
Jessi bersandar di sofa dan fokus menatap lekat pria di depannya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Apa dia tikusnya?"
Jackson mengangguk, sedangkan pria tersebut tampak menunduk. Seorang pria yang terbilang masih cukup muda untuk serakah akan uang di depannya matanya. Jessi menengadahkan tangan dan anak buahnya langsung memberikan tablet berisikan data-data lelaki itu.
Sejenak Jessi mengernyitkan dahi, menautkan kedua alisnya hingga hampir bersambung. Berulang kali jemari indahnya bergerak di layar tablet tersebut lantas kembali melihat penampilan pria di depannya.
Dari bawah sampai atas tidak ada tanda pakaian branded digunakan. Bahkan bisa dilihat oleh mata Jessi sebuah jahitan tangan di sudut jas yang jelas itu bukanlah karya desainer ternama. Melainkan, sebuah tambalan robek pada kain, lalu disambung oleh seorang ibu, istrinya, atau mungkin dirinya sendiri.
Lagi pula cara ia mengikis dana perusahaan jelas terlihat sangatlah amatiran. Jika pihak lainnya yang berani mencuri uang di sini, bisa dipastikan mereka akan bermain cantik, hingga bisa mengambil lebih banyak lagi daripada pria tersebut.
Namun, tidak dengan pria ini. Dia langsung mengambil sekaligus dalam sekali tarik dan tidak melarikan diri. Jika sudah tahu pasti akan ketahuan membawa sejumlah uang sebesar itu, mungkin seharusnya ia hanya bersembunyi di dalam rumahnya saja dan tak perlu lagi menampakkan batang hidungnya.
"Katakan alasanmu!" Setelah cukup lama mengamati, akhirnya Jessi mulai mengintrogasi pria di depannya.
Sementara itu, pria yang diintrogasi terlihat sudah mulai gugup, hingga membuatnya pucat pasi. Perlahan mulutnya mulai terbuka, tapi sangat sulit untuk mengatakan alasannya.
"S–saya." Bibirnya seakan enggan untuk berbicara tentang kebenaran sesungguhnya. Dalam hati bertanya-tanya, bagaimana jika nona di depannya malah meminta ganti rugi atas dana yang telah digunakan padahal, uang tersebut masih belum untuk biaya rumah sakit dan perawatan ibunya.
"Saya apa? Bicara yang jelas sebelum aku memotong lidahmu saat ini juga!" Jessi berbicara dengan begitu tegas, hingga membuat pria tersebut semakin menciut karena tekanannya.
Dia memutuskan untuk mengakui kesalahannya dan berulang kali bersujud di hadapan Jessi. "Maafkan saya, Nona. Maafkan saya ... semuanya adalah salah saya sendiri karena terlalu tamak." Tak cukup sekali ia menempelkan dahi di lantai hingga membuat Jessi geram karena perbuatannya.
Jessi bukanlah Tuhan, lalu untuk apa pria tersebut bersujud padanya. Sebagai sesama manusia dia tidak ingin menganggap orang lain sebagai hamba.
"Aku bukan ingin mendengar permintaan maaf darimu. Tapi, aku ingin tahu alasanmu!" Dia melangkah mendekati pria tersebut, lalu berjongkok untuk lebih dekat dan mensejajarkan diri dalam berbicara. "Bagaimana kabar ibumu?"
Seketika pria tersebut mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arah Jessi yang kini berada tepat di hadapannya. Wajah cantik dengan usia mungkin sama dengannya tak membuat wanita tersebut kehilangan karismanya sebagai seorang pemimpin perusahaan.
"A–apa maksud Anda, Nona?" Dengan gugup pria tersebut menjawab pertanyaan Jessi. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah wanita di depannya sudah mengetahui tentang dirinya.
Tentu saja benar jika Jessi sudah mengetahui kenyataan kondisi pria tersebut karena semuanya sudah dijelaskan oleh data yang di berikan Jackson tadi.
"Aku tanya bagaimana kondisi ibumu?" Sekali lagi Jessi menekankan pertanyaannya kepada pria tersebut. Sorot mata tajam bahkan tak berkedip ketika menatap lawan bicaranya membuat Jessi semakin terlihat menyeramkan. Tidak ada senyum yang tergambar di wajah cantik itu, hanya keseriusan dan ketegasan dalam berbicara.
"Ba–baik, Nona." Pria tersebut kembali menunduk, ia tidak berani menatap lawan bicaranya ketika sedang berbohong.
__ADS_1
Kepolosan pria di depannya bisa terlihat dengan jelas di mata Jessi. Meskipun, lelaki tersebut mencoba untuk menutupinya, tetapi raut wajahnya sudah menjelaskan segalanya.
Jessi berdiri dari posisinya. "Kenapa kau tidak meminjam pada bagaian keuangan?"
"S–saya."
"Apa kau gagap?!" Suara bentakan dengan begitu keras membuat ketiga pria terkejut akan tindakan Jessi.
"Tidak, Nona." Pria tersebut langsung lancar berbicara ketika mendengar nada mengerikan dari Jessi yang lebih terdengar seperti ancaman. "Saya tidak berani pinjam ke bagian keuangan karena jumlahnya yang terlalu besar."
"Berapa banyak uang yang kau ambil?"
"Sekitar US$ 100.000, Nona."
"Berikan aku alasan yang logis untuk melepaskan tikus kantor sepertimu!" Jessi kembali menatapnya dalam-dalam, meskipun sudah mengetahui alasannya, tetapi dia ingin tahu apakah lelaki itu akan berbicara jujur atau tidak.
Rasa bimbang mulai memenuhi pikiran lelaki tersebut, jika pun Jessi meminta kembali uang yang dibawa lari, ia sudah tidak bisa lagi untuk mengembalikannya.
Sejenak pria tersebut mengembuskan napasnya sebelum berbicara. "Saya menggunakannya untuk biaya pengobatan ibu saya." Akhirnya ia lebih memilih mengikuti hati nuraninya untuk mengakui kesalahan yang sudah dilakukan.
"Ibumu sakit?" Pria tersebut mengangguk. "Jelaskan kondisinya!"
Seketika pria tersebut kembali terkejut, bukannya marah atas jumlah fantastis yang ia bawa lari, tetapi Jessi malah menanyakan kondisi ibunya sekarang. "Dia memiliki penyakit jantung, Nona. Biaya perawatannya sangat mahal, ditambah donor jantung sangat sulit di dapat dari rumah sakit?"
Mendengar kalimat terakhir dari pria tersebut Jessi memiringkan kepalanya untuk menatap pria yang menunduk itu. Mungkin dia sedang menyembunyikan kesedihannya atas kondisi ibunya, hingga membuatnya rela melakukan berbagai cara demi menyelamatkan sang ibu.
"Kau membeli jantung ilegal?"
Terkejut, iya semua orang di sana terkejut. Jessi bisa menebaknya hanya karena sebuah kalimat sederhana. "Iya, Nona."
Sejenak Jessi memijit pelipisnya yang nyeri. Pembelian organ manusia bukankah berhubungan dengan kasus Olivia dan Dion. Berarti pria tersebut berurusan dengan mafia Virgoun. Sebuah senyum mengembang di wajahnya memikirkan hal itu.
"Kau membelinya dari mafia?" Pria itu mengangguk.
"Tapi, uang yang saya berikan baru cukup untuk uang mukanya saja."
__ADS_1
"Ck ck ck, mereka sungguh pandai memanfaatkan keadaan." Jessi berdecak mendengar pengakuan karyawannya. Biaya untuk organ ilegal memanglah cukup mahal jika dibandingkan dengan menunggu giliran dari rumah sakit. "Apa ibumu dalam kondisi yang sangat parah?"
"Dia bisa hidup karena alat bantu yang sudah menopangnya selama satu tahun ini."
"Kenapa kau tidak menyerah merawat ibumu dan membiarkannya mati dengan tenang?" Jessi mencoba untuk memprovokasi pria di depannya dengan kalimatnya yang menyakitkan.
Hasilnya pria tersebut langsung berdiri dari posisinya dan berbicara dengan lantang karena emosi yang terpendam. "Nona, jangan sembarangan kalau bicara! Seorang ibu berjuang keras untuk kehidupan anak-anaknya, lalu kenapa saya harus menyerah menyelamatkan nyawa ibuku?!"
Kalimatnya bagai sambaran petir di siang bolong. Sanggup membuat Jessi merasakan nyeri pada ulu hati. Kasih sayang seorang ibu memang tidak ada tandingannya dibandingkan dengan apa pun di dunia ini, tapi dia tidak pernah bisa mendapatkannya, apalagi merasakan dan mengenangnya.
"Tolong jaga sikap Anda!" ujar Jackson.
"Apa yang salah dengan ucapanku? Saya memang miskin, tapi Ibuku adalah satu-satunya hal berharga yang saya miliki." Pria tersebut tetap berbicara dengan lantang. Perihal ibu mampu membuatnya naik darah hanya karena kalimat sederhana.
Jessi mengangkat tangan sebagai tanda agar Jackson tidak lagi menegurnya dan membiarkan pria tersebut meluapkan emosinya.
Pria tersebut langsung menakupkan kedua tangan di wajahnya, tanpa sadar ketika membayangkan wajah ibunya yang terbaring di rumah sakit membuat buliran hangat berkumpul di pelupuk matanya. Rasa sesak menyeruak dalam dada layaknya sebuah batu besar menghantamnya tanpa aba-aba.
Sejak kecil ia hanya memiliki seorang ibu, wanita yang selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari. Namun, tidak pernah sekali pun mengeluh dengan keadaan.
Hadir dari sebuah kesalahan, tak membuat sang ibu menggugurkannya dan tetap merawatnya. Meskipun banyak caci maki yang mereka terima sejak dulu, ibunya selalu tegar serta menguatkannya.
Ibu selalu mengatakan bahwa ia bukanlah kesalahan, tapi anugrah terindah yang dititipkan oleh Tuhan kepadanya. Bahkan sang ibu rela untuk tidak menikah karena calon suaminya menolak menerimanya sebagai anak.
Dengan perjuangan ibu yang seperti itu, bagaimana bisa ia rela meninggalkan satu-satunya orang yang selama ini menyayanginya dengan tulus dan tanpa pamrih.
Sebuah kasih sayang dari seorang anak tergambar jelas di wajah pria tersebut. Hal itu tentu ditangkap oleh mata elang Jessi.
"Aku akan membantumu, tapi kau hanya memiliki satu pilihan!"
"Maksud, Nona."
"Jika kau begitu berbakti kepada ibumu, apa kau sanggup menukarnya dengan nyawamu?"
To be Continue...
__ADS_1