apa yang kau lakukan, Suamiku?"
Nich melingkarkan satu tangannya di pinggang Jessi, menoleh ke arahnya sambil tersenyum lembut. "Hanya meninjau laporan dari Willy. Apa urusanmu sudah selesai, Sweety?"
Jessi mengangguk melingkarkan kedua tangan di leher suaminya, merayu dengan manja. "Suamiku, ayo jalan-jalan! Orang bilang di sini banyak penjual makanan enak di pinggir jalan."
"Apa ini ajakan kencan pertama kita, Sweety?" Sang istri mengiyakan pernyataan tersebut, membuat Nich merasa gemas dengan tingkah manja Jessi yang tak pernah dia perlihatkan sebelumnya. "Baiklah, ayo!"
TBC.
__ADS_1