
Setelah selesai menjaga sepasang ibu dan anak di rumah sakit hingga melewati masa kritis, para anak buah Jessi kembali ke kediaman Light.
Akses informasi mereka ditutup langsung oleh Nicholas, sehingga tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan kedua orang tersebut kecuali, mereka. Kini, Jessi dan lainnya mulai berkumpul di suatu ruangan setelah seharian mengistirahatkan tubuh dari pertempuran semalam.
Awal dari penyelidikan mafia Virgoun baru saja dimulai, semua orang dibuat penasaran dengan informasi apa yang akan mereka dapatkan kali ini. Cukup lama kasus tentang kelompok tersebut hanya berupa serpihan petunjuk puzzle abstrak tak berbentuk.
Jadi, kali ini semua orang berharap lebih pada video kamera pengintai yang sudah terpasang di koper dan kaca mata sebelumnya agar membawa jawaban atas pertanyaan di kepala mereka selama ini.
Maurer sudah bersiap dengan laptop di depannya. Sepuluh jemari indah menari di atas papan ketik dengan begitu cepat hingga menimbulkan alunan suara khas para hacker profesional. Kedua manik mata fokus menatap layar tanpa berkedip sekali pun, napas seakan tertahan karena jantung yang berdegup kencang menantikan hasil dari kamera pengintai kecil dan kaca mata mereka semalam.
Di akhir pergerakan sepuluh jemari ditutup dengan menekan tombol enter dan akhirnya dia bisa kembali bernapas dengan normal, serta mengembuskan napas perlahan karena sudah berhasil melalui proses yang menegangkan kembali setelah sekian lama berdiam diri.
"Nona."
Jessi mengangguk, sebuah layar lebar terpampang di depan mereka. Pantulan dari proyektor yang terhubung dengan laptop Maurer mulai menampakan sebuah video di dalam bus ketika sang karyawan mulai memasuki transportasi umum tersebut.
Video dari kaca mata memperlihatkan sekelompok orang yang bersama dengannya di dalam bus. Jessi mengerutkan dahi hingga beberapa lapisan kerutan terlihat di wajahnya dengan mata menyipit melihat seorang pria di samping sang karyawan.
"Pause!" Maurer menjeda video tersebut sesuai perintah Jessi. "Kalian mengenalnya?"
Jessi mengedarkan pandangan ke segala arah, manik matanya menatap satu per satu orang yang berkumpul di ruangan tersebut, termasuk suami di sampingnya–Nicholas.
"Wajah pria bertopeng yang mendatangi kamarmu ketika di kasino malam itu." Suara bariton terdengar datar keluar dari mulut Nich.
Dia mencoba menetralkan perasaannya, hanya dengan menatap sebuah wajah yang sama seperti dulu sudah membuat emosinya langsung meningkat. Mengingatkan kembali ketika pria itu berhasil mengelabuhi Jessi menggunakan ekstraksi racun menjadi parfum. Tanpa memandang wajah istrinya, manik mata Nich tetap melihat tajam ke arah layar, amarah membuat dadanya bergemuruh dalam sekejap.
Jessi yang mengetahui perubahan ekspresi sang suami perlahan menautkan jemari mereka, menggenggam erat, dan menepuk perlahan sambil tersenyum lebar. Usaha membuahkan hasil karena pria tersebut mau melihat ke arahnya dengan sebuah senyum mempesona.
Nicholas mengangguk kecil, seolah mengatakan bahwa dia baik-baik saja sambil tangan kiri terus memainkan bolpoin dan sebelah kanan mengeratkan genggaman sang istri.
"Play!" ujar Jessi.
Video kembali diputar, hingga beberapa saat suasana menegang tatkala semua mata tak sanggup berpaling ketika melihat pria tersebut berulang kali ditusuk tanpa ampun oleh pria bertopeng, lalu ditinggalkan seorang diri di dalam bus. Tak lama kemudian, George datang dan membawanya pergi.
"Cukup!" Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut mencoba menetralkan diri sejenak. Dari video tersebut tergambar jelas bagaimana sang karyawan akan berakhir dengan meregang nyawa jika tidak segera diselamatkan.
__ADS_1
Setelah terdiam cukup lama, Jessi kembali berbicara. "Mario, sudah kau dapatkan siapa penanggung jawab utama rumah sakit tersebut."
"Sudah, Nona. Rumah sakit itu sepenuhnya dikelola oleh Partai Mentari Pagi," ujar Mario.
"Partai Mentari Pagi." Jessi mengernyitkan dahi sambil menatap lekat wajah datar suami di sampingnya. "Kau mengenalnya, Sayang?"
Pria tersebut mengangguk kecil. "Partai Mentari Pagi adalah partai terbesar di pemerintahan, dipimpin oleh Jerry Morning yang akan mencalonkan diri sebagai Presiden tahun depan." Nicholas dengan tenang menjawab dan masih memainkan pena di tangan sembari berpikir sejenak. "Namanya cukup terkenal di kalangan masyarakat karena tidak pernah memiliki catatan buruk selama bergabung di pemerintahan."
"Apa lagi yang kau tahu, Sayang?"
Semua orang menatap tuan mereka dengan tatapan antusias, tidak ada seorang pun di ruangan ini yang mengenal seluk beluk kalangan atas Negara N lebih baik daripada Nicholas. Sangat cocok jika disandingkan dengan Jessi sebagai wanita tangguh impian sejuta umat.
Sejenak pria itu mengembuskan napas kasar melihat banyaknya orang yang menatap penasaran ke arahnya. "Dia kakak kandung Kate Morning, ibu mertuamu." Nicholas menaikkan alisnya sambil menatap Jackson, sedangkan yang ditatap mulutnya ternganga dan melebarkan mata seakan tak percaya dengan pernyataannya.
Lima belas tahun lebih Jackson berumah tangga dengan Alice, tetapi kenyataan sekecil itu dia bahkan tidak mengetahuinya. Secara tidak langsung, semua ini karena kecerobohannya sendiri. Sejak awal menikah dia memang hanya memikirkan kebahagiaan keluarga kecilnya tanpa peduli seluk beluk keluarga Night yang membuang istrinya.
"Benarkah, Sayang." Jessi bahkan terkejut mengetahui kenyataan ini, tetapi sedetik kemudian, senyum indah mengembang di wajahnya cantiknya karena sebuah pemikiran logis ketika menyambungkan serpihan puzzle di otaknya.
Terjawab sudah dalang di balik apa yang dilakukan Tom Evening dan Barron Night selama ini, semua semata-mata demi reputasi satu orang yaitu Jerry Morning. Jika Barron menerima pertukaran dengan jabatan, lalu apa yang didapatkan oleh Tom. Dia kembali mengerutkan dahi untuk berpikir, hingga tak lama kemudian, tangannya menggebrak meja membuat orang-orang di sana terkejut dengan tindakannya.
Jessi melebarkan mata sambil menatap ke arah suaminya dengan senyum mengembang indah dan binar kebahagiaan di wajah cantiknya. Dia menggenggam erat tangan Nicholas ketika memikirkan hal itu.
Ya, Nicholas memang sudah mengetahui tentang Tom dan Jerry yang memiliki hubungan terlarang, tapi dia tidak menyangka kali ini istrinya akan berurusan dengannya. Mungkin saja, kasusnya akan lebih berat dari saat ini.
Tak ingin rasa antusiasnya berakhir begitu saja Jessi meminta Maurer untuk memutar video kedua yang belum mereka lihat. "Maurer, putar video selanjutnya!"
"Baik, Nona."
Gadis itu kembali memainkan jemari lentiknya dengan indah, tak butuh waktu lama video ketika pria itu memasuki bus sudah mulai terlihat. Dia mempercepat tayangan, hingga tersambung dengan sebelumnya.
Koper menunjukkan gambar seorang pria bertopeng tadi tengah berada di dalam mobil. "Kakak pasti bangga padaku." Terdengar suara bahagia di dalam mobil tersebut.
"Benar, Tuan. Tuan Muda Pertama pasti bangga melihat keberhasilan Anda." Terdengar suara sahutan dari orang lain yang berada di dalam mobil itu. Mungkin dia adalah sopir pria bertopeng.
Tak butuh waktu lama, koper mulai memasuki sebuah kediaman luas dan ramai. Sepanjang perjalan orang-orang yang dilewati membungkuk ketika pria tersebut melangkah, menandakan bahwa dia cukup disegani di sana.
__ADS_1
Setibanya di suatu ruang, koper diletakkan di sebuah meja. Pria tersebut melangkah ke kursi sambil perlahan melepaskan topeng di wajahnya. Posisi kamera yang lurus merekam langsung adegan di depannya membuat gambar Johny terlihat jelas di layar.
Seketika Olivia menggebrak meja karena menemukan pusat dendamnya selama ini. Setiap orang yang atas tindakannya menatap ke arah wanita itu. Maurer menjeda videonya sejenak untuk mendengarkan apa penyebab rekannya seperti itu.
Dia seperti orang yang berbeda, amarah dan embusan napas tak teratur serta sorot mata yang tajam menatap ke arah layar membuat Jessi terheran.
"Olivia." Jessi memanggil, tetapi tidak ada sahutan dari yang bersangkutan.
"Olivia." Panggilan kedua Jessi berhasil membuyarkan lamunan Olivia.
"Maaf, Nona." Dia kembali mendudukkan diri di kursinya sambil mengatur kembali emosi yang langsung meluap seketika.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jessi.
"Saya menginginkan nyawanya, Nona." Sorot matanya memandang lekat gambar di layar putih itu tanpa berkedip.
Jessi beralih pandangan menatap George. "Siapa dia?"
"Johny Messis."
"Dia milikmu." Jessi menyerahkan nyawa Johny kepada Olivia nantinya.
Sebelumnya dia sudah berjanji untuk membalaskan dendam orang yang menyakiti para korban kontainer terdahulu dan kini targetnya sudah terpampang jelas di depan mata.
Mendengar perkataan Jessi, Olivia sedikit lega. Amarah akan kematian sang adik yang masih di bawah umur membuatnya bersumpah akan menguliti kejantanan pria penyebab segalanya.
"Lanjutkan!"
Video kembali diputar oleh Maurer, tak selang beberapa lama, seorang pria melangkah memasuki ruangan tersebut, hingga membuat Jessi membuka matanya lebar-lebar.
"Apa misimu berhasil kali ini?" Terdengar suara bariton seorang pria yang sangat dikenalnya selama ini.
Brian, batinnya.
To Be Continue...
__ADS_1
Hello teman-teman gimana nih, udah pada jantungan belum?
Tak terasa hari senin sudah tiba, jangan lupa votenya, ya!