Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Profesor Pineapple


__ADS_3

"Cukup lama, aku menemukan mereka ketika aku masih berusia lima belas tahun," ujar Nich.


"Benarkah!" Jessi yang terkejut spontan bertepuk tangan secara halus ketika mendengar penuturan suaminya. Di usia lima belas tahun dan Nicholas sudah menemukan seorang ilmuwan, tentu saja hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Pantas saja dia menjadi orang paling ditakuti dan juga diinginkan di negara ini.


Jessi dan Nich berjalan melihat-lihat isi laboratorium. "Bagaimana kalian bisa bertemu, Sayang?"


"Aku hanya menemukan mereka di jalan."


Mereka melangkah mendekati pria paruh baya tersebut. Nich menepuk bahu Profesor Pineapple yang masih fokus dengan penelitiannya. "Prof."


"Ah, Tuan Muda." Profesor yang terkejut lantas menoleh ke belakang dan membungkuk hormat. "Maaf tidak menyadari kehadiran, Tuan Muda."


"Bukan masalah, aku hanya membawa istriku melihat-lihat."


Jessi mengulurkan tangannya kepada pria paruh baya tersebut. "Jessi."


"Pineapple, dan ini putra saya, Applepan." Sang profesor mengenalkan diri bersama anaknya.


Mendengar nama yang mereka perkenalkan membuat Jessi berusaha keras menahan tawanya.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Silakan tertawa!" Seakan tahu apa yang dipikirkan Jessi professor tersebut mempersilakan sang nyonya untuk tertawa. Namun, wanita itu jelas tidak akan melakukannya. Bukan hal baik menertawakan nama orang lain, meskipun hal itu sangat lucu.


"Ekhem, tidak, Profesor Pin. Aku hanya ingin melihat karya kalian saja, lanjutkan urusanmu!"


"Baik, Nyonya." Jessi dan Nich kembali melangkah menyusuri setiap sudut ruang yang luas tersebut.


Setelah mereka berjarak cukup jauh dari profesor dan anaknya barulah Jessi mulai bertanya. "Suamiku, di mana kamu menemukan makhluk unik seperti mereka?"


"Di jalan." Jawaban santai dari mulut Nich, membuat sang istri mendaratkan pukulan di bahunya.


"Menyebalkan! Aku serius, Sayang!"


Melihat wajah kesal sang istri membuat Nich juga ikut tersenyum sambil memegang bahunya. "Aku juga serius, Sweety."


______


Pria tersebut lantas menceritakan pertemuan pertama dengan sang profesor kepada istrinya. Saat itu dia sedang pulang sekolah dan melihat seorang lelaki yang layaknya orang gila tengah menggendong bayi di jalanan. Nich yang merasa iba lantas mendekatinya.


Dia membawa pria tersebut pulang ke rumah dan meminta pelayan untuk menyediakan susu untuk sang bayi yang masih berusia satu tahun tersebut. "Tuan, kenapa Anda hidup di jalanan?"


"Istriku mengusirku, Tuan Muda. Dia bilang aku hanyalah orang gila dan anakku juga akan sama denganku karena itulah wanita tersebut membuang kami."

__ADS_1


Nich remaja menyodorkan piring makanan kepada Pineapple. "Makanlah! Kenalkan, namaku Nicholas Bannerick."


"Pineapple." Pria tersebut memakan makanan layaknya orang kelaparan karena sebenarnya dia juga belum makan beberapa hari ini.


Hidup dengan berkutat bersama logam, besi, dan baja setiap hari membuatnya tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun selain terus bereksperimen. Namun, Nich tetap menampung mereka di rumahnya.


Dahulu ayah dan ibunya terlalu sering bekerja di Luar Negeri untuk terus mengembangkan Bannerick Group, membuatnya sebagai anak tunggal merasa kesepian.


Kehadiran Profesor Pineapple dan anaknya membawa suasana baru bagi Nicholas yang jenius. Mereka sering melakukan riset bersama di kamar sang tuan muda, hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuat laboratorium.


Kedua orang tuanya pun hanya bisa menuruti apa yang diinginkan anak semata wayang mereka. Nich dan Professor Pineapple mulai bereksperimen bersama hingga hari ini.


________


Jessi menganggukkan kepalanya mendengar cerita Nich. "Jadi, karena dia selalu berkutat dengan logam istrinya mengira kalau orang itu adalah pria gila?"


"Iya, tapi begitulah manusia. Sesuatu hal yang tidak umum di masyarakat selalu dianggap remeh."


"Jika saja wanita itu tahu kalau Profesor Pineapple adalah orang yang jenius, aku pastikan dia akan muntah darah!" Jessi terlihat begitu geram mendengar cerita Nich. Wanita kebanyakan hanya mau menerima pria kaya sebagai suaminya, padahal terkadang mereka hanyalah berlian yang belum diasah.


Nich membenarkan pernyataan istrinya. "Aku sendiri tidak menyangka akan bertemu mereka. Terkadang jenius tidak jauh berbeda dengan orang gila, mereka sama-sama tidak normal."


"Jadi, T, R, X, dan Y?" Jessi mengernyitkan dahinya mengingat para anak buah yang membantunya ketika di Negara K.


Sejak berusia enam belas tahun, Nich dan Profesor Pineapple mulai menyempurnakan penampilan para robot tersebut agar menyerupai manusia sungguhan.


Setelah memakan waktu cukup lama barulah robot itu memiliki penampilan yang sempurna. Namun, mereka belum bisa bergerak dengan leluasa dan masih kaku. Menyebabkan Profesor Pineapple harus bekerja lebih ekstra lagi untuk menambah fitur-fitur mereka.


Hingga para robot berhasil dikembangkan dengan sistem kecerdasan buatan atau *Ar*tificial Intelligence. Mereka bisa berbaur dengan manusia, sehingga tidak menciptakan kecurigaan ketika bergerak. Juga memiliki kekuatan fisik dan kemampuan bertarung yang mumpuni, meskipun tidak bisa berubah wujud, tetapi tetap dapat menyelinap layaknya angin berembus.


"Mereka hanya bisa diprogram untuk bekerja di bawah perintahku karena itulah para terminator tidak akan berpotensi untuk memberontak ataupun membahayakan manusia." Mereka menatap sebuah robot nonaktif yang masih berada di tabung kaca.


"Jadi, mereka tidak akan bergerak sendiri tanpa perintah darimu, Sayang!" Pria itu mengangguk, kini dia memberitahukan segala hal yang bahkan tidak diketahui oleh dunia kepada istrinya.


"Jika memiliki pemikiran sendiri, bisa dipastikan mereka akan lupa siapa jatidirinya." Nich menggenggam tangan istrinya dan mengecup sebentar. "Layaknya manusia, mereka bisa saja congkak dan merasa lebih berkuasa. Akhirnya, hanya akan menjadi musuh bagi kita semua."


"Lalu, bagaimana dengan T dan R yang kau kirim padaku?"


"Mereka juga mengikuti perintahku, untuk menjaga keselamatanmu. Tapi, kau juga harus tahu, Sweety. Terkadang mereka akan kembali ke sini untuk memperbarui fitur. Jadi, mungkin tidak bisa mengawasimu saat itu."


Para terminator beberapa minggu sekali memang harus diprogram ulang, untuk menghindari penumpukan data sampah dan juga memperbarui fitur agar mengikuti fungsi efektifitas keamanan layaknya para penjaga bayangan manusia.

__ADS_1


"Aku mengerti. Lagi pula selama ini mereka juga tidak menampakkan diri di dekatku. Jadi, tidak masalah."


Nich merengkuh bahu sang istri kembali agar bersandar padanya. "Aku akan selalu menjagamu dengan apa yang ku miliki, Sayang."


"Aku tahu. Apa jadinya jika penelitian Profesor Pineapple diketahui orang jahat."


"Bisa dipastikan perang antara robot dan manusia akan terjadi, karena itulah aku lebih memilih menyimpan mereka untuk keluarga Bannerick."


Jessi mengangguk paham. Dunia bisnis memang sangat ketat dan berbahaya, apa lagi bagi pewaris tunggal seperti Nich. Pembunuh bayaran dari lawan bisnis ataupun pihak yang tidak sepaham bisa mengincar nyawanya kapan saja.


Robot Terminator ciptaan mereka terlalu canggih bahkan jika dibandingkan agen manusia yang terlatih. Ditambah dengan mata yang berkerja layaknya sebuah kamera, membuat penelitian itu terlihat semakin menggiurkan bagi para pecinta teknologi.


"Bukankah dana yang kau keluarkan untuk riset ini tidak sedikit, Suamiku?"


"Tentu saja."


"Apa kau tidak takut rugi pada awalnya?"


"Cih, kau meremehkan suamimu ini, meskipun saat itu aku masih muda, tapi jiwa pebisnis sudah mendarah daging. Jadi, aku tahu ini akan menguntungkan ke depannya, Sweety."


"Apa artinya aku mendapatkan jackpot kali ini?" Jessi menatap dengan puppy eyes yang memancarkan sinar menggoda, membuat sang suami dibuat gemas karenanya.


"Tentu saja, apa yang aku miliki sekarang adalah milikmu juga. Jadi, tak perlu lagi memikirkan hal lain. Biarkan suamimu ini yang melakukan semuanya untukmu!" Nich merengkuh tubuh istrinya, membuat mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.


Meskipun, sudah menikah, tetapi jantung mereka tetap saja berpacu dengan cepat dalam situasi seperti ini. Perlahan Nich memajukan kepala, memposisikan bibir agar bertautan dengan istrinya. Memberikan ciuman lembut, menunjukkan betapa besar rasa cinta dalam diri masing-masing.


Setelah dirasa pasokan udara mulai menipis barulah mereka melepaskan pangutan dengan senyum bahagia mengembang di wajah masing-masing.


"Berbicara tentang penelitian, apakah kalian juga meneliti selain robot?" tanya Jessi.


Pria tersebut mengangguk. "Banyak pembunuhan dengan cara tak kasat mata di dunia ini. Jadi, aku mulai meriset tentang racun bersama Applepan. Meskipun, dia masih muda, tetapi bakatnya dalam hal tersebut bisa dibilang luar biasa."


"Makanya kamu meminta agar Mario dibawa kemari?"


"Iya, selain untuk menambah catatan dalam membuat obat penawar, tetapi juga karena mereka dalam kondisi yang sangat buruk jika hanya dibawa ke rumah sakit."


"Apakah separah itu?" Jessi terkejut mendengar penjelasan suaminya yang baru saja ia ketahui. Jika Jessi hanya mengandalkan kemampuannya sendiri, bisa dipastikan mungkin dia sudah kehilangan orang kepercayaannya kali ini.


Bolehkah Jessi bersyukur mendapatkan seorang suami sesempurna Nicholas?


To be Continue...

__ADS_1



...Robot Terminator T dan R...


__ADS_2