
Beberapa hari berlalu setelah kejadian Dove dan Rahmat, Damien dan Jane pun kembali ke kediaman dengan wajah berseri layaknya pengantin baru pada umumnya. Sementara itu, Jessi hanya bisa bersedekap tangan di dada ketika menyambut kedatangan mereka. “Apa kalian puas meninggalkanku dengan setumpuk masalah?” tanya Jessi dengan raut wajah kesal, sedangkan Nicholas di sofa hanya bisa mengedikkan bahu melihat tatapan penuh tanda tanya di wajah Damien.
“Maafkan kami Jessi,” ucap Jane sambil memeluk sang adik. “Nanti akan ku belikan apa yang kamu mau.” Jane mencoba untuk merayu Jessi yang hanya mengerucutkan bibir sejak tadi. Dia jelas tahu jika adiknya berkspresi seperti ini pasti ujung-ujungnya hanya ingin menguras kantong mereka dengan permintaan aneh nantinya.
Benar saja, sebuah senyum tampak merekah indah di wajah Jessi sambil menyerahkan sebuah dokumen yang membuat sepasang pengantin baru itu saling berpadangan untuk sesaat. “Tanda tangani ini!”
“Apa ini?” tanya Damien sambil mengambil dokumen tersebut dari tangan sang adik lantas membacanya bersama sang istri.
“Sebuah rumah atas nama Dove dan Rahmat sebagai hadiah pernikahan,” seru keduanya secara bersamaan ketika membaca sebuah kalimat yang membuat mata mereka membulat sempurna karena hal itu.
“Apa yang sudah kau lakukan pada mereka, Jes?” Damien sungguh terkejut melihat berita ini. Sebuah kabar yang tak pernah dia duga sebelumnya. Bagaimana kedua asistennya bisa sama-sama menikah kilat seperti dirinya. Mustahil ini hanyalah sebuah kebetulan belaka dan pasti ada campur tangan Jessi di dalamnya.
__ADS_1
“Apanya yang apa? Seharusnya kalian berterima kasih padaku karena membereskan masalah kalian ke depannya. Cih, menebalkan!” Jessi hanya bisa berdecih mendengar pertanyaan bodoh kakaknya itu. “Sepertinya bulan madu membuat otak kalian mampet.”
“Ikut aku!” Tanpa menanggapi adiknya, Jane segera membawa wanita tersebut ke dalam kamar dan menguncinya untuk berbicara empat mata pada sang adik. “Apa dia juga mengakui hal itu padamu?” tanya Jane dengan nada sedikit memaksa jawaban.
Jessi hanya bisa menghela napas panjang mendengar hal itu. Dia pun beranjak dari posisinya untuk melangkah menuju balkon kamar tersebut dan menatap gelapnya malam di kejauhan. “Bukan salahnya mencintai suamimu, Jane. Sebagai manusia kita tidak bisa mengatur ke mana hati akan berlabuh. Seperti halnya dirimu. Jadi sebelum dia melakukan hal yang akan merugikan diri sendiri nantinya aku pun menyadarkan Dove, jika ada pria di belakang yang seharusnya dia lihat agar bisa hidup bahagia. Meskipun keduanya belum benar-benar saling mencintai, setidaknya mereka sudah berusaha.”
“Sialan!” Kesal Jessi karena sang kakaknya yang malah menganggapnya aneh ketika sedang berbicara banyak, padahal dia sendiri bingung kenapa bisa seperti ini. “Sama halnya dengan mereka. Kau juga berhak bahagia dengan pilihan yang kau ambil sebelum menyesal nantinya.”
“Aku akan mengikuti saran Damien untuk melakukan Operasi Pengangkatan Tumor di kepalaku,” ucap Jane sambil menatap ke arah luar juga.
__ADS_1
“Akhirnya kau menentukan pilihan. Sepertinya tongkat sakti kakakku mampu membuka matamu sampai-sampai belum rela mati agar bisa lebih lama menikmatinya.” Jessi mengejek kakaknya dengan lugas dan secara langsung mendapatkan sebuah pukulan kecil dari Jane.
“Kenapa setiap kali hamil mulutmu itu sangat mengerikan?” Jane hanya mencebikkan bibirnya dan hendak melangkah masuk, tetapi dengan cepat Jessi memeluknya dari belakang.
“Jane, berbahagialah dengan kakakku! Ini perintah bukan permintaan. Kau tidak boleh menyerah dengan hidupmu sendiri selama kita masih bisa berusaha!” ucap Jessi dengan lembut memerlihatkan kasih sayangnya yang tulus.
Jane hanya bisa mengusap tangan sang adik di perutnya dan berbalik sehingga keduanya saling berhadapan saat itu. “Terima kasih sudah menyayangiku sepenuh hatimu, Jessi. Kau adalah segalanya bagiku.” Keduanya pun saling berpelukan dengan suasana yang mengharu biru.
Meskipun keduanya tidak lahir dari rahim yang sama, bahkan memiliki dendam keluarga di mana tak semua orang mampu untuk melaluinya. Namun, keduanya tak berubah kasih sayangnya dari dulu maupun sekarang dan hanya menginginkan kebahagiaan satu sama lain.
To Be Continue...
__ADS_1