
Awan melayang tampak memerah, langit jingga terlihat begitu indah. Seorang wanita duduk di kursi dekat dengan jendala pesawat. Pandangannya menatap hamparan laut dan daratan dari kejauhan. Sorot matanya terlihat sendu, Jane terdiam untuk waktu yang cukup lama selama perjalanannya. Hanya alunan lagu yang terdengar di telinga melalui earphone, sebuah musik klasik kesukaan sang ibu semasa hidupnya.
Lamunan wanita tersebut melayang entah ke mana. Banyak hal kini berkecamuk dalam pikirannya, hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat, suara pilot mengatakan di akhir perjalanan bahwa pesawat sudah tiba di lokasi tujuan dan akan segera mendarat membuatnya segera mengenakan sabuk pengaman kembali.
Tak lama kemudian perasaan tubuh sedikit berguncang karena roda pesawat yang mulai mendarat di jalurnya membuat Jane mengepalkan tangan sesungguhnya dia sangat membenci momen ini, tetapi hanya ini satu-satunya jalan tercepat untuk bepergian.
Setelah tiba di bandara dia bergegas melangkah untuk ke luar dari dalam pesawat dengan menarik sebuah koper kecil miliknya. Jane menunduk melihat tali sepatu yang dia kenakan lepas, membuatnya memilih untuk membenarkannya terlebih dahulu. Namun, ketika hendak berjongkok tak sengaja langkah seorang pria dari belakang tiba-tiba saja menabrak wanita tersebut.
"Oh, maaf, Nona," ujar pria itu merasa bersalah sembari menghentikan langkahnya.
"Bukan masalah," ucap Jane tanpa menoleh ke arahnya dan tetap mengikat tali sepatu yang dikenakan.
"Jane!" Suara bariton pria itu memanggil namanya membuat Jane mendongak ke atas, wanita tersebut mengernyitkan dahi untuk sesaat, kemudian dia mengingat siapa pria di depannya.
"Pengacara John?" Seakan dibuat tak percaya dengan ketidaksengajaan pertemuan mereka kali ini, pengacara itu pun mengulurkan tangannya untuk membantu Jane berdiri.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Di mana Jessi dan Nenek Amber?" Pria tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak menemukan siapa pun selain Jane sendiri.
"Aku kemari sendirian."
Pria itu hanya mengangguk kecil karena biasanya di mana ada Jane di situ ada Jessi. "Oh, begitu. Apa mereka baik-baik saja? Bagaimana kabarmu selama ini?"
"Mereka baik, aku pun masih utuh seperti yang kau lihat." Pria tersebut sontak tertawa renyah sambil mengangguk kecil mendengar jawaban Jane yang terdengar dingin dan datar seperti biasa.
__ADS_1
"Maaf tadi aku tidak melihatmu karena ibuku sedang menelepon." Pengacara Johny memerlihatkan ponsel di tangannya yang bahkan masih tersambung dengan ibunya. "Tunggu sebentar!"
Pria tersebut lantas meletakkan benda pipih tersebut di samping telinganya untuk sekejap. "Bu, nanti aku hubungi lagi." Tanpa menunggu jawaban ibunya, John langsung mematikan sambungan dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam sakunya.
"Maaf, apa kau memiliki urusan di negara ini lagi?" Pria tersebut terlihat begitu antusias melihat Jane saat ini. Sudah lama mereka tidak bertemu dan wanita itu tampak kian mempesona.
Namun, lain halnya bagi Jane, dia terlihat biasa menanggapi seperti sebelumnya. "Hanya ada sedikit urusan di pedesaan."
"Kau ingin pergi ke desa itu lagi?" Wanita tersebut hanya mengangguk kecil. "Kita searah, biar aku antar!" Tanpa menunggu jawaban wanita di depannya, pria tersebut langsung saja menarik koper miliknya dan juga Jane.
Jane hanya menatap pongah langkah pria itu yang kian menjauh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa aku tadi sudah menjawab iya?"
"Ayo cepat!" Di kejauhan John melambai ke arah Jane agar segera menyusulnya. Mau tak mau wanita tersebut hanya bisa mengikuti langkah pria itu.
John Maxton seorang pengacara muda bertaraf internasional dengan segudang prestasi dalam menyelesaikan setiap kasus yang dia terima. Salah satunya adalah urusan perceraian Jessi dan Brian tiga tahun silam.
Ketampanan dan kekayaan yang melimpah, serta ramah–rajin menjamah–membuatnya menjadi sosok cassanova kelas kakap para wanita elit yang mengejarnya. Akan tetapi, pria tersebut tidak pernah mempermainkan wanita baik dan masih tahu batasannya. Dia hanya enggan untuk berhubungan serius hanya dengan satu wanita karena merasa hal itu akan membatasi lingkup pergaulannya.
"Apa kau akan pulang ke rumah lama kalian?" tanya Pengacara John sambil masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Tidak, rumah itu sudah lama dijual, aku mungkin akan mencari penginapan terlebih dahulu." Jane hanya menjawab tanpa menoleh ke arah pria tersebut.
Pandangan wanita tersebut menatap jauh jalan menuju desa tempat mereka tinggal dahulu. Dia membuka kaca mobil, mengeluarkan sedikit jemari tangan di sela-selanya. Menikmati semilir angin segar yang berembus ke dalam menerpa dirinya.
__ADS_1
Tanpa sadar perlahan mata wanita tersebut mulai terlelap dengan bersandar pada bagian pintu karena lelah menempuh perjalanan panjang sejak tadi. Kibaran rambut dan bulu mata lentik tampak begitu indah. Bingkai wajah cantik dari samping serta background awan merah nyaris tenggelam membuat Jane terlihat seperti sebuah lukisan tepat di depan mata Pengacara John.
Pria itu hanya tersenyum kecil melihatnya, seandainya saja bukan Jane di sebelahnya. Dia pasti mengira perempuan itu sengaja menggodanya.
Akan tetapi, Jane jelas tidak akan melakukan hal murahan seperti itu karena dia hafal betul bagaimana tabiat wanita di sampingnya. Cukup lama mereka saling mengenal sejak masih duduk di bangku sekolah, usianya yang lebih tua membuat pria itu berada satu tingkat di atas Jane.
Namun, wanita tersebut tidak pernah mengambil hati apa yang dia lakukan ketika John berusaha menggodanya semasa muda. Hal itu pula yang membuat mereka tetap menjalin pertemanan hingga sekarang.
Tak butuh waktu lama, mobil mulai memasuki sebuah pelataran yang asri khas suasana pedesaan. Pria tersebut lantas menggerakkan tubuh Jane sedikit untuk membangunkannya. "Jane, kita sudah sampai."
Merasakan seseorang mengguncang tubuhnya Jane seketika sadar dari mimpinya. "Kita di mana?" Wanita tersebut mengedarkan pandangan ke segala arah, bukan rumah lamanya, tidak pula penginapan. Apa pria ini sedang menculiknya? Tentu tidak.
"Rumahku, ayo turun!" Pria tersebut turun terlebih dahulu untuk mengambil kedua koper di bagasi dan langsung melangkah menuju ke dalam.
"Rumahnya?" Jane yang tersadar dari mimpi bergegas turun untuk menahan koper miliknya di tangan Pengacara John. "Kenapa kau membawaku ke rumahmu? Berikan koperku! Aku akan mencari penginapan sendiri!"
Senejak Pengacara John menghela napas panjang. "Hari sudah gelap, Jane. Ke mana kau akan mencari? Tenang saja ibuku tidak akan keberatan, kok. Ayo!"
"Tidak!" Jane kekeh menahan kopernya agar tidak dibawa pergi, tetapi suara seorang wanita menghentikan aktivitas debat keduanya.
"Sayang, kau pulang!" Seorang wanita muda terlihat keluar dari dalam rumah tersebut membuat keduanya terkejut, hingga Pengacara John langsung memeluk pinggang Jane yang seketika membuatnya juga ikut bingung.
Jane memberontak, tetapi tangan John terlalu erat. Dia lantas berbicara sambil mengeratkan giginya dan melebarkan mata hingga membulat sempurna. "Apa yang kau lakukan, hah?"
__ADS_1
"Tolong aku kali ini saja!" bisik pria tersebut di telinga Jane.
To Be Continue....