
Disisi lain Emily yang kembali ke mobilnya juga mengalami hal yang sama dengan Jessi. Dia langsung memasuki mobilnya, terlihat ada seorang lelaki sudah berada di dalam mobil itu.
"Apa kau anak buahnya."
"Iya."
Pria itu adalah seorang pembunuh bayaran yang disewa untuk melenyapkan Jessi. Namun, ia juga merasakan hal yang sama dengan Emily. Dia memasuki mobil ketika wanita itu keluar tadi, membuat sisa-sisa aroma parfum yang menyebar di dalam kendaraan itu mempengaruhi dirinya juga.
Sejenak Emily berpikir, apa iya dia harus melakukannya dengan seorang anak buah sepupunya. Namun, gairah dalam dirinya sungguh membutakan matanya.
Emily kehilangan kewarasannya, dia membayangkan tubuh kekar milik Nich berasa di atasnya menjelajahi setiap inchi tubuhnya. Dia tampak bingung, tetapi tangannya langsung menarik tubuh pria itu dalam sekejap bibir mereka saling bertemu.
Wanita itu menciumnya dengan agresif, membayangkan bahwa pria di depannya adalah Nich. Lidah mereka saling membelit karena lelaki itu juga sudah lama menahan hasratnya. Emily mulai menikmati permainan yang sudah dimulai oleh dirinya sendiri. Dia mengalungkan tangannya di leher pria itu, tak peduli lagi siapa dirinya.
"Damn Boy, You're such a good kisser," racau Emily di sela ciumannya.
"You're *****," ujar pria itu.
Emily mengerang saat lelaki itu mengelus pahanya. Ia membayangkan Nick berada di atasnya saat ini. Fantasi Emily membawanya semakin terbakar gairah. Lelaki itu menjelajahi setiap jengkal tubuh Emily dengan ganas. Badan mereka terasa sangat panas. Secara brutal mereka membuka pakaian satu sama lain.
Wajah Nick masih terbayang di mata wanita itu, berada di atasnya menikmati percintaan mereka. Itulah yang ada dalam pikiran Emily. Hingga akhirnya mereka terhanyut dalam kepuasan. Emily mengerang menyebut nama Nick berkali-kali. Dari luar, mobil itu terus bergoyang hingga mereka menyelesaikan aktifitas panas itu.
*****
Sementara di gedung tertinggi Bannerich Group, Nich masih sibuk berkutat dengan dokumen yang menggunung, sedangkan wanitanya masih terlelap dalam mimpinya.
Banyaknya pasar bisnis yang di jalankan oleh Bannerick Gruop membuatnya sibuk sebagi pemegang keputusan akhir. Beberapa saat kemudian, Willy datang membawa sebuah dokumen.
"Tuan."
"Apa lagi yang kau bawa?"
"Ini proposal Night Fashion, Tuan."
"Letakkan di sana biar Jessi yang memutuskan!" Willy meletakkan map itu di meja. "Will!"
"Iya, Tuan."
"Apa kau berakhir di kamar mandi?"
Willy melebarkan matanya mendengar pertanyaan Nich. Apa bosnya ingin menghinanya yang terpaksa bermain solo?
"Ekhem ... iya, Tuan."
__ADS_1
Nick mengangguk. "Jika kau sampai terkena efeknya dia juga pasti terpengaruh. Cari tahu di mana Emily setelah meninggalkan ruang ini!"
"Baik, Tuan."
Willy lantas pergi meninggalkan ruangan itu, sedangkan Nich kembali melanjutkan kegiatannya meninjau dokumen.
Hari mulai petang, matahari sudah ingin kembali ke peraduannya. Jessi perlahan-lahan membuka mata dan berkali-kali dia mengerjapkan kelopaknya. Kepalanya masih terasa pening akibat efek obat. Namun, otaknya masih mampu berfikir apa yang terjadi sebelumnya.
Jessi bangun dari tidurnya, mengambil gelas air minum di atas nakas. Dia melihat sekeliling ruangan. Ah ini ruangan Nich?
Wanita itu membasuh wajahnya terlebih dahulu, lalu keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar. Terlihat Nich masih asyik dengan tumpukan dokumennya.
"Nich."
Nich menoleh kearah sumber suara, dia memutar kursinya dan merentangkan tangannya sebagai tanda agar Jessi duduk di pangkuannya. "Kau sudah bangun, Sweety?"
Jessi berjalan ke arah Nich dan duduk di atas paha pria itu. "Apa yang terjadi denganku?"
Dia langsung melingkarkan tangannya di perut Jessi. "Kau terkena efek bunga sedap malam."
"Bunga sedap malam?" Nich mengangguk. "Kenapa kau tidak?"
"Karena aku memang kebal dengan ramuan atau obat sejenis itu?"
"Lalu, apa kita ..... ?"
"Tentu saja tidak! Kau kan gay."
Satu sentilan mendarat di dahi Jessi, membuatnya meringis. "Auuwh." Dia mengusap tanda merah di kepalanya.
"Sembarangan kalau bicara."
"Apa yang terjadi denganku? Bagaimana efeknya bisa hilang?"
"Aku memberimu obat tidur."
Jessi memicingkan matanya mendengar jawaban Nich yang kurang meyakinkan baginya. Sudahlah yang penting aku selamat!
"Kalau aku terkena efeknya, bukankah Willy dan dia?" Jessi menunjuk ke arah lain.
Nich mengangguk. "Willy solo. Wanita itu, entahlah."
Beberapa saat kemudian Willy datang memasuki ruangan, dia menyerahkan sebuah flashdisk kepada Nich. "Ini, Tuan."
__ADS_1
Tuan mudanya hanya mengangguk. "Terima kasih."
"Saya permisi dulu."
Pria malang itu lantas pergi keluar ruangan melanjutkan pekerjaannya yang sama menggunungnya dengan bosnya.
Nich menancapkan penyimpan data itu ke laptop di depannya. Mereka membuka sebuah folder berisikan rekaman cctv di tempat parkir. Terlihat sebuah mobil mewah bergoyang-goyang untuk waktu yang lama.
Jessi dan Nich tertawa lebar. Meskipun dalam rekaman itu tidak menampakkan aktivitas mereka dengan jelas.
"Nich."
Pria itu hanya menjawab dengan dehaman. Jessi menunjuk layar laptop, terlihat sebuah mobil tepat berada di depan kendaraan yang bergoyang itu.
Nich menoleh ke arah wanitanya, Jessi hanya mengangguk. Pria itu langsung mengubungi asistennya kembali.
"Will, kemari sebentar!"
Beberapa menit kemudian, Willy memasuki lagi ruangan itu.
"Ya, Tuan."
Nich memutar laptopnya. "Cari tahu pemilik mobil ini. Ambil black box-nya!"
Willy menatap mobil itu, mencatat plat nomornya. "Baik, Tuan."
Dia membungkukkan sedikit kepalanya, lalu berbalik pergi lagi meninggalkan ruangan itu. Sungguh hari ini adalah hari tersial bagi Willy. Setelah kepergian Willy, Jessi kembali ke tujuan awalnya mendatangi Nich.
"Nich, bagaiman hasilnya? Apa penyebab kematian para tawananku?"
Nich membuka laci di sampingnya, mengambil sebuah file lantas diserahkan kepada Jessi. Wanita itu menerima berkas dan membacanya perlahan. Dia menyipitkan matanya, terlihat jelas kerutan di dahinya. "Racun?"
"Iya, sepertinya mereka sejak awal sudah berniat membunuh orang-orang itu secara perlahan. Polonium adalah racun radioaktif, pembunuh paling lambat tanpa adanya obat. satu gram polonium yang menguap bisa membunuh sekitar 1,5 juta orang hanya dalam beberapa bulan. Mereka meninggal hanya beberapa hari saat di mansionmu, berarti mereka sudah terkena racun itu jauh sebelumnya," jelas Nich.
Jessi menganggukkan kepalanya. "Apakah orang ini adalah orang yang sama malam itu?"
Nich menoleh ke arah wanitanya, teringat dulu Jessi juga terkena efek dari tanaman Brugmansia. Meskipun tidak menyebabkan dia meninggal, tetapi terbukti jika lawan mereka kuat. Karena bisa melakukan hal di luar ekspektasi siapa pun.
"Kau harus sangat berhati-hati mulai sekarang, Sweety! Jangan sampai terjadi hal buruk padamu! Lawanmu tidak mudah kali ini." Nich memeluk erat tubuh wanitanya, sedangkan Jessi mengelus pucuk kepala calon suaminya dengan lembut.
"Aku akan baik-baik saja."
****
__ADS_1
Sementara pemeran utama dalam vidio itu, belum cukup hanya melakukannya di dalam mobil. Mereka berpindah lokasi, melanjutkan lagi fantasi liarnya di hotel bersama pria yang seharusnya datang untuk melenyapkan saingannya.
TBC.