Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kakak Ipar


__ADS_3

Damien tersenyum melihat tingkah Jessi. Dia lantas mengacak-acak rambut wanita di sampingnya itu. "Aku masih pria normal, hanya saja belum menemukan orang yang dapat menggerakkan hatiku."


"Baiklah kalau begitu, aku akan memanggilmu Kakak!" Jessi lantas berdiri dari duduknya. "Kakak Ipar, bagaimana kalau kita sarapan bersama?"


Brruup!


Kini giliran Jane yang menyemburkan minumannya di depan Jessi.


"Jane! Kau jorok sekali. Bagaimana bisa kau menyemburkan minuman di depan calon suamimu, hah?!" Jessi menepuk-nepuk celananya yang terkena semburan air dari mulut Jane.


"Apa kau gila, hah?!" Jane berbicara sambil mengeratkan giginya dengan mata yang sepenuhnya melotot ke arah Jessi.


"Aku sedang membantumu." Jessi berbisik di telinga kakaknya.


"Bagaimana, Kakak Ipar?"


"Baiklah, ayo!" Damien lantas berdiri mengikuti langkah kedua wanita di depannya, menuju ke sebuah tempat makan sederhana di pinggir jalan.


Mereka makan bertiga di satu meja. Entahlah Jessi merasa nyaman dengan adanya Jane dan Damien. Meskipun mereka belum lama bertemu, tetapi Jessi tidak merasa enggan dengannya.


Di seberang jalan, seorang pria yang sedang berada di dalam mobil menatap mereka bertiga dengan wajah merah padam. Amarahnya meluap-luap melihat keakraban mereka padahal hari masih pagi. Namun, mereka sudah berkumpul tanpa dia.


"Will, putar balik! Kita hampiri mereka."


"Baik, Tuan." Willy melirik kaca depan mobil, dilihatnya ekspresi Nich yang sudah siap melahap siapapun yang mengganggunya.


Mata Nich tidak beralih pandangan dia selalu menatap Jessi dan Damien. "Apa yang mereka lakukan pagi-pagi begini."


Setibanya di depan tempat makan Nich langsung menuruni mobil. Dia menutup pintu mobil kuat-kuat membuat ketiga terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.


"Nich, apa yang kau lakukan di sini?" Jessi melihat wajah Nich yang sudah seperti kepiting rebus. Apa Nich salah paham?


"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kalian lakukan di sini, Sweety?" Nich berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah Jessi.


"Entahlah, apa yang mereka lakukan di sini?" Jane sengaja menjawab untuk membalas perbuatan Jessi padanya.


Mendengar umpan kakaknya Jessi langsung menoleh menatapnya dengan tajam, sedangkan Jane hanya mengerlingkan matanya dengan senyum smirk di bibirnya.

__ADS_1


Kau ingin membalasku ya? Sayangnya kau masih belum ahli Jane, lihatlah bagaimana aku mengerjaimu? batinnya.


Jessi langsung menoleh kepada Nich menampilkan puppy eyes-nya. "Sayang, aku hanya menemani Jane dan kakak ipar berkencan."


Jessi mengedipkan kedua matanya dengan bibir yang mengerucut. "Sayang, dari tadi aku hanya dianggap obat nyamuk di sini. Bagaimana kalau kita pergi saja dulu?"


Dia lantas berdiri menarik tangan Nich menuju mobilnya, Nich membatu mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Jessi dengan ekspresi imutnya.


"Kakak Ipar, aku titip kakakku! Berhati-hatilah, dia suka menggigit!" Jessi berteriak sambil melambaikan tangannya kepada mereka sebelum ikut masuk mobil bersama Nich.


Damien dan Jane melongo melihat tingkah Jessi yang tak pernah mereka sangka sebelumnya.


"Apa tujuanmu mendekati Jessi?" Jane bertanya langsung setelah Jessi meninggalkan mereka.


"Tujuan? Memangnya aku memiliki tujuan apa?" Damien berbalik bertanya pada wanita di depannya sambil meniup gelas kopi hitam miliknya.


Jane meletakkan kedua tangannya di atas meja. Dia membungkukkan badannya sehingga wajahnya hanya berjarak satu inchi dari Damien dan netranya begitu lekat menatap pria di depannya. "Jika kau memiliki niat buruk padanya, akan aku pastikan kau akan menyesal hanya dengan memikirkannya saja!"


Damien hanya terpaku menatap wajah Jane. Dia tak pernah menatap wanita sedekat ini sebelumnya. Dapat dia rasakan embusan nafas Jane di wajahnya membuat hasratnya naik seketika. Hasrat ingin memilikinya.


Mengagumkan, batinnya.


Damien yang melihat Jane melangkah menjauh lekas berdiri membayar makanannya, lalu menyusul Jane yang berjalan menuju apartemen.


"Apa kau selalu seperti itu dengan pria yang dekat dengan adikmu?" Damien menyelaraskan langkahnya dengan Jane.


"Ya, karena mereka hanya menyakitinya." Mereka berjalan berasama hingga kawasan apartemen.


"Apa kau kalian saudara kandung?" Damien bertanya sambil menekan tombol lift di depannya.


Jane menghentikan langkahnya, dia menatap lekat ke arah pria di depannya dengan tatapan membunuh. "Apa sebenarnya yang ingin kau ketahui?"


"Tidak ada, aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang kalian."


Ting! suara lift terbuka.


"Apa kau tahu? pepatah lama pernah mengatakan. 'Semakin banyak kau tau, bisa memperpendek umurmu!' Jadi, kau tidak perlu tau lebih banyak tentang kami!" Tatapan mata Jane sangatlah menarik bagi Damien. Entahlah, melihat wajah berang wanita ini membuatnya merasa lucu dan ingin menggodanya lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau takut aku mati lebih cepat dan membuatmu menjanda?" Seketika Jane menolehkan wajahnya ke arah Damien.


Buggh!


Jane menendang betis Damien sekuat tenaga. "Auwwh."


Ting!


"Kau dan Jessi satu spesies, membuatku emosi saja." Jane melangkahkan kakinya keluar dari lift dengan raut wajah yang kesal.


Namun, tidak dengan Damien. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah wanita itu.


***


Di sisi lain setelah memasuki mobil, Jessi melepaskan tangannya di lengan Nich.


"Apa kau tidak ingin menjelaskan padaku, Sweety?"


"Apa yang perlu aku jelaskan? Aku hanya ke tempat Jane tadi pagi dan tanpa sengaja bertemu dengan ... nya ...." Suara Jessi terdengar semakin lirih, membuat Nich menoleh kepadanya.


Terlihat Jessi sudah terlelap begitu saja hingga kepalanya beberapa kali terbentur kaca mobil. Nich mengambil kepala Jessi, meletakkannya dengan perlahan di bahunya sebagai sandaran. Dia mengelus lembut pipi wanita yang dicintainya.


"Apa kau begitu lelah hingga mudah sekali untuk terlelap?" Nich mengecup perlahan pucuk kepala Jessi.


Nich membawa Jessi menuju ke gedung perusahaannya. Dia tidak peduli dengan penampilan Jessi yang masih mengenakan pakaian olahraga dan badannya yang berkeringat. Baginya wanitanya tetap cantik dengan penampilan bagaimanapun.


Setelah tiba di depan Gedung Bannerick Group, Nich melihat Jessi masih tak bergeming dari posisinya.


Nich lantas meletakkan kedua tangan Jessi di bahunya, dia menggendongnya ala brydal style. Dia melangkah dengan pasti dengan Willy di depannya. Sepanjang perjalanan Willy meletakkan jari telunjuknya di bibir, sebagai tanda agar para karyawan tidak mengganggu tidur nyonya mereka.


Para karyawan yang melihat apa yang dilakukan Nich menutup mulut mereka dengan telapan tangannya. Mereka tidak menyangka jika pria kutub bisa seromantis ini. Membuat semua wanita iri pada Jessi. Mereka berlantas menaiki lift menuju ke ruangan Nich.


"Batalkan seluruh agenda hari ini! Aku hanya akan bekerja dari kantor saja!" bisik Nich di telingan Willy.


"Baik, Tuan." Willy mengangguk, lalu pergi keluar dari ruangan itu.


Nich menatap lekat wajah wanita dalam gendongannya, lantas memasuki ruang pribadi miliknya. Diletakkan dengan perlahan tubuh Jessi di atas ranjang, Nich berusaha agar Jessi tidak terbangun.

__ADS_1


Namun, ketika Nich hendak menarik tangannya yang berada di bawah leher Jessi. Dia malah menarik tangan Nich hingga terjatuh di samping ranjang. Jessi memeluk erat tubuh Nich layaknya guling hidup. Mendapat kesempatan seperti ini, tentu saja Dia tidak akan menolak. Dia ikut memeluk Jessi, tidak peduli dengan aroma keringat yang masih melekat.


TBC.


__ADS_2