
Setelah drama pagi berakhir di kediaman Bannerick, ketiga kembar tidak identik beda jenis kelamin tersebut pergi ke sekolah seperti biasanya. Namun, sang bocah kecil wanita selalu saja membolos di pertengahan pelajaran dengan melewati jalan kecil dan menghindari pengawal yang menjaga mereka di luar gedung.
Dia melangkah sendirian keluar area sekolah dengan begitu beraninya. Meninggalkan kedua kakaknya yang masih belajar di kelas lainnya. "Membosankan, kenapa anak wanita hanya diajarkan bernyanyi dan menari. Ini namanya diskriminasi," kesal Jessica sambil melangkah menyusuri jalan. Dia sungguh membenci sang ibu karena memasukkannya dalam kelas wanita, jadinya dia tidak bisa ikut bergulat seperti kedua saudaranya yang selalu di ajarkan beladiri baik di rumah maupun di sekolah.
Tak jauh dari tempat Jessica berjalan, tampak di seberang sana, dua orang pria sudah mulai mengincar setiap anak yang terlihat berasal dari keluarga kaya untuk menjadi targetnya. Sekolah tersebut merupakan tempat para penerus keluarga kaya yang pastinya akan melakukan apa saja demi sang buah hati. Keduanya pun melangkah mendekati bocah kecil itu, seolah mereka saling mengenal akrab dan berniat menculik seperti biasanya.
"Hallo gadis manis," ucap seorang pria mencegat Jessica dengan senyum mengembang di bawah kumis kucingnya.
"Hai, Paman. Ada apa ya?" tanya Jessica berpura-pura polos layaknya anak seumurannya. "Sepertinya akan menyenangkan kalau bisa mengerjai mereka," batin Jessica menelisik setiap inci tubuh kedua pria tersebut yang tampak jelas seperti penjahat bodoh.
"Di mana orang tua atau pengasuhmu? Kenapa berjalan sendirian? Bukankah ini waktunya sekolah?" tanya pria yang satunya lagi pada Jessica sambil melengok ke sana kemari karena khawatir ada yang melihat aksi mereka.
"Oh, mereka sibuk mencari uang. Maklum perusahaan Daddy dan Mommyku banyak," ujar Jessica dengan sengaja membuat kedua pria itu seperti di awan. "Di sekolah sangat membosankan. Mereka bahkan menyita permen coklat yang mau aku makan."
"Sasaran empuk, Bos," bisik seorang pria gemuk pada pria kurus.
"Diam, nanti ketahuan," ucap satunya sambil merapatkan gigi agar bocah di depan tidak mendengarnya. "Jadi kau mau permen coklat? Paman punya banyak di rumah, apa kau mau?" tanyanya pada Jessi kecil.
Bocah kecil itu mengangguk dengan cepat layaknya anak-anak yang mendapatkan sebuah mainan. Padahal dalam pikiran kecilnya, rencana licik sudah dia persiapkan untuk mengerjai kedua pria yang beruntung bertemu dengannya itu.
__ADS_1
"Ayo, naik mobil Paman."
Tanpa ragu Jessica melangkah mengikuti kedua pria itu. Mereka mencoba memasukkan Jessi kecil ke mobil tua yang tampak sangat tak terawat. Jessica pun memilih menghentikan langkahnya dan mendongak ke atas menatap pria itu. "Paman, Jessi tidak bisa naik mobil ini. Nanti Jessica bisa muntah-muntah terus, lihatlah! Bahkan bagian dalamnya kotor sekali."
Bocah kecil itu beralasan dengan begitu mahirnya, hingga keduanya pun tak mengetahui jika ini adalah salah satu rencananya. "Lalu, kau mau bagaimana? Mau naik taksi?" tanya seorang pria gemuk.
"Tidak, Paman. Kata Mommy taksi banyak kuman juga bakteri mematikan dan rawan penculikan anak, Jessica tidak mau di culik. Tidak jauh dari sini ada sebuah tempat untuk menyewa mobil. Paman sewa saja mobil di sana, aku akan menunggu di sini nanti." Jessica menunjukkan sebuah tempat dengan jari mungilnya. Memang benar tempat itu tidak jauh dari posisi mereka saat ini, tetapi itu adalah penyewaan mobil sport bukan mobil biasa yang pasti harga sewanya saja akan bernilai fantastis.
“Kau cepat sewa mobil di sana!” ujar si kurus pada si gemuk.
“Tapi, Bos. Untuk menyewanya saja akan menghabiskan banyak uang nantinya," bisik si gemuk mencoba memperingatkan bosnya.
“Tidak apa-apa. Dia anak orang kaya, nanti kita minta tebusan seharga lima mobil itu. Biar aku yang menjaganya di sini agar dia tidak lari.” Mendengar banyaknya tebusan yang akan mereka minta membuat si gemuk menjadi bersemangat.
“Sabar ya manis. Paman gembul akan membawa mobil itu kemari nanti.”
Jessica hanya mengangguk kecil, dalam hatinya hanya bisa menyumpah serapah penculik bodoh yang dengan mudahnya tertipu oleh gadi kecil sepertinya. “Lihat saja nanti, kalian akan puas bermain-main dengan Jessica Light,” batin Jessi sambil samar-samar mengeluarkan sebuah seringai iblis di wajahnya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil ferrari merah berhenti tepat di depan mereka. “Ayo, Bos ini sangat menyenangkan.”
__ADS_1
“Ayo manis.” Tanpa membuang waktu keduanya menaiki mobil merah tersebut, tetapi sebelum masuk, Jessi terlebih dulu menggores kendaraan dengan batu kecil yang dibawanya.
Dengan kondisi mobil seperti itu, mereka pasti akan kerepotan jika mengembalikannya lagi nanti karena ongkos perbaikan yang bernilai fantastis. Siapa suruh berniat menculik Jessica, bukannya untung malah bisa jadi rugi total nantinya.
Di sisi lain, Jayden dan Jonathan tampak keluar dari kelasnya setelah bel pulang berbunyi. Keduanya saling berpandangan karena sang adik masih tak menampakkan batang hidungnya.
"Di mana Jessi?" tanya Jayden pada Jonathan sambil mengusap rambut klimis dengan tangan kirinya.
"Entah, apa dia masih di kelasnya?" Kedua kakak beradik itu lantas bergerak menuju kelas Jessica yang berada di ruangan lain. Namun, nyatanya gadis kecil itu tak berada di sana karena kelas sudah sepenuhnya kosong. "Tidak ada, Kak," ucap Jonathan pada Jayden.
"Ya sudah, ayo kita pulang! Paling dia bolos lagi hari ini." Jayden melangkah pergi meninggalkan Jonathan di belakang yang langsung mengejarnya.
Sudah menjadi kebiasaan Jessica jika dia selalu malas belajar dan sangat suka membolos. Jadi, kedua kakaknya tak pernah mengkhawatirkan hal itu. Paling mereka hanya perlu memberikan alasan pada sang ibu setibanya di rumah nanti.
Keduanya pun melangkah menuju mobil di mana beberapa pengawal sudah menunggu. "Di mana Nona Kecil, Tuan Muda?" tanya seorang pengawal sambil celingukan ke sana ke mari melihat sekolah yang sudah mulai sepi.
"Ayo jalan! Paling dia sedang bersenang-senang di kasino bersama Paman Mario." Jonathan hanya mengangguk membenarkan jawaban Jayden, pengawal lantas menutup pintu mobil setelah kedua tuan muda masuk ke dalamnya.
Mereka langsung bergerak menuju kediaman Light tanpa khawatir bagaimana nasib Jessica. Gadis kecil itu memang terbiasa kabur-kaburan dan akan berakhir di Kasino Light. Biasanya Mario akan mengantarnya pulang ketika hari menjelang malam. Setelah Jessica puas bermain.
__ADS_1
Namun, hal yang tak mereka ketahui hari ini adalah Jessi bukan pergi ke kasino, melainkan benar-benar diculik tanpa ada satu pun yang tahu di mana lokasinya sekarang. Hanya tinggal menunggu nasib, apakah Jessica yang akan mereka celakai atau malah sebaliknya.
To Be Continue..