Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Jane


__ADS_3

"Sekarang katakan tujuanmu berdandan dan memakai pakaian seperti itu hari ini!" Tidak ada nada kelembutan yang biasa keluar dari mulut Nicholas.


Raut wajah membara dengan manik mata meminta penjelasan dari istrinya. Bukan marah karena melihat kecantikan Jessi. Namun, yang membuatnya kecewa adalah sang istri malah memuji pria lain dengan begitu menggoda di depannya.


Jessi yang melihat wajah merah padam dan tegang sang suami, lantas turun dari ranjang, berusaha meredakan amarah Nich. Dia lupa tujuannya datang kemari sebelumnya untuk mengunjungi suaminya.


"Sayang, aku berdandan seperti ini untukmu. Apa kau tidak suka melihatku cantik?" Jessi berpose menggoda, entah keberanian dari mana yang membuat dirinya bertindak seperti ini sekarang.


Nicholas menelan air liurnya sendiri karena hal tersebut, hingga memperlihatkan jakunnya yang bergerak. "Bukan suka atau tidak suka. Tapi, kau sudah berani menggoda pria lain tepat di depan mataku!"


"Sayang." Jessi melangkah mendekat, mendudukkan diri di pangkuan sang suami, mengalungkan tangan di lehernya dengan begitu menggoda.


"Jangan marah! Itu membuatmu terlihat sangat ... menggoda." Dia berbisik lirih di telinga Nicholas.


Mendapat serangan seperti itu, sontak sebuah senyuman mengembang di wajah tampan Nich. Istrinya sangat pandai memainkan situasi dan kondisi. Dia menghela napas panjang agar tidak langsung menyerang Jessi.


"Katakan! Apa yang ingin kau lakukan kali ini?" Nich memegang pinggul Jessi dengan kedua tangan kekarnya, menatap lekat wajah cantik sang istri yang begitu bersinar hari ini.


Jessi sejenak berpikir sambil mengerutkan bibir. "Berikan aku modal untuk berbelanja!" Dia menengadahkan tangan kepada suaminya.


Nich yang melihat wajah manja Jessi merasa gemas, dia mengecup sejenak bibir ranum merah menggoda yang sedari tadi melambai meminta disapa. "Apa hanya itu, Sweety?"


Tanpa sadar pipi Jessi tersipu malu, kulit putih berubah merah merekah karena tindakan kecil dari suaminya.


"Sebenarnya aku merindukanmu tadi. Tapi, melihat isi lemari, aku ingin mengubahnya." Dia bersandar di dada bidang sang suaminya, menghirup aroma maskulin yang sejak tadi dirindukan. Ya, Jessi merindukan bau keringat Nich.


"Apa yang salah dengan isi lemarimu, Sweety?"


"Kau tahu, Sayang. Tadi aku membukanya dan isinya seperti pakaian wanita tomboi. Lihatlah! Aku sampai harus meminjam baju Patricia hanya untuk terlihat cantik di depanmu." Jessi mengadukan diri sendiri seakan bukan dia pemilik isi lemari itu.


Sebuah tawa kecil terlihat di wajah tampan Nicholas. "Kau cantik menggunakan pakaian apa pun, Sweety."


"No no no." Jessi menggerakkan jari di depan wajah Nich. "Aku cantik jika mengenakan pakaian seperti ini."


"Iya, kau sangat cantik dan menggoda. Jadi, jangan sampai aku melihatmu merayu pria lain di depanku!" Nich dengan tegas menunjukkan jemarinya di depan wajah Jessi.


"Aku berjanji akan merayu pria lain di belakangmu agar kau tidak melihatnya." Jessi mengacungkan kedua jari sebagai pertanda janji.


Namun, bukannya senang Nich malah semakin berang. "Jadi, kau masih berniat merayu pria lain!"

__ADS_1


"Apa yang salah dengan itu, Sayang? Aku kan hanya bercanda saja. Jangan marah!" Jessi bergelayut manja di tubuh suaminya, sebuah cara ampuh untuk menenangkan amarah Raja Neraka.


"Sepertinya aku harus memberimu hukuman." Naik langsung menggendong tubuh istrinya ke atas ranjang dan menindih wanita tersebut. "Katakan sekali lagi kalau kau masih berniat merayu pria lain!"


"Aku ...." Belum sempat Jessi menyelesaikan kalimatnya Nich sudah lebih dulu menyambar bibir ranum tersebut dengan buas.


Jessi yang merindukan suaminya langsung mengalungkan kedua tangan di leher Nich dan menikmati setiap sentuhan menggairahkan dari sang suami. Akhirnya, terjadilah pergumulan panas sepasang suami istri di ruang pribadi kantor tersebut.


_____________________


Di pagi hari seorang wanita berlari pagi, rutinitas yang selalu dilakukan selama ini. Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh agar tetap dalam kondisi fit. Seperti biasa Jane berlari di area taman dekat dengan apartemennya.


"Selamat pagi, Nona Jane." Seorang pria berlari di sampingnya, mengimbangi langkah Jane. Dialah Damien.


Walaupun keduanya tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama, tidak membuat mereka mudah untuk bertemu dalam kondisi kebetulan seperti pagi ini.


Jane tidak menjawab dan masih terus berlari, dia tidak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk berbicara hal yang tidak penting bersama pria. Namun, Damien bukanlah tipikal orang yang mudah menyerah begitu saja. Pria tersebut kembali memutar otak agar Jane bersedia menjawabnya.


"Apa Jessi baik-baik?"


Pertanyaan Damien sontak membuat Jane menghentikan langkahnya. "Apa kau mengharapkan sesuatu yang terjadi pada Jessi?"


"Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya berharap kita bisa berbincang seperti manusia normal."


"Ya, sedikit."


"Kau yang tidak normal!" Jane mendengus kesal, dia mulai melangkah meninggalkan taman.


Namun, Damien juga memilih menghentikan lari paginya dan berjalan mengiringi Jane. "Kenapa kau sangat membenciku, Jane?"


"Aku bukan hanya membencimu, tapi kalian."


"Maksudmu?" Damien berdiri tepat di depan Jane, seakan meminta penjelasan.


"Ya, kalian. Kalian para lelaki tanpa terkecuali. Minggir!" Jene mendorong bahu Damien agar menyingkir dari hadapannya dan kembali melangkah maju.


"Apa kau penyuka sesama jenis?" Damien masih belum menyerah, dia kembali mengikuti langkah kaki Jane di sampingnya.


"Bukan urusanmu!"

__ADS_1


Mereka melangkah menuju tempat makan untuk sarapan pagi di sekitar sana. Kebiasaan Jane setiap pagi setelah berolahraga adalah membeli sarapan. Dia merupakan orang yang cukup malas memasak setelah tinggal sendiri di apartemen karena jika tidak terlalu lapar wanita tersebut bisa makan di restoran atau di kediaman adiknya.


Langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan kerumunan orang. Dia mengamati kegiatan di sana dari kejauhan, orang-orang yang sedang membagikan makanan untuk para orang tua di panti jompo sekitar kawasan tempat tinggalnya. Tanpa sadar, Jane mengepalkan kedua tangan melihat pria tersebut.


Beberapa saat dia mengawasi kegiatan tersebut dengan sorot mata tajam. Kemarahan Jane tentu saja ditangkap oleh Damien. "Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak!" Tak ingin terlalu larut dalam amarahnya, Jane berbalik arah dan melenggang pergi begitu saja.


Damien mengernyitkan dahi melihat hal itu, wanita memang suli ditebak. Namun, setelahnya dia kembali mengikuti Jane yang melangkah menuju gedung apartemen mereka.


"Apa kau tidak jadi membeli sarapan?"


"Tidak." Sorot mata tajam, nada dingin, dengan tangan yang masih mengepal kuat menciptakan hawa mengerikan dalam diri Jane.


Amarahnya menggebu seakan bersiap untuk meledak kapan saja. Raut wajah yang mulai merah padam serta otot menegang membuat siapa pun tahu jika wanita di samping Damien tersebut sedang marah.


"Katakan apa aku berbuat kesalahan!" Damien menghalangi langkah Jane karena ingin tahu apa sebenarnya yang membuat wanita ini terlihat begitu marah hanya dalam hitungan menit.


"Bukan, menyingkirlah!" Jane kembali menolak bahu Damien.


Namun, secepat kilat pria itu malah memeluknya. "Maaf jika aku berbuat salah."


"Apa yang kau lakukan, hah?!" Jane terkesiap, dia tidak pernah dipeluk seorang lelaki pun selama hidupnya. Dia meronta, berusaha untuk mendorong tubuh Damien agar melepaskannya.


Akan tetapi, kekar tubuh Damien tidak mudah untuk disingkirkan. Pria tersebut nekat memeluk Jane dan meminta penjelasan atas apa yang menjadi kemarahan wanita tersebut.


"Katakan apa aku berbuat kesalahan, hingga membuatmu begitu marah!"


Jantung keduanya berdegup kencang, pengalaman pertama dalam menghadapi lawan jenis dalam jarak sedekat ini membuat Jane dan Damien layaknya sepasang kekasih yang tengah bertengkar di jalan.


Banyak mata melihat adegan tersebut dengan begitu girang. Adegan itu malah dianggap romantis oleh sebagian orang, membuat Jane mendelik ketika mereka mulai memotret keduanya yang masih dalam keadaan berpelukan.


"Lepaskan pelukanmu, Damien!" Jane berteriak tegas, membuat pria yang memeluknya malah tersenyum ria.


Untuk pertama kalinya, Jane memanggil nama dan hal tersebut sukses menumbuhkan benih bunga yang bermekaran di dalam dada pria tersebut. Bukannya melepaskan, Damien malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Jane.


"Tidak akan."


Tanpa aba-aba Jane menginjak kaki Damien dengan keras dan mengarahkan lututnya ke arah selangkangannya pria tersebut dengan keras. "Rasakan!"

__ADS_1


Jane melenggang pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana kondisi Damien saat ini. Amarah yang membara sedikit mereda karena menyalurkannya kepada pria tersebut.


To Be Continue....


__ADS_2