Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Sindiran Jessi


__ADS_3

Sejenak Jessi mendekatkan wajah ke arah Dove yang sudah merah padam sejak tadi. "Apa kau tahu? Kakak Ipar bilang Kak Demian sangat hot ketika bermain ranjang. Aku rasa sebentar lagi Barrack Corp akan memiliki pewaris," bisik Jessi dengan sebuah seringai dalam hati melihat kemarahan di wajah Dove. 


Sejak tadi rasanya belum cukup bagi Jessi untuk terus memprovokasi Dove. Bahkan makanan di depan wanita itu sampai tak tersentuh sama sekali karena ocehan Jessi yang tak henti-hentinya sejak tadi. Hanya dengan membayangkan Damien bercinta bersama wanita lain sudah membuat Dove membara. Meskipun dia tidak tahu bagaimana rasanya, tetapi jelas hubungan itu hanya dilakukan oleh suami istri, dan Damien bukanlah seorang pemain wanita sejauh yang dia kenal. 


Entah terbuat dari apa mulut ibu hamil satu itu, yang pasti setiap kalimat keluar dari bibirnya layaknya siraman bahan bakar dalam diri Dove. Terus menyulut emosi hingga membara dengan kobaran tak terhingga, tetapi dalam hatinya masih menyanggah semua itu dan berharap Jessi hanya berbicara omong kosong belaka. 


"Kau tahu tidak? Hari itu 'kan setelah melewati malam pertama, Kakak Ipar sampai masuk rumah sakit karena kelelahan digempur dua hari dua malam. Gila memang Kak Damien itu." Jessi tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, padahal dia hanya berniat memprovokasi Dove dan hasilnya wanita itu langsung berdiri dari posisinya sambil menggebrakkan meja. 


"Maaf, Nona. Sepertinya aku harus ke toilet sebentar," ujar Dove menyadari dirinya yang hampir saja hilang kendali. 

__ADS_1


"Pergilah! Jangan lupa basuh wajahmu dan bercerminlah!" jawab Jessi dengan santai sambil kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut. 


Sejenak Dove memejamkan mata sambil mengepalkan kedua tangan sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan Jessi seorang diri yang masih asyik menyuap makanan. Dalam hati wanita itu menyumpah serapah mulut pedas Jessi. Hingga setibanya di kamar mandi barulah dia meluapkan segala emosinya. 


"Arg!" Teriak wanita itu sambil mengacak-acak rambutnya karena frustrasi. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Jessi selalu terngiang dalam benaknya, emosi merambat seakan membakar jiwanya yang bergelora. Rasa marah, kesal, cemburu, sekaligus emosi bercampur menjadi satu. Namun, tidak bisa dicampurkan susu karena hatinya mendidih bukan membeku. 


Berulang kali Dove membasuh wajahnya dengan kasar lalu menatap diri di cermin di depannya. "Apa salahku? Aku yang lebih dulu menemani di sisinya, tapi kenapa malah kalian yang mendapatkannya! Argh." Hampir saja Dove memecahkan kaca di depannya, tetapi suara seseorang masuk ke dalam kamar mandi menghentikan niat wanita itu. 


"A–apa yang kamu lakukan di sini?" Dove yang terkejut melihat Jessi di sampingnya seketika tergugup sekaligus takut jika wanita itu mendengar apa yang dia katakan.

__ADS_1


Namun, nyatanya Jessi masih menunjukkan ekspresi biasa dan menghapus noda di bajunya. "Seseorang menumpahkan minumannya ke bajuku. Sungguh merepotkan!" Dia berusaha menghilangkan noda di pakaiannya, sedangkan Dove hanya bisa terdiam untuk beberapa saat. 


"Hal paling menyebalkan bagiku adalah mereka yang mengotori pakaian orang lain. Tapi, berpikir jika hal itu adalah sebuah kebanggaan. Sungguh merepotkan jika harus menyingkirkan parasit yang sudah terlanjur merambat dan merasa jika itu adalah tempatnya."


 Melihat Jessi yang semakin kasar dalam membersihkan noda di baju membuat Dove hanya bisa menelan saliva dengan susah payah. Entah mengapa kali ini dia merasa jika kalimat Jessi mengandung sebuah ancaman yang menakutkan. Hingga tak lama kemudian, suara kain yang terkoyak membuat wanita hamil tersebut mendengus kesal. 


"Lihat! Aku mencoba membersihkannya, tapi dengan mudah dia malah koyak. Harusnya sejak awal aku tidak menggunakan pakaian berkualitas buruk seperti ini," ucap Jessi dengan nada kesal. Kemudian menatap Dove di sampingnya yang masih membatu mendengar setiap kalimat Jessi. "Ayo kembali, mungkin Kak Damien punya pakaian ganti di ruangannya yang bisa aku pakai nanti. Aku tidak mungkin meminta baju yang kau kenakan karena itu bukan milikku."


Jessi berlalu pergi tanpa memedulikan Dove yang masih terperangah atas setiap kalimatnya. Wanita itu bahkan meremang dengan mata membulat sempurna karenanya. 

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2