Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Tidak Sendirian


__ADS_3

Beberapa hari berlalu begitu cepat, guncangan mental yang terjadi pada Anna membuat wanita tersebut mengalami depresi berat dan dirawat di rumah sakit lebih lama karena terkadang dia bisa melukai diri sendiri, maupun orang lain di kala berhalusinasi. Hal itu membuat Mario tidak mungkin mengawasinya sendiri di rumah karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan.


Beruntungnya meskipun di rumah sakit, Mario selalu ada di sampingnya apa pun yang terjadi, walaupun terkadang pria itu harus terluka di saat Anna mulai histeris tak karuan serta menjadi sasaran tindakan Anna secara tak sadar.


 Tak jarang Jessi dan anak buah yang lainnya, datang hanya untuk melihat keadaan Anna dan memberinya semangat. Walaupun Anna tak mengucap sepatah kata pun sebagai jawaban. Apalagi memberikan respons sebagaimana mestinya. Meskipun sebatang kara, tetapi dia kini memiliki keluarga besar kediaman Light bersamanya yang siap menyayanginya seperti keluarga.


Hanya saja, kesembuhan seseorang memang berasal dari diri sendiri terlebih dahulu. Mau semahal apa pun obat, dan sehebat apa pun seorang dokter. Jika sang pasien sudah tidak memiliki keinginan untuk sembuh inilah yang terjadi. Anna tetap menjadi sosok yang pendiam meskipun Mario dan tim medis lainnya sudah banyak mengajaknya berbicara.


Dia hanya memberikan respons jika seseorang membicarakan tentang ibu. Anna akan berani menatap orang itu, seperti halnya di saat Jessi datang membawa anak-anaknya saat ini. 


"Lihat, Anna. Anakku lucu 'kan?" tanya Jessi sambil memerlihatkan Jayden yang sudah mulai bisa tersenyum pada orang yang menimangnya. 


Anna hanya tersenyum samar melihat betapa lucunya Jayden. Hari ini Mario tidak bisa menjaganya karena ada urusan kantor yang tidak bisa ditunda bersama Maurer, sehingga Anna dijaga oleh Jessi dengan ketiga anaknya dan juga Maria. 


Pernah berada di posisi sulit, membuat Maria tahu apa yang dirasakan Anna. Wanita tersebut mendekat dan mengelus tangan Anna dengan lembut. "Nak, kau tidak sendirian di dunia ini. Masih ada kami yang selalu ada untukmu. Kami masih menantimu kembali dengan senyum ceria yang biasanya membuatmu semakin mempesona," ujar Maria yang merasa iba dengan Anna sambil beralih mengusap lembut pipi wanita tersebut.


Anna hanya terdiam sambil menatap ke arah Maria. Seorang wanita paruh baya yang lemah lembut layaknya ibunya. Jika saja beliau masih hidup mungkin akan sama seperti wanita di hadapannya. Jessi memang membiarkan Maria tetap tinggal di kediamannya, dan kadang kala juga tinggal bersama Patricia yang sudah lebih mandiri. Namun, mereka tetaplah satu keluarga meskipun tak memiliki aliran darah atau ikatan keluarga kandung. 


“Yang pergi, biarlah pergi, Sayang. Ibumu pasti juga risau di atas sana jika melihatmu seperti ini. Hidup terus berjalan, ada saat di mana kita harus ikhlas menerima takdir Yang Maha Kuasa. Manusia hidup di dunia ini silih berganti, tidak ada orang yang bisa meminta kapan akan mati ataupun dari mana dia dilahirkan. Tugas kita sebagai manusia hanyalah menerima semua itu dengan hati yang lapang. Tuhan selalu memiliki rencana yang lebih indah di bandingkan kita umat-Nya.” Kalimat Maria berhasil membuat hati Anna yang kosong kembali terenyuh. Kehangatan akan nasehat bijak yang baru saja di dengar layaknya ucapan sang ibu sebelumnya yang selalu mengatakan jika semua ini akan bak-baik saja selama manusia ikhlas menyerahkan hidupnya pada takdir Yang Maha Kuasa.  


Maaf dan pengampunan, hanya itu yang bisa manusia lakukan agar bisa menerima kembali kenyataan. Meskipun sang ayah selalu berbuat buruk, tetapi ibunya selalu saja membela dan membiarkannya. Hal itu seakan menjadi tanda tanya besar di hati Anna selama ini. Mengapa mereka masih bertahan kalau memang tak ada cinta di antaranya dan mengapa harus ada kekerasan dalam rumah tangga kalau memang keduanya saling cinta. Namun, sayangnya Anna tak akan pernah menemukan jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk dalam pemikirannya selama ini. 

__ADS_1


Jessi pun ikut melangkah mendekati Anna. “Kau juga pantas bahagia. Apa kau tidak ingin berumah tangga dan memiliki anak sepertiku bersama orang yang kau cintai.”


Mendengar kata-kata Jessi, Anna pun kembali menoleh dan menengadahkan tangan seolah ingin memangku Jayden. Tanpa ragu Jessi pun menyerahkan bayi tersebut di pangkuan Anna. Ada rasa haru yang seketika menyeruak dalam diri Anna melihat senyum manis Jayden di kala mata bersih itu menatapnya.


Sorot beningnya mengingatkan Anna saat di mana dia kecil. Akankah dia di kelillingi orang baik seperti ini. Jawabannya mungkin tidak, karena sepanjang ingatan hanya ada kenangan buruk yang terpatri di pikirannya. 


Beruntung Anna tidak lagi histeris mengingat semua itu seperti biasanya. Mungkin karena Jayden sang bayi tak berdosa yang kini berada di pangkuannya.


“Apa kau juga ingin menjadi seorang ibu?”  tanya Jessi yang melihat Anna akhirnya tersenyum setelah sekian lama.


 “Ibu,” ucap Anna untuk pertama kali meskipun suaranya tercekat di tenggorokan. 


“Iya, Ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak. Juga sebagai seorang istri terbaik bagi suami yang kau cintai,” ujar Maria menambahkan nasehat.


Bayangan Ibu yang baik seperti ibunya mulai kembali muncul dalam benak Anna, tetapi bayang di mana dia selalu menjadi seorang istri yang selalu di siksa juga muncul secara bergantian. “Suami hanya bisa menyiksa istri.” Anna meletakkan Jayden di pangkuannya begitu saja dan langsung di ambil oleh Jessi. 


Dia kembali memegang kepalanya dengan kedua tangan karena halusinasi yang kembali menerpa menyakiti kepalanya. 


Jessi meletakkan kembali Jayden dengan kedua adiknya di stroller. Dia mendekati Anna dan menghentikan wanita tersebut memukul-mukul kepalanya. “Dengarkan aku, Anna! Setiap wanita akan menjadi ratu jika dia dicintai oleh pria yang tepat. Tapi sebaliknya, hanya ada neraka bagi masa depanmu kalau cinta itu kau paksakan dan ternyata pria itu sama sekali tak mencintaimu.”  


Buliran hangat mulai berkumpul di pelupuk mata Anna mendengar kalimat Jessi. Wanita tersebut langsung mendekap dan memberikan kehangatan pelukan sebuah keluarga yang tak pernah Anna dapatkan sebelumnya. “Sadarlah, kau pantas bahagia! Lihatlah betapa Mario tetap menjadikanmu ratu meskipun kau selalu menyakitinya.”

__ADS_1


Anna hanya bisa terdiam mencerna setiap kalimat Jessi. Mungkin dia tidak ingat bagaimana Mario selama dia sakit ini, tetapi Anna jelas tahu, berulang kali Mario merelakan dirinya terluka hanya karena Anna. 


Mario seperti Ibunya, rela di sakiti demi orang yang dicinta. Namun, apakah Anna akan menjadi sang ayah yang malah menyakiti orang yang mencintainya. Tidak, Anna tidak mau. 


“Apa Mario mencintaiku?” tanya Anna yang mulai bisa di ajak bicara.


Jessi hanya mengangguk. “Dia sangat mencintaimu. Jadi jangan biarkan wanita lain merebutnya darimu, dan pertahankan dia hingga tak bisa lagi lari darimu!”


Anna masih belum bisa mencerna sepenuhnya setiap kalimat Jessi. Meskipun otaknya terasa kosong, tetapi jantungnya tetap bergetar hebat di saat menyebut nama Mario dari bibir mungilnya itu. Wanita tersebut lantas mengangguk dan Jessi pun tersenyum melihat perubahan Anna


Mereka lantas memanggil dokter yang menangani Anna agar kembali di periksa. Pengobatan pasien depresi tidak hanya berasal dari obat, dukungan orang sekitar dan mengembalikan kepercayaan diri dari masalah yang membuatnya terpukul juga sangat diperlukan.


Anna yang sudah bisa di ajak berkomunikasi menjadi kemajuan yang baik bagi proses kesembuhannya. Hanya tinggal membantu wanita tersebut melalui apa yang menjadi beban dan mengatakan hal positif setiap harinya sehingga dia akan bisa kembali normal dan menjalani hari seperti sedia kala.


Di sanalah peran penting sebuah keluarga maupun kerabat. Jika memang seseorang tidak bisa memahami luka orang lain, janganlah menghakimi hingga akhirnya malah menjadikan orang itu bertambah beban pikirannya. Kalau memang tidak bisa memberikan nasehat baik, setidaknya dengarkan apa yang ingin dia keluhkan. Karena terkadang seorang manusia yang mengalami masalah hanya butuh untuk di dengarkan keluh kesahnya. Bukan di hakimi seolah tahu segalanya.


Jangan menganggap mereka lemah hanya karena mengeluhkan suatu masalah. Sebab di balik kelemahannya itulah kelembutan hati masih tersisa dalam dirinya sebagai seorang manusia.


Terkadang tantangan dalam hidup manusia bisa dibilang 'biasa' bila dibandingkan tantangan yang dialami oleh orang lain yang terus berusaha lebih keras dalam menghadapi masalah yang lebih besar. Semua usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia asalkan tidak menyerah dan mampu menghadapinya sampai akhir. Jangan sampai berhenti berusaha karena berpikiran bahwa usaha hanya akan berakhir sia-sia. Ingat bahwa masih banyak orang-orang di luar sana yang mungkin memiliki masalah lebih berat, tetapi tidak pernah menyerah untuk menghadapinya, dan yakinlah jika Tuhan tidak akan menguji seorang umat di luar batas kemampuannya.


To Be Continue.

__ADS_1


__ADS_2