Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Keluarga Alexander ( Part.2 )


__ADS_3

Nich melaju mengendarai motor dengan kecepatan sedang, sedangkan Jessi memeluk tubuh Nich dari belakang dengan erat.


Embusan angin menerpa wajah Jessi. Dia tak pernah mengendarai motor dengan lelaki sebelumnya. Brian selalu menggunakan mobil dan Jessi tidak pernah menunjukkan minat aslinya di depannya.


Berkilometer motor itu melaju sepanjang jalan, serpihan kenangan terasa beterbangan dari pikiran Jessi.


Ketika jalanan sudah mulai sepi dia merentangkan kedua tangannya. Jessi berteriak sekuat tenaga meluapkan perasaannya. "Aaaaa!"


"Hati-hati, Sweety!"


Jessi kembali memeluk Nich, rasanya seperti remaja yang sedang dimabuk asmara, dia tersenyum di balik punggung Nich.


Alex dan Damien yang berada di dalam mobil hanya bisa tersenyum melihatnya. Mereka melaju menikmati angin senja bersama dengan warna jingga semesta yang fana. Dia mengajarkan kepada kita bahwa matahari tak selalu terang dan bulan tidak selamanya gelap. Akan selalu ada pergantian di antara keduanya untuk memulai kembali.


Mereka mulai memasuki kawasan lahan milik Jessi, dapat dilihat oleh mata Alex dan Damien banyaknya usaha hiburan dan perusahaan yang dimiliki Jessi dengan label Light di sana.


"Apakah ini semua milik keluarga adikmu?" Alex tiba-tiba merasa tidak percaya diri, bagaimana jika Jessi menolak menerima mereka kembali. Dilihat keluarganya yang sekarang lebih dari sekedar kaya jika dibandingkan dengannya.


"Kita akan tau nanti, Uncle. Jangan merisaukan hal yang belum pasti!" Damien menepuk-nepuk punggung tangan tua itu.


Mereka mulai memasuki gerbang pintu masuk mansion. Terlihat tembok tinggi serta kerangka baja yang megah dan gagah menjadi awal pemandangan mata mereka.


Ketika gerbang dibuka mobil Damien masih mengikuti arah motor Nich, tampak jelas halaman yang luas dan ramai di kediaman itu. Kini mereka sadar jika Jessi bukanlah wanita biasa.


Mereka tiba di sebuah pintu masuk mansion. Alex turun dengan dibantu oleh Damien.


"Mari masuk!" ujar Jessi.


Sepanjang perjalanan mereka seperti dibuat kagum dengan estetika bangunan mewah ini. Bukan hanya megah, tetapi juga ramai penghuni di sana.


"Kalian duduklah dulu!" Jessi meninggalkan mereka semua, dia mencoba mencari neneknya.


"Di mana, Nenek?" Jessi bertanya pada Patricia yang sedang berada di dapur bersama ibunya.


"Ada di kamarnya, Nona."


Jessi melangkah menuju kamarnya. Terlihat neneknya sedang menyisir rambut putihnya setelah mandi. Dia mendekati wanita tua itu, mengambil alih sisir di tangannya dan mulai menata rambut beruban itu.

__ADS_1


"Nenek, kenapa kau semakin tua?" Jessi bertanya sambil menyisir rambut neneknya.


"Aku memanglah sudah tua, mungkin usiaku bahkan tak akan lama lagi!"


Jessi memeluk leher Nenek Amber. "Jangan berbicara seperti itu! Kau harus selalu sehat untuk membantuku merawat cicit-cicitmu kelak."


Nenek Amber menepuk punggung tangan Jessi di bahunya. "Ada apa kau kemari, Sayang?"


"Apa aku bukan cucu kandungmu, Nek?"


Mendengar hal tersebut Nenek Amber memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Jessi. "Apa ada sesuatu yang kau ketahui?"


Jessi berlutut di depan neneknya, dia memegang kedua tangan keriput itu. "Di luar ada orang yang mengaku sebagai keluargaku?"


"Benarkah! Ayo kita temui mereka!" Jessi membantu Nenek Amber berdiri dan memapahnya menuju ruang tamu.


Dia berjalan dengan jantung yang berdegup kencang, siapakah kira-kira orang yang mengaku sebagai keluarga cucunya. Apakah dia bisa mendapatkan kabar tentang suaminya dari orang itu? Mereka berjalan hingga tiba di ruang tamu.


"Tuan, David!" Nenek Amber merasa jika pria paruh baya itu adalah David, suami Samantha. Karena mereka pernah bertemu sebelumnya, tetapi dia tidak pernah tahu jika David memiliki kembaran.


Semua orang yang mendengar panggilan Nenek Amber lantas berdiri.


"Oh ... maafkanlah mata tuaku yang salah mengira ini, Tuan. Mari silakan duduk!" Mereka kembali duduk di kursinya lagi.


Nenek Amber melihat Damien dengan saksama, dia mendekatinya lalu menyentuh pipi pria itu. "Apakah kau adalah Tuan Muda Alexander?"


Damien menganggukkan kepalanya. Tanpa sadar buliran hangat mengalir di pipi wanita tua itu. Dia langsung memeluk erat Damien. "Syukurlah kau selamat, Nak."


"Apa Nenek mengenalku?"


Nenek Amber menganggukkan kepalanya. "Suamiku bekerja di kediaman kalian dahulu. Setelah mengantarkan Jessi padaku, dia bilang masih harus menyelamatkan Tuan Muda."


"Apakah Paman Han adalah suamimu?"


Nenek Amber menganggukkan kepalanya. Damien sedikit terkejut ternyata adiknya sudah terlebih dahulu diselamatkan oleh pengurus rumahnya.


Damien luruh, dia menunduk berlutut di kaki Nenek Amber. "Maafkan aku, maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan Paman Hansam!"

__ADS_1


Nenek Amber memegang bahu kekar itu, dia kembali menduduknya di sofa. "Ini bukanlah salahmu, Nak! Ini adalah pilihan hidup kami. Setidaknya, kau dan adikmu masih hidup. Perjuangan suamiku tidaklah sia-sia."


"Jadi, aku sungguh anak Keluarga Alexander, dan dia adalah kakakku?" tanya Jessi.


Nenek Amber mengangguk. Dia merentangkan kedua tangan agar Jessi dan Damien berada di kiri dan kanannya. Perempuan tua itu, lalu memeluk kedua kakak beradik bersamaan.


"Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku yang telah menyembunyikan semua ini darimu. Suamiku berpesan agar tidak membawamu kemari sebelum kamu menjadi wanita yang kuat."


Damien dan Jessi mengapit tubuh wanita tua itu, mereka menghapus buliran bening di pipi keriputnya. "Ini bukan salahmu, Nyonya. Terima kasih sudah merawat adikku selama ini."


"Panggil aku Nenek juga, Nak! Kau juga cucuku, suamiku berjuang demi kalian, dan aku hanya menjalankan amanahnya." Nenek Amber mengelus pucuk kepala Damien dengan lembut.


" Apa aku sungguh memiliki kalung teratai ibuku, Nek?"


Nenek Amber menatap Jessi sambil tersenyum. "Kau memilikinya, carilah di laci kamarku! Aku selalu menyimpannya karena waktu kecil kau terus saja menghilangkannya."


Jessi melangkah pergi ke kamar neneknya, dia mencari-cari barang yang dimaksud. Terlihat sebuah kotak perhiasan bludru biru tua di sana. Dia membuka kotak itu, dan benar wadah itu berisikan kalung teratai ungu bertabur bintang.



Jessi kembali ke ruang tamu, memperlihatkan apa yang dia temukan. "Apakah ini yang kau maksud, Paman?"


Alex mengangguk. "Itu adalah kalung milik Samantha yang selalu dia pakai sejak remaja?"


"Kau juga mengenal ibuku?" Jessi kembali duduk di samping neneknya.


"Kami bertiga menempuh pendidikan di universitas yang sama, tetapi aku pindah ke Negara X setelah mereka menikah."


"Nenek apa yang terjadi saat itu?" tanya Jessi.


Nenek Amber menghela napasnya sejenak. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Keluarga Alexander karena dua tahun aku berada di rumah untuk pemulihan pasca kanker serviks, tetapi hari itu suamiku datang denganmu lantas memintaku untuk membawamu pergi jauh dari negara ini. Dia memberiku setumpuk uang cash dan kalung itu, dia meminta agar kita hidup di pedesaan Negara X dan jangan pernah mengambil uang di bank."


Buliran hangat kembali menetes di pipinya. Jessi segera menghapusnya dengan lembut. "Aku mengikuti permintaannya, mengubah identitasmu dan menuakan usiamu satu tahun. Namun, setelah kejadian buruk yang menimpamu dua tahun lalu, aku merasa kamu sudah berbeda, Nak."


Nenek Amber menyentuh pipi cucunya. "Aku merasa saat itu kamu sudah siap untuk menerima kenyataan. Jadi, aku membawamu kemari dan melihat terlebih dahulu perubahanmu."


Dia menatap lekat wajah cucunya. "Kau! Sudah menjadi orang yang diharapkan suamiku sekarang. Sudah saatnya kau membuka tabir di balik musnahnya Keluarga Alexander."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2