Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Perusak Suasana


__ADS_3

Setelah kembali dari ruangan dokter, Damien pun memasuki kamar Jane seolah tak terjadi apa-apa. Jika sebelumnya wanita tersebut memilih untuk menyembunyikan semua ini, maka pria itu hanya bisa berpura-pura tak tahu. Lagi pula masih ada waktu bagi Demian untuk menunjukkan ketulusan cintanya dan membuktikan jika dia tidak hanya mendekati karena sekedar rasa kasihan sebab wanita tersebut sakit.


Jika sebelumnya Jane enggan untuk dioperasi mungkin karena rasa bersalah. Kali Damien bertekad menjadikan wanita itu miliknya dan tidak akan membiarkan takdir memisahkan. Kalau perlu dia akan menggunakan jalan pintas demi menyelamatkan Jane.


Dia menggenggam tangan wanita yang kini berbaring di atas ranjang tersebut dengan lembut. Damien mengecup dahi Jane cukup lama, menyalurkan segala kerinduan yang ada sebelum akhirnya duduk di kursi di samping tempat tidur itu. 


"Aku akan selalu ada untukmu mulai sekarang. Entah kau bersedia atau tidak," ucap Damien dengan lirih tulus dari hatinya. 


Pria tersebut terus menatap wajah tenang Jane yang masih larut dalam mimpi. Hingga tak lama kemudian, wanita itu mulai mengerjapkan mata secara perlahan. "Di mana aku?" 


Hal pertama yang menyambut Jane adalah senyum lembut di wajah Damien. "Kau sedang di rumah sakit." 


Jane hendak bangkit dari posisinya, tetapi Damien menahan tubuh wanita tersebut dari belakang dan menyandar di kepala ranjang pelan-pelan. "Jangan terlalu banyak bergerak! Luka di pinggangmu baru saja di jahit. Apa kau butuh sesuatu?" tanya pria itu dengan lembut.


Hanya gelengan kepala yang bisa Jane berikan. Pantas saja tubuhnya terasa perih, ternyata dia lupa jika sempat terkena pisau dari pria botak itu. "Di mana Stella?" 


"John sedang menjemputnya. Mereka dalam perjalanan kemari." Damien kembali duduk setelah dirasa Jane sudah nyaman dengan posisinya. Dia menatap wajah wanita yang selama ini dirindukan cukup lama, bahkan tanpa berkedip sedikit pun. 


Hal itu tentu saja bisa dirasakan oleh Jane. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tidak ada nada ramah atau pun lembut. Jane selalu berbicara dengan nada tinggi ketika bersama Damien. 


Namun, anehnya hal itulah yang menyebabkan Damien jatuh cinta padanya. Dia menunduk untuk tersenyum kecil melihat betapa garangnya Jane, sungguh berbanding terbalik dengan saat wanita itu tak sadarkan diri. 


"Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" Jane semakin geram ketika Damien menyembunyikan tawa. Bukan karena dirinya malu, tetapi senyum pria itu seperti sebuah hipnotis baginya yang terasa seperti buaian keindahan dalam bentuk seorang pria. 

__ADS_1


Cukup lama mereka tidak bertemu, ternyata tak membuat Jane lupa, tetapi malah kembali terpesona. "Jangan menatapku seperti itu!" Dia memilih membuang wajah ke arah lain, sebelum rona di pipinya terlihat oleh Damien yang bukannya menjawab malah semakin dalam ketika memandangnya. 


Sesaat kemudian, suara pintu terbuka menghentikan kecanggungan di antara keduanya. "Kak Jane," teriak Stella yang langsung memeluk tubuh Jane tanpa permisi. 


"Auwh." Eratnya pelukan Stella membuat Jane sedikit meringis karena luka di pinggangnya. 


"Hati-hati, pinggangnya terluka!" ujar Damien memperingatkan Stella. 


"Maaf, maaf, Kak. Apa aku menyakitimu?" Raut wajah Stella jelas terlihat begitu khawatir, dia tidak tahu jika Jane sampai terluka karena kejadian hari ini. 


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" 


Gadis itu hanya mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja. Lihatlah tubuhku masih utuh!" 


Mereka pun beristirahat di rumah sakit malam itu karena hari sudah hampir pagi dan tubuh juga terlalu lelah jika harus mencari penginapan lagi. 


______________________


Keesokan harinya, Jessi dan Nicholas yang tiba di Negara X setelah menempuh perjalanan panjang langsung bergegas menuju tempat di mana Jane dirawat. 


Sepanjang perjalanan Jessi berceloteh ria menceritakan tempat tinggal terdahulu sebelum akhirnya pindah ke Negara N. Hingga tak lama kemudian, keduanya pun tiba di rumah sakit tempat Jane dirawat. 


Sepanjang mata, banyak orang menghentikan aktivitasnya hanya untuk menyaksikan pasangan dengan rupa layaknya Dewa Dewi yang melangkah menyusuri rumah sakit tersebut. 

__ADS_1


Aura wanita hamil membuat Jessi tampak lebih mempesona di mata mereka, ditambah suami yang tampan dan berkarisma di samping membuat para wanita merasa iri dengan pasangan dari langit tersebut. 


Tanpa membuang waktu, mereka melangkah menuju kamar tempat Jane berada. "Jane!" Jessi membuka pintu dengan kuat hingga membuat kedua orang di dalamnya terlonjak kaget.


Jane dan Damien cukup terkejut melihat Jessi serta Nich yang datang tiba-tiba tanpa mengabari. "Jessi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jane ketika adiknya melangkah mendekat. 


"Dasar Kakak durhaka! Pertanyaan macam apa itu?" Bukannya bertanya dengan lembut, Jessi malah berbicara layaknya ibu-ibu arisan yang berbicara seperti kereta api. "Harusnya aku yang bertanya. Bagaimana bisa kau terluka, hah? Apa Damien tidak menjagamu dengan baik?" 


Tanpa menunggu jawaban Jane, Jessi beralih menatap Damien dan mengalungkan lengannya dengan kuat di leher pria yang tadinya sedang duduk di sofa tersebut. "Kau! Apa yang kau lakukan hingga membuat kakakku seperti itu, hah?" 


Jessi terus mencekik leher Damien dengan lengannya, sedangkan pria itu hanya bisa mengulurkan tangan ke arah Nich agar membantunya terbebas dari Jessi. Namun, pria itu hanya mengendikkan bahu dan membiarkan istrinya berbuat sesuka hati. 


"Bukankah sebelumnya aku sudah bilang jangan menggarapnya terlalu keras sebelum menikah! Sekarang jawab! Berapa ronde kalian melakukan hingga bisa membuat Jane dirawat di rumah sakit!" Kalimat absurd Jessi tanpa henti sukses membuat Jane dan Damien membelalakkan mata. 


Tanpa basa-basi, Jane langsung melemparkan bantal di belakangnya ke arah Jessi sambil mendengus kesal. "Sembarangan kalau bicara! Apa kau sudah terlalu banyak makan daging anjing, hah? Tiba-tiba datang langsung menggonggong seenaknya saja." 


"Kau juga!" Jessi mendekat ke arah Jane layaknya emak-emak yang memarahi anaknya. "Kenapa mau kembali pada pria itu? Bukankah sebelumnya kau bilang jatuh cinta pada Pengacara John?" 


Damien dan Jane seketika melebarkan mata hingga membulat sepenuhnya, sedangkan Nich hanya bisa menahan tawa melihat tingkah istrinya. Tanpa diduga, John dan Stella yang baru saja tiba dari membeli makanan langsung menjatuhkan kantong belanjaan di tangannya mendengar ucapan Jessi. 


Sungguh wanita hamil itu sangat pandai membuat suasana menjadi panas karena Damien kembali menghunuskan tatapan tajam ke arah John yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, Jane hanya bisa menepuk dahi mendengar penuturan Jessi jelas adalah sebuah kesengajaan.


"Aku tidak tahu apa-apa," ucap Pengacara John, setelah semua mata pun kini hanya tertuju padanya. 'Matilah aku! Jessi memang pandai merusak suasana,' batin John merutuki kejahilan Jessi yang tersenyum padanya.

__ADS_1


TO be Continue...


__ADS_2