Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Di sebuah ruang kantor, seorang pria tengah berkutat dengan tumpukan dokumen di depannya. Damien pun kembali ke Negara X setelah urusan kerja sama antara Barrack Corp dan Bannerick Group diselesaikan dengan baik.


Kini dia bebas tinggal bersama pamannya, tetapi pria tua itu memilih menikmati hidup dengan menjelajah belahan dunia yang belum pernah di datangi untuk menghabiskan masa tuanya. Damien hanya bisa menuruti keputusannya, lagipula sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan tentang musuh masa lalu.


Sejenak Damien menghela napas kasar sambil memijit pangkal hidungnya. Cukup lama dia berada di Negara N, hingga perusahaan di Negara X sedikit bermasalah, meskipun sudah diatasi dengan baik oleh asisten kepercayaannya. Namun, hal itu masih belum cukup untuk menstabilkan kembali kondisi perusahaan.


Suara pintu diketuk membuat Damien menghentikan aktivitasnya. "Masuk!"


Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan pakaian sederhana, tetapi elegan dan tak terlalu seksi terlihat mulai memasuki ruangan. "Mian."


"Iya." Damien menangkupkan kedua tangannya untuk menatap sang asisten.


"Ini ada pengajuan kerja sama dari beberapa perusahaan lagi. Aku tidak bisa mengambil keputusan tanpamu jika masalah ini." Wanita tersebut meletakkan beberapa dokumen ke atas meja Damien.


"Nanti aku lihat dulu!" ujar Damien sambil mengangguk kecil dan kembali meninjau dokumen di depannya. Namun, pria itu kembali mengangkat kepala di saat sang asisten masih berdiri di posisinya. "Ada lagi?"


"Em, Mian. Apa kau baik-baik saja?" tanya wanita tersebut dengan lembut.


Pria itu hanya mengangguk kecil. "Kau boleh keluar."


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu."

__ADS_1


Wanita itu melenggang pergi keluar ruangan dengan raut wajah kecewa. Lagi-lagi Damien tak mengindahkan kehadirannya selain demi profesionalitas kerja.


Dia adalah Dove, asisten kepercayaannya Damien yang telah bekerja selama kurang lebih dari sepuluh tahun. Sejak lulus dari universitas, Dove langsung membantu Damien dalam mengurus perusahaan yang awalnya dirintis oleh Alex tersebut.


Damien merupakan senior di kampusnya dengan julukan pria dingin karena selama menempuh pendidikan, dia hanya fokus pada akademis dan juga membantu pamannya di perusahaan. Namun, hal itu menjadi daya pikat tersendiri bagi setiap wanita yang melihatnya, termasuk Dove.


Wanita tersebut selalu melakukan yang terbaik agar pantas berbanding dengan Damien. Meskipun hanya sebatas asistennya selama ini. Berbagai usaha Dove coba lakukan demi memikatnya, tetapi pria itu layaknya sebuah gunung batu, keras dan tak tertembus oleh wanita mana pun.


Hal itu pula yang membuat Dove masih sabar menanti Damien membuka hati. Setidaknya, pria tersebut tidak memiliki kekasih ataupun dekat dengan wanita lain kecuali dirinya selama ini. Banyak karyawan yang menganggap mereka pasangan serasi, tetapi Damien tidak pernah menyanggah ataupun membenarkan hal itu, sehingga Dove yakin, suatu saat Damien akan melihat ke arahnya karena hanya dia satu-satunya perempuan yang bisa berbicara tak formal kepada sang pemilik perusahaan itu.


Sejenak Damien mengusap kasar wajahnya dan menghela napas kasar. Entah berapa hari dia tidak melihat Jane setelah kembali ke Negara X. Awalnya pria tersebut cukup bersyukur dengan kepindahan Jane, sehingga tak perlu jauh-jauh menaiki pesawat hanya untuk menemuinya. Meskipun jarak kota dan desa cukup jauh, tetapi setidaknya masih berada dalam jangkauannya. Namun, nyatanya pekerjaan di kantor sudah menantinya melebihi urusan dengan Bannerick Gruop.


"Jane." Damien membuka layar ponselnya dan mengusap lembut benda pipih yang menampakkan foto Jane di layar utamanya. Sebuah senyum terukir indah di wajah pria tersebut ketika membayangkan pertemuannya kembali dengan sang pujaan hati.


Beberapa saat kemudian, Dove yang memiliki tempat kerja di depan ruangan Damien melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan istirahat makan siang, tetapi Damien belum juga keluar.


Dengan harapan pria tersebut mau makan siang bersama Dove melangkah untuk mengetuk pintu ruangan Damien. "Mian, sudah waktunya makan siang. Mau makan bersama?" tanya Dove yang membuka sedikit pintu tersebut.


"Tidak! Kau duluan saja?" tolak Damien dengan nada datar seperti biasa.


"Mau aku bungkus kemari?" Dove seakan tak habis akal untuk mencoba memberikan perhatiannya, tetapi Damien selalu menolak jika memang itu tidak diperlukan.

__ADS_1


"Tidak usah, nanti aku cari sendiri. Kau istirahatlah!" ucap pria itu sambil tanpa menatap ke arah Dove dan tetap menunduk membaca setiap berkas di depannya.


Dove hanya bisa mengangguk kecil. Dia lantas menutup pintunya kembali dan melangkah pergi ke kantin perusahaan seorang diri dengan hati yang kembali kecewa.


Awalnya dia cukup lega mendengar Damien berhasil menyelesaikan kerja sama di Negara N. Dove berharap pria itu kembali merasa bangga padanya karena dia berhasil mengurus dengan baik meskipun tanpa pemimpin perusahaan.


Namun, nyatanya tak sepatah kata pun keluar dari mulut Damien sebagai pujian dan hanya menanyakan urusan pekerjaan lainnya. Seperti biasa Dove duduk di kantin seorang diri dengan makanan di depannya.


"Hei, Bu Asisten! Sendirian aja?" Seorang pria muda yang biasa membantu pekerjaan Dove langsung duduk di depannya tanpa permisi.


"Siapa yang mengizinkanmu duduk di sana?" Sorot mata tajam dan bibir terkucir terlihat jelas di wajah Dove. Dia melampiaskan kekesalan pada pria di depannya tanpa ragu.


"Kalau bukan aku yang duduk di sini lalu siapa? Tuan Damien? Ish, jangan harap!" Pria tersebut mencebikkan bibir sambil memakan makanan yang dibawanya dengan lahap, sedangkan Dove hanya mengaduk-aduk makanan di depannya karena selera makan yang hilang.


"Bu Asisten, aku curiga Tuan Damien itu sebenarnya gay? Bagaimana kalau ternyata diam-diam dia menyukaiku?" ucap pria tersebut dengan mulut penuh makanan.


"Sembarangan kalau bicara! Dia itu normal?" Dove menyanggah spekulasi rekan kerjanya itu sambil menyiramkan air minumnya ke dalam piring pria di depannya. "Makan tuh sup lemon!"


"Hei, Bu Asisten. Apa kau juga ikutan gila karenanya! Sialan!"


Tanpa memedulikan pria tersebut yang terus mengoceh ria, Dove segera melangkah pergi. Napsu makannya seketika hilang jika berbicara dengan Rahmat sang karyawan kocak dengan segala tingkah konyolnya. Namun, jika sudah bekerja pria itu sangat profesional dan cekatan, sehingga tidak ada alasan untuk memecatnya.

__ADS_1


Hanya saja Rahmat sangat suka mengejek Dove yang cintanya tampak bertepuk sebelah tangan pada Damien. Hanya sebuah titik di mana dia berdiri seorang diri, tanpa garis awal apalagi akhir. Namun, Dove bukannya wanita yang mudah menyerah. Penantian sepuluh tahun tidak akan berarti apa-apa, selama Damien masih berstatus lajang.


To Be Continue...


__ADS_2