
Setelah menyerahkan segala urusan restoran dan aset lainnya di Negara N kepada Jessi, Jane bergegas pergi ke Negara X bersama Stella tiga hari kemudian. Kali ini dia sudah mempersiapkan segala kebutuhan tempat tinggal dan transportasi sebelum berangkat ke negara tersebut. Wanita itu sudah membeli sebuah rumah sederhana untuk mereka tempati dan sepetak tanah kosong guna berkebun.
Jane ingin menikmati hari layaknya keinginan mendiang sang Ibu terdahulu, yang hanya memimpikan hidup sederhana di desa, tanpa harus mempermasalahkan soal harta dunia, apalagi menjadi kaya. Hiruk pikuk keramaian kota beserta kesibukannya juga membuat wanita itu lelah akan hidupnya sendiri yang tak bisa dia nikmati selama ini.
Lagi pula apa yang dia miliki saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga beberapa tahun ke depan, sedangkan Stella kini dipindahkan pendidikannya ke salah satu kampus tak jauh dari desa tersebut, tetapi masih memiliki kualitas pendidikan yang baik, sesuai dengan keinginannya yang juga lelah akan kehidupan kota.
Jane membeli tempat tinggal yang tak jauh dari rumah masa kecilnya karena berharap bisa mengunjungi makam sang ibu kapan pun. Setelah seharian sibuk membereskan barang-barang, kakak beradik yang kini tinggal satu atap meskipun tak sedarah itu makan bersama di ruang makan rumah baru mereka.
"Kapan kelasmu akan dimulai, Stella?" tanya Jane sambil menyuapkan roti ke dalam mulut karena dia memang jarang makan nasi.
"Minggu depan, Kak. Urusan pindah kampus baru diselesaikan Kak Jessi dan dia bilang aku bisa mulai masuk minggu depan. Jadi, seminggu ini aku bebas mengganggumu," ujar Stella dengan senyum manis di wajahnya.
layaknya Jessi, Stella juga memanggil Jane dengan sebutan kakak dan bukan nona. Sebagai sesama manusia yang tak memiliki keluarga, tidak ada alasan bagi keduanya menciptakan jarak yang hanya akan membuat mereka enggan. Lebih baik saling melengkapi dan menjaga meskipun bukan sedarah.
"Kalau begitu besok kita berbelanja saja. Pikirkan apa yang masih kau butuhkan dan kita cari besok."
"Benarkah, Kak?" Jane hanya mengangguk kecil melihat betapa antusiasnya Stella ketika mengetahui mereka akan berbelanja keesokan harinya. Kehadiran gadis itu sungguh terasa seperti Jessi bagi dirinya, di mana mereka membawa keceriaan di hidup Jane yang suram.
Meskipun sudah menyiapkan banyak hal sebelumnya kekurangan kecil pasti tetap ada. Lagi pula mereka barang untuk keperluan harian belum ada.
Keesokan harinya, Jane dan Stella bergegas bergerak menuju pusat perbelanjaan terdekat. Meskipun di pedesaan, tetapi tempat seperti itu juga ada, hanya saja memerlukan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke lokasi tujuan mereka.
Tak ada lagi beragam merek mobil berjajar di garasi. Keduanya hanya menggunakan satu kendaraan untuk bepergian karena Jane membeli sebuah mobil Jeep Wrangler 4xe untuk digunakan bersama.
__ADS_1
Mungkin hanya Stella yang akan lebih sering memakainya karena perjalanan ke kampus cukup jauh dari tempat tinggal mereka, sedangkan Jane sebab kini pekerjaannya hanya berkebun di ladang tak memerlukan mobil untuk bepergian. Cukup berjalan kaki sudah sampai di kebunnya.
Setibanya di supermarket mereka terlebih dahulu mengambil troli untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Namun, tak sengaja benda tersebut menyenggol pelanggan lain yang sedang berbelanja karena tempatnya memang sedang ramai. "Aduh!" teriak wanita tersebut sambil memegang bokongnya.
"Maaf, Nona," ujar Stella membungkuk kecil sebagai tanda permintaan maaf.
"Maaf, maaf! Kalau jalan pakai mata dong!" Bukannya memaafkan, wanita tersebut malah berteriak keras hingga membuat pelanggan lain menatap berbisik ke arah keduanya.
Jane yang sebelumnya memilih jeruk pun bergegas mendekati Stella di bagian daging. "Ada apa ini?"
"Aku tidak sengaja menyenggolnya, Kak," ucap Stella dengan wajah menunduk karena malu jadi bahan pertontonan pelanggan lain.
"Oh, jadi dia adikmu?"
"Kakak mengenalnya?" Jane hanya mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Stella.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Lagi pula tadi kamu sudah minta maaf, ayo pergi!" ajak Jane melenggang pergi bersama Stella meninggalkan Maya.
"Hei! Berani kalian mengabaikan aku, hah?" teriak Maya sambil mendengus kesal. Dia bahkan mengentakkan kaki ke lantai dan membuat pelanggan lainnya hanya menggeleng kecil melihat tingkah wanita tersebut.
"Ish, memalukan," bisik para pelanggan lain yang melihat tingkah Maya di tempat umum.
__ADS_1
Nama Maya cukup terkenal di daerah itu, sebagai salah satu anak juragan anggur yang terkenal selalu mengejar Pengacara John sejak kecil membuatnya cukup banyak dikenal masyarakat sekitar. Di mana Maya selalu mengaku sebagai tunangan John, sehingga membuat para perempuan di desa sangat tahu bagaimana tabiat wanita tersebut.
Sementara itu, Jane dan Stella yang tak ingin ambil pusing dengan tingkah Maya memilih untuk kembali berbelanja. "Kak Jane, mengenal wanita tadi?" tanya Maya.
"Fans fanatik Pengacara John," bisik Jane sambil mengambil beberapa bibit tanaman di tempatnya.
"Pantas saja."
"Kenapa?" Jane berbicara tanpa menoleh ke arah Stella dan tetap membandingkan produk satu dengan yang lainnya.
"Norak!" ucap Stella sambil mencebikkan bibir dan menoleh ke kanan dan kiri. Berharap wanita itu tak mendengar apa yang dia ucapkan.
Jane hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Hingga tak lama kemudian, alam seakan memanggil Stella untuk menunaikan hajatnya. Wanita tersebut mulai memegang perut dan mengigit bibir menahan sakit. "Kak Jane, aku mau ke toilet dulu."
"Pergilah!"
Stella pun melangkah pergi untuk mencari kamar mandi umum sambil memegang perutnya. Rasa melilit dan tak tahan membuat gadis itu menebarkan gas beracun di sepanjang perjalanannya tanpa menghiraukan orang-orang yang akhirnya menutup hidung karena sisa gas tersebut.
Dia terus berjalan sambil menoleh ke kanan dan kiri, hingga pandangannya terhenti di kala melihat simbol laki-laki dan perempuan bergantung di atas sebagai penunjuk jalan. Stella melangkah dengan terburu-buru, tetapi tak sengaja menabrak seorang pria yang juga menunduk setelah keluar dari kamar mandi karena membersihkan jasnya.
"Aduh! Maaf, Tuan! Saya buru-buru tak sengaja!" ujar Stella sambil menunduk memegang perutnya yang semakin melilit.
Tanpa menunggu jawaban ataupun menoleh ke arah pria tersebut dan hanya melihat dari sepatutnya saja, Stella bergegas kembali berlari ke dalam kamar mandi. Dia meninggalkan sebuah boom gas beracun untuk pria tersebut sebelum melenggang pergi karena sudah tak tahan lagi.
__ADS_1
Sementara itu, sang korban limbah hanya bisa mengendus sambil menutup hidung ketika indra penciumannya terkontaminasi dengan aroma kentut Stella tadi. "Apa dia baru saja makan bangkai?" ujar pria tersebut melangkah pergi sambil mengipaskan tangan di udara.
To Be Continue..