
Mereka mengintai musuh dari jauh. Terlihat banyak orang berlalu-lalang di dermaga kontainer.
"Kelompok mana mereka?" tanya Jessi.
"Aku tidak tahu! Barronlah yang membawa cucunya ke sini, dan mungkin sekarang ada di dalam kontainer itu. Hanya itu yang aku ketahui." Jantung Gery berdebar dengan sangat cepat, bukan karena jatuh cinta, tetapi karena berada di dekat Jessi membuatnya merasa seperti di ambang kematian.
Jessi mengamati kegiatan di dermaga itu. "Mereka menjaga tiga kontainer itu. Apa kalian melihatnya?"
"Ya, Nona," terdengar jawaban dari earpiece di telinganya.
"Jack sumpal mulut kotornya ini!"
Jackson lantas mengumpal mulut Gery dengan kain, lalu menimpalinya dengan selotip hitam.
"Ada berapa orang di sana, Maurer?"
"Kira-kira ada lebih dari lima puluh orang, Nona?" Maurer tetap fokus mengamati laptop di pangkuannya, dia duduk di mobil yang berada di belakang Jessi dan Mario, dengan George yang mengemudi.
Maurer bisa mengetahui kondisi di dermaga karena dia telah menerbangkan sebuah Robot Insect Spy Drone yang berbentuk seperti nyamuk, dan bisa di kendalikan dari jarak jauh. Nyamuk ini dilengkapi dengan teknologi kamera dan juga mikropon, sehingga pengendalinya bisa mengetahui apa pun yang ditangkap oleh nyamuk ini.
Jessi, Jackson, George, dan Maurer. Mereka saling berkomunikasi melalui saluran earpiece.
"Nona, sepertinya pemimpin mereka datang," ujar Maurer
Terlihat seorang lelaki bertubuh gumpal, penuh dengan tatto di sekujur tubuhnya berjalan melewati para pekerja dermaga. Mereka membungkuk menghormati pria tersebut. Hal ini menandakan bahwa dialah pemimpin kelompok itu.
Jessi mencari tempat dia akan melakukan aksinya, sedangkan Maurer fokus menatap layar laptopnya. "Nona, mereka akan segera mengirim barang."
"Kita bergerak sekarang! Maurer tetap awasi situasi! George dan yang lainnya ikut Jackson menyergap lokasi!" Masing-masing dari mereka langsung bergerak mengambil senjata yang telah di persiapkan sebelumnya. "Pastikan tidak ada yang bisa melarikan diri! Aku akan membunuh pemimpin mereka dari jauh."
"Baik, Nona," jawab mereka serentak.
Jessi lantas bergerak menuju sebuah tempat yang agak tinggi di sana. Dia membawa sebuah senjata laras Barrett M82 di dalam tas punggungnya. Sementara yang lain bersiap di posisi menyergap, tinggal menunggu aba-aba dari Jessi.
Jessi menyiapkan senapannya di atas tumpukan kontainer. Dia memilih menjadi sniper karena lokasi yang terbuka dan minimnya anggota mereka. Dia bersiap membidik targetnya, yaitu ketua dari kelompok itu.
"Bergerak dalam sepuluh detik!" Jessi mulai memberikan aba-aba. "Sekarang!"
__ADS_1
Siingg.
Suara peluru melesat menuju target sasaran Jessi.
Door!
Tembakannya tepat mengenai tengah dahi pria gumpal itu. Dia langsung roboh ke lantai dengan mata yang melotot. Para anggota lain yang berada di sana terkejut melihat pemimpin mereka tewas seketika.
Door!
Satu orang mulai terkapar.
Door! Door! Door!
Penyerpan mulai dilakukan oleh Jack dan George suara tembakan menggema di seluruh kawasan.
Melihat kelompok mereka disergap, baku tembak pun mulai terjadi di sana. Satu per satu anggota mereka tewas terkapar sebelum siap melawan. Jackson sungguh melampiaskan kemarahannya kepada mereka, sedangkan George, dia mulai mengingat kembali masa-masa pembantaian seluruh keluarganya dulu.
Jessi mengawasi dari atas, dia melindungi anak buahnya, sehingga tidak ada satu pun korban jiwa dari anggotanya. Meskipun anggota yang mereka bawa hanya sedikit. Namun, karena strategi Jessi semua dapat diselesaikan dengan mudah.
"Nona, arah jam dua belas seseorang mencoba kabur," lapor Maurer.
"Baik, Nona."
Jackson mengejar orang tersebut, sedangkan George serta yang lainnya mengamankan kelompok yang menyerah dan tidak bersenjata.
Melihat kondisi di bawah sudah terkondisikan Jessi mengemas kembali senapannya. Kemudian dia turun dari tumpukan kontainer, melangkah menuju lokasi berakhirnya pertempuran.
"Nona." Semua orang yang ada di sana membungkuk melihat nona mereka datang.
Jessi mendekati seorang pekerja dermaga yang berlutut, dia menatapnya dengan tajam. "Apa isi kontainer mereka?"
Mereka saling menoleh satu sama lain, takut untuk menjawab, tetapi pemilik kontainer juga sudah tewas di sana.
"Itu ... berisi." Orang itu menggantungkan ucapannya.
Jlebb.
Akkhh!
Jessi menancapkan sebuah belati di kaki orang tersebut, membuatnya berteriak kesakitan.
__ADS_1
"George buka semua kontainer!"
George langsung bergerak membuka salah satu kontainer. Bau anyir dari dalam langsung menyeruak menusuk hidung siapa pun. Terlihat banyak mayat yang tergeletak dengan bercak darah yang sudah mengering memenuhi kontainer tersebut.
Jackson yang baru saja tiba membawa orang yang kabur langsung merosot melihat itu. Dia melebarkan netranya yang langsung berurai air mata. Sebagai seorang ayah hatinya terasa sakit, apakah putrinya juga ada di dalam sana? Apakah dia sudah terlambat untuk menolong Angelina?
Jessi yang melihat itu, sama terkejutnya dengan Jackson. Matanya membola menyaksikan banyak mayat di depannya. "George buka kontainer yang lain!"
George membuka lagi salah satu kontainer. Terlihat banyak wanita usia dewasa yang yang duduk dengan diikat dan dibungkam mulutnya menggunakan selotip.
Jackson langsung berlari meneliti satu persatu dari mereka. Namun, tidak ada Angelina di sana.
"Buka yang lain!" Mata Jessi menghitam, kemarahannya meluap-luap siap untuk diledakkan.
Manusia ini sungguh kejam. Mereka menyekap banyak wanita di dalam kontainer itu. George membuka satu kontainer lagi dan isinya para anak di bawah umur dengan kondisi yang sama seperti yang lainnya.
Jackson langsung berlari mencari Angelina. Terlihat putrinya pingsan dengan badan terikat.
"Sayang, bangun. Ini Papa, Nak!" Jackaon melepaskan ikatan di tangan dan kaki anaknya, membuka selotip dengan perlahan.
"Angelina, maafkan Papa. Bangunlah, Sayang!" Jackson menangis tersedu-sedu melihat kondisi putrinya yang penuh dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Air mata seorang ayah luruh melihat putri tercintanya lunglai tidak berdaya layaknya seonggok mayat.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit bersama Maurer! Biar George yang mengurus di sini!" perintah Jessi.
Jackson lantas menggendong anaknya. Dia berlari ke mobil yang di tumpangi Maurer meninggalkan lokasi itu.
Jessi benar-benar murka melihat kondisi Angelina, wajahnya merah padam, emosinya sudah diubun-ubun, sorot matanya tajam seperti sudah siap memakan setiap orang yang yang berada di sana. Dia berjalan ke arah orang yang dibawa Jack dengan kondisi terikat tadi. "Apa yang kalian lakukan pada mereka, hah?!"
Tidak ada orang yang menjawab Jessi. Dia terlihat sangat mengerikan saat ini. Bahkan sama mengerikannya dengan pimpinan utama mereka.
"George, bebaskan orang-orang yang masih hidup! Bawa mereka ke markas! Aku tidak akan melepaskan kalian meskipun kalian diambang kematian!" Suara tegas Jessi yang menggelegar membuat siapa pun yang mendengarnya langsung meremang.
"Baik, Nona."
"Masukkan mayat-mayat di sini ke dalam kontainer dan bakar! Pria gumpal itu!" Jessi menunjuk salah satu mayat yang terkapar. "Ambil kepalanya masukkan ke dalam kotak! Aku yakin kaum kalian masih akan ada yang kemari, anggap itu sebagai tanda perkenalan dariku!" Jessi melangkah meninggalkan lokasi.
George dan yang lainnya mulai melaksanakan apa yang diperintahkan Jessi. Mereka melepas seluruh korban dan mengumpulkan mayat-mayat untuk dibakar dan memenggal kepala pria gumpal untuk dimasukkan ke dalam sebuah kotak hadiah bergembok.
George lantas membawa semua orang yang ada di sana menggunakan kendaraan kelompok itu. Lalu, mengikuti Jessi ke markas.
TBC.
__ADS_1