
Lima tahun berlalu begitu cepat. Tak terasa setiap orang sudah memiliki pasangan masing-masing. Bahkan ada pula yang mengandung anak pertama maupun kedua. Namun, tidak dengan Jessi yang selalu direpotkan oleh ketiga anaknya.
Kian hari triplets semakin menampakkan kenakalannya. Terutama Jessica, meskipun dia tak lagi mengikuti sang ayah ke perusahaan. Akan tetapi, kini beralih mengganggu Mario jika tengah mengurus klub malam maupun tempat perjudian. Selain itu, dia juga mengacaukan rumah dan mengerjai para penghuni di dalamnya.
Tak jarang Jessica melarikan diri hanya untuk ikut bermain casino, dengan menyelinap di mobil anak buah yang hendak ke sana. Hal itu menjadikan hiburan tersendiri bagi para pelanggan tetap yang dia tantang. Sayang tak jarang pula orang yang marah karena kalah dengan bocah kecil yang bahkan terkadang masih mengeluarkan ingus itu.
Di usia yang masih tergolong kecil, ketiga sudah menunjukkan sifat alami masing-masing. Di mana Jayden merupakan sosok bocah yang diam-diam menghanyutkan dengan tingkat kesempurnaan mengalahkan ayahnya, sedangkan Jonathan merupakan cassanova child yang sanggup memikat wanita semua jajaran usia layaknya sang kakek buyut—ayah Michael, sementara Jessica. Jangan tanya! Kenakalannya melebihi Jesslyn juga Laura dan tidak sedikitpun menurun kebaikan dari Nenek Amber.
"Jessica, hei iblis kecil! Di mana kamu?" teriak Jessi yang baru saja turun dari tangga, menyusuri setiap sudut rumah mencari putrinya tersebut.
Jessica baru saja selesai dimandikan, tetapi ketika Jessi mengambil pakaian, bocah itu malah menghilang entah ke mana seolah di telan bumi begitu saja.
Seperti biasa jika acara malam minggu keluarga mereka akan menginap di rumah Laura dan Michael. Namun, bocah itu malah berlarian entah ke mana padahal belum mengenakan pakaian.
"Jay, di mana adikmu?" tanya Jessi pada putranya yang tengah menonton televisi di ruang keluarga.
"Biasa, Mom. Sembunyi. Carilah di tempat yang menguntungkan bagi, Mommy!" jawab Jayden santai tanpa menoleh ke arah ibunya sambil mengganti siaran televisi dengan berita bisnis seolah tahu apa yang mereka bicarakan.
Jessi hanya bisa mencebikkan bibir melihat selera putra pertamanya yang tak pernah berniat menonton kartun. "Cih, apa sebenarnya isi otak kecilmu itu, Son? Kenapa suka sekali menyiksa diri dengan melihat tayangan membosankan seperti itu," gerutu Jessi berlalu pergi sambil menenteng pakaian Jessica dan melangkah pergi.
"Mommy, saja yang bodoh. Tidak tahu bagaimana uang berkembang dengan mudah. Hanya tahu cara menghabiskannya saja, dasar wanita," ujar Jayden setelah kepergian ibunya.
Begitulah Jayden, sosok perfeksionis yang bahkan sudah memikirkan untung rugi sejak dini. Dia tidak mau melakukan atau melihat suatu hal yang hanya akan merugikannya. Apalagi masalah bisnis, bocah itu bahkan kadang bisa menebak bagaimana harga pasar saham besok.
__ADS_1
Jessi yang melangkah menyusuri dapur tak kunjung menemukan putrinya. Dia malah melihat di mana Jonathan yang tengah berkumpul dengan para pelayan. Di mana pipi bocah itu sudah penuh dengan bekas lipstik dari bibir mereka yang beraneka warna.
"Jo, di mana adikmu?" tanya Jessi pada putra keduanya itu.
"Carilah di tempat yang menghasilkan banyak kesenangan, Mom," jawab Jonathan tanpa menoleh pada ibunya dan malah asyik bermain dengan para pelayan. "Ah, Jo kalah lagi. Sini cium di sini," ucap bocah itu menunjukkan dahi pada pelayan yang menang dalam permainan darinya.
"Kalian itu sama saja! Sama-sama membuat Mommy pusing! Oh Tuhan, kenapa aku memiliki anak-anak yang tidak normal seperti kalian," gerutu Jessi pada sikap kedua putranya yang duduk berseberangan di lokasi berbeda.
"Karena kami tampan seperti Daddy, Mom," seru Jayden dan Jonathan dari tempat berbeda, kompak menjawab pertanyaan ibunya.
"Menyebalkan, semua menurun seperti Nicholas! Kenapa tidak ada satu pun yang mirip denganku? Merepotkan," kesal Jessi yang melangkah pergi kembali mencari Jessica.
Begitulah kehidupan Jessi sehari-hari, selalu menggerutu akan sikap anak-anaknya yang terlanjur cerdas dan dewasa sebelum waktunya. Hingga dia sama sekali tak bisa menikmati waktu seperti halnya ibu-ibu lainnya yang bersenang-senang dengan putra putri mereka dan bermain bersama layaknya anak kecil pada umumnya. Hanya ada emosi serta kesabaran yang selalu diuji. Beruntungnya Jessi memiliki mental baja. Jadi, tidaklah sampai gila menghadapi ketiga anaknya.
Bahkan tidak ada satu pun dari ketiganya yang mau bermanjaan dengan Jessi. Mereka selalu membanggakan Nicholas Bannerick, bahkan menganggap suaminya sebagai aset berharga di kediaman ini, sedangkan Jessi seperti halnya emak-emak di desa. Di mana suara dan tindakan lebih cepat kemarahannya yang tergerak. Padahal dia juga sudah berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik.
"Jessica, apa yang kamu lakukan?" Ingin sekali rasanya Jessi menangis saat ini juga. Dia berjalan ke depan dengan raut wajah seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya. Mobil merahnya kini berubah menjadi papan gambar di tangan putri cantiknya.
"Lihat, Mom! Bagus 'kan? Aku baru saja melukis wajah, Mommy di atasnya agar mereka tahu milik siapa mobil ini," ujar Jessica dengan bangga setelah melukis wajah sang ibu di body mobil lengkap dengan taring dan tanduk iblis di kepalanya.
Tangan Jessi terulur hendak meraih mobil kesayangannya tersebut dengan wajah syok. Entah ini mobil ke berapa yang sudah menjadi sasaran kenakalan Jessica dan harus berakhir dengan perawatan mahal. "Jessica, apa yang sudah kau lakukan, Nak?"
Tanpa memerhatikan kesedihan ibunya, Jessi kecil segera berlari ke arah Nenek Amber yang berada di belakang mereka. "Nenek Buyut, lukisan Je bagus 'kan?" ucap Jessica dengan menampakkan wajah imut serta pipi gembul yang mengembang karena terlalu banyak makan fermipan.
__ADS_1
"Apanya yang bagus?" teriak Jessi yang tidak lagi bisa mengontrol emosi.
"Sudahlah, Jessi. Jessica ini 'kan mirip denganmu waktu kecil. Dulu kamu malah suka mencoret-coret tembok rumah tetangga. Untungnya mereka tidak marah dan memakluminya," ujar Nenek Amber dengan bijak sambit mengelus pucuk kepala cicitnya yang kini semakin tinggi saja.
"Kenapa tidak pakai baju, hmm? Ayo pakai bajumu dulu!" ucap Nenek Amber dengan lembut membawa tangan kecil Jessica menuju sebuah kursi karena usia tua dia tak mungkin lagi berjongkok.
Jessica dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Je tidak mau baju itu, Nenek Buyut. Terlalu jelek dan tidak keren."
Pakaian dari tangan Jessi berpindah ke tangan tua Nenek Amber. Di mana pakaian tersebut bermotif kartun Elsa, dengan warna biru kesukaan para anak wanita. Namun, bukan Je tentunya karena dia tidak menyukai pakaian berwarna warni yang cenderung menyukai warna netral serta polos tanpa aksen yang menempel.
"Besok Mommy akan membelikan baju yang kamu inginkan. Sekarang pakai yang ini dulu, ya. Apa kamu tahu, Nak. Banyak orang di luar sana yang bahkan tidak memiliki pakaian karena tidak mampu membelinya. Jadi, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki," ucap Nenek Amber lembut sambil memasangkan pakaian di tubuh Je.
"Benarkah itu, Mom?" tanya Jessica menatap Ibunya di belakang.
Jessi hanya bisa mengangguk. Memang di rumah ini Nenek Amber selalu bijak dalam menasehati anak-anaknya. Namun, usianya yang renta dan sudah tidak lagi fit membuatnya harus berdiam diri dan tak lagi melakukan aktivitas berat seperti berkebun kesukaannya. Dia hanya boleh menghabiskan waktu dengan hal-hal ringan serta menikmati waktu senja dengan bahagia.
"Kalau begitu seluruh isi lemari Je disumbangkan pada mereka saja. Nanti, Mommy mampu membelikan Je pakaian yang keren dan tidak menjijikan seperti ini." Entah dari mana datangnya ide Jessica itu. Tampak seperti berniat menderma, tetapi secara tidak langsung menguntungkan dirinya sendiri.
"Mana boleh seperti itu? Kalau mau bersedekah seharusnya memberikan yang terbaik milik kita. Bukan apa yang sudah tidak kita inginkan diberikan. Itu namanya menganggap mereka tempat sampah yang tak berharga," ujar Jessi menasehati putrinya dengan menohok. Namun, tidak mengubah makna di dalamnya.
Hal ini dilakukan untuk menanamkan pada diri anak kecil agar kelak mereka tidak semena-mena pada orang tidak mampu. Mereka juga harus bisa menghargai orang lain dengan sama rata dan tidak hanya memberikan sisa, bukan pula menganggapnya sebelah mata karena hanya mendapatkan bekas.
Meskipun orang lain mungkin senang mendapatkan bantuan seperti itu. Namun, alangkah baiknya sebagai orang yang mampu memberikan yang terbaik dan bukan terburuk dalam berbagi pada sesama manusia. Karena sejatinya semua manusia diciptakan sama oleh Tuhan tanpa memandang ciptaan-Nya itu keturunan siapa.
__ADS_1
To Be Continue..
Buat yang merasa penasaran dengan cerita Maurer, tunggu cerita selanjutnya ya. Sengaja di gantung supaya cepet kering. Bismillah.