Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Brian Morning


__ADS_3

Setelah kejadian di kediaman Jerry Morning. Brian kini bertugas menyelidiki tentang penyebab Tom Evening tewas hari itu. Dia juga harus mencari tahu apa yang membuat pria tersebut harus diamputasi.


"Tuan." Seorang anak buah mendekat dengan berpakaian olahraga, dia datang untuk melaporkan hasil penyelidikan kepada tuannya


"Apa yang kau dapatkan?" Brian tengah duduk di tepi danau sebuah taman, tempat yang mengingatkannya akan kenangan bersama Jessi dahulu. Juga merupakan lokasi terbuka dan ramai, sehingga tidak membuat orang lain curiga.


"Tom Evening sebelumnya berurusan dengan seorang wanita. Sebelum akhirnya dia kehilangan sahamnya."


"Wanita? Siapa?"


"Mereka bilang dia adalah Nyonya Muda Bannerick."


"Nyonya Muda Bannerick?" Brian mengernyitkan dahinya, selama ini yang dia hanya mendengar jika pewaris Bannerick Group masih lajang. "Apa dia sudah menikah?"


"Kabarnya begitu. Dari yang saya dengar, Tom Evening dan putrinya menyinggung nona muda tersebut hingga membuatnya menginjakkan kaki tepat di pusaka Tom di tempat umum."


Brian menaikkan salah satu ujung bibirnya. "Menarik, seorang wanita dengan kejam berani merusak aset masa depan pria di tempat umum."


Dia merasa penasaran dengan sosok tersebut, belum pernah Brian menemukan seorang wanita tangguh yang kejam. Mungkin akan menyenangkan jika bisa bekerja sama melalui Nyonya Muda Bannerick.


"Bagaimana dengan putri Tom dan istrinya? Apa kalian sudah menemukannya?"


"Belum, Tuan."


Brian berpikir sejenak, kira-kira ke mana mereka berdua bersembunyi tanpa membawa apa pun. "Cek semua transportasi semua jalur lokal maupun internasional, di mulai saat dia mengeluarkan ibunya dari rumah sakit jiwa hari itu!"


"Baik, Tuan."


"Apa lagi yang kau dapatkan?"


"Tuan, tentang penyelidikan lima tahun lalu." Anak buahnya menghentikan ucapannya, dia ragu harus memberitahu bosnya atau tidak.


"Katakan!"


"Tuan Marcopolo menghalangi hubungan rumah tangga Anda dulu disebabkan karena istri, Anda ...." Pria itu merasa enggan untuk mengatakan hal sejujurnya, tapi nyawanya dipertaruhkan kali ini.


"Katakan dengan jelas sebelum aku membunuhmu!" Sorot mata Brian menghitam, dia paling marah ketika mendengar berita buruk tentang Jessi. Karena baginya, wanita itu adalah perempuan terbaik dalam hidupnya.


"Karena istri Anda adalah keturunan keluarga Alexander."

__ADS_1


"Alexander?" Brian mengerutkan keningnya, dia belum pernah mendengar nama ini sebelumnya, ditambah marga Jessi yang merupakan keturunan Light dan bukan Alexander. "Siapa dia?"


"Dia adalah korban pembantaian tersadis yang dilakukan oleh Tuan Marcopolo."


"Apa?" Brian begitu terkejut mendengar penuturan anak buahnya, tangannya mencengkeram kuat kursi yang dia duduki dengan sorot mata tajam.


Jika saja Jessi tahu pembunuh keluarganya adalah Marcopolo yang tak lain merupakan ayah kandungnya, bukankah itu berarti akan sulit untuk menaklukkan kembali hati sang mantan istri.


Pembantaian keluarga Alexander memang dilakukan oleh Marcopolo dan kelompok Belzeebub tiga puluh tahun yang lalu. Hingga mengakibatkan apa yang terjadi saat ini.


Kemudian, lima tahun yang lalu, Marcopolo menemukan anak anak kandungnya—Brian—yang ternyata sudah berkeluarga. Dia lantas menyelidiki asal usul menantunya yaitu Jessi, hingga dia menemukan fakta bahwa wanita itu adalah keturunan Alexander yang selamat.


Oleh karena itu, Marcopolo meminta Brian untuk meninggalkan istrinya. Namun, dia malah membunuh ayahnya dengan racun sebab mencampuri urusan rumah tangganya.


"Kenapa pria tua itu membunuhnya."


"Untuk hal itu kami masih menyelidikinya. Tapi, sepertinya hanya Tuan Marcopolo sendiri yang tahu."


"Maksudmu, Jerry Morning tidak tahu mengenai hal ini?"


"Kemungkinan seperti itu, Tuan."


"Baik, Tuan." Pria tersebut segera bergegas meninggalkan Brian yang masih asyik duduk di tepian danau.


Dia memang menyelidiki alasan sang ayah yang begitu menentang hubungannya dengan Jessi. Saat itu, usia pernikahan mereka baru berjalan dua tahun. Namun, ayahnya mengancam akan membunuh wanita itu jika Brian tidak segera meninggalkannya.


Karena inilah, Brian lebih memilih melindungi Jessi dan membunuh ayah kandungnya sendiri. Baginya, wanita itu adalah segalanya, jika hanya dibandingkan dengan ayah yang baru hadir di saat ia dewasa. Brian bersumpah akan membawa sang mantan istri kembali ke dalam pelukannya, dengan cara apa pun.


Sesuatu hal kecil yang mengingatkan kepada Jessi selalu berhasil membuat Brian tersenyum. Wajah ceria yang tak pernah dia perlihatkan kepada siapa pun. Namun, para wanita dengan penampilan yang mencolok selalu membangkitkan jiwa iblis dalam dirinya.


Brian melihat seorang wanita seksi tengah berlari pagi dengan pakaian super ketat melekat di badan, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang padat dan berisi. Seketika pria itu menyeringai jahat, anggap saja dia sedang membantu pemerintah mengurangi populasi penduduk.


Beberapa hari ini memang dia belum memakan korban karena harus menyelesaikan masalah kegagalan yang dilakukan oleh Johny. Ditambah sang adik yang kakinya masih terluka akibat serangan Jerry Morning kala itu, membuat semua tugas dialihkan kepada Brian.


Brian berpura-pura tersandung ketika wanita itu berlari ke arahnya. "Aduh."


Melihat seorang pria tampan yang terjengkal di depannya membuat sang gadis seketika membantunya. "Anda baik-baik saja, Tuan."


"Tidak, aku tidak apa-apa. Mungkin karena masih dalam masa pemulihan cidera kakiku menjadi sedikit kram." Brian berpura-pura memijit kakinya agar wanita itu bersimpati.

__ADS_1


"Benarkah? Jadi, Tuan habis kecelakaan." Brian mengangguk, mengeluarkan ekspresi bayi tak berdosa membuat wanita manapun akan meleleh ketika melihatnya. "Aku merasa jenuh duduk di rumah karena itulah aku ingin menikmati suasana pagi di taman ini."


"Apa tempat tinggal, Tuan jauh dari sini?"


Brian mengangguk. "Tadi adikku membawaku kemari karena aku ingin melihat danau. Tapi, dia pergi karena ada urusan mendadak dan bilang akan menjemputku lagi nanti."


"Apartemenku tidak jauh dari sini. Apa kamu mau beristirahat di sana lebih dulu?" Wanita tersebut mencoba menawarkan. Bukan karena dia orang baik, tetapi melihat outfit yang digunakan Brian adalah barang-barang edisi terbatas, tentu saja wanita mana pun akan tahu jika pria tampan di depannya adalah orang kaya, dan hal tersebut sukses membuatnya mencoba mendekati Brian.


Penampilan khas wanita selepas berolahraga dengan keringat yang mengalir di kulit membuat tenggorokan Brian seakan kering. Obsesinya meminum darah lawan jenis sudah melekat dalam jiwanya yang gelap. Iblis di samping selalu berbisik tentang bagaimana nikmatnya menghirup aroma anyir tersebut.


"Jika tidak merepotkanmu, maukah kau membantuku, Nona!"


Wanita tersebut lantas membantu memapah Brian yang kesulitan berjalan, dalam hatinya merasa senang karena mendapatkan umpan yang kaya. Mereka bergerak menuju apartemen wanita tersebut.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah apartemen sederhana. "Silakan masuk!"


Brian menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan, sepertinya wanita itu tinggal sendiri di sini. Dia membantu pria tersebut hingga duduk di sebuah kursi.


"Hati-hati!"


"Apa kau tinggal sendiri, Nona?"


"Iya, aku hanyalah seorang pendatang di sini. Kita belum berkenalan, Tuan. Kenalkan namaku Selly." Wanita itu mengulurkan tangan, dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Brian, Brian Morning." Dia membalas uluran tangan wanita tersebut dengan memalsukan marganya. Nama Morning selalu sukses membuat semua wanita mendekati Brian dengan senang hati.


"Morning? Apa kau putra dari Jerry Morning?" Selly terlihat begitu antusias ketika menanyakan hal tersebut.


Siapa di negara ini yang tidak mengenal Jerry Morning. Seorang pemimpin partai politik terbesar di Negara N dengan citra baiknya di mata masyarakat.


Menjadi politikus lebih dari tiga puluh tahun membuat kekayaannya melimpah, hingga menduduki salah satu jajaran konglomerat di Negara N. Urutan kedua setelah keluarga Bannerick.


"Kau mengenal ayahku?"


"Oh, maafkan aku yang tidak mengenalimu, Tuan Muda. Siapa di negara ini yang tidak mengenal ayahmu? Semua masyarakat pastilah mengenalnya." Brian menganggukkan kepalanya, memang benar apa yang diucapkan wanita ini. "Bukankah tahun ini ayahmu akan mencalonkan diri sebagai Presiden?"


"Iya, dia sedang mempersiapkan diri untuk itu."


"Aku sebagai rakyat yang baik pasti akan menyumbangkan suara untuknya nanti." Selly tersenyum sangat lebar, jika mampu mengambil hati pria di depannya bukankah dia akan menjadi menantu seorang Presiden. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat wanita tersebut melambung tinggi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2