Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Misi Penyelamatan 2


__ADS_3

Setelah mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pernikahan Nich mengganti pakaiannya. Pria tidak perlulah penampilan yang rumit seperti wanita, dia hanya cukup mengganti jas menjadi tuksedo yang senada dengan gaun Jessi.


Dia meletakkan bunga di saku tuksedo, lalu melihat penampilannya sendiri. "Hai, tampan. Jangan biarkan mantan suaminya merebut istrimu!" Nich bermonolog sendiri di depan cermin, lantas bergerak menuju ruangan tempat Jessi berias.


Ketika membuka pintu terlihat Jessi tegah memutar tubuhnya di depannya. Dia menggunakan make up natural dan gaun putih yang melekat indah, membuat Nich terkesima saat menatapnya.


Jessi terlihat layaknya bidadari yang selalu membuat jantung Nich berpacu dengan kencang. Dia berjalan mendekati wanita tersebut dengan tatapan mengagumi indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini.


"Nich, kau ingin mengajakku menikah sekarang?"


"Tentu saja, kamu pikir aku ingin mengajakmu berbelanja dengan pakaian seperti ini!" Nich menggenggam kedua tangan Jessi dengan lembut. "Sayang, maafkan aku yang tidak memberitahumu sebelumnya. Tapi, aku sungguh ingin segera menikahimu.'


"Tapi, kenapa mendadak sekali?"


"Aku yakin kau akan menundanya lagi karena akan lebih banyak masalah di masa depan. Jadi, biarkan aku menemanimu mengahadapi semuanya mulai sekarang." Nich mengatakan hal itu dengan tulus, dia tidak ingin melepaskan Jessi begitu saja dan akan melindunginya dari apa pun, termasuk Brian.


"Jika kamu ingin mengadakan resepsi, kita bisa melakukannya ketika kembali ke Negara N nanti. Untuk saat ini, biarlah kita menikah secara sederhana terlebih dahulu!"


Jessi menatap lekat netra Nich, hanya ketulusan yang bisa dia lihat di sana. Wanita itu segera menarik tangan calon suaminya keluar ruangan. "Kenapa tak bilang dari tadi? Ayo cepat sebelum kita terlambat melihat pertunjukan seru nanti malam!"


Nich terkejut melihat Jessi yang antusias dan tidak marah, dia pikir wanitanya akan menolak pernikahan dadakan ini. Namun, ternyata dia salah. Wanita itu langsung menarik tangannya menuju ke aula gereja.


Setibanya di sana mereka membuka pintu. Terlihat gereja itu sudah bukan lagi tempat untuk beribadah, tapi tetapi sudah layaknya lokasi pernikahan yang megah.



Jessi terpaku menatap indahnya dekorasi. Dia menatap Nich di sampingnya, tetapi pria itu hanya tersenyum. Tanpa sadar air menggenang di pelupuk matanya.


Rasa haru menyeruak menghangatkan hati Jessi yang beku. Dia sungguh dibuat bahagia dengan perlakuan Nich, meskipun ini adalah pernikahan dadakan, tetapi pria itu menyiapkan segalanya dengan sangat baik.


Nich menekuk lengannya, Jessi langsung menautkan tangan kepada pria di sampingnya. Mereka berjalan memasuki menuju altar. Alunan lagu pernikahan mengiringi langkah, terlihat para anak buah juga berada di kursi menyaksikan acara sakral tuan dan nonanya.


Wanita tersebut tidak menyangka, jika Nich akan memberikan pernikahan mengejutkan yang indah. Setibanya di altar mereka saling berhadapan di depan pendeta untuk melakukan janji suci pernikahan.

__ADS_1


"Nicholas Bannerick," ujar Pendeta.


"Iya, saya."


"Bersediakah engkau menerima Jesslyn Light sebagai istrimu?"


"Saya Nichalas Banneric bersedia mengambil engkau Jesslyn Light menjadi istriku untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah Yang Kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus." Tatapan mata Nich lekat melihat wajah wanita di depannya yang akan segera menjadi istrinya.


"Jesslyn Light."


"Iya, saya."


"Bersediakah engkau menerima Nicholas Bannerick sebagai suamimu?"


"Saya Jesslyn Light bersedia mengambil engkau Nicholas Bannerich menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah Yang Kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus."


Jessi mengakhiri janji sucinya dengan senyum yang terlukis indah di wajah cantik itu. Air matanya menggenang seakan haru menyadari statusnya sebagai seorang istri saat ini.


Nich menyematkan sebuah cincin yang cantik di jari manis tangan kanan Jessi, terlihat begitu serasi dengan kulit putihnya.


Begitu pula dengan Jessi, dia menyematkan sebuah cincin di jari manis tangan kanan Nich. Lalu, tanpa aba-aba pria itu langsung menciumnya. Riuh tepuk tangan mulai mengisi seluruh ruangan dengan lagu pernikahan yang mengalun memeriahkan. Mereka melepaskan pangutan ketika pasokan udara dalam diri telah habis.


"Ayo beraksi!" Jessi menarik tangan Nich berlari keluar gereja diikuti oleh para anak buah.


Gaun panjang yang menjuntai membuat Jessi melipatnya ketika berlari. Mereka langsung menuju mobil karena hari sudah petang. Dia tidak ingin waktu untuk bertempur terlewat begitu saja.


Nich menuruti apa pun keinginan sang istri, dengan kecepatan tinggi dia mengemudikan mobilnya menuju apartemen.


Jessi menatap lekat wajah pria di sampingnya yang kini sudah menjadi suaminya. "Nich."


"Hmm." Pria itu berdehem sambil menoleh sekilas di masih fokus pada jalanan di depannya.


"Terima kasih, Suamiku." Jessi mengecup pipi Nich sekilas, membuat senyum mengembang di wajah pria tampan itu.

__ADS_1


"Kau harus memanggilku seperti itu mulai sekarang, Sweety!"


"Apakah ini sebuah perintah?"


"Iya."


"Baiklah, Suamiku."


Mereka sama-sama tersenyum. Keduanya kini telah resmi menjadi suami istri dan akan menghadapi segala masalah bersama-sama.


Tak lama kemudian, mereka tiba di kawasan apartemen. Lokasi untuk konser sudah mulai ramai, para penggemar mulai berdatangan. Jessi, Nich, dan yang lainnya naik ke lantai atas.


Tanpa memedulikan penampilannya yang masih berbalut gaun pernikahan, Jessi langsung menuju balkon dengan teropong di tangannya. Terlihat Kim Jae Wook sudah ada di kediaman Kim Dae Ho seperti hari-hari yang lalu.


"Apa yang membuatmu bersemangat, Sayang?" Nich memeluk Jessi dari belakang, melingkarkan tangannya di perut istrinya.


"Mencari kebahagiaan." Tak lama kemudian terlihat Seo Ya Ji, mulai memasuki kawasan kediaman keluarga Kim. "It's show time. Di mana T, R, X, dan Y?"


"Ada di belakang."


"Panggilkan mereka!" Nich mengangguk dia memanggil anak buahnya agar mendekat.


Jessi yang fokus mengintai kediaman Kim dengan teropongnya, lalu berbalik menatap keempat anak buah Nich. "Kalian keluarkan Mario dan Kim Dae Ho dari kediaman itu! Bawa mereka kemari!"


"Baik, Nyonya."


"Jangan lupa katakan pada para pelayan di sana agar keluar dari kediaman itu sebelum pukul empat pagi, katakan untuk datang kemari dan biarkan rumah itu terkunci rapat!"


"Baik, Nyonya."


Mereka lantas bergerak sesuai dengan arahan Jessi, sedangkan dia dan yang lainnya hanya bisa menunggu di apartemen ini sambil mengawasi rencana agar berjalan lancar.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2