Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pria Kolot


__ADS_3

Suasana di dalam lift terasa semakin mencekam di saat Jessi meninggalkan kedua pria tersebut di dalam. Rahmat hanya bisa menelan salivanya sendiri dengan susah payah ketika Nicholas terus menatap tajam ke arahnya. 


"Rahmat, cepat! Nanti Biro Pernikahan keburu tutup!" Suara teriakan Jessi berhasil menyelamatkan Rahmat dari terkaman singa jantang yang tampak bertanduk gaib tersebut. 


"Permisi, Tuan. Nyonya sudah memanggil." Tanpa berani menatap wajah berang Nicholas, Rahmat segera melangkah keluar lift terlebih dahulu dengan pandangan yang terus menatap ke bawah seolah ada uang di sana. 


Sambil mendengus sebal, mau tak mau Nicholas pun mengikuti langkah pria tersebut dan masuk ke dalam mobil. Di mana sang istri tampak tertawa kecil melihat kecemburuannya. "Apa ini terlihat lucu bagimu, Sweety?" 


"Iya, sangat lucu. Baby menyukainya," ucap Jessi sambil tersenyum mengelus perut yang mulai membuncit tersebut. "Kita ke rumah sakit sakit sekarang!" ujarnya pada Rahmat di depan.


"Apa terjadi sesuatu dengan Baby, Sweety?" Nicholas seketika panik di saat istrinya tiba-tiba saja mengatakan akan ke rumah sakit. Dia pun langsung menundukkan kepala dan menempelkannya di perut sang istri. 

__ADS_1


"Bukan mereka, Sayang. Aku hanya ingin menyembuhkan hati orang lain."


"Maksudmu?" Nich mengernyitkan dahi karena memang tak tahu apa yang dimaksud sang istri. 


"Jangan banyak tanya! Ikut saja," kata Jessi santai. 


Mereka pun saling bercengkrama untuk sesaat di mana Nicholas terus berceloteh ria di perut buncit Jessi dengan rona bahagia yang tercetak jelas di wajah keduanya. Entah berapa lama sepasang suami istri tersebut tak bertemu dan hanya berhubungan via telepon maupun panggilan video. Namun, nyatanya hal tersebut tak membuat mereka renggang dan malah semakin romantis setelah sedikit kejutan pertemuan tadinya. 


"Apa kau gila, hah? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan istri dan anakku!" teriak Nich pada Rahmat yang masih membatu di tempatnya. "Sweety, kau tidak apa-apa?" tanyanya pada sang istri. 


"Aku baik-baik saja, Sayang." 

__ADS_1


"Apanya yang baik-baik saja? Lihat, dahimu bahkan harus menjadi merah gara-gara pria sialan itu!" Nicholas hanya bisa mendengus kesal dan terus menerus mencerca Rahmat. Dia tidak terima melihat bekas merah di dahi sang istri akibat terantuk kursi di depan. 


Sementara itu, Rahmat masih membeku di tempatnya mendengar ucapan Jessi tadi dan tak mendengar sedikit pun apa yang Nicholas katakan. Dia seketika terkejut atas perintah Jessi yang terdengar tak masuk akal baginya. 


"Apa kau masih waras?" teriak Nicholas disaat Rahmat masih terdiam di tempatnya. 


Mobil yang berhenti tiba-tiba seketika membuat kendaraan di belakang saling bersahutan membunyikan klaksonnya. Karena itulah, Rahmat mulai tersadar dari keterkejutannya. "Maaf, Nyonya, Tuan." Dia pun segera menjalankan kembali mobil sambil sesekali menggelengkan kepala. 


"Bagaimana, Rahmat? Apa kau setuju?" tanya Jessi lagi pada Rahmat, tetapi pria tersebut hanya diam dan tak menanggapinya. "Baiklah, kalau kau tidak mau menuruti perintahku, lebih baik serahkan surat pengunduran dirimu nanti! Aku tidak mau memiliki bawahan pengecut yang bahkan tak bersedia menikahi pujaannya. Cih, dasar pria kolot seperti Bosmu itu."


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2