Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Akhir Kate


__ADS_3

Setelah berhasil membuka brankas tersebut, X pun memerlihatkan beberapa barang di dalamnya kepada Nicholas. "Tuan."


Nich hanya mengamati benda itu tanpa menyentuh kemasan botol-botol kecil tersebut. "Simpan dan bawa ke laboratorium! Serahkan pada Applepan!"


"Baik, Tuan."


Setelah itu Nich kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah, tidak ada lagi sesuatu di ruangan ini yang membuatnya tertarik. "Apa ada sesuatu yang kau temukan di tempat lain?"


"Ada, Tuan." X melangkah menuju balkon di luar kamar tersebut, dia mengedarkan pandangan, lalu menunjuk sebuah tempat di kejauhan. "Di sana."


Melihat apa yang ditunjuk oleh X membuat Nich menyipitkan mata agar pandangannya lebih jelas. "Apa itu?" Pria tersebut mengernyitkan dahi di saat melihat sebuah patung cukup tinggi sesosok pria di luar kediaman ini layaknya sebuah monumen yang dihormati.


Bahkan mungkin mereka menyembah patung tersebut, tetapi sesaat kemudian pandangannya beralih ke bagian wajah patung yang mirip dengan lukisan di ruang depan tadi. "Marcopolo. Bukankah itu patung Marcopolo? Apa yang salah dengan hal itu?"


"Benar, Tuan. Itu adalah patung Marcopolo. Tapi, bangunan di bawah yang menjadi pijakan kakinya itu terdapat beberapa tulang manusia di dalamnya."


"Kau yakin?" Nich menatap tajam ke arah X dan dia mengangguk.


"Mustahil jika itu adalah mayat baru karena dilihat dari usia patung, bisa dipastikan jika benda itu sudah ada sejak dulu."


Ya, patung Marcopolo dibuat sangat besar, tinggi, dan megah layaknya seorang pahlawan yang membela bangsa dan negara. Namun, semua orang juga tahu dia bukanlah orang seperti itu, pria tersebut hanyalah anjing Jerry Morning yang setia dan sesepuh melegenda mafia Belzeebub. Sehingga sangat wajar jika dirinya dibuatkan sebuah monumen pada masa kejayaannya.


Sebagai salah satu mafia terkuat di Negara N sejak tiga puluh tahun lalu, nama Marcopolo sangat terkenal di dunia hitam maupun putih. Dengan kekuasaan Jerry yang mampu melepaskannya dari kejaran para pejabat pemerintah dan Barron sebagai tameng di kepolisian membuat kekuasaannya semakin dikagumi oleh para mafia.


Mereka tidak tahu jika sesungguhnya sesepuh kebanggaan itu hanyalah anjing yang menuruti semua permintaan Jerry Morning. Demi mencapai tujuannya, pria tersebutlah yang mengarahkan segala tindakan Marcopolo dan juga menerima hasil bisnis ilegalnya selama ini, hingga mampu membentuk partai sendiri serta menyuap para pejabat pemerintahan agar berada di pihaknya.


Akan tetapi, tulang manusia di bawah kaki itu milik siapa? Mustahil jika mereka adalah korban baru mafia ini. Jelas para korban dibuang entah ke mana melalui kontainer oleh Johny dan Brian setelah mengubah mafia Belzeebub menjadi mafia Virgoun. Jadi, besar kemungkinan jika itu adalah musuh dari Marcopo atau Jerry Morning.


Dengan patung sebesar itu, mungkin saja mereka sudah dipendam bersamaan dengan waktu pendirian Monumen Marcopolo tersebut.


"Kita selidiki lain waktu. Antar aku ke rumah sakit dan bawa benda itu ke laboratorium terlebih dahulu. Aku terlalu lama meninggalkan istriku."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Mereka pun lantas bergerak untuk kembali ke mobil. Membawa barang-barang temuan dan meninggalkan calon bangunan terbengkalai tersebut. Lokasi sepi serta jauh dari pemukiman warga juga jalan utama membuat suasana senja semakin mencekam.


Sepanjang jalan yang dilewati hanya berupa hutan, bahkan lebih mengerikan dari jalan menuju kediaman Light. Setidaknya di sana masih bisa dirasakan energi positif dan asrinya lingkungan. Akan tetapi, di sini sangat terasa aura negatif serta suasana mencekam. Ditambah kicauan burung malam yang bersiap untuk menyambut gelapnya hari.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di Bannerick Hospital. Nich melangkah menuju ruangan istrinya, sedangkan X bergerak menuju laboratorium untuk menyerahkan barang yang ditemukan kepada Applepan.


Setibanya di ruang kamar istrinya, terlihat sudah ada Laura yang menunggu Jessi sambil bermain ponsel, dia menoleh ketika melihat sang putra memasuki ruangan. "Kau sudah kembali, Son?"


Dia hanya mengangguk, hal pertama yang dilakukan ketika bertemu istrinya adalah mengecup dahinya, dan itu masih Nich lakukan meskipun Jessi dalam kondisi tak sadarkan diri. "Aku pulang, Sweety."


Melihat tingkah sepasang suami istri yang tengah diuji ini membuat Laura sedikit iba. Dia berdiri dari posisinya dan menepuk bahu sang putra perlahan. "Makanlah dulu, seharian kau pasti belum makan 'kan? Mommy membawakan makanan kesukaanmu."


"Sebentar, Mom." Nich menatap lekat wajah istrinya yang masih berbaring dan enggan membuka mata.


Perlahan tangannya menyibakkan anak rambut sang istri. "Semoga Applepan segera memberi kabar baik."


Di sisi lain, Kate Morning yang kini hidup sebatang kara dan menjadi buronan polisi terkait kasus suami serta kakaknya hanya bisa bersembunyi di antara pengemis jalanan.


Dia berpindah-pindah tempat agar tidak diketahui oleh pihak berwajib dan hidup lontang-lantung seorang diri dengan tubuh yang tak lagi terawat. Bahkan wanita tersebut kini berbau busuk karena lupa kapan terakhir kali mandi.


Teman-teman sosialitanya tidak ada satu pun yang mau membantu wanita tersebut dan enggan untuk membuka pintu ketika Kate mendatangi rumah mereka. Begitulah pertemanannya, hanya bisa sebatas berkumpul di kala dia memiliki banyak uang. Lalu, dianggap tidak pernah mengenal setelah semua hartanya disita pemerintah.


"Sial!" Wanita tersebut mendengus kesal di saat melihat orang yang membuang sisa makanan di tong sampah sebuah taman. Namun, dengan segera dia berlari mengais tempat kotor itu hanya untuk mendapatkan pengisi perutnya hari ini.


Tanpa menunggu, sisa makanan itu pun dia makan dengan lahap hingga tak tersisa. Hal ini selalu dilakukan oleh Kate karena tidak lagi memiliki uang bahkan hanya untuk mengisi perutnya.


"Hei apa yang kau lakukan?" Segerombol pengemis dengan penampilan yang sama seperti Kate melangkah menghampirinya.


Melihat hal tersebut dengan segera Kate berlari menjauh dari lokasinya. "Sial."

__ADS_1


"Yak berhenti!" Sebagai sesama pengemis tidak mudah bagi Kate untuk bertahan, kesombongannya di awal membuat semua orang memusuhinya.


Kini wanita itu bahkan harus berebut makanan dan wilayah pada sesama pengemis. Sering kali dia harus menerima perlakuan kasar dari mereka yang tidak terima dengan perbuatannya.


"Enyah kau! Dasar brengsek!" Kate terus berlari sambil mengumpat. Dia tidak ingin tertangkap oleh sesama pengemis dan berakhir dengan dipukuli oleh mereka.


"Behenti!" teriak mereka.


Semakin Kate berlari semakin mereka mengejarnya, hingga tak sengaja mata Kate menangkap sesosok wanita yang dia kenal tengah berjalan sendirian sambil membawa barang belanjaan. "Bukankah itu pembantu sialan itu?"


Kate pun segera berlari untuk menghampirinya dan dengan kasar memegang tangan wanita muda tersebut. "Yak, kau masih hidup? Kau harus membantuku?"


Mendengar suara yang sangat dia kenal membuat trauma Stella seketika kembali. Gadis itu, langsung luruh di tepi jalan dengan tubuh bergetar ketakutan menatap Kate. Bayangan penyiksaan yang selama ini dia lupakan langsung kembali ke dalam ingatannya.


"Tidak! Aku tidak melakukannya, tidak!" Gadis itu berteriak histeris hingga mengundang perhatian semua orang yang melintasi jalanan itu. "Tidak! Aku mohon jangan siksa aku!"


Teriakan Stella berhasil membuat geram pengguna jalan lain, mereka saling merundung dan menyumpah serapah Kate Morning karena menyiksa seorang gadis di kawasan umum.


"Dasar pengemis tidak tahu diri!"


"Iya, hanya menjadi sampah masyarakat malah berani menyiksa orang."


"Iya benar. Pergi kau dari sini! Jangan siksa gadis itu."


Semua orang mulai menunjuk Kate, menuduhnya menganiaya Stella. Para pengemis yang awalnya mengejar pun memilih melarikan diri sebelum terseret dalam masalah wanita tersebut.


Sementara itu, Kate yang mendengar gertakan orang-orang di sekitar mereka langsung mendengus kesal dan menatap tajam ke arah Stella. "Awas saja kau!" Dia kembali berlari menjauhi lokasi tersebut.


Sayangnya, dia berlari menyeberang tak memerhatikan jalan dan langsung tertabrak oleh seorang pengemudi mobil yang mabuk dengan keras, hingga terpental cukup jauh dengan bersimbah darah.


Orang-orang kembali mengerubunginya, tetapi tidak ada seorang pun yang membatu wanita tersebut. Di sisa kesadaran bisa dia lihat, Stella berdiri di antara mereka dengan menyunggingkan sebuah senyum miring yang membuat Kate semakin melebarkan mata sebelum akhirnya meregang nyawa.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2