Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Calon Presiden


__ADS_3

Seorang pria paruh baya tengah duduk di sebuah kursi kebesaran. Perasaannya mulai gusar karena ulah keluarga adiknya, dia membanting tablet di tangannya ke lantai dengan begitu keras, hingga benda tersebut hancur berkeping-keping dan tak lagi berwujud. Dia begitu marah ketika anak buahnya memperlihatkan berita viral pagi ini.


"Apa dia tidak punya otak?!" Jerry Morning begitu geram dengan tindakan keponakannya. Dia tidak menyangka, reputasi yang dia jaga selama ini akan ternoda begitu saja oleh tindakan Emily.


Sebelumnya Jerry sendiri berhasil menutupi aibnya selama bertahun-tahun. Namun, sekarang Emily malah menghancurkannya hanya dalam waktu semalam. Kilatan kemarahan terlihat jelas di wajah Jerry Morning, dengan rona merah padam dan tangan yang mengepal dengan kuat, hingga membuat buku jarinya memutih.


Semua jajaran partai hanya bisa menundukkan kepala melihat kemarahan Jerry Morning. Tubuh mereka mulai bergetar dengan jantung yang berdetak cepat seakan ingin segera meledak dari tempatnya. Tidak ada berani bersuara di saat seperti ini, dan hanya saling melirik satu sama lain, hingga akhirnya seorang pria berusaha untuk berbicara.


"Haruskah kita mengeluarkan Barron Night dari kandidat menteri, Ketua?" Lirih seorang pria menyampaikan pendapat. Dialah Gerry Selay, seorang pejabat yang setia mendampingi Jerry Morning sepanjang karirnya.


Sejenak Jerry berpikir tentang hal tersebut, napasnya memburu naik turun begitu terlihat jelas. Kepalanya seakan mau pecah karena ini. Jika dia menyingkirkan Barron Night dari daftar relasinya, siapa kira-kira yang mampu menggantikan posisi untuk melancarkan bisnis hitamnya di belakang layar?


Tidak ada.


"Biarkan dulu! Kita lihat dulu bagaimana perkembangan publik selanjutnya." Jerry meneguk minuman di meja hingga tandas. Lebih baik memikirkan tentang kampanye daripada harus pusing karena ulah keluarga Night. "Kita lanjutkan pembahasan!"


Mereka saat ini tengah membahas tentang rencana kampanye untuk Jerry Morning mencalonkan diri sebagai Presiden Negara N. Bertahun-tahun dia selalu memimpikan posisi ini, dan baru sekarang pria tersebut akan merealisasikannya.


Oleh karena itulah, dia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi rencananya. Apalagi sampai menggagalkan dirinya dari kursi pencalonan diri.


Sebagi konglomerat terkaya kedua di Negara N, tentu saja hal tersebut membuatnya menduduki posisi teratas sebagai kandidat terkuat. Keluarga Bannerick yang catatannya adalah pengusaha, tidak akan mungkin menginginkan posisi Presiden untuk menyainginya.


"Bagaimana dengan dana yang akan kita keluarkan untuk kampanye kali ini, Ketua?" ujar salah seorang pejabat.


Jerry Morning merupakan seorang pemimpin partai terbesar dalam pemerintahan di Negara N. Oleh karena itu, para pejabat menyebutnya sebagai ketua. Menduduki posisi ini bertahun-tahun tidak membuatnya puas akan hal tersebut. Maka dari itu, dia kembali merangkak menuju kursi Presiden.


"Kita gunakan dana partai secukupnya. Sisanya aku akan mendonasikan dana pribadi untuk kampanye."


Para pejabat mengangguk setuju, bukan jumlah yang sedikit jika dikeluarkan untuk dana kampanye. Apalagi Presiden dan jajarannya. Hal yang tidak mereka ketahui adalah Jerry Morning memiliki bisnis ilegal yang bisa menunjang pendanaannya dengan begitu mudah.


"Apa kita harus menyuap rakyat agar memilih Anda, Ketua." Gerry Selay mulai mengemukakan pendapat dalam diskusi tersebut.


Namun, Jerry Morning menggelengkan kepala tanda bahwa dia tidak setuju dengan hal tersebut. "Kita bisa menggunakan cara lain yang akan menarik simpati publik tanpa harus memperkeruh reputasi baik."

__ADS_1


"Contohnya, Ketua?"


"Kita gunakan simpati rakyat untuk membantu meredam emosi publik. Buat kegiatan amal di berbagai tempat sejak kini, dengan dalih kepedulian sosial." Mereka mengangguk setuju. "Akan lebih mudah meninggalkan kesan yang mereka ingat dibanding segepok uang. Manusia cenderung mengingat kebaikan dan akan menyebarluaskan layaknya api yang membakar. Jika hanya menggunakan uang maka citra buruk dari keluarga Barron akan semakin berimbas kepada kita."


Jerry adalah sosok yang pandai dalam memperhitungkan segala kemungkinan yang ada. Oleh karena itulah, dia juga mampu menyingkirkan musuh yang berpeluang menjadi batu sandungan baginya.


"Kegiatan sosial apa saja yang akan kita lakukan, Ketua?" tanya seorang jajaran.


Hal tersebut sontak membuat Jerry menatapnya dengan tajam. "Apa kau juga bodoh? Hal sekecil ini pun harus aku jelaskan!"


"T–tidak, Ketua." Pria tersebut tergagap, dia tidak menyangka akan salah bicara kali ini.


"Kalian kan bisa menggunakan anak yatim, gelandangan, panti jompo, penyandang disabilitas, atau apa pun yang bersifat kasihan untuk menarik perhatian publik. Bahkan jika hanya menggunakan semangkuk bubur, mereka pasti akan mengingat secuil kebaikan itu." Jerry memijit pangkal hidung mancungnya. Dia tidak menyangka jika anggotanya begitu bodoh, hingga membuatnya naik darah. "Kita bisa terjun langsung untuk memberikan bantuan."


"Tapi, Ketua ...." Belum sempat seseorang berbicara Jerry sudah menatap tajam ke arahnya, membuat nyali pria tersebut menciut seketika.


"Apa kau bahkan tidak mau terjun ke masyarakat?" Jerry Morning menatap dengan kilatan mata yang tajam, seakan bersiap untuk menebas lawan bicaranya kapan saja.


Sebagai kaum jajaran kalangan atas, sangat mustahil untuk mereka berkumpul dengan kaum-kaum yang disebutkan oleh Jerry Morning tadi. Akan tetapi, apa yang bisa mereka lakukan selain menuruti perintah sang ketua partai.


Bagi Jerry Morning, kondisi masyarakat kalangan bawah memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini bisa menjadi sarana untuk membangun kembali reputasi baiknya di mata masyarakat. Menjual kemalangan orang lain untuk kepentingan pribadinya.


"Pembahasan cukup sampai di sini hari ini. Kalian pergilah!"


Para jajaran langsung berdiri dari kursinya, membungkuk hormat pada sang ketua dan melangkah pergi meninggalkan ruangan. Pasokan udara seakan kembali normal setelah itu, perasaan berbicara dengan Jerry Morning ketika pria tersebut sedang marah membuat mereka sesak.


Sementara Jerry Morning di dalam ruangan membubarkan mereka karena merasa ada sesuatu yang penting kali ini.


"Keluarlah!"


Seorang pria muda keluar, entah dari mana dengan setelan serba hitamnya.


"Apa yang kau dapat?"

__ADS_1


"Tuan, ini mantan istri Brian." Pria tersebut menyerahkan beberapa lembar foto Jessi ketika berada di restoran bersama Jane.


Sekilas Jerry menatap dua wajah wanita di sana, dengan Jane yang hanya tampak dari samping. Pria tersebut mengernyitkan dahi melihat keduanya. "Stephanie."


"Bukan, Tuan. Mantan istrinya adalah wanita yang satunya, Jesslyn Light." Pria tersebut menunjuk wajah Jessi di dalam foto, hanya dari gambar saja sudah terlihat aura yang dipancarkan oleh wanita itu.


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Sepertinya dia akan sulit untuk diajak bekerja sama, Tuan. Jesslyn Light sudah cukup kaya dan berkuasa di negara ini."


Jerry mengusap foto di tangannya berulang kali. Ada suatu perasaan aneh menjalar dalam dirinya, bahagia dan juga waspada. Entah apa yang membuatnya merakan hal tersebut. Dia memicingkan mata mencari tahu apa hubungan kedua wanita ini dengannya.


Namun, nihil. Dia tidak mengingat apa pun tentang mereka. "Apa hubungan kedua wanita ini?"


"Mereka kakak beradik, Tuan."


"Kakak beradik." Jerry meletakkan gambar di meja, memangku dagu dengan tautan kedua tangannya. "Cari tahu lebih banyak tentang mereka, dan laporkan kembali padaku!"


"Baik, Tuan."


Pria tersebut lantas pergi meninggalkan ruangan Jerry Morning. Dia merupakan orang yang dilatih untuk menjadi tangan kanannya sejak kecil. Hidup di bawah peraturan ketat selama ini membuat pria muda itu menjadi pembunuh bayangan khusus yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali Marcopolo.


Ya, dia adalah anjing selanjutnya yang digunakan Jerry setelah kematian Marcopolo. Baginya, lebih mudah untuk melatih bayi yang belum mengerti apa pun, dibandingkan dengan memercayai orang baru dalam kelompoknya.


Apalagi jenis orang seperti Brian Messis, pria berdarah dingin yang tidak segan membunuh siapa pun, termasuk ayahnya sendiri.


"Jesslyn Light, Stephanie." Jerry memutar-mutar kursinya sambil masih memikirkan kedua wanita tadi. Seandainya dia mengenal keduanya, maka keturunan siapakah Jesslyn dan Stephanie.


Jerry memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya. Hari ini sudah cukup dikuras dengan permasalahan keluarga Night, kampanye, dan sekarang mantan istri Brian.


Tidak pernah ada satu orang pun yang sepenuhnya dipercaya oleh Jerry. Baginya, mereka semua adalah sama. Bisa mengkhianati kapan pun dan dengan siapapun. Untuk itulah dia selalu waspada dengan kemungkinan buruk di sekitarnya.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2