
Berbeda halnya dengan Maurer yang penuh drama mengundang emosi serta kekhawatiran akan nasib Rey di rumah sakit. Anna di klub malam tiba-tiba saja merasa tubuhnya panas setelah beberapa saat kepergian Jessi. Padahal dia sudah mengenakan pakaian mini. "Apa AC di sini rusak?"
Wanita tersebut lantas cepat-cepat pergi ke kamar mandi lagi, dia berulang kali membasuh wajahnya dengan air. Hingga separuh kepala dan tubuhnya mulai setelah basah. Begitu pula pakaian bagian atas yang dikenakan.
Sesaat kemudian, dering telepon di dalam tas kecilnya berbunyi sejak tadi, membuat wanita tersebut mengumpat kesal. "Siapa sih malam-malam telepon?" gerutu Anna sambil mengangkat panggilan tanpa melihat siapa pemanggilnya. "Hello."
"Di mana kamu?" Suara bariton seorang lelaki tanpa basa-basi, terdengar jelas di ujung panggilan. Sebuah suara seseorang yang sangat dikenalnya selama beberapa bulan terakhir ini.
"Kamar mandi."
"Aku tunggu lima menit, cepat keluar!" ucap Mario langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawabannya.
"Sial! Dasar bos diktator!" gumam Anna di sisa kesadaran. Dia pun segera melangkah keluar, rasa panas bukannya reda malah semakin membara dalam dirinya.
Wanita tersebut terhuyung dan ditangkap oleh lengan kekar seorang pria. "Anna," sapa pria tersebut dengan senyum merekah di wajahnya.
Berbulan-bulan dia mencari keberadaan Anna, tetapi tidak menemukannya. Namun, kini malah kembali berjumpa di tempat seperti ini dalam kondisi yang tampaknya wanita tersebut mulai tak sadarkan diri. "Aku mencarimu ke banyak tempat, ternyata kita malah bertemu di sini. Pencetak sahamku," gumam pria tersebut sambil mengusap pipi merah Anna. "Sepertinya kau sudah tidak tahan. Biarkan aku yang membantumu."
Anna yang tidak sadar hampir saja mencium pria tersebut. Akan tetapi, ketika sang pria hendak menggendong tubuhnya, saat itu pula Mario datang dan langsung memberikan bogeman mentah yang mendarat cukup keras di pipinya.
Pria tersebut kehilangan keseimbangan, sedangkan Mario dengan sigap menangkap tubuh Anna. "Kau kenapa?" tanya Mario sambil mengerutkan dahi melihat wajah merah padam sekretarisnya. Bahkan tubuhnya pun terasa begitu panas dibandingkan suhu normal.
"Bos ganteng," rancau Anna mencoba meraih pipi Mario dan hendak mencium pria tersebut karena kesadarannya yang sudah hilang sepenuhnya. Namun, tangan Mario dengan cepat mendorong dahinya menjauh.
"Sialan! Siapa kau berani ikut campur urusanku!" murka pria tersebut sambil melihat siapa orang yang berani menghajarnya.
"Berani-beraninya kau melakukan hal menjijikkan seperti ini!" teriak Mario tak kalah murka pada pria di depannya setelah melihat penampilan Anna yang sudah tidak karuan.
__ADS_1
Dia langsung membawa tubuh sang sekretaris ke pundak layaknya sebuah karung beras yang ringan dan dengan mudahnya menghajar pria di depannya menggunakan satu tangan serta kakinya. Meskipun hanya bergerak dengan satu tangan nyatanya sudah membuat pria tersebut terkapar karena terus menerus diinjak Mario. Keributan pun mengakibatkan pihak keamanan mendekati mereka.
"Tuan," ucap dua orang penjaga keamanan pada Mario.
"Jangan biarkan aku melihat wajahnya di tempat ini lagi!" tunjuk Mario pada sang pria yang sudah terkapar dengan luka lebam di sekujur tubuhnya oleh Mario tadi.
"Baik."
Anna di pundak Mario malah meluruskan tubuhnya. Dia menangkupkan kedua tangan di pipi Mario dan hendak menciumnya. Mario yang terkesiap melihat kondisi Anna langsung membekap mulut wanita tersebut agar tak menodai bibirnya dan langsung membawanya pergi dari tempat itu.
"Apa dia yang berani melakukan hal ini padamu?" gerutu Mario di saat mencoba pergi ke salah satu lantai yang memang dikhususkan untuk dia istirahat jika terlalu lelah bekerja dan tak sanggup pulang.
Selama perjalanan Anna tidak mau diam, tangannya terus bergerak nakal ke sana kemari meraba setiap inci bagian tubuh Mario yang masih berbalut pakaian lengkap. Merasa tidak puas, Anna malah meremas bokong sital Mario dengan gemas layaknya bermain squishy. "Kenyal," ucap Anna secara tak sadar.
Mario langsung membuka kamarnya lantas bergerak ke kamar mandi. Dia mengisi air bathup hingga penuh dan melemparkan Anna ke dalamnya. "Cepat sadar dan jangan terlalu banyak meracau!" Mario meninggalkan Anna di dalam kamar mandi sambil menyalakan air keran sedingin mungkin. Entah siapa yang melakukan hal itu, pada asistennya, tetapi dia tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Mario yang menunggu di luar pintu kamar mandi sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Sejenak dia mengernyitkan dahi. Tidak ada suara apa pun dari dalam kecuali gemericik air mengalir. "Apa dia mati?" ucap Mario bermonolog.
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk di tempatnya. Mario segera membuka pintu kamar mandi tersebut. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya di saat tak menemukan sosok Anna di sana. "Anna!"
Dia hendak mencari lebih dalam lagi, tetapi dengan cepat Anna di balik pintu langsung menutup setelah Mario masuk. Mario seketika membelalakkan mata, melihat Anna menerkamnya tanpa aba-aba juga sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Hanya ada buliran air mengalir membasahi kulit wanita itu.
Wanita tersebut mencium paksa bibir Mario dengan menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Lantai licin sontak membuat Mario terhuyung ke belakang dan berakhir basah di bath up dengan tubuh Anna di atasnya.
Air seketika meluber, tumpah ruah ke mana-mana karena keduanya. Tangan Mario masih mengambang di udara karena tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Bos, panas," bisik Anna di telinga Mario sambil sesekali menghisap daun telinga pria tersebut.
Sontak Mario meremang di tempatnya karena tindakan Anna. Siapapun pria yang ada di posisinya saat ini pasti akan berdebar ketika disuguhkan pemandangan menggoda iman. Begitu pula Mario karena sejatinya dia masih pria normal, yang juga bisa merasakan napsu pada lawan jenis.
Tanpa terasa sesuatu dalam diri Mario sontak menjadi sesak dan mencoba keluar dari pertahanannya selama ini. Pria tersebut lantas beberapa kali mengerjapkan untuk mengumpulkan kembali kesadarannya. "Lepas, Anna. Sadarlah! Kau akan menyesal besok setelah pulih!"
Mario berusaha memberontak dari rengkuhan erat tubuh Anna yang menggoda. Dinginnya air tak membuat hawa panas dalam diri wanita tersebut reda dan malah semakin menjadi ketiga aroma parfum kamar mandi, sabun, serta bau tubuh Mario berkumpul menjadi satu menusuk indra penciumannya.
Gelenyar aneh dalam diri, memaksa Anna berbuat nekat dengan merayu secara liar bosnya tersebut tanpa sadar. Dia tak lagi peduli siapa pria yang hendak diambil keperjakaannya. Hasrat membara mengobarkan gelora haus akan nirwana dunia, mengakibatkan Anna terus membusung dan menggesekkan dadanya di tubuh Mario yang masih berbalut pakaian.
"Sudah cukup, Anna!" Mario yang melihat Anna meliuk-liuk sejak tadi akhirnya tak tahan lagi. Dia berbalik badan berubah menjadi menindih tubuh Anna di bath up dan memegang kedua bahu wanita tersebut kuat-kuat.
"Panas," rintih Anna sambil berusaha meronta-ronta karena tak tahan dengan tubuhnya sendiri. Dia bahkan sampai menggigit lidah karena hasrat yang terlampau menyiksa.
Mau tak mau Mario pun membantu Anna dengan langsung mencium bibirnya dan menyesap lidah wanita tersebut agar tidak lagi digigit. "Diamlah, aku akan membantumu. Jangan salahkan aku besok!" gumam Mario di sela ciumannya.
Pria tersebut lantas membawa tubuh Anna ke sisi lain. Di mana air shower mengalir cukup deras dengan begitu dinginnya. Cukup lama keduanya hanya saling berpagutan di bawah keran. Akan tetapi, seakan belum cukup meredakan rasa yang bergelora dalam diri Anna.
Melihat Anna yang masih meliuk-liuk sejak tadi membuat Mario berada di ambang kebingungan. Dia bingung harus berbuat apa demi membantu Anna, tetapi tidak merusaknya. Baginya hubungan badan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dua insan yang belum terikat dalam sebuah pernikahan. Karena Mario menjadikan prinsip Nicholas sebagai panutannya.
Mereka tidak mungkin seperti ini terus menerus karena air yang terlalu dingin dan tubuh Anna yang mulai putih pucat. Akhirnya Mario memutuskan untuk membawa Anna keluar kamar mandi dan melepaskan pakaiannya sendiri yang sudah basah sejak tadi.
"Tunggu sebentar!" ucap Mario meminta Anna untuk menunggu. Setelah selesai, dia pun membawa tubuh Anna ke atas ranjang dengan sama-sama tak mengenakkan sehelai benang pun. Akan tetapi, bukan berarti Mario hendak membobol pertahanannya. Dia terpaksa membantu Anna bersolo karir di bawah selimut, memberikan kepuasan akan hasratnya yang membara.
Hingga setelah tiga kali wanita tersebut merasakan puncaknya, Anna pun terkulai lemas dan terlelap di pelukan Mario. "Huft, syukurlah!" ujar Mario sambil tersenyum kecil melihat jarinya yang bekerja sejak tadi.
Mario membalut tubuh Anna dalam selimut, sedangkan dirinya sendiri sudah cukup lelah karena berjam-jam Anna menyiksanya di kamar mandi. Alhasil, keduanya pun terlelap dengan sama-sama berpelukan di bawah remang lampu kamar dan waktu yang sudah menunjukkan dini hari.
__ADS_1
To Be Continue...