
Keceriaan di kediaman Light maupun Bannerick terasa semakin lengkap dengan keriuhan dari ketiga keturunan menggemaskan yang selalu menjadi pusat perhatian. Seperti sebelumnya, di kediaman Bannerick tempat di mana Laura dan Michael menghabiskan waktu bersama di hari tua dengan para pelayan selalu berebut mengasuh ketiga cucunya.
Lucu serta menggemaskan membuat mereka menjadi idola sejak balita, kecuali Jayden. Si kecil yang satu itu selalu saja memilih berkumpul bersama Kakek juga Ayahnya yang selalu berbicara tentang perkembangan bisnis mereka tanpa tertarik dengan kedua saudaranya yang bermain-main.
"Kenapa tidak ikut adik-adikmu, Son?" tanya Nicholas pada Jayden ketika melihat bocah kecil itu malah menyusulnya yang tengah menemani Michael memandikan burung dalam sangkar.
"Membosankan, Dad. Mereka seperti anak kecil yang tidak punya pekerjaan. Selalu saja bermain,” kesal Jayden sambil duduk di samping sang ayah dengan menyilangkan salah satu kaki. Sangat mirip dengan posisi Nicholas saat itu layaknya pinang di belah dua beda usia.
Mendengar kalimat seperti itu dari bocah berusia lima tahun sontak membuat Michael maupun Nicholas tertawa renyah. Entah apa yang ada di pikiran Jayden saat ini, tetapi bocah tersebut terlalu dewasa sebelum waktunya. Hingga dia sudah mampu berpikir kritis layaknya orang tua dan menganggap bermain bukanlah suatu hal yang menyenangkan.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan anak kecil seperti kalian jika tidak bermain, Jay?" tanya Michael sambil menyemprotkan air ke burung di sangkar hingga hewan tersebut tampak merasa segar.
"Jangan panggil aku anak kecil, Kakek. Jay sudah dewasa," protes bocah tersebut tidak suka dianggap anak kecil. Padahal memang begitu kenyataannya. “Daripada bermain-main seperti Jonathan yang akhirnya hanya akan mendapatkan ciuman dari wanita, lebih baik bermain saham dan mengumpulkan pundi-pundi cuan. Bukan begitu, Daddy?” ujar Jayden sambil menaikkan sebelah alis seolah paham semua itu.
Kedua pria dewasa itu sontak tertawa lepas mendengar mulut kecil itu mulai berbicara tentang saham, meskipun bukan omong kosong belaka karena dia selalu bermain saham di balik nama ibunya yang kini hanya tinggal menikmati hasilnya dan akan terus bertambah setiap harinya. Sungguh jiwa tidak mau rugi dalam diri Jessi sangat menurun pada Jayden dan menganggap semua di dunia ini hanya bisa dikendalikan oleh mereka yang kuat dan mau berusaha.
“Kalau di usia sekecil ini kalian semua sudah bermain saham. Apa gunanya uang Daddy bagai kalian, Son?” tanya Nicholas pada putranya.
“Tenang, Dad. Ada Mommy, Nenek, dan Jessica yang suka menghamburkan uang. Mereka tidak akan kesulitan jika disuruh menghabiskan uang Daddy yang tak seberapa di mata mereka,” jawab Jayden dengan polos seolah tahu seberapa banyak uang ayahnya.
Kedua pria dewasa di sana hanya bisa saling berpandangan dengan tingkah Jayden yang tampak menggemaskan sekaligus menyebalkan di waktu yang bersamaan. Bukan Jayden namanya kalau setiap ucapannya tidak bisa membuat para orang tua tercengang dengan cara berpikir bocah berusia lima tahun itu.
Mereka pun kembali melanjutkan obrolan panjang hingga malam harinya dan melakukan kegiatan layaknya di rumah sendiri. Baik Laura maupun Michael sudah menyediakan kamar untuk masing-masing cucunya secara terpisah seperti di kediaman Light. Hal ini dilakukan karena selera ketiga bocah itu cukup berseberangan dalam memilih suasana kamar maupun furniture di dalamnya.
Jessica menyukai kamar bernuansa putih, lengkap dengan berbagai macam fasilitas gaming di dalamnya, sedangkan Jonathan cenderung netral dan tak menyukai sesuatu yang khusus asalkan tetap menampilkan sisi keren pada dirinya. Sementara itu, kamar Jayden lebih didominasi warna gelap, hitam serta biru navy. Karena bagi bocah itu, dunia ini perlu melalui mimpi panjang yang gelap, barulah dia bisa bangun dengan sinar mentari hangat yang menyambut paginya.
Malam itu, Jayden terjaga karena merasa haus, tetapi air minum di kamarnya sudah habis. Bocah tersebut lantas keluar kamar seorang diri dengan berani dan mengambil minum di dapur. Setelah menyelesaikan urusan, Jayden kembali melangkah naik menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti di saat telinga kecilnya mendengar bisikan setan dari kamar kakek dan neneknya yang di laluinya.
__ADS_1
“Sayang, burungmu menyakitiku. Kenapa dia aktif sekali sekarang padahal aku sudah lelah menaklukkannya.” Suara Laura terdengar begitu jelas di telinga Jayden, membuat bocah kecil tersebut sedikit memiringkan kepala dan mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut neneknya.
"Nenek bicara apa sih?" batin Jayden.
Sesaat kemudian, giliran suara Michael yang terdengar di telinga bocah itu. “Jangan salah, Sayang! Meskipun aku sudah tua, tetapi burungku masih sanggup menghajarmu sampai lemas dan tak berdaya.”
“Dia menyiksaku!”
Jayden hanya bisa membelalakkan mata mendengar bisikan-bisikan setan di telinganya dari balik pintu kamar Kakek dan Neneknya serta belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa sadar tangan bocah kecil itu terkepal dengan kuat lengkap sorot tajam di matanya yang menunjukkan ketidakterimaan atas apa yang terjadi pada neneknya.
Dia pun mengurungkan niat untuk pergi ke kamar dan melangkah menuju taman belakang. Dengan tangan kecilnya, Jayen mencekik satu per satu burung milik sang kakek di dalam sangkar tanpa mengedipkan kepala, sedangkan yang digantung di bagian atas dia ambil menggunakan alatnya dan melakukan hal yang sama pada burung-burung itu sampai habis tak tersisa satu pun yang masih hidup.
"Selesai, dengan begini tidak akan ada yang bisa menyakiti Nenek Laura lagi," ucap bocah kecil tersebut lantas mencuci tangannya dan kembali ke kamar guna merajut mimpi yang tertunda.
Pagi harinya, kediaman Bannerick terdengar lebih sunyi dibandingkan biasanya. Salah seorang pelayan yang merasakan keanehan mulai berbicara pada temannya. “Apa kau menyadari ada sesuatu yang tidak biasa pagi ini?”
“Tidak, tidak, aku merasa bukan itu. Entahlah aku merasa bangun pagi ini terdengar lebih sunyi dari biasanya.” Keduanya pun terdiam dan mencoba berpikir sejenak apa yang hilang dari kediaman ini.
Hingga sesaat kemudian, keduanya pun saling berpandangan dengan kedua bola mata yang membulat sempurna dan menyeru bersama. “Tidak ada suara kicauan burung pagi ini.”
Keduanya lantas berlari dengan tergesa-gesa menuju taman belakang. Alangkah terkejutnya mereka di saat melihat satu persatu sangkar sudah kosong dan tak menyisakan satu pun burung yang masih bertengger di tempatnya. “Di mana mereka? Apa Tuan Mich lupa menutup sangkar?”
Tepukan tangan di bahunya dari rekan di belakangnya membuat pelayan tersebut menoleh ke arah pandang temannya. Keduanya sama-sama tercengang dengan kondisi kolam renang di sisi lain pagi ini. Di mana airnya penuh dengan bangkai burung mengapung. “Akh!” teriak keduanya bersamaan sehingga menyebabkan kehebohan pagi itu.
Setiap orang yang mendengar kebisingan itu pun seketika berlarian mendekat ke arah sumber suara, termasuk para majikan beserta putra putrinya. “Kenapa kalian berisik sekali pagi-pagi?” tanya Laura setibanya di sana.
“Itu, Nyonya,” tunjuk sang pelayan ke arah kolam renang yang membuat Michael di samping istrinya langsung murka.
__ADS_1
“Siapa yang sudah berani melakukan hal ini, hah? Cek CCTV aku ingin tahu siapa yang berani membunuh burung-burungku,” teriak Michael dengan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun dalam hitungan detik.
“Tidak perlu, Kek,” ujar Jayden dengan santai sambil memakai dasi seragamnya dan melangkah selayaknya aktor yang membelah para penggemarnya berjalan mendekati kolam.
Jessica di gendongan Nicholas hanya bisa menata heran dengan apa yang dilakukan kakaknya itu, begitu pula dengan Jonathan di samping Jesslyn. “Apa Kak Jay yang melakukan semua itu, Mom?” tanya Jonathan pada sang ibu, tetapi Jessi hanya mengedikkan bahunya.
“Apa maksudmu, Jay?” tanya Michael pada Jayden. “Apa kau yang sudah melakukan semua ini?”
Jayden langsung mengangguk tanpa ragu. Bocah itu bahkan tak merasa bersalah sama sekali dan malah memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Laura yang melihat kemarahan yang tertahan dalam diri Michael lanas berjongkok mendekati cucu pertamanya itu dan bertanya dengan lembut. “Kenapa kau melakukan hal itu, Jay?"
"Karena mereka sudah menyakiti, Nenek. Jay tidak mau burung-burung kakak menyiksa, Nenek. Jay, hanya ingin Nenek hidup sehat dan tidak terkulai lemas terus." Kalimat polos pengakuan Jay membuat semua orang yang mendengarnya mengernyitkan dahi. Apa sebenarnya maksud dari Jayden.
"Siapa yang bilang burung-burung itu menyakiti Nenek, Jay?" tanya Laura lagi.
"Nenek sendiri yang bilang semalam. Jayden mendengarnya di depan kamar saat Nenek marah-marah pada Kakek karena burungnya menyiksa Nenek." Jawaban Jayden sontak menyebabkan Michael menjatuhkan rahangnya, sedangkan yang lainnya hanya bisa melipat bibir ke dalam demi menahan tawa. Begitu pula dengan Laura.
"Kalian mengotori pendengaran putraku saja, Dad. Ayo, Jay kita siap-siap berangkat ke sekolah!" Nicholas langsung menarik putranya tersebut meninggalkan taman belakang, sedangkan Laura hanya bisa mengelus punggung suaminya sambil menahan tawa.
"Sabar, Sayang. Lain kali kita buat kamar kita kedap suara." Sesaat kemudian wanita tersebut lantas menyusul putra putri dan cucu-cucunya meninggalkan Michael yang masih meratapi nasib burung bernilai fantastis yang mati hanya dalam waktu semalam karena salah bicara.
Entah berapa kerugian yang harus Michael tanggung kali ini. Semua burungnya merupakan hewan langka bernilai tinggi yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun, tetapi hilang dalam semalam oleh cucunya sendiri. Ingin sekali rasanya dia marah, tetapi juga percuma saja karena memang sebenarnya Jayden juga masih bocah polos yang tidak mengerti kegiatan orang tua di dalam kamar.
Nasib sialnya saja yang tengah menyapa pagi ini dengan begitu mengejutkan. Michael hanya bisa menghela napas panjang sebelum akhirnya meminta para pelayan untuk membersihkan bangkai-bangkai burung itu dan melangkah pergi.
TO be Continue...
__ADS_1