
Setelah Park Eun Seok pergi ke kamar ibunya untuk membalut luka, T dan R bergerak mulai memasuki ruang pribadi pria itu.
Apa yang mereka lihat terpampang jelas di layar laptop Maurer dan Nich. Mereka mengedarkan pandangan ke segala arah, mencoba mencari tahu di mana pintu menuju ruang bawah tanah.
"Tuan, kami tidak menemukan hal yang aneh di sini," ujar T.
Nich dan bersebelahan dengan Jessi menatap layar mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu. "Kalian cari kunci rahasia di lemari atau barang yang lainnya."
"Baik, Tuan."
"Bagaimana menurutmu, Sweety?"
"Mereka sungguh cerdik, Nich." Pria itu mengangguk membenarkan apa yang diucapkan istrinya.
Beberapa saat kemudian, Jessi mengernyitkan dahi ketika melihat sesuatu yang janggal menurutnya, hingga T dan R terdengar melaporkan lagi.
"Nihil, Tuan."
"Kalian edarkan pandangan pada susunan buku-buku di rak itu," ujar Jessi.
Layar kembali menunjukkan deretan buku-buku yang tersusun rapi di rak tersebut membuat Jessi menaikkan sebelah sudut bibinya.
"Cari yang tidak memiliki judul di punggung bukunya!"
Mereka lantas mencari benda yang dimaksud Jessi ada tiga buah buku yang ditarik keluar, tetapi hanya bisa bergeser ke depan. Tak lama kemudian, rak buku tersebut bergerak layaknya pintu rahasia yang tersembunyi.
Jessi tersenyum melihat hal itu, pantas saja mereka sangat sulit menemukan Mario. Ternyata Park Eun Seok begitu ahli dalam menyembunyikan ruang bawah tanahnya. T dan T langsung bergegas memasuki ruangan tersebut dan pintu kembali menutup setelah mereka melewatinya.
"Nona, pria itu sudah selesai mengobati ibunya?" ujar Maurer.
"Cepat! Suruh mereka segera memulai konsernya!" Jessi kembali meneropong kediaman tersebut, dia tidak boleh gagal mengeluarkan anak buahnya kali ini.
Tak butuh waktu lama suara konser mulai terdengar di area tersebut. Kebisingannya sangat menggelegar, bahkan membuat apartemen sampai bergetar. Terlihat Park Eun Seok begitu geram ketika menuruni tangga. Dia mengepalkan kedua tangan mendengar alunan musik yang seperti lagu kematian baginya.
Segera pria itu mengambil sebuah kunci di tempatnya dan berniat pergi menggunakan mobilnya. Menjauh dari kebisingan dalam rumahnya kali ini.
__ADS_1
"Nich, minta X untuk mengikuti pria itu!"
"Siap, Sayang."
X dengan segera mengikuti ke mana Park Eun Seok bergerak, sedangkan Y langsung menuju kamar Kim Dae Ho. Akibat luka parah yang dialami Park Young Ran, wanita itu langsung beristirahat di kamarnya sendiri. Jadi, tidak ada penghalang untuk membawa ayah dari Mario dan Maurer tersebut.
Tak selang beberapa waktu Y berhasil membawa Kim Dae Ho keluar dari kediaman itu. Dia menggendongnya layaknya sebuah karung beras dan bergerak sangat cepat tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.
Disisi lain, T dan R yang memasuki ruang bawah tanah tidak menemukan apa pun di lantai awal. Mereka kembali menuruni tangga dan bergerak lebih dalam lagi. Di sanalah baru terlihat seorang pria tengah berbaring dengan wajah pucat dan tenaga yang mungkin hanya kuat untuk berbicara. Dialah Mario.
Mario terkejut melihat dua orang yang mendekatinya. "Mengapa kalian ada di sini?"
"Kami hanya diminta nyonya untuk menyelamatkanmu," ujar T.
"Jangan menyentuhku! Kau bisa teracuni jika menyentuhku."
"Hal itu tidak berlaku bagi kami!"
Tanpa aba-aba T membawa Mario keluar dari ruangan yang dingin tersebut. Pria itu sudah layaknya manusia tak bertulang yang hanya bisa pasrah ketika T membawanya pergi dari sana.
"Aku hanya membawa pesan untuk kalian. Keluarlah dari rumah ini sebelum besok pagi jam empat, dan jangan biarkan para kedua orang itu tahu! Kunci rumah ini sebelum kalian pergi dan temuilah nona kalian di rumah itu!" R menunjuk arah apartemen tertinggi di seberang kediaman Kim Dae Ho.
Para pelayan mengangguk paham dengan apa yang dimaksud R. Awalnya mereka takut jika wanita ini adalah orang jahat. Namun, kini mereka yakin jika wanita ini adalah orang suruhan Nona Kim So Young, secara kakaknya Kim Dae Han berada di sini. Jadi, tidak mungkin wanita itu diam saja kalau mengetahui kondisi kakaknya menjadi korban para manusia iblis di kediaman ini.
Setelah menyampaikan pesan, R lantas pergi ke dapur meletakkan sesuatu di sebuah tabung gas, kemudian bergegas pergi keluar rumah mengikuti T dan Y yang sudah bergerak lebih dulu.
Misi mereka berhasil, ketiganya bergerak menuju apartemen tanpa perlawanan dari musuhnya. Rencana yang matang membuat pergerakan mereka dalam menyelamatkan Mario dan ayahnya menjadi lebih mudah.
Suara pintu apartemen yang terbuka membuat Maurer berlari untuk segera melihat keluarganya.
"Jangan langsung mendekat!" ujar Nicholas.
"Kenapa, Tuan?"
"Kita lihat dulu kondisi mereka."
__ADS_1
Maurer menoleh ke arah Jessi, wanita itu menganggukkan kepalanya. "Kita lihat dulu kondisi mereka!"
Wanita itu akhirnya mengangguk, menuruti perintah sang nona yang pastinya juga demi kebaikannya.
"Tuan." Ketiganya tiba di apartemen tersebut. Terlihat Mario dan ayahnya begitu pucat dan lemas layaknya sebuah mayat.
Maurer yang luruh langsung dipegang oleh Jessi. "Tenanglah! Jangan panik! Kita pasti bisa menyelamatkannya."
"Langsung bawa mereka ke laboratorium! Kalian gunakan pesawat aku aku bawa!" perintah Nich.
"Baik, Tuan."
Ketiganya bergegas pergi meninggalkan apartemen tanpa menurunkan kedua orang yang mereka selamatkan.
Maurer yang terkejut langsung bertanya. "Apa yang terjadi dengan ayah dan kakakku, Tuan?"
"Mereka terkena racun yang berbahaya. Jika kamu menyentuhnya maka kondisi yang sama akan terjadi kepadamu."
"Tapi mereka?" Maurer bermaksud untuk menanyakan anak buah Nich yang tidak terjadi apa-apa ketika membawa ayah dan kakaknya.
"Mereka spesial. Kau masih memiliki tugas yang lebih penting sekarang. Membalas yang mereka perbuat kepada keluargamu." Jessi berusaha memberikan pengertian kepada Maurer.
Gadis itu mengangguk patuh. Melihat kedua orang yang berharga baginya dibuat seperti itu membuatnya sangat ingin membalas para iblis berwajah manusia itu. Dia akan mengikuti apa pun yang Jessi perintahkan.
"Nich, di mana posisi X dan iblis kecil itu?"
Tak butuh waktu lama Nich menunjukkan layar laptopnya. Kebisingan yang sangat mengganggu membuat amarah dalam diri Park Eun Seok meluap. Dia butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya.
Sesuai dengan perintah Park Young Ran. Dia akan memberikan pelajaran kepada istri sah sang ayah—Seo Ya Ji. Pria itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman mereka.
"Aku akan menghabisimu!" Seringai iblis terlihat jelas di wajah pria itu, tanpa dia sadari seseorang juda berada di dalam mobil bersamanya untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.
Jessi yang melihat apa yang akan dilakukan Park Eun Seok bertepuk tangan ria. "Sepertinya kita akan melihat drama keluarga lagi malam ini. Jangan lupa untuk merekamnya, Suamiku! Hal ini jelas akan menjadi tontonan yang menarik untuk seluruh rakyat di negeri ini."
Nich hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, melihat betapa bahagianya sang istri ketika merencanakan pembalasan untuk para musuhnya. Istrinya sungguh luar biasa mengagumkan di matanya.
__ADS_1
TBC.