
Di sebuah rumah mewah seorang ibu dan anak sedang berbincang bersama.
"Apa kau sudah mencoba mendekati, Nich?" tanya Kate.
"Aku bahkan tidak bisa bertemu dengannya, Mom."
"Ishh ... kenapa kau selalu bodoh kalau urusan Nich?"
"Aku hanya terlalu mencintainya, Mom."
"Cinta tapi kau tak pernah mendapatkannya."
Mereka adalah Kate dan Emily, anaknya itu sudah begitu lama menyukai Nich bahkan sejak kecil lagi. Namun, pria itu terlalu kaku dan tidak pernah mendekati wanita.
Obsesinya pada pria pujaanya membuat penyimpangan di pikirannya. Dia kerap menyewa gigolo untuk menuruti fantasi liarnya dan membayangkan bahwa itu adalah Nich. Dari sanalah dia baru bisa meluapkan hasrat untuk memiliki Nich.
Emily tidak akan membiarkan hal itu berjalan selamanya, dia ingin Nich sungguh ada untuknya. Wanita itu akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya. Termasuk melenyapkan perempuan yang bersaing dengannya.
"Mom, apa kau tahu siapa wanita itu?"
Kate menggeleng. "Mereka tidak pernah membahasnya, bahkan percintaan Nich tidak ada berita apa pun."
"Aku akan mencari seseorang untuk melenyapkannya!" Raut wajah Emily menunjukkan kebenciannya pada wanita itu.
Kate hanya mengangguk. "Bagaimana pun caranya, kau harus bisa menjadi Nyonya Bannerick!"
"Aku akan mencoba mendekatinya melalui jalur bisnis dulu."
"Gunakan ini!" Kate menyerahkan sebuah botol parfum bunga sedap malam.
Parfum ini dipercaya mampu membuat siapa pun yang menghirupnya memiliki gairah seksual yang tinggi, terutama di malam hari.
Emily mengambil botol tersebut, lalu beranjak pergi meninggalkan ibunya.
Di perjalanan Emily menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Bisakah kau membantuku melenyapkan seseorang?" ucapnya.
"Aku akan mengirim anak buahku ke sana."
Emily lantas mematikan sambungan teleponnya, lalu bergerak menuju gedung Bannerick Group menggunakan mobilnya.
Setibanya di gedung megah menjulang tinggi itu. Dia menggunakan parfum yang diberikan oleh ibunya terlebih dahulu lantas memoles lagi wajahnya dengan make up.
Dia keluar dari mobilnya, kaki jenjang mulus dengan sepatu hak tinggi terpampang nyata. Tubuhnya berbalut pakaian ketat kekurangan bahan menunjukkan lekuk tubuh padat berisi, membuat setiap pria hidung belang yang melihatnya menelan salivanya sendiri.
__ADS_1
Dengan congkaknya Emily menuju ke resepsionis. Pegawai itu menatapnya sinis, terlihat jelas bahwa wanita di depannya hanya ingin menggoda bosnya yang sudah memiliki kekasih. Namun, demi profesionalitas kerja dia tetap menyambutnya.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin bertemu dengan Nicholas."
"Maaf, Nona. Apakah sudah ada janji temu sebelumnya."
"Belum, katakan bahwa aku dari Night Fashion."
Resepsionis itu lantas mengubungi pihak atasannya.
"Silakan masuk, Nona."
Emily berlalu pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Memang untuk bertemu dengan Nich harus melalui pihak resepsionis, tidak boleh sembarangan masuk karena dia tidak suka diganggu.
Resepsionis itu mencebikkan bibirnya.
"Bahkan lebih cantik Nyonya Muda Bannerick, dia masih mengharapkan Tuan Muda Nich meliriknya. Kalau aku yang jadi tuan, sudah aku tendang dia jauh-jauh."
Wanita itu saling berbisik dengan rekan kerjanya, hingga suara wanita membuatnya terkejut.
"Siapa yang ingin kalian tendang?"
Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara, terlihat Jessi dengan style motornya tampak lebih keren di mata mereka.
"Aku bertanya siapa yang ingin kalian tendang?"
"Emmm ... itu, Nyonya." Resepsionis itu mendekatkan wajahnya ke telinga Jessi. "Ada ulat keket menemui Tuan Muda Nich."
"Ulat keket?"
"Iya, dari Night Fashion."
Jessi menyunggingkan senyumnya mendengar itu. Tak perlu diundang umpan sudah datang dengan sendirinya.
"Apa Nyonya Muda ingin bertemu Tuan?"
"Iya."
"Kalau begitu cepatlah Nyonya, jangan kalah dengan ulat keket! Kami mendukungmu!" Resepsionis itu menunjukkan kepalan tangannya, menandakan bahwa dia bersemangat.
"Aku pergi dulu." Jessi berlalu meninggalkan lobby utama menuju ke ruangan Nich.
Dia ada hal yang harus dibahas bersama Nich tentang tewasnya para tawanan hari itu. Jessi langsung membuka pintu kantor Nich. Aroma parfum yang digunakan Emily menyebar di seluruh ruangan itu, terlihat Nich dan Willy ada di dalam bersama dengan ulat keket itu.
__ADS_1
"Kau sudah datang, Sweety?"
Nich langsung berjalan mendekatinya, memeluknya sejenak dan mengecup singkat pucuk kepalanya.
"Hmm ... apa aku mengganggu kalian?"
"Tidak."
"Apa yang sedang kalian bahas?"
Jessi langsung duduk di samping Emily dia mengambil remote pendingin ruangan yang ada di meja.
"Dia sedang mengajukan proposal kerjasama." Nich menunjuk dokumen di meja, lalu meletakkan bokongnya di sofa single.
Jessi menekan tombol remote itu, mengubahnya hingga posisi suhu terdingin.
"Bolehkah aku melihatnya?"
Nich mengangguk, mempersilakan pada Jessi. Wanita itu membuka dokumen dengan sangat pelan. Dia sengaja melakukan itu demi mengulur waktu.
Terlihat jelas Emily menahan hawa dingin itu. sepatu hak tingginya bergetar di bawah meja. Baju yang dia kenakan sama saja dengan bertelanjang. Dia geram dengan sikap Jessi yang ternyata tidak mudah untuk dikalahkan.
Jessi melirik ke arah wanita ulat itu. "Emm ... Sayang, apa kau akan bekerja sama dengan perusahaannya?"
"Aku masih mempertimbangkan."
"Nich, dengan sistem bagi hasil 30:70 bukankah kerjasama ini sudah cukup menguntungkan!" ujar Emily.
"Nona Emily, disaat kalian sedang membahas urusan bisnis, bukankah tidak etis rasanya jika anda hanya memanggil namanya saja?" sindir Jessi.
Nich dan Willy hanya bisa menahan tawanya saat mendengar penuturan Jessi. Sementara Emily mengeratkan giginya mendengar itu. Wanita ini sungguh membuatnya ingin segera menyingkirkannya.
"Ekhm ... Nona Emily, aku sudah ada janji dengan calon istriku hari ini. Bisakah anda segera kembali! Mengenai keputusan kerjasama, Asistenku akan menghubungimu lagi nanti." Nich melihat gelagat aneh di diri Jessi. Dia hanya ingin mencoba melindungi wanitanya.
Emily langsung berdiri karena tubuhnya juga sudah terasa beku karena dinginnya suhu ruangan. "Kalau begitu saya permisi dulu."
Nich memberi kode agar dia juga keluar. Setelah hanya ada mereka berdua di ruangan itu, Jessi langsung limbung di sofa dengan napas yang memburu. Wajahnya memerah seperti orang mabuk.
"Sweety, apa yang terjadi padamu?"
"Ulat keket itu." Jari Jessi menunjuk Nich dengan lemah. "Dia ingin membuatmu masuk ke dalam jebakannya."
Jessi meracau tidak karuan saat berbicara dengan Nich, lelaki itu bukannya tidak tahu dengan apa yang dilakukan Emily. Namun, sebenarnya dia sudah sadar sejak awal kedatangannya, bau parfum bunga malam yang menyeruak jelas memenuhi ruangan itu. Mungkin Willy sedang berjuang di kamar mandi, sedangkan pemakainya. Entahlah apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Efek obat yang digunakan Emily sangat kuat, tetapi Nich memang sudah kebal dengan hal itu. Dia sudah mengatur dirinya sendiri agar tidak terjebak dengan rencana kotor para pebisnis yang biasanya mengumpankan anak mereka demi kerjasama dengannya.
__ADS_1
Nich membawa Jessi ke ruang pribadi, lalu memberinya sebuah pil penawar hasil dari penelitian di laboratoriumnya. Efek samping pil itu seperti obat tidur. Jessi akan tertidur untuk waktu yang cukup lama hingga aroma pembangkit gairah itu benar-benar hilang dari tubuhnya.
TBC.