Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Di Waktu Bersamaan


__ADS_3

 Lain halnya dengan Maurer yang harus adu mulut dengan wanita yang tak tahu diri. Sepasang pria dan wanita yang baru saja tiba di daerah New Era mulai melangkah menuju tempat di mana Anna tumbuh dan berkembang sejak kecil. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya keduanya pun tiba di rumah sederhana yang hanya terbuat dari kayu itu.


Mario hanya mengernyitkan dahi, memasuki area pelatarannya. Banyak rumah di sekitar, tetapi seperti tak berpenghuni. Sementara itu, saking girangnya Anna akan bertemu dengan sang ibu. Dia langsung berlari begitu saja ke dalam rumah. Belum sempat Anna mengucapkan salam. Wanita tersebut langsung berlari memeluk ibunya yang meringkuk hampir di pukul oleh sang ayah. “Ibu.” Anna memeluk Ibunya yang tampak terkejut melihat sang putri yang sudah ada untuk melindunginya.


Sementara itu, botol yang hampir saja mendarat di kepala Anna dengan cepat hancur berkeping-keping di tangan pemegangnya karena sebuah tembakan dari Mario yang melesat tepat mengenai botol kaca yang di genggam sang pria mabuk.


“Siapa yang berani menggangguku, hah?” teriak pria tersebut sambil terhuyung-huyung karena keseimbangan tubuh yang menghilang akibat mabuk.


 “Ayah, apa yang sudah kau lakukan pada Ibu?” Anna tidak habis pikir dengan kondisi ibunya saat ini. Wanita tersebut mengalami luka lebam di seluruh tubuh. Juga darah yang bahkan belum kering di sudut bibirnya dengan tubuh bergetar. Wajah ayu terakhir kali melihat sang ibu sudah tak lagi berbekas. Hanya meninggalkan kesan kurus tak terawat dari dirinya yang sudah mulai menginjak usia paruh baya.


“Gara-gara dia, kau berani melarikan diri dari tempat itu. Apa kau tidak tahu, berapa banyak rentenir yang tidak mau lagi meminjamkan uang karena kau yang menghilang? Ke mana kau bersembunyi selama ini? Ini semua pasti karena bujukan Ibumu ,kan? Biar aku memberinya pelajaran!”


Pria tersebut, hendak kembali menghajar sepasang ibu dan anak 


yang masih berpelukan di lantai. Namun, dengan sigap Mario langsung menahannya dan mengikat tangan pria tersebut menggunakan dasinya. 


“Sebaiknya Anda diam jika tidak mau mati hari ini juga di tanganku!” Tidak ada kata ramah yang keluar dari mulut Mario seperti halnya dia berbicara dengan Anna tadi. Hanya ada kemarahan yang memuncak melihat masih adanya pria yang tak tahu diri menyakiti istri juga putrinya. 


“Siapa kau berani-beraninya mengacaukan urusanku?” Pria tersebut masih saja meronta-ronta tak karuan karena tangan yang tak bisa bergerak. Akan tetapi, kakinya masih bisa bergerak bebas dan mencoba menendang Mario dengan posisi duduk. 


Kesabaran seakan diuji oleh pria seperti itu, Mario terpaksa kembali melesatkan sebuah peluru panas yang bersarang tepat di kaki pria tersebut. Tak peduli apakah Anna atau ibunya nanti akan berpikiran buruk tentangnya. Akan tetapi menghadapi sikap Ayah Anna itu, Mario hanya bisa mengambil jalan terbaik  agar dia tak lagi melukai orang lain.

__ADS_1


Rumah itu tampak sepi di saat keramaian keributan jelas menggema di seluruh penjuru. Tidak ada seorang pun warga yang berani ikut campur karena Ayah dari Anna yang terkenal bengis dan tak segan berbuat jahat pada orang lain jika mereka ikut campur. Mereka hanya bisa bersembunyi dan menutup rumah rapat-rapat di saat pria tersebut mulai berbuat ulah.


“Sialan, brengsek kau!” umpat pria tersebut merasakan sakit di kaki dengan darah yang mengalir  memenuhi lantai tempatnya duduk saat ini.


Perlahan Mario melangkah mendekati Anna dan juga ibunya yang masih saling  berpelukan. “Sekarang pilihan ada di tangan kalian. Mau menjebloskannya ke penjara atau biarkan dia mati hari ini juga di tanganku,” ujar Mario dengan yakin hingga kedua wanita tersebut menatap tak percaya ke arahnya.


Anna tak menyangka, jika bos dingin dan datar yang selama ini dia dekati sungguh terlihat begitu mempesona ketika menggenggam pistol di tangannya. Namun, dia juga tak bisa mengambill keputusan seorang diri atas pilihan yang diberikan Mario saat ini. 


Wanita tersebut, lantas menoleh pada ibu yang di sampingnya. “Ibu,” panggil Anna dengan lirih. Dia tidak lagi peduli dengan sang ayah yang meronta-ronta kesakitan dengan segala sumpah serapah yang keluar dari mulutnya. Anna hanya tidak  menyangka kondisi ibunya akan separah ini setelah kepergiannya hati itu.


Seandainya saja Anna tidak percaya pada sang ibu yang selalu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Anna pasti segera pulang dan membawanya pergi jauh dari suaminya yang gila dan suka kasar kepada ibunya itu.


“Jangan jadi pembunuh! Kita serahkan saja pada pihak yang berwajib saja,” ucap sang ibu sambil mengusap lembut pipi putri yang selama ini dia rindukan.


“Anna,” teriak sang ibu yang menyadari putrinya sudah berada di ambang bahaya dan langsung menarik tubuh Anna menjauh, serta menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran dan suami. Gunting yang cukup panjang menancap tepat di dada sebelah kiri wanita tersebut. 


Mario tanpa banyak berpikir langsung meraih tangan pria tua itu dan mematahkannya seketika. Sayangnya, amarah Mari tak cukup berhenti di sana. Dia langsung memutar kepala pria tersebut hingga meregang nyawa secara langsung dengan kepala yang menghadap ke belakang dan tergeletak tak berdaya di lantai.


Anna yang terkejut akan kondisi saat ini hanya bisa memeluk tubuh lemas ibunya dengan bergetar. Butiran hangat ketika berkumpul di pelupuk matanya dan mengalir deras tanpa di minta. “Ibu,” panggil Anna dengan perasaan tak karuan dan tidak memedulikan lagi kondisi sang ayah yang sudah lebih dulu meregang nyawa.


“Hust, jangan menangis, Sayang! Kau adalah putri kecilku yang berharga.” Wanita tersebut menghentikan kalimatnya  untuk sejenak terbatuk karena merasa semakin sesak. “Maafkan Ibu yang tak mampu menjagamu dengan baik sampai kau harus menderita selama ini.”

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, Bu," ujar Anna sambil memeluk tubuh ibunya dengan derai air mata.


Melihat Mario yang mendekati keduanya, sang ibu langsung berusaha meraih tangan pria itu. “Aku mohon jagalah putriku, Tuan!” 


“Aku kemari karena ingin meminta restumu untuk mempersunting Anna. Jadi saya mohon bertahanlah dan saksikan pernikahan kami! Dalam keadaan sehat.” Mario hendak mengangkat tubuh wanita tersebut agar bisa segera di bawa ke rumah sakit,  tetapi dia malah menahan Mario. 


"Sudahlah, biarkan aku di sini!" Dia menggeleng  kecil, lalu menyatukan tangan Mario dan Anna di depannya. “Berbahagialah putriku! Jangan mengulangi kesalahan ibumu, kau beruntung karena ada pria yang mencintaimu,” ucapnya sambil menatap Anna. Namun sedetik kemudian, mengalihkan pandangan pada Mario. “Tolong jaga putriku dengan baik, Tuan! Aku menitipkannya padamu karena dia pantas berbahagia. Aku akan merestui kalian dari surga, dan tolong makamkan aku agar tetap bersama suamiku,” ucap wanita tersebut menoleh pada pria yang kini tergeletak tak berdaya  di posisi yang tak jauh darinya. 


Senyum mengembang di wajahnya, menatap pria itu. Cinta memang buta, bahkan setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga, dia hanya bisa diam dan tak melawan. Bukan hanya karena wanita tersebut merasa bodoh sebagai seorang istri, tetapi juga karena rasa bersalahnya telah memaksa sang pria agar mencintainya dan memisahkannya dengan wanita yang di cintainya di masa lalu. 


Karena itulah, Ayah Anna tak pernah berbuat baik pada ibunya dan selalu menyiksa. Sebab sejak awal, hanya ada cinta sepihak dari sang ibu hingga akhir hayat mereka. Sayangnya, Anna tidak mengetahui hal itu. Wanita itu pun lantas mengembuskan napas terakhir dengan segudang penyesalan menatap sang pria yang notabene adalah suaminya. 


Seandainya saja dia bisa mengulang masa lalu, pasti dia memilih merelakan pria itu bersama wanita lain. Karena awalnya pria tersebut juga orang yang baik hati, tak seperti saat menjadi suaminya.


“Ibu, Ibu! Ibu, jangan tinggalkan Anna!” Anna hanya bisa menangis meraung memeluk tubuh yang kini lemah tak bernyawa itu. Seharusnya dia pulang lebih awal, pasti semua ini tidak akan terjadi pada ibunya. Sebagai seorang anak, Anna merasa gagal, hatinya dipenuhi penyesalan sebab hari di mana mereka seharusnya melepas rindu. Malah menjadikan hari kematian kedua orang tuanya.


Kehilangan Ibu yang selalu di cinta, dan melindunginya dari sang ayah yang selalu menyiksa, membuat Anna tetap merasakan sakit di waktu yang bersamaan. Kini dia benar-benar hidup sebatang kara, tanpa tahu harus bagaimana ke depannya.


Mario di belakang hanya bisa mengusap lembut punggung wanita tersebut tanpa sepatah kata pun. Dia sendiri bingung harus bicara apa ketika kedua orang tua Anna meninggal tepat di depan mata anaknya sendiri. "Maafkan aku! Maaf tidak bisa melindungi Ibumu, dan membunuh Ayahmu."


Anna hanya terdiam dan tak menanggapi, wanita tersebut masih memeluk dan mencium tubuh yang kini hanya tinggal kenangannya saja. Dia tak lagi bisa berkeluh kesah, apalagi bermanja di pangkuan ibunya. Entah dia harus marah atau tidak karena Mario sudah membunuh Ayahnya, Anna sendiri tidak tahu. Padahal Ayahnya juga lah yang telah membuatnya Kehilangan satu-satunya wanita yang begitu menyayanginya sejak kecil.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2