
Setelah menempuh perjalanan waktu yang cukup lama, Jessi dan rombongannya tiba di Bandara Negara K. Benar apa yang dikatakan Nich, T dan R mampu mengatur segala urusan layaknya seorang asisten. Pekerjaan mereka bahkan lebih efektif dan efisien dibandingkan manusia.
Mereka menyewa sebuah mobil Range Rover SV Coupe untuk transportasi selama di negara ini. T dan R kali ini melindungi secara terang-terangan atas izin dari Jessi, lagi pula wanita itu juga sedang kekurangan personil.
Misi darurat di tempat yang jauh, dengan kondisi yang belum pasti membuat Jessi memilih hanya membawa Maurer dan Olivia bersamanya. Dia tidak mungkin membiarkan urusan kediaman dan perusahaan terlantar begitu saja, apalagi banyak anak buah baru yang masih dalam tahap berkembang.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Keluarga Kim Dae Ho. Mereka tidak mencari tempat untuk beristirahat terlebih dahulu karena mengetahui kondisi Mario lebih penting dari segalanya.
Tak lama kemudian, mobil itu memasuki kawasan perumahan mewah. Sebuah kediaman luas layaknya tempat tinggal konglomerat, Jessi mengernyitkan dahinya melihat hal itu. Awalnya dia berpikir jika Mario dan Maurer hanyalah keluarga biasa, tetapi jika dilihat dari rumahnya jelas mereka adalah anak orang kaya.
"Kau yakin ini rumahmu?" tanya Jessi.
"Iya, Nona."
Mario dan Maurer memang tak pernah bercerita tentang asal usulnya, dan Jessi menghargai hal itu. Mereka juga butuh privasi jika memang diperlukan.
Jessi mengamati bangunan tinggi, gagah dan luas itu. Mungkin sepanjang perjalanan inilah bangunan termewah yang dia lewati. "Bisakah seranggamu masuk ke dalam?"
"Tidak, Nona. Posisinya terlalu jauh untuk dikontrol. Lagi pula serangga belum cukup optimal jika dioperasikan di dalam ruangan," ujar Maurer.
Jarak dari gerbang menuju bangunan rumah memanglah cukup jauh. Konsep hunian yang mereka miliki hampir sama dengan kediaman Light.
Jessi berpikir sejenak. "T, apakah kau bisa memberikan solusi?"
"Ada, Nyonya."
"Apa?"
"R bisa masuk ke dalam dengan mudah."
"Benarkah? Apa kita juga bisa mengetahui kondisi di dalam?" Jessi terlihat antusias mendengar R bisa menyelinap dengan mudahnya.
"Berikan padaku!" T meminta laptop yang dibawa Maurer dengan raut wajah datarnya. T dan R sama-sama berwajah datar, mereka tidak pernah tersenyum sama sekali. Meskipun, ada hal lucu yang menggelitik di depannya.
Maurer memberikan laptopnya kepada T, tak butuh waktu lama. Apa yang di lihat oleh R tertera di layar itu. Hal itu membuat Olivia dan Maurer melebarkan matanya karena terkejut, tetapi tidak dengan Jessi. Dia menyunggingkan senyumnya.
Nich, makhluk apa yang sudah kau berikan padaku? Bahkan mata mereka juga di buat dari teknologi yang canggih.
__ADS_1
"Pergilah!"
R segera meninggalkan mobil secepat kilat. Dia bergerak layaknya superhero, tak butuh waktu lama gambar kondisi di luar rumah mulai terlihat di layar.
Mereka mengamati dengan saksama, banyak sekali tanaman bunga di taman rumah itu. Bahkan hingga di dalam kediaman sekalipun.
"Siapa yang menyukai bunga?" tanya Jessi.
"Wanita laknat itulah yang menyukai bunga." Raut wajah Maurer terlihat menggelap mengatakan hal itu.
Kediaman mereka cukup mewah karena Mario dan Maurer merupakan anak dari konglomerat di Negara K, pemilik perusahaan properti Dae Ho Group. Namun, nasib malang menimpa dua bersaudara itu.
Ibu kandung mereka meninggal karena penyakit jantung dan itu jugalah yang menurun pada Maurer. Hingga beberapa tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda bernama Park Young Ran serta membawa seorang anak Park Eun Seok yang seumuran dengan Mario.
Ibu tirinya sangat pandai memainkan peran. Dae Ho menikahinya demi kedua anaknya yang masih memerlukan perhatian seorang ibu.
Namun, yang tidak di ketahui oleh Kim Dae Ho adalah hidup Kim Dae Han—Mario—dan Kim So Young—Maurer—berubah drastis semenjak itu, ayah yang sibuk bekerja membuat mereka selalu disiksa hingga berakhir diperdagangan manusia, hal baiknya hanyalah mereka tersesat ketika berhasil melarikan diri dan bertemu Jessi.
"Apa istri ayahmu membuka toko bunga di rumah?" tanya Jessi.
Maurer menggelengkan kepala, dia sendiri bingung dengan kondisi rumahnya saat ini. "Dahulu, di rumah ini memang banyak bunga, Nona. Namun, tak sebanyak sekarang, itu pun hanya di taman bukan di dalam rumah."
"Pelayanmu bisu?" Maurer terkejut mendengar penuturan Jessi.
Dia sendiri mengamati para pelayan di kediaman itu. Hal ini membuat jantungnya berdetak cepat tak beraturan, dia sangat mengkhawatirkan kakaknya kali ini.
Tak lama kemudian, terlihat dua orang menuruni tangga. Dialah sepasang ibu dan anak penguasa baru kediaman Dae Ho.
"T, suruh R mencari Mario dan ayahnya!"
"Baik, Nyonya."
Layar kembali menampakkan kondisi lantai atas kediaman itu. Sepanjang perjalanan banyak sekali rangkaian bunga dalam vas, sungguh rumah ini lebih dari sekedar toko bunga.
R memasuki sebuah ruangan, seorang pria terbaring di atas ranjang. Dialah Kim Dae Ho.
"Ayah." Maurer syok melihat kondisi ayahnya sekarang.
__ADS_1
Hampir tiga tahun lamanya dia dan Mario tidak mengetahui secara langsung kondisi sang ayah. Sekarang pria itu sudah terbaring di ranjang.
"Apa yang terjadi dengan ayahmu?" Maurer menggeleng mendengar pertanyaan Jessi.
Tanpa sadar buliran hangat menggenang di pelupuk mata Maurer, hatinya sakit melihat kondisi sang ayah yang sekarang.
"Dia buta dan lumpuh," ujar T.
"Apa?" Ketiga wanita tersentak mendengar penuturan T. Bagaimana bisa seorang buta dan lumpuh hanya dalam waktu tiga tahun. Tanpa adanya berita yang muncul, padahal Kim Dae Ho merupakan sosok penting dalam perusahaan Dae Ho Group.
"Cepat suruh R cari Mario!" Jessi sendiri tidak bisa tenang kali ini.
Rumah itu terlalu berbahaya jika Mario dibiarkan terlalu lama di sana. Seandainya saja, Jessi tahu hal seperti ini akan terjadi. Dia tidak akan membiarkan Mario kembali sendirian.
Layar menunjukkan setiap sisi ruangan, tetapi Mario juga tidak ada di sana. R menyusuri setiap sudut rumah membuatnya melaporkan kepada T.
"Lantai atas hanya ada itu, Nyonya."
"Apa kediamanmu ada ruang bawah tanah atau sejenisnya?" Jessi bertanya kepada Maurer.
Setelah lama mengingat kondisi rumahnya gadis itu pun membuka suara. "Ada sebuah ruang bawah tanah di sana karena kami pernah disekap untuk waktu yang cukup lama, tetapi saya tidak tahu di mana pintu masuknya, Nona."
"T minta R cari ruang bawah tanah kediaman itu!"
"Baik, Nona."
Cukup lama layar kembali menyusui setiap sudut di lantai dasar bangunan itu, tetapi nihil hasilnya. Jadi, di mana Mario sekarang?
"T, apakah kalian ada penyadap yang bisa dipasang di tempat itu?"
"R sudah meletakkan di beberapa tempat yang dia lalui tadi, Nyonya."
"Kalau begitu biarkan dia kembali dulu! Kita cari tempat tinggal untuk mendiskusikan hal ini!"
"Baik, Nyonya."
Tak butuh waktu lama R sudah kembali masuk ke dalam mobil. Jessi melihat beberapa bangunan terlebih dahulu di sekitar kediaman Dae Ho. Hanya ada satu tempat yang tinggi untuk mereka mengintai, sebuah apartemen mewah.
__ADS_1
TBC.