
Matahari kian meninggi, Jessi mulai memikirkan banyak hal dalam benaknya. Dia duduk bersama empat ekor harimau kesayangannya. Sambil menunggu setiap laporan datang padanya.
Jackson berjalan mendekati Jessi. "Nona, Nyonya Maria ingin bertemu!"
"Biarkan dia kemari!" Jessi mengelus perut Moon yang kian membesar, sambil memikirkan anak Jackson yang belum ditemukan.
Maria datang mendekati Jessi bersama dengan Jackson. "Nona."
"Kenapa kau ingin menemuiku?"
"Nona, saya belum ingin kembali ke Negara K!"
Maria mencoba berkata dengan hati-hati, dia tidak ingin menyinggung orang yang telah membantunya.
"Berikan aku alasan kenapa kau masih ingin di sini!" Jessi menyuapkan sepotong daging kepada Moon.
"Karena Barron Night adalah orang yang menutupi kasus kematian Samuel. Dia yang mengubah pembunuhan menjadi kecelakaan."
Jessi langsung menatap tajam Maria. "Apa saja yang kau ketahui?"
"Dulu saya hanya tau kalau Samuel meninggal karena kecelakaan dan mobilnya meledak. Akan tetapi setelah menikah dengan Tom Evening, saya mendengar bahwa Barron Nightlah yang menutupi kasus mereka agar tidak naik ke publik. Saya menyimpannya sendiri sampai sekarang." Maria berlutut di bawah kaki Jessi.
"Oleh karena itu, saya mohon Nona! Izinkan saya untuk tetap di sini dan mencari tau kebenaran! Saya ingin tau mengapa mereka sampai tega membunuh Samuel dan menutupinya?" Maria mulai berkaca-kaca mengingat calon suaminya yang telah tiada.
"Apa pekerjaan Samuel sebelumnya?"
"Dia adalah seorang Pengacara Publik, dan saya adalah asistennya."
"Pengacara!" Jessi memicingkan matanya mengulangi perkataan Maria. "Apa sebelumnya kalian sedang menyelidiki suatu kasus?"
"Kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan suatu keluarga secara diam-diam. Namun, Samuel tiba-tiba saja menghentikannya dan menyuruh saya untuk tidak lagi membahasnya kepada siapa pun. Lalu, dia mengubah kasus kami menjadi kasus perceraian. Awalnya, kami semua bingung mengapa dia mengambil keputusan seperti itu? Akan tetapi, sebelum kasus itu naik ke pengadilan dia sudah lebih dulu meninggal." Maria menjelaskan apa yang dia ketahui kepada Jessi.
Jessi sejenak berpikir, mencerna setiap ucapan dari Maria. "Baiklah, kau boleh di sini. Akan tetapi, berhati-hatilah! Sebaiknya kau dan anakmu berlatih sedikit bela diri. Setidaknya kalian bisa melindungi diri kalian sendiri."
"Terima kasih, Nona. Terima kasih." Maria tersenyum bahagia. Wanita di depannya sungguh orang yang baik dan berbahaya sesuai dengan kondisinya.
"Sebaiknya, kau diskusikan dulu hal ini dengan anakmu! Dia mungkin tidak senang dengan keputusanmu." Jessi lantas berdiri meninggalkan harimau kesayangannya.
"Baik, Nona." Maria membungkuk menghormati Jessi meskipun dia lebih muda darinya, tetapi aura pemimpin yang dia miliki membuatnya sadar bahwa dia adalah orang hebat.
__ADS_1
Jessi melangkah memasuki mansion. Dia menuju ke tempat berlatih senjata bersama Jackson. "Apa sudah ada perkembangan dari George dan Maurer?"
"Belum, Nona."
"Bagaimana dengan Alice sekarang?" Jessi mengambil beberapa pistol dan belati, di selipkannya di setiap bagian tubuhnya.
"Dia masih di tempat saya. Saya memintanya agar tidak terlalu khawatir," jawab Jackson.
"Apa kau bodoh?! Kau pikir ada seorang ibu yang tidak akan khawatir saat kehilangan anaknya!" Jessi mendengus kesal meskipun dia melihat ada kekhawatiran di mata Jackson, tetapi dia masih kesal karena Jackson tidak memberitahu masalahnya sejak awal. "Kau itu membuatku kesal saja!"
Drtt drrtt drrtt drrtt.
Dering ponsel Jack berbunyi, dia lekas mengangkatnya.
"Nona!" Jackson menyerahkan ponselnya ke pada Jessi.
Jessi menerima ponsel tersebut, dan meletakkannya di samping telinga. " Katakan!"
"Nona, security hari itu sudah tidak ada lagi di sekolah ini!" Suara George terdengar di ujung sambungan telepon.
"Apa dia sungguh security di sana?" Jessi mengerutkan dahinya mengatakan hal itu.
"Cari tau lebih banyak lagi, aku akan menemui Maurer!" Jessi mengembalikan ponsel Jackson. "Dimana Maurer?"
"Dia sedang di Light Holdings bersama Mario, Nona." Jessi hendak menghentikan langkahnya ketika hendak keluar.
"Suruh istrimu ke mari lebih dulu! Ada yang ingin aku tanyakan." Jackson membungkuk lekas pergi memanggil istrinya.
Jessi duduk sambil mengetukkan jari-jari tangan kanannya di tepi sofa, dan juga menggigit-gigit kuku ibu jari tangan kirinya. Dia mulai berpikir siapakah yang kira-kira menculik Angelina?
Beberapa saat kemudian, Jackson datang bersama Alice. "Nona!"
"Alice, dengan siapa ibumu memintamu menjadi istri ke dua?" Jessi bertanya tanpa basa-basi.
"Dengan Tuan Gery, Nona. Salah satu pejabat tinggi."
"Kau tau kenapa mereka memintamu menikahinya?"
"Mereka hanya bilang 'sesekali jadilah berguna untuk keluargamu' begitu, Nona."
__ADS_1
Alice mengakui apa yang dia terima dari keluarganya tanpa menutupinya dari Jackson. Dia juga tidak ingin Jackson salah paham selam mereka berpisah.
"Mereka menukarmu untuk sesuatu yang berguna bagi mereka! Apa yang begitu penting bagi keluargamu?"
"Kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan."
"Apa pangkat ayahmu sekarang?"
"Dia berpangkat Kepala Departemen Kepolisian sejak dua puluh tahun yang lalu, Nona."
Jessi berbicara sambil berjalan mondar-mandir di depan Alice dan Jackson.
"Dua puluh tahun lalu, Dia naik pangkat menjadi Kepala Departemen Kepolisian. Lalu apa pangkatnya dua puluh lima tahun yang lalu?"
"Saat itu aku baru delapan tahun, Nona. Kalau aku tidak salah sepertinya sudah Inspektur!" Alice mencoba mengingat kembali ketika dia masih kecil.
"Dia ingin menikahkanmu dengan Gery karena menginginkan posisi yang lebih tinggi. Kenapa dia tidak meminta Emily saja? Bukankah dia juga anak perempuannya!" Jessi mencoba berpikir keras dengan situasi yang rumit ini.
"Mereka tidak mungkin membiarkan Emily menjadi istri kedua sebab akulah yang bukan merupakan anak Barron!" Alice menundukkan kepalanya mengatakan hal itu, dia sungguh malu untuk mengakuinya.
"Maksudmu!" tanya Jessi.
"Ayah bilang, aku bukanlah anaknya. Aku hanyalah anak, hasil dari kakek yang memperkosa istrinya! Karena itulah, dia memberhentikan perawatanku setelah kakek meninggal." Jackson memegang bahu istrinya. Menyalurkan kekuatan, dan berusaha mengatakan bahwa semua ini bukanlah salahnya.
"Issshh, kisah kalian sungguh membuatku pusing!" Jessi memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kemungkinan Gery tau di mana Angelina. Karena kau tetap bertahan dengan putrimu di saat Jackson meninggalkanmu. Jadi, mungkinkah putrimu sekarang ada di tangan mereka." Jessi mencoba mencerna setiap kemungkinan yang terjadi dengan Angelina
Alice dan Jackson saling bertatapan mendengar hal itu. Cara pemikiran Jessi sungguh mengesankan, di luar kemampuan mereka menerka.
"Jack siapkan mobil tempur! Kita harus bermain malam ini. Beritahukan pada George dan Maurer untuk menyusul!"
"Baik, Nona." Jack membungkuk lalu pergi ke garasi tempat semua mobil tersedia di sana.
Jessi memeluk Alicia yang masih menunduk. "Kau tenang saja, aku pasti akan membawa Angelina kembali padamu!"
Jessi akan mencoba menenangkan Alicia, dia kan melakukan berbagai cara untuk menemukan Angelina. Sebagi seorang wanita, dia tau apa yang dirasakan oleh seorang ibu.
TBC.
__ADS_1