Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Tantangan Damien


__ADS_3

Di sebuah restoran ternama, seorang wanita tengah mengamati setiap sudut ruang VIP yang selama ini menjadi sumber uangnya. Dia bekerja seakan semalam tidak terjadi apa-apa. Pagi tadi, Jane meninggalkan Demian seorang diri, ketika pria itu masih terlelap dalam tidurnya.


Tidak ada penyesalan atas kejadian semalam, tetapi wanita itu menolak untuk semakin jauh larut dalam perasaannya. Dia lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan, menghindar dan menganggap semuanya hanyalah sebuah kesalahan satu malam yang indah.


Tak lama kemudian, pria yang dihindari tiba-tiba saja datang ke restoran tersebut dengan membawa seikat bunga mawar merah.


"Maaf, Tuan. Kami belum buka," ujar seorang pelayan yang masih berkemas.


"Aku mencari Jane." Jemarinya menunjuk ke arah wanita yang tengah berada di kejauhan membelakanginya.


"Oh, silakan, Tuan!" Pelayan itu pun membiarkan Damien masuk, setelahnya mereka berbisik-bisik di belakang. "Apa dia kekasih Nona Jane?"


"Entahlah." Rasa penasaran akan kehidupan percintaan atasan yang selama ini tidak pernah terlihat, membuat mereka mengintip dari kejauhan.


"Sudah tampan, romantis, dan berkarisma lagi. Beruntungnya Nona Jane memiliki kekasih seperti itu." Mereka merasa girang, ketika melihat Damien pertama kali mendatangi restoran secara khusus.


Sosoknya yang tinggi, gagah, tampan, dan dewasa menambah kesan mengagumkan di mata para wanita yang melihat. Meskipun, usia pria itu tidaklah muda lagi. Akan tetapi, daya tariknya tetaplah memikat lawan jenis.


"Iya, ganteng banget. Aku jadi iri." Pelayan lainnya seakan menyetujui pendapat temannya. Namun, mereka kembali menjalankan tugas setelah melihat Jane membalikkan badannya.


Di sisi lain, Damien yang melangkah mendekati Jane, tiba-tiba saja melingkarkan tangan ke perut wanita tersebut untuk memberikan bunga.


Jane yang terkejut melihat seikat bunga yang berada di depannya lantas membalikkan tubuh dengan raut wajah sulit diartikan. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Tentu saja mengunjungimu. Apa lagi memangnya?" Pria tersebut menjawab dengan santai.


Sifat cuek Jane tak membuatnya mundur dengan mudah. Apalagi setelah kejadian semalam, tentu saja dia tidak akan mudah melepaskan wanita yang kini telah berhasil memasuki hatinya begitu saja tanpa permisi.


Damien sungguh memiliki sikap yang sama seperti Jessi di mata Jane. Sama-sama menyebalkan ketika menggoda.


"Ikuti aku!" Jane melangkah pergi meninggalkan Damien di belakangnya, menuju ruang kerja tanpa menerima seikat bunga yang dibawa pria tersebut.


Dia tak mengindahkan tatapan kagum para pelayan terhadap pria yang mengikutinya dari belakang dan malah menatap para karyawan dengan sorot mata tajam. Memberi sinyal agar tidak terlalu ingin tahu dengan urusannya.


Setelah tiba di ruangan, Jane berbalik menatap lekat wajah Damien dengan ekspresi datar. "Katakan sejujurnya, untuk apa kau di sini?"


"Bukankah sudah jelas kalau aku ingin menemuimu?" Damien mengernyitkan dahi ketika melihat wanita di depannya berekspresi seperti sebelumnya kembali.


Sejenak wanita itu mengembuskan napas kasar, berusaha untuk tidak terpikat dengan pria di depannya. "Kita tidak memiliki urusan yang mengharuskanmu jauh-jauh datang kemari." Jane berkata sangat dingin, membuat dada Damien sedikit nyeri ketika mendengarnya.

__ADS_1


"Apa kau melupakan hal semalam?" Damien menatap lekat manik mata Jane, sambil melangkahkan kaki mendekatinya, ketika wanita tersebut tidak memberikan jawaban.


"Apa sebegitu mudahnya kamu melupakan malam panas kita?" Dia semakin mendekatkan dirinya, membuat Jane melangkah mundur untuk menghindarinya hingga tubuh wanita itu terhentikan oleh meja di belakangnya.


Damien mengunci tubuh Jane dengan kedua tangan yang mengapitnya di meja. Pria itu mendekatkan wajah, semakin dekat hingga embusan napasnya bisa dirasakan oleh Jane.


Hal tersebut tentu menyebabkan debaran jantung yang begitu cepat dengan rona wajah yang mulai merah karena tersipu. Dengan segera Jane berusaha mendorong pria tersebut dari hadapannya. "Menyingkirlah!"


Akan tetapi, Damien tak bergeming dari posisinya dan tetap menatap lekat Jane. Ketika wanita itu hendak menendangkan kaki seperti sebelumnya. Tangan kekar pria tersebut malah menangkapnya. "Tidak semudah itu menyingkirkanku!"


Tatapan Damien sangat tajam, jauh berbeda dari sebelumnya yang selalu terkesan menyebalkan. Ya, dia memanglah saudara kandung Jessi, dengan sifat sama ketika menginginkan sesuatu dan saat serius maupun bercanda.


Jane menelan salivanya dengan susah payah, jantungnya seakan sulit untuk diajak bekerja sama dan terus saja terkesima dengan wajah tampan Damien dari dekat. "Apa yang kau inginkan?" Dia akhirnya mengalah, mencoba berbalik menatap tajam pria di depannya sambil mengepalkan tangannya yang bergetar.


Dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pun pria dalam keadaan sadar, kecuali semalam. Hal itu, tentu saja membuatnya kewalahan menghadapi situasi yang sangat canggung ini.


"Apa yang aku inginkan? Bukankah kau sudah tahu jawabannya?" Damien tidak bergeming dari posisinya.


Aura mendominasi pria tersebut mampu menekan sifat arogan Jane yang selama ini tak terpatahkan. Meskipun, dia sendiri merasakan jantungnya seperti ingin meledak, tetapi Damien mampu mengontrol diri. Demi wanita dingin di depannya.


"Aku tak tahu dan tak mau tahu." Jane kembali berusaha menyingkirkan tubuh Damien yang mengapitnya.


"Apa maksudmu?"


Damien kembali mendekatkan diri kepada Jane yang berdiri di belakangnya. "Aku menantangmu untuk jatuh cinta!" Sorot mata dingin, tetapi meneduhkan membuat wanita tersebut terdiam untuk beberapa saat.


"Untuk apa aku harus menerima tantanganmu? Lagi pula aku tak berniat untuk jatuh cinta." Jane melangkah menuju dispenser di sisi ruang, mengisi gelas dan meminumnya. Mencoba bertindak biasa saja agar Damien tidak berharap lebih padanya.


"Mari kita buktikan! Jika dalam waktu tiga puluh hari aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta, aku akan pergi." Damien berkata dengan sungguh-sungguh karena dia yakin wanita itu sudah memiliki perasaan yang sama dengannya.


Kata 'pergi' sukses membuat Jane menggenggam erat gelas di tangannya. Namun, hal tersebut tidak terlihat oleh Damien karena posisinya yang membelakangi pria itu.


Jane terdiam untuk beberapa saat. Apa yang salah dengan mencoba jatuh cinta dalam tiga puluh hari. Lagi pula jika benar dia memiliki perasaan, cukup menahan hingga waktunya berakhir. Tiba masanya membiarkan Damien pergi, setidaknya wanita tersebut mempunyai sedikit kenangan tentang cinta.


Dia berbalik menatap lekat wajah Damien. Hanya ada keseriusan yang terlihat di wajah pria tersebut. "Kau akan menyesal jika jatuh cinta padaku."


"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya. Lagi pula apa yang akan kau lakukan jika benihku berhasil tertanam di rahimmu. Jadi, tidak mungkin kau menolakku." Pria tersebut mengucapkan kalimatnya dengan pasti dan yakin.


Namun, Jane yang mendengarnya menatapnya

__ADS_1


tajam. Benar apa yang Damien katakan. Kalau sampai dia hamil karena benih semalam apa yang bisa dilakukan?


Mereka tak hanya melakukannya sekali, bahkan rasa perih dan nyeri masih Jane rasakan sampai saat ini. Ada kemungkinan untuk terwujudnya ucapan Damien.


"Baiklah, aku menerima tantanganmu."


Kalimat Jane sukses menciptakan sebuah senyuman yang indah di wajah Damien. Dia mengulurkan tangan sebagai tanda perjanjian. "Deal."


"Deal." Jane membalas uluran tangan pria tersebut, tetapi dengan cepat Damien malah menarik tangannya hingga tubuh wanita tersebut jatuh ke dalam pelukan.


Secepat kilat sebuah ciuman berhasil mendarat di bibir ranum Jane, yang sukses membuat wanita itu terkejut hingga melebarkan matanya.


"Selamat pagi, Honey." Sebuah senyum indah Damien tepat di depan wajah Jane yang masih terkejut menimbulkan rona merah di pipinya.


"Lepaskan!" Jane yang tersadar dari posisinya segera berdiri tegak dan berdeham guna menetralkan kembali perasaannya yang berdebar serta pipi seakan terbakar.


"Karena ini hari pertama bagi kita, terimalah ini! Aku pergi bekerja dulu, nanti malam kujemput kemari." Damien menyerahkan seikat bunga yang dia bawa dan langsung mencium dahi Jane lantas melangkah keluar meninggalkan wanita yang masih mematung di posisinya.


Beberapa saat kemudian, Jane tersadar. "Apa yang baru saja terjadi?" Dia menatap seikat bunga di tangannya dan mengusap bekas kecupan Damien.


"Gila, aku sudah gila karena menuruti orang gila." Jane yang masih terkejut, melangkah menuju kursi kebesarannya. Lalu, kembali melihat seikat bunga yang dia letakkan di meja.


Dia memegang dadanya yang berdetak kencang, dengan embusan napas naik turun. Jane masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi padannya. "Gila .... aku sudah gila!"


Wanita tersebut marah-marah sendiri dan mengacak-acak rambut hingga sangat penampilannya menjadi sangat berantakan.


To Be Continue...


Hello teman-teman, sudah senin aja nih.


Semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam hidup para pembaca sekalian.


Author mau mengingatkan nih.


Jangan lupa like, komen, gift, dan votenya ya.


Supaya author lebih semangat lagi dalam berkarya.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


Salam sayang dari Rissa Audy.


__ADS_2