Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Latihan


__ADS_3

Hari telah berganti, terlihat seorang wanita tengah melihat hasil latihan anak buahnya. Setelah kejadian hari itu, kediaman Jessi didesinfeksi seluruhnya. Para penghuni mansion juga diberikan vitamin untuk daya tahan tubuh mereka.


Semua penghuni berkumpul di kediaman itu, kecuali Jack dan Alice yang masih menjaga Angelina di rumah sakit.


"Bagaimana kondisi Angelina sekarang?"


"Sudah jauh lebih baik, Nona. Namun, dia masih perlu perawatan psikologis," ujar Maurer.


Jessi menganggukkan kepalanya. "Patricia!"


Patricia lantas mendekat ke arah Jessi. "Iya, Nona."


"Duduklah!"


Patricia duduk di samping Jessi dengan tubuh yang masih berpeluh karena latihan.


"Aku lihat kau sudah lumayan."


"Terima kasih, Nona. Semua berkat, Anda."


"Patricia, bukankah kau dan ibumu ingin menyelidiki kematian ayah kandungmu?"


Jessi menyerahkan sebotol air mineral untuk Patricia.


Dia menerima botol tersebut. "Iya, Nona."


"Kau belajar di bidang apa sebelumnya?"


"Fashion, Nona."


"Apa kau menyukai bidang itu?" Patricia menggeleng, dulu segala tentangnya memang haruslah mengikuti arahan Tom. "Apa kau ingin menjadi Pengacara juga?"


Patricia mengangkat kepalanya menatap Jessi dalam-dalam, wanita di depannya bahkan lebih mengerti dengan apa yang dia inginkan selama ini. Patricia mengangguk, tetapi dia malu. Jessi sudah banyak membatunya selama ini.


"Kau masih muda. Kejarlah lagi pendidikanmu di Bidang Hukum! Aku akan menanggungnya."


Patricia menatap lekat wanita di depannya, tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Jessi langsung memeluknya dengan erat. "Sudahlah, ada aku di sini. Aku akan membantumu."

__ADS_1


"Maafkan semua salahku dulu, Nona!"


"Aku sudah memaafkanmu, keadaan yang membuatmu jadi seperti itu. Kita adalah keluarga sekarang, berusahalah menjadi orang yang lebih baik dan temukan keadilan untuk ayahmu!"


Patricia mengangguk, dia sungguh beruntung dipertemukan dengan wanita sebaik Jessi.


"Biarkan Mario yang mengurusnya nanti. Lanjutkan latihanmu!"


Patricia membungkuk hormat, lalu kembali ke arena latihan.


"Panggil Mars dan Venus kemari!"


Seorang pria pergi melaksanakan perintah Jessi. Dia memanggil dua harimau jantan ke arena itu.


Gooaar.


Raungan harimau terdengar Jelas di telinga manusia. Mereka berjalan mendekat ke arah Jessi.


"Apa kalian merindukanku?" Jessi mengelus kedua harimau itu. "Ayo kita bermain! Serang mereka semua, tetapi jangan dibunuh, ingat!"


Harimau itu langsung berlari menuju arena latihan.


Terlihat jelas dua harimau mencoba menyerang dengan buasnya para anak buahnya, termasuk George, Olivia dan Patricia di dalamnya. Mereka saling beradu kekuatan tanpa senjata, bertahan tiga puluh menit bukanlah hal yang mudah. Kondisi fisik harimau berbeda dengan manusia, belum lagi waktu yang panjang tanpa istirahat terasa seperti di medan perang.


Satu per satu anak buahnya terluka, mereka langsung keluar arena. "Bantulah orang-orang yang terluka! Jangan sampai menjadi infeksi!"


Maurer mengangguk, dia membawa orang-orang yang terluka ke ruang kesehatan. Untuk luka luar mereka memang terbiasa mengobatinya sendiri tanpa dokter. Kediaman ini lengkap dengan fasilitas kesehatan karena banyaknya penghuni mansion.


Jessi mengamati gerakan orang-orang yang berlatih. "Panggil Sun kemari!"


Seekor harimau betina datang dengan seorang anak buahnya. "Ikutlah bermain dengan mereka! Jangan sampai membunuh!"


Harimau itu paham. 'Goaar." Dia langsung berlari ikut menyerang bersama Mars dan Venus. George yang terkejut dengan kedatangan seekor harimau tepat dari belakangnya langsung jatuh tersungkur. Dia berguling sebelum kaki berkuku tajam itu menginjaknya. Dia bergerak dari bawah kungkungan harimau itu.


George merasa pelatihan Jessi memanglah ekstrim. Namun, sepadan dengan reputasinya. Dia mencoba menyerang harimau yang bahkan ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri. Meskipun berulang kali gagal karena harimau ini juga tangguh.


Melihat tidak ada lagi kesempatan untuk menghindar karena banyaknya serangan dari segala arah dan juga orang-orang yang sudah mulai berguguran, George mencoba berkomunikasi dengan Olivia dan Patricia.

__ADS_1


"Kita tidak bisa bertahan jika hanya bergerak secara individu," ujar George sambil menghindari serangan harimau putih.


"Apa rencanamu?" tanya Olivia yang menundukkan kepalanya, mengindar dari serangan kaki harimau lainnya.


"Kita bergerak bersama. Patricia!" teriaknya.


Mereka bertiga mundur sejenak dari para harimau itu.


"Apa yang akan kita lakukan?" Patricia bertanya dengan napas yang naik turun.


"Kita bergerak bersama, bekerja sama menaiki punggung para harimau itu?" George memberitahukan rencananya.


"Ayo!"


Mereka bertiga saling berpegangan tangan, mengkombinasi gerakan bela diri yang mereka kuasai. George seperti diapit dua pengawal wanita.


Mereka berlari maju menuju serangan harimau. George mengayunkan tubuh Patricia hingga melambung tinggi di udara dengan satu tangan yang masih dipegangnya.


Patricia terpelanting tepat di atas punggung Mars ketika George melepaskan tangannya. Dengan gerakan cepat pula George mengayunkan tubuh Olivia menggunakan tangan kirinya dan melepaskan ketika dirinya sendiri sudah melambung di udara.


Akhirnya ketiga orang itu berada di punggung ketiga harimau dalam waktu singkat. Ketika harimau hendak memberontak terdengar teriakan Jessi, menghentikan kegiatan mereka.


"Berhenti!" Dia berjalan mendekati arena latihan sambil bertepuk tangan, melihat kemajuan latihan anak buahnya menjadikan kebanggaan tersendiri baginya.


"Bagus sekali. Kalian mau bekerja sama demi tujuan bersama, ini yang aku harapkan dari kalian!" Jessi mengambil tiga botol mineral dari anak buahnya, dan melemparkan kepada mereka yang masih berada di punggung harimau.


"Sudah cukup latihan hari ini. Kalian boleh beristirahat!"


Mereka turun dari punggung harimau lalu membungkuk hormat pada Jessi dan pergi meninggalkan lokasi.


Jessi memang menampung semua korban-korban di pelabuhan hari itu. Untuk anak-anak dia merawat mereka hingga sembuh. Lalu, dibebaskan pilihan jika mereka ingin kembali kepada orang tuanya maka Jessi akan menjamin keselamatannya hingga tiba di rumah mereka.


Sementara untuk para korban wanita dewasa, mereka lebih memilih tinggal dan mengikutinya seperti halnya Olivia. Hal itu membuat bangga Jessi, setidaknya dia masih bermanfaat bagi sesama wanita. Mereka di latih lagi fisik dan mentalnya, diasah menjadi kubu wanita berbahaya bagi perusahaan barunya, Jaguar Guard 2.


Jessi melangkah membawa para kucingnya kembali ke rumah kaca. Dia sengaja tidak membawa keluar Moon karena kucing itu tengah mengandung, mungkin sudah menginjak bulan ke dua sekarang.


"Apa kalian lelah?" Jessi lalu memberikan daging ayam yang sudah di bersihkan sebagai makanan mereka.

__ADS_1


Dia membeli ayam dari peternakan warga di sekitar kawasannya. Dia selalu membeli daging dan sayur dari para pedagang kecil dan bukan dari supermarket. Karena menurutnya hal itu lebih bermanfaat untuk membatu sesama.


Jessi memanglah malaikat penyelamat warga di sekitar bukit. Perekonomian mereka kian membaik semenjak di bangunnya pasar bisnis milik Jessi. Namun, tak banyak yang tau jika dia jugalah malaikat kematian.


__ADS_2