Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mie Berisikan Ganja


__ADS_3

Misi berhasil, dengan segera Jessi dan anak buahnya mulai mendiskusikan masalah hari ini. Olivia dan Jack juga sudah mulai memasuki markas.


Mario dan George mengangkat dua kotak barang itu ke depan.


"Buka!" ujar Jessi.


George membuka salah satu kotak tersebut. Sekilas hanya seperti kemasan makanan instan biasa. "Bongkar semuanya sampai isi dan bumbu-bumbunya!"


Mereka membuka isi kotak satu persatu awalnya hanya berisikan mie kering dan bumbunya, tetapi semakin banyak yang di buka barang sebenarnya baru terlihat.


"Nona." Mario menyerahkan kemasan berisikan daun ganja kering.


Jessi menautkan alisnya melihat isi kemasan. "Maurer sudah kau temukan wajah siapa yang bertransaksi?"


"Belum, Nona. Sepertinya mereka menggunakan wajah palsu."


"Wajah palsu?"


"Ada wajah palsu yang bentuknya menyerupai kulit, Nona. Namun, biasanya sangat langka karena proses pembuatan yang memakan waktu dan harganya yang mahal," jelas George.


"Hmm ... mereka sungguh membuatku tertarik. Apa ada kemungkinan mereka juga komplotan perdagangan manusia itu?"


"Tentu ada, Nona. Bos besar mereka sangat hati-hati dalam bertindak," timpal Olivia.


"Jack, kau harus bersabar untuk membalas mertuamu." Jessi menepuk pundak pria di sampingnya. "Sepertinya dia memiliki banyak antek-antek di belakang. Kita harus mencabutnya sampai ke akar agar tidak ada lagi korban berjatuhan."


"Saya menurut, Nona."


Jessi kembali menepuk pundak pria itu. "Cukup hari ini, kita lanjutkan besok! Aku cukup lelah. Kalian juga beristirahatlah!"


Merek semua membungkuk tanda menghormati Jessi. Wanita melangkah keluar menuju kamarnya. Otaknya terasa diperas beberapa hari ini, membuatnya mudah lelah. Dia akan tidur sejenak baru menemui kakaknya—Jane.


*****


Di sisi lain, Johny dan anak buahnya mulai menurunkan semua kotak dari kontainer. Mereka memilah barang sesuai kode batang yang tersedia di kemasan.


Tiap satu karton berisikan seratus kemasan mie instan, dengan tujuh puluh lima di antaranya adalah palsu, alias ganja. Mereka memilah sebanyak dua kontainer. Menumpuk barang asli dan barang palsu berseberangan.


"Kalian teruskan! Aku akan mencari kakak."


Johny beranjak pergi meninggalkan anak buahnya. Dia melepas topeng yang dikenakan dan meletakkan kembali di sebuah patung.


"Di mana kakak?" Johny bertanya pada bawahan yang menjaga pintu.


"Tuan sedang berada di ruang samsak, Bos."


Johny melangkahkan kaki menuju tempat latihan kakaknya. Sebuah ruangan latihan dengan suasana yang tak biasa karena dalam keremangan, hanya sebuah lampu kecil yang dinyalakan untuk menerangi.


Beberapa samsak berisi pasir berjajar rapi. Hanya ada satu yang asik bergelayut karena pukulan dari pemakainya—Brian. Keringat bercucuran di tubuh pria dewasa itu, otot-otot yang terlihat membuatnya tampak semakin berkarisma.


Namun, raut wajahnya tak akan pernah berubah. Dia selalu menampilkan muka datar dengan manik mata hitam. Membuat dirinya tampak semakin mengerikan.


Johny memasuki ruangan, mengambil handuk dan sebotol mineral. Dia mendekat, menghampiri kakaknya.

__ADS_1


"Istirahatlah lebih dulu!" Johny melemparkan handuk pada Brian.


Brian langsung menangkap dan mengelap tubuhnya. "Ada apa kau kemari?"


Johny menyerahkan botol air mineral. "Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong bagaimana malammu kemarin?"


Brian menatap tajam adiknya. "Seperti biasa, tak ada yang istimewa."


"Memang ada lagi yang kau anggap istimewa selain wanitamu itu?"


"Dia memang istimewa." Brian menenggak minuman itu hingga tandas. "Apa transaksimu lancar?"


Johny mengangguk mengiyakan pertanyaan Brian. "Kau lihatlah barangnya nanti!"


"Aku akan mandi dulu. Nanti aku ke sana."


"Baiklah, aku tunggu."


Johny melangkah pergi meninggalkan kakaknya, sedangkan Brian berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Dia mandi di bawah guyuran shower. Dalam pikiran melayang jauh merindukan mantan istrinya. Brian memukul tembok dengan keras hingga menyebabkan lecet di punggung tangannya.


"Sial."


Dengan segera dia mengakhiri acara mandi, berganti pakaian sambil menatap pigura besar di depan. Itu adalah gambar Jessi ketika mereka menikah. Senyum yang mengembang di wajah cantiknya dulu membentuk obsesi dalam diri Brian.


"Aku akan mendapatkanmu kembali."


Setelah semuanya siap. Dia segera menyusul adiknya ke markas, melihat barang yang mereka terima.


"Apa ini barangnya?" tanya Brian.


"Iya, kau bisa melihat kualitasnya!" ujar Johny.


Brian mengamati banyaknya tumpukan barang, membuatnya menautkan kedua alisnya. "Berapa persen barang asli tiap kartonnya?"


"75% barang asli, sisanya berisi mi asli."


"Barangnya kurang. Kalian hitung berapa banyak yang tertukar!"


Mendengar hal itu Johny menatap lekat Brian. "Benarkah!'


"Hitunglah sendiri kalau tidak percaya! Apa mereka menipumu?"


"Aku tidak yakin, bertahun-tahun bekerja sama tidak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Kalian hitung betul-betul barang itu!" Johny langsung memerintahkan anak buahnya untuk menghitung kembali barang yang mereka terima.


"Kau selesaikan urusanmu! Aku pergi dulu." Brian menepuk pundak adiknya dan melangkah meninggalkan markas.


Brian pergi menggunakan mobilnya. Dia akan melihat wanitanya dari jauh kali ini. Karena dia masih belum bisa berekspresi layaknya Dominic lagi.


Sementara wanita yang diincar sedang bergerak menuju Light Resto. Dia mengunjungi kakaknya kali ini untuk menceritakan beberapa masalah yang dia hadapi.


Setibanya di resto dia langsung mendekati Jane seperti biasa. "Door."

__ADS_1


"Akh aku terkejut." Jane berbicara dengan ekspresi datarnya dan masih fokus menulis di buku.


"Cih ... kau tak lucu sama sekali." Jessi menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Jane.


"Ada apa kau kemari?"


"Kau itu jahat sekali, selalu pertanyaan yang sama setiap aku datang."


"Kau hanya membawa masalah ketika datang. Apa lagi kali ini?"


"Jane, apa kau tahu?"


"Tidak." Jane memotong ucapan Jessi.


"Issh ... aku belum bicara lagi."


"Oh ... katakan!"


"Aku baru saja merampok."


Jane langsung meletakkan pena begitu mendengar penuturan Jessi. "Apa lagi yang kau rampok kali ini?"


Jessi berbisik di telinga Jane. "Ganja dalam kemasan mi."


"Kenapa kau bisa ikut campur masalah seperti itu, hah?!" Jane menyentil dahi adiknya.


"Cih ... pengirimnya perusahaan keluarga Mario karena itulah aku membantunya."


"Keluarga Mario? Apa dia berasal dari keluarga kaya?"


"Kemungkinan begitu. Tapi Jane aku rasa kan, kelompok itu masih satu komplotan dengan perdagangan manusia hari itu."


"Kenapa kau bisa yakin?"


"Karena mereka bekerjasama dengan Night sialan itu!" Jessi terlihat geram ketika membicarakan keluarga Night.


"Sepertinya kau tidak akan mudah membalasnya."


"Aku akan mengorek kejahatannya lebih dulu, tanaman beracun tidak akan mati jika tidak di cabut sampai ke akarnya."


Jane mengangguk membenarkan perkataan adiknya.


"Kenapa tahun ini banyak sekali masalah?"


"Karena kau suka mencari masalah." Jane memanggil pelayan yang lewat. "Ambilkan kami minum!"


"Baik Nona."


"Aku kan hanya bermain-main, Jane," ujar Jessi.


Tanpa mereka sadari, dari luar restoran ada sepasang mata yang melihat keakraban dua bersaudara itu. Namun, tidak mendengar apa yang mereka katakan karena jarak yang cukup jauh.


"Dia masih sama."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2