
Setelah melihat pelayan itu sudah pergi meninggalkan sang pria brengsek tersebut, Jessi pun dengan cepat ikut melenggang, melarikan diri sehabis melancarkan aksinya. "Ayo cepat keluar dari sini!" ujar Jessi mengajak kedua anak buahnya untuk segera pergi sebelum pria itu mengejarnya.
"Nyonya, ada apa?" tanya Olivia dengan polosnya melihat Jessi yang tampak berjalan tergesa-gesa sambil memegang perutnya.
"Jangan banyak tanya, ayo! Nyonya pasti berbuat ulah lagi." Tanpa membiarkan Olivia berpikir terlalu banyak, Maurer langsung saja menarik tangan wanita tersebut mengikuti langkah Jessi. Dia sendiri sudah hafal betul dengan sikap majikannya selama masa kehamilan, yang jelas wanita itu suka mengerjai orang tak tahu tempat. Jika sekarang sudah seperti ini, pastinya Jessi sudah berbuat sesuatu yang menyinggung seseorang, sehingga mereka harus melarikan diri secepat mungkin.
Ketiga wanita tersebut pun langsung, meninggalkan area klub malam dan melajukan kendaraan menjauh dari parkiran. Maurer yang mengendarai melihat dari spion seorang pria di belakang mendengus kesal sambil menendang udara dengan tampak geram!!. "Apa yang kali ini, Anda lakukan, Nyonya?" tanya Maurer dengan sebuah lirikan tajam ke arah Jessi di sampingnya.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan ibu hamil sepertiku?" ucap Jessi sambil tersenyum kecil dan malah membuat kedua anak buahnya keheranan. "Tidak mungkin 'kan aku mengambil keperjakaannya! Kau ini ada-ada saja."
__ADS_1
Kalimat absurd Jessi hanya bisa membuat kedua anak buahnya menggeleng kecil melihat tingkah sang majikan. Bukan hal yang baru jika wanita tersebut bertindak seperti ini. Semoga saja tidak ada lagi masalah di kemudian hari menjelang dia melahirkan. Bisa-bisa para anak buahnya nanti mati muda kalau Jessi terus-terusan membuat masalah.
Tak lama kemudian, mobil pun mulai memasuki area pelataran kediaman Light. Jessi keluar dari kendaraan dengan wajah berseri dan langsung masuk ke rumah. Tampak sang suami masih menunggunya di ruang keluarga karena mengkhawatirkan istrinya yang hampir saja membuatnya murka karena pukul satu dini hari belum juga kembali. "Ke mana saja kau, Sweety?" tanya Nich dengan berkacak pinggang melihat kedatangan istrinya.
Jessi pun langsung menghentikan langkah bahagianya dan bergelayut manja di lengan sang suami. "Aku punya berita bagus untukmu. Ayo ke kamar jangan marah-marah di sini!" Tanpa menunggu jawaban suaminya, tangan Jessi sudah lebih dulu menarik pria tersebut melangkah mengikutinya. Hingga mau bagaimanapun, Nicholas tidak mungkin bisa marah ketika Jessi berbuat seperti itu.
“Hmm.” Sang suami hanya berdehem dan membiarkan tangan istrinya mulai bergerilya menelusup ke dalam baju tidur yang dia kenakan. Nich seketika tertawa kecil di saat Jessi malah memilin biji kacang di dadanya yang membuat pria itu sontak merasa geli. “Sweety, apa yang kau lakukan?”
“Sayang, mari coba sensasi baru!" bisik Jessi di telinga suaminya hingga pria itu langsung mendekatkan bibir, tetapi ditahan oleh jari Jessi.
__ADS_1
“Kanapa?" tanya Nicholas dengan sedikit kebingungan. Bukankah istrinya tadi mengajaknya untuk mencoba sensasi baru dalam bercinta? pikirnya.
Jessi hanya mengerucutkan bibir untuk sejenak. “Bakan di sini, Sayang. Aku mau mencoba sensasi baru di dapur. Sama seperti yang George dan Olivia lakukan tadi?”
Nicholas seketika membelalakan mata mendengar permintaan sang istri. “Apa maksudmu, Sweety? Jangan bilang kau melihat mereka bercinta secara langsung?” Dengan cepat Jessi mengangguk hingga pria tersebut semakin melebarkan mata sampai membulat sempurna. "Kau melihat mereka telanjang bulat?"
Lagi-lagi Jessi mengangguk, sontak Nicholas pun berteriak cukup keras. “Sweety! Kenapa kau nodai mata anak-anakku dengan melihat kejantanan pria lain, hah? Seharusnya kalau kau ingin temui aku langsung, jangan melihat mereka! Menyebalkan! Jadi kau keluar sejak tadi hanya untuk melihat orang lain bercinta. Cih, tahu seperti itu lebih baik aku yang mempraktekkannya langsung padamu."
To Be Continue..
__ADS_1