Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Terbitlah Terang


__ADS_3

Setibanya Jessi dan Nich di ruangan tempat ibunya dove dirawat, mereka melihat tengah ada seorang pria asing di dalamnya. “Dove," ucap Jessi ketika masuk ke kamar perawatan tersebut. 


"Nyonya." Dove tampak cukup terkejut melihat Jessi yang tiba-tiba saja ada di sana tanpa mengabari. Apa dia melakukan kesalahan lagi? pikirnya. 


"Bagaimana kondisi Ibumu?" tanya Jessi ketika melihat seorang perempuan paruh baya yang masih terbaring di ranjang. 


"Sudah lebih baik, Nyonya. Operasi berjalan lancar tadi, tinggal menunggu siuman," jawab Dove sambil menatap ibunya yang masih terpasang alat-alat medis di tubuh. 


"Ya sudah, Dove kalau begitu aku pulang dulu. Nanti aku kabari lagi kalau sudah ada pembeli," pamit seorang pria yang menemani Dove sejak tadi. 


"Baiklah, hati-hati di jalan." Dove memeluk pria tersebut sebagai tanda perpisahan, tetapi tiba-tiba saja Rahmat datang dengan napas yang terengah-engah ketika berada di depan pintu. 

__ADS_1


"Dove!" panggil Rahmat setibanya di ruangan tersebut. 


"Rahmat, kau datang lagi," ujar Dove senang sambil melepaskan pelukan pria tersebut, sedangkan Jessi hanya menahan senyumnya.


"Siapa dia, Dove?" tanya Rahmat dengan deru napas yang masih belum beraturan, sayangnya kaki pria tersebut terasa lemas melihat adegan di depan yang membuatnya cemburu. 


"Tentu saja kekasih barunya. Kau sih, dibilang suruh cepet malah kebanyakan mikir! Dasar , Kolot!" ujar Jessi dengan santai, tetapi langsung mendapatkan lirikan tajam dari semua orang di ruangan tersebut tak terkecuali, sedangkan Rahmat yang dikerjain oleh Jessi langsung tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Dia belum sanggup menerima kenyataan jika memang harus kembali patah hati setelah lama meyakinkan diri.


"Nyonya, apa yang terjadi dengan Rahmat?" tanya Dove dengan semburat kekhawatiran di wajahnya. 


"Mungkin dia mau mati karena melihatmu bersama pria lain," ucap Jessi santai tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Tapi, itu lebih baik daripada dia tidak berniat menikahimu."

__ADS_1


"Tidak!" Rahmat seketika sadar dari posisinya dan langsung menatap ke arah Dove dengan lekat. "Dove, ayo menikah sekarang!" ucapnya tanpa basa-basi dan langsung menarik wanita tersebut keluar ruangan seolah dia seketika tersadar dari pingsan dengan semangat yang langsung berapi-api.


"Rahmat, tapi ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja kamu mengajakku menikah?" Dengan perasaan bingung Dove tetap mengikuti langkah Rahmat yang mengajaknya keluar menyusuri rumah sakit, menuju parkiran. 


Sejenak pria itu menghentikan langkahnya untuk berbalik menatap Dove. "Dove, aku mungkin bukan pria romantis dan kaya. Tapi aku harap kamu melupakan Bos Diktator itu dan hiduplah bahagia bersamaku, aku menyukaimu sejak dulu, sayangnya kamu tak melihatnya. Tak masalah kamu belum mencintaiku, aku akan membuktikan semuanya dulu. Kamu terima saja cintaku karena kalau tidak aku mungkin benar-benar mati seperti yang dikatakan Nyonya. Aku–aku—" Belum sempat pria itu melanjutkan kalimat panjangnya yang lebih panjang dari jalur Pantura, Dove sudah lebih dulu membungkam mulut pria tersebut dengan bibir lembutnya untuk pertama kali. 


Keduanya saling terdiam untuk sesaat, sedangkan Rahmat tampak beberapa kali mengedipkan mata karena terkejut akan tindakan Dove. "Apa ini artinya kamu setuju?" tanya Rahmat dengan masih membeku di saat Dove melepaskan ciuman singkat mereka.


Namun, nyatanya wanita tersebut hanya mengangguk kecil lantas menunduk. Rona merah tampak merekah di pipi putih mulus Dove yang terlihat begitu menggemaskan bagi Rahmat. "Ayo cepat! Sebelum Biro Pernikahan tutup." Pria itu lantas membuka pintu mobil dan secepat kilat kedua melesat menuju Kantor Pernikahan Sipil. Di mana keduanya nantinya akan sah di mata hukum. 


To Be Continue..

__ADS_1


__ADS_2