Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Ceker Ayam


__ADS_3

Hari semakin terang, jam makan siang bahkan sudah lama berlalu, tetapi sepasang umat manusia masih belum berpindah dari posisinya sejak pagi.


Nich asyik menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang membuatnya terpesona. Dia bahkan menahan hajatnya untuk berkemih demi menjaga tidur kekasih hati.


Nich menatap lekat wajah calon istrinya yang tangguh. Dia menanggung semua masalah sendirian hingga tidak bisa istirahat. Seandainya saja, Jessi mau menerima bantuannya. Dia pasti akan menuruti apa pun keinginannya.


Nich menyibakkan anak rambut Jessi ke belakang telinganya. Terdengar suara perut Jessi sudah bergemuruh minta diisi, tetapi mata empunya masih enggan untuk terbuka. “Sweety, perutmu sedang lapar. Ayo bangun kita makan siang dahulu!”


“Eugh.” Jessi mengucek-ucek matanya yang masih enggan untuk terbuka, tetapi sejenak dia ingat kalau dia belum mandi. Lalu suara siapa tadi?


Seketika mata Jessi terbuka lebar, dilihatnya Nich sudah berada di depan matanya, menjadikan tangan kirinya sebagai bantal untuk Jessi. “Nich, di mana aku?”


“Kau di kantorku.”


Jessi melebarkan bola matanya mendengar ucapan Nich, dia lantas mengubah posisinya menjadi duduk. “Aku bahkan belum mandi dan kau sudah membawaku ke kantormu!”


“Siapa yang akan peduli kau sudah mandi atau belum, Sweety? Kau bahkan memintaku menemanimu tidur sehingga aku harus membatalkan semua jadwalku hari ini.” Nich mengusap ujung bibir Jessi, bukan karena ada ilernya. Namun, dia sengaja melakukan itu sebab wanitanya sudah membuatnya cemburu pagi tadi.


“Mandilah di sana! Aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu supaya kita bisa segera makan siang. Cacing di perutmu sudah meronta-ronta sejak tadi."


Jessi mengusap bibir yang dipegang Nich, dia sungguh merasa malu dengan penampilannya saat ini. Dia beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi yang ada di sana.


Ruang pribadi Nich cukup luas seperti kamar di rumahnya. Jessi keluar kamar mandi menggunakan bathrobe yang tersedia di sana. Terlihat sebuah paper bag berisi pakaian ganti untuknya sudah ada di atas ranjang. Dia mengganti pakaiannya, sesuai seleranya yang simpel dan tidak feminim.


Jessi keluar dari ruangan itu, tampak Nich sedang menata makanan di meja. "Mari makan!"


Jessi meletakkan dirinya di sofa dekat dengan Nich. Jessi melihat semua itu adalah makanan kesukaannya. "Bagaimana kau bisa tau aku suka makanan pedas?"


"Apa yang tidak aku tau tentangmu?" Nich meletakkan ceker pedas ke piring Jessi.


Jessi memang menyukai makanan pedas ketika dia sedang stres, baginya makanan pedas bisa menguapkan masalah dalam pikirannya dengan keluarnya buliran-buliran keringat di wajahnya.

__ADS_1


Dia mencuci tangannya lantas makan dengan tangan kosong. Tidak peduli dengan image-nya di depan Nich, dia hanya ingin makan dengan nyaman. Namun, Nich juga tidak keberatan dengan hal itu. Baginya kebahagiaan Jessi adalah yang utama.


"Bagaimana kondisi kalian sekarang?" Nich meletakkan lagi sebuah kaki ayam di piring Jessi.


"Bukankah kau sudah tau? Seharusnya mereka sudah melaporkan padamu!" Jessi berbicara sambil menggerogoti kulit pada ceker pedasnya. Jessi memang tahu kalau Nich selalu mengawasinya lewat anak buah yang selalu mengikutinya.


"Aku hanya meminta mereka untuk menjagamu dari jauh, bukan mencampuri urusanmu."


Nich membersihkan saus di ujung bibir Jessi.


"Aku ingin mendengar penjelasan darimu langsung!"


Sejenak Jessi menghela nafasnya. "Kau tau, ketika George membuka kontainer pertama kali yang aku lihat adalah mayat orang-orang dengan perut kosong! Organ-organ dalam tubuh mereka sudah tidak ada."


Mata Jessi sedikit berkaca-kaca mengatakan hal itu. "Aku mungkin adalah wanita yang kejam, tetapi aku tidak pernah memanfaatkan nyawa manusia demi keuntunganku sendiri!"


Nich menghapus buliran hangat yang bersiap untuk jatuh di ujung mata Jessi. "Mereka hanyalah sekelompok sampah yang berlagak seperti Tuhan."


Nich fokus mendengarkan cerita dari Jessi. Kini dia merasa lebih baik karena wanitanya sudah mau berbagi banyak hal dengannya.


"Di kontainer ketiga, semua berisi anak-anak di bawah umur, termasuk anak Jackson yang sekarang terluka parah. Aku tidak mengerti mengapa korban mereka semua adalah wanita. Apa mereka tidak memiliki keluarga sehingga wanita diperlakukan seperti itu?" Jessi berkata dengan geram, dia dengan cepat-cepat memakan banyak kaki ayam pedas di piringnya.


"Itu karena tidak semua wanita setangguh dirimu? Pada dasarnya wanita diciptakan untuk dilindungi, tetapi siapa yang bisa melindungi mereka?" Nich berkata dengan lembut sambil mengelap buliran keringat di wajah Jessi. "Jika kau yang tangguh pun masih bisa lengah dengan musuh!"


Jessi langsung menoleh dengan tajam ke arah Nich. "Apa maksudmu?"


"Malam itu, seseorang telah menunggumu untuk waktu yang lama. Dia bahkan menyewa pelayan yang menyambutmu untuk memberimu parfum ekstraksi tanaman Brugmansia." Nich menyerahkan gelas air minum di depannya kepada Jessi. "Efeknya, membuatmu berhalusinasi dan mati rasa sementara waktu. Mungkin karena itulah saat aku tiba kamu sampai tidak menyadarinya."


Jessi sungguh tidak menyangka kalau dia bisa sampai kecolongan seperti ini. "Apa yang terjadi dengan pelayan itu?"


"Sudah mati."

__ADS_1


"Kau membunuhnya?"


Nich menggelengkan kepalanya.


"Bukan aku, tetapi mereka. Kau harus berhati-hati mulai sekarang! Jangan ragu untuk menghubungiku jika kau dalam kesulitan!" Nich memegang kedua bahu Jessi, dia lantas menyematkan sebuah kalung sederhana di leher wanitanya.



Sebuah kalung berbentuk tetesan air berwarna merah darah yang dia pesan sebelumnya dari Damien. Kalung tersebut sudah dimodifikasi lagi oleh Nich, dia meletakkan sebuah cips yang sangat kecil sebagai fungsi GPS. Warna merah darah dengan bentuk yang sederhana membuatnya terlihat cocok di leher putih itu.


Jessi melihat apa yang dipasangkan Nich pada dirinya, terlihat liontin kalung yang sesuai dengan seleranya. Dia tidak suka dengan barang-barang glamor, dia suka melihat sesuatu yang simpel seperti ini.


"Terima kasih."


"Apa kau menyukainya?" Jessi menganggukkan kepalanya.


"Kau harus lebih berhati-hati mulai sekarang! Jangan biarkan dirimu terluka sedikit pun atau aku akan memberimu hukuman!" Nich membawa Jessi ke dalam dekapannya, menghirup aroma wangi dari wanitanya.


Jessi merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ketika Nich memeluknya. "Nich, tanganku masih kotor dengan saus sambal!"


Nich lantas melepaskan pelukannya dari Jessi. "Kau memang pandai merusak suasana!"


Dia menenggak air minum miliknya hingga tandas. Gairahnya untuk mencium Jessi sudah muncul, tetapi wanita itu mengacaukan semua tanpa rasa bersalah.


Akan tetapi, wanita itu dengan santainya kembali melanjutkan acaranya memakan kaki ayam, dan bukan mencuci tangannya.


"Apa kau mau?" Jessi mengarahkan sebuah ceker ayam di tangannya kepada Nich.


Nich menerima suapannya dengan raut wajah masam. Hari ini Jessi sungguh membuatnya selalu di ambang batas.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2