Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Jane dan Damien 2


__ADS_3

Damien yang menaiki taksi berbeda menyuruh Supir untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai ke apartemen terlebih dahulu sebelum Jane. Hingga beberapa saat kemudian dia tiba di kawasan apartemen tersebut.


Tanpa membuang waktu Demian segera berlari ke tempat karena khawatir terjadi sesuatu dengan wanita itu. Namun, hal tak terduga kembali terjadi ketika dia melihat seorang pria yang diketahui datang bersama wanita tersebut dari Negara X, sudah berdiri di depan pintu apartemen Jane.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Damien dengan sewot.


"Menunggu Jane. Bukankah kau pergi bersamanya?" John mencari-cari keberadaan Jane setelah pesta pernikahan Jessi berantakan. Namun, sayangnya pria tersebut tidak menemukan orang yang dicari sehingga memutuskan untuk menunggu di apartemen karena khawatir akan kondisi wanita tersebut yang masih belum pulih betul.


Suara dentingan lift berbunyi menghentikan obrolan singkat kedua pria tersebut. Keduanya melihat Jane keluar dari lift dengan raut wajah pucat hingga membuat mereka berlomba-lomba untuk membantu wanita itu. 


"Jane, kau baik-baik saja?" Raut kekhawatiran tergambar jelas di wajah Damien sejak berpisah dengan Jane tadi. Segala kemungkinan buruk berkecamuk dalam benaknya hingga membuat pria itu takut terjadi sesuatu pada Jane. 


"Bukankah kau bisa melihatnya sendiri? Tubuhku masih utuh dan tak pulang hanya dengan membawa nama." Jane menjawab ketus tanpa menoleh ke arah Damien. Wanita tersebut langsung membuka pintu apartemen dan segera masuk. 


Akan tetapi, dua pria di belakangnya seketika berdesakan untuk ikut masuk hingga membuat Jane mengernyitkan dahi. "Apa yang kalian lakukan?" teriak wanita tersebut di kala kedua pria itu langsung duduk di ruang tamu apartemennya tanpa permisi. 


"Aku menjagamu dari pria hidung belang ini." John menunjuk Damien di sampingnya. 


"Enak aja! Meskipun hidungku mancung tapi nggak belang, nih lihat!" ucap Damien membela diri. 


Perbedaan usia kedua pria tersebut yang tak cukup jauh membuat mereka memiliki sifat yang sama. Sama-sama berusaha mengambil Jane. 


Tak ingin dipusingkan dengan ulah kedua pria itu, Jane hanya menggeleng kecil dan melenggang pergi ke kamar meninggalkan keduanya. Tubuhnya terasa sangat lemas hari ini, ditambah dia belum minum obat sejak pagi tadi sehingga membuat kepalanya terasa berdenyut akibat kelelahan. 

__ADS_1


Setibanya di kamar wanita tersebut langsung mengambil obat di dalam laci dan meminum sebutir pereda nyeri karena sudah tak tahan lagi. Dia langsung merebahkan diri di ranjang dan tak memedulikan apa yang dilakukan kedua pria itu di apartemennya. Perlahan rasa kantuk mulai menyelimuti, hingga mata Jane terpejam dan melayang ke alam mimpi. 


Jane melihat seorang wanita cantik yang selama ini dia rindukan tengah duduk berayun di bawah sebuah pohon yang tinggi dengan gaun putih bersih dan cantik layaknya ibu peri. Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Jane mulai mendekati wanita tersebut. 


"Ibu," panggil Jane lembut dengan buliran hangat yang mengembun di pelupuk mata dari kejauhan. 


"Jane, kau datang, Nak?" Bukan Jane dewasa yang berlari memeluk wanita cantik tersebut, melainkan Jane kecil yang masih berusia sepuluh tahun sebelum hidup dalam kesendirian. 


"Ibu." Gadis kecil itu memeluk sang ibu dengan keceriaan tergambar jelas di wajahnya, sedangkan Jane yang tak menyadari ini hanyalah sebuah mimpi hanya bisa menikmati dan ikut duduk di samping keduanya.


Sementara itu, di dunia nyata Damien yang mengkhawatirkan kondisi Jane berdiri dari posisinya ketika tak mendengar pergerakan apapun dari kamar wanita tersebut. 


"Mau ke mana kau?" John menatap curiga ke arah Damien ketika pria tersebut hendak melangkah pergi. 


"Bukan urusanmu!" Tanpa menghiraukan reaksi John, Damien bergegas melangkah ke kamar Jane. Namun, ketika tangan pria tersebut hendak membuka handle pintu, John sudah di belakang menghentikannya. 


Damien hanya menghela napas panjang sambil menggaruk alisnya yang tak gatal. "Apa kau tak khawatir dengan kondisi Jane? Apa matamu tak bisa melihat wajahnya yang pucat pasi tadi?" 


Sejenak John memikirkan kalimat Damien. "Memang benar dia pucat. Tapi, bukan berarti kau boleh memasuki kamarnya begitu saja!" 


"Lalu?" Damien memiringkan kepala dengan sorot mata tajam menatap ke arah John. 


"Aku ikut, kita pastikan bersama!" John jelas tahu betul bagaimana kondisi Jane. Hal itu pula yang membuat pria tersebut sampai ikut datang ke Negara N demi menjaga keamanan wanita tersebut. Namun, dia tidak mungkin memberitahukan semua itu kepada pria di depannya dan hanya bisa mengawasi seperti ini. 

__ADS_1


Mau tak mau, Damien pun menyetujui permintaan John. Rasa khawatir akan kesehatan Jane lebih penting daripada segalanya saat ini. Kedua pria itu pun mulai membuka pintu kamar Jane yang ternyata tak dikunci. 


Dalam hati Damien mengumpat kesal mengetahui hal itu. Meskipun dengan tidak dikuncinya pintu membuat pria tersebut lebih mudah untuk mengecek kondisi Jane, tetapi lain halnya jika ada orang lain di tempat ini seperti John. Bisa saja pria itu melakukan hal buruk pada wanitanya. 


Kedua pria tersebut melangkah mendekati Jane dengan perlahan. Damien masih merasa khawatir ketika melihat wajah Jane yang kini menampakkan rona merah di pipi. Pria itu lantas meletakkan punggung tangannya di dahi Jane dengan lembut. "Dia demam," ucapnya lirih kepada John. 


"Apa yang harus kita lakukan?" 


"Ambilkan air hangat di dapur!" 


"Kau memerintahku?" Seorang pengacara ternama tiba-tiba saja diperintah oleh saingan cintanya. Tentu saja hal itu membuatnya tak terima akan perlakuan Damien. 


Namun, Damien malah berdecak dan melirik tajam ke arah John dengan punggung tangan yang masih menempel di dahi wanita tersebut. "Apa kau masih mau mengajakku berdebat?" 


"Okey, okey. Akan aku ambilkan." Pengacara John memilih untuk mengalah, merawat Jane di saat seperti ini lebih penting daripada perdebatannya dengan sang pengusaha arogan. Meskipun dia sendiri mengakui pesona Damien tak kalah dengan dirinya, tetapi tetap saja pria itu belum ingin menyerah mendapatkan Jane. 


Sepeninggal John, Damien hendak menarik tangannya dari dahi Jane. Namun, wanita tersebut malah menariknya dan memeluk lengan Damien dengan erat. "Ibu," gumam Jane di dalam ketidaksadarannya yang membuat pria tersebut seketika mengundurkan niat untuk beranjak. 


"Maafkan aku, Jane. Harusnya aku tahu kau juga korban atas semua itu. Maaf sudah membiarkanmu sendirian dalam menghadapi semua ini." Tangan kanan Damien dengan lembut menyibakkan anak rambut Jane ke samping. 


Buliran keringat dingin dan mata yang terpejam layaknya sebuah mimpi buruk membuat Jane selalu bergumam menyebut nama ibunya. Damien yang mendengar hal itu dengan jelas segera mengelus lembut pucuk kepala Jane. "Stt, tenanglah, Sayang! Masih ada aku di sampingmu." 


Tanpa Damien sadari, Pengacara John melihat semua itu di balik pintu. Hingga akhirnya dia pun mengerti, jika mereka adalah dua orang yang saling mencintai, tetapi terhalang permainan takdir. 

__ADS_1


Mungkin jika mereka saling membuka diri, Jane akan bersedia di operasi dan keduanya bisa kembali bersama. Meskipun rasanya menyakitkan, tetapi John mengerti hal itu lebih baik dibandingkan harus kehilangan Jane untuk selamanya.


TO be Continue….


__ADS_2